Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KAKAK



Kiandra menaruh jas-nya begitu saja, kemudian menjatuhkan diri ke ranjang empuknya yang luas.


Kepalanya pening dan tenggorokannya sakit akibat terlalu banyak merokok.


Bagaiman si Roy bisa menghabiskan tiga bungkus rokok perhari? kalau baru tiga batang leherku sudah seperti terbakar.


tanya-nya dalam hati.


Kiandra tidur tengkurap, membuat punggungnya yang seharian duduk terasa nyaman. Dia telaah baik-baik kejadian tadi.


"Dia menolakku...?" Kiandra berguman.


Detik pada jarum jam menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia pulang lebih dulu, karena esok harus menghadiri rapat pagi. Sedang teman-nya yang lain masih tenggelam dalam kesenangan di Club James Bond.


"Lupakan saja wanita itu. Kita bikin permainan yang lebih seru." Ajak Alexa, ketika tadi ia pamit.


Mereka sudah bersiap dengan botol warna hijau di tengah meja. Tapi, Kiandra tak merespon dan tetap melangkah pergi. Ia sudah muak dengan permainan konyol itu.


Kiandra pindah posisi dari tengkurap menjadi tidur telentang. Ia pandangi langit-langit kamarnya yang gelap, sebab ia tak menyalakan lampu.


"Aku masih merasa janggal, kenapa dengan gampang mereka membebaskan ku dari hukuman?" tanya-nya seorang diri.


Bertahun-tahun mereka berempat melakukan permainan dare or truth, dan tak pernah ada sejarahnya hukuman di batalkan.


Dimana ujung botol menunjuk, maka tantangan atau kejujuran yang di pilih harus di tuntaskan.


"Bahkan Ethan yang awalnya begitu senang aku harus mendekati wanita, mendadak menyuruhku mundur." Kiandra mendengus tak mengerti.


Dia bangkit dari tidur, kemudian duduk di tepi ranjang. Pikirannya berkelana ke kejadian beberapa bulan ini, di mana ia mengenal sosok wanita bernama Anna.


Kehadirannya pertama kali, saat mengenakan piyama bermotif keroppi di tengah keramaian Club, benar-benar membuat Kiandra mengira itu adalah kakak perempuan-nya.


Pertemuan selanjutnya, ketika perempuan itu hendak bunuh diri. Membuat batinnya ikut terkoyak karena kesedihan dan tangisnya yang tanpa suara.


Mata kecokelatan Kiandra berkilat, terkena pantulan cahaya kendaraan dari luar jendela kaca kamar apartemennya yang mewah.


Dia meneguk ludah, saat teringat betapa dekat wajah mereka ketika ia memakaikan lipstik ke bibir wanita itu.


Wajah oval Anna yang ternyata begitu kecil di tangan-nya, kedua alis, bentuk hidung, sepasang mata yang menatap dirinya dan bibir yang begitu mengoda, hingga tanpa sadar ia ingin merasakan manisnya.


Perlahan bibir tipis Kiandra mengulas senyum. "Dia lebih cantik dari Kirana."


"Tolong jauhi saya."


Ucapan tegas Anna terlintas, membuat senyum Kiandra langsung lenyap.


"Sialan, beraninya dia memerintahku."  Kiandra mengusap rambut cepaknya yang mulai tumbuh kebelakang.


Deg


"Lho?" Kiandra pegangi dadanya yang berdegub keras, sampai ia bisa mendengar suaranya.


"Kau mau bilang bagaimana juga nggak ngaruh, dia ini sudah jatuh cinta."


Raut Kiandra bersemu. Perkataan Ethan membuat detak jantungnya semakin cepat dan menimbulkan sensasi mual di perut.


"Sialan." Ia mengumpat lagi.


Kini kedua alis Kiandra hampir menyatu dan ekspresinya berubah marah.


Kiandra yang dianugerahi daya ingat luar biasa, mampu mengingat tiap detail kejadian. Termasuk kejadian di masa lalu, entah itu bahagia ataupun sedih.


Bahagia, seperti dia yang begitu di sayangi kedua orang tua dan hidup di tengah-tengah kemewahan, serta kebanggaan lahir di salah satu keluarga konglomerat tanah air.


Sedih, seperti dia melihat kakak perempuannya yang hidup merana karena cinta.


Kedua mata Kiandra meremang, mengingat senyum merekah di wajah kakaknya yang tengah di rias oleh ibu mereka sendiri.


Kakak perempuan yang kadang ia anggap bodoh karena tingkahnya yang ceroboh. Tetapi, hatinya begitu baik dan terlihat sangat cantik saat tertawa.


Wajah Kiandra makin masam dengan kedua tangan terkepal.


"Kian, kau tak ingin mengucapkan selamat pada kami?" sosok lelaki yang seumur hidup punggungnya ia kejar itu berkata tenang.


Sangat tenang tanpa rasa bersalah.


Batin Kiandra kala itu sangat terluka. Ia ingin marah. Tetapi, semuanya sedang berbahagia oleh sebuah pesta.


Pesta pernikahan sederhana yang di langsungkan di belakang rumah keluarga Marthdinata, yang mau tak mau harus Kiandra hadiri.


Semua yang datang terharu, semua tersenyum dan mengucapkan selamat pada kedua mempelai.


