
"Tidak di sangka ya?" Anna berkata sambil memandangi taman istana yang makin terlihat indah di malam hari.
Kiandra yang duduk di sebelahnya tak bergeming.
"Pantas aku merasa familiar jika berbincang dengan Kak Dave. Ternyata... kita sepupu dekat." Anna girang.
Namun, lagi-lagi Kiandra cuma diam sambil menatap lurus ke arah taman dengan pepohonannya yang tertata rapi.