Hanya Kiandra sendiri yang tetap diam duduk di sudut.


Sampai saat inipun, Kiandra tak pernah mengucapkan selamat atas pernikahan kakak perempuan dengan kakak lekaki-nya tersebut.


Kiandra pegangi kepalanya yang makin berdenyut.


"Kenapa aku harus mengingat semua itu?" tanya-nya kesal.


Dia berusaha melupakan. Tapi, ingatan itu malah semakin memenuhi pikiran.


"Dave bukan saudara kandungmu Kian."


Kiandra syok ketika itu.


Namun, dengan berlalunya waktu, sedikit demi sedikit ia mampu menerima pernikahan mereka.


Sampai semakin Kiandra tumbuh dewasa, semakin ia paham, bahwa pernikahan kakaknya malah menjadi bumerang.


Bahkan karena itu pula, nama baik keluarga tercoreng dan Kiandra sendiri diam-diam trauma oleh pernikahan.


Mengabaikan rasa yang mulai menyentuh hati, Kiandra bangkit berdiri dan mulai melepasi kancing kemeja.


"Tidak ada alasan bagi anda yang superior untuk mendekati saya."


Ucapan Anna yang nyaris tertelan suara hujan terlintas.


Dengan kesal, Kiandra lempar kemeja-nya ke lantai.


"Aku memang superior dan tidak pantas untuk wanita penjual bunga yang sok jual mahal seperti mu." ia jatuhkan ikat pinggangnya begitu saja, kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan masih memakai celana panjang.


Hari mendekati subuh dan sepertinya, malam inipun Kiandra tak akan tidur dan memilih tenggelam dalam pekerjaan seusai mandi.


.


.


Setalah hari itu, Kiandra benar-benar tak mengusik kehidupan Anna.


Dia kembali ke rutinitas. Bekerja, ikut seminar, berkumpul bersama para pebisnis dan kadang kala datang ke Club untuk bertemu teman-temannya.


Meski kadang jenuh. Tapi ia senang, sebab tak perlu pusing memikirkan merayu dan membujuk wanita itu agar mau pergi bersamanya.


Teman-temannya pun tak masalah, dan kini mereka sudah menemukan permainan lain yang lebih menyenangkan.


.


.


"Akhirnya Chief  kembali pada performa yanh dulu." puji Aldo ketika mereka berjalan beriringan seusai bertemu para pemegang saham.


"Kau ini memuji atau menyindir?" tanya Kiandra tanpa melihat ke arahnya.


"Tentu saja memuji, Chief." jawab Aldo cepat.


Kiandra melengos dan terus berjalan lurus di ikuti Aldo. Sedikit jauh, juga ada Victoria yang setia membuntuti.


Mereka baru saja menghadiri rapat yang kali ini di adakan di kantor cabang Jakarta Selatan.


"Sebelum ke kantor pusat, mampir dulu ke swalayan. Makanan Snow habis." Kiandra berkata ketika mereka masuk ke dalam lift.


"Snow?" Aldo tak mengerti.


"Anjingku." Kiandra menjawab singkat.


"Owh..anjing yang dulu Chief selamatkan?" mata Aldo membelalak. "Masih hidup?" spontan Aldo bertanya.


Kiandra langsung memelototinya.


"Maaf, Chief..." ia meringis dan tertunduk.


Victoria yang melihat adegan itu memalingkan muka dan setengah mati menahan tawa.


Tiba-tiba dering ponsel terdengar. Aldo cepat-cepat merogoh saku jas-nya dan sedikit menjauh untuk menjawab panggilan.


Kiandra tak masalah. Sebab jika ada yang menelpon Aldo di jam kerja, pastilah itu soal pekerjaan.


Pintu lift terbuka, bertepatan dengan Aldo yang telah selesai menelpon.


"Chief." panggilnya sembari berjalan di samping Kiandra.


Pria yang siang ini pun terlihat sempurna dengan setelan jas dari Velentino itu menoleh ke arah Aldo.


"Anda langsung ke kantor pusat saja Chief, biar makanan Snow saya yang berikan." ia menyarankan.


Kiandra menghentikan langkah. "Kau memerintahku? " tanyanya ketus.


"Bu, bukan begitu Chief. Mana berani saya." cepat-cepat Aldo meralat.


Kiandra memicingkan mata menatap Personal Asistennya itu.


"Eemm..anu...anda di tunggu seseorang di kantor pusat." ragu-ragu Aldo menerangkan.


"Siapa?" tanya Kiandra. "Ibu?" ia menebak, karena memang kadang kala ibu-nya datang membawakan bekal makan siang.


"Bukan Chief?" Aldo tak berani mengangkat muka.


"Daddy?" Kiandra kembali menebak.


Aldo mengeleng.


"Siapa?" tanya Kiandra tak sabar.


"...Tuan Dave Sanjaya."


Seketika Kiandra tertegun.


...****************...



Silahkan konfirmasi nomor Hp lewat DM IG Hijaudaun_birulangit atau masuk ke Groub Telegram dengan melihat sorotan di IG Hijaudaun_birulangit.


Konfirmasi nomor hp saya tunggu sampai besok Minggu, 15 Mei 2022, pukul 19.00 WIB.


Terima kasih.


Happy Weekend 🥳


🐢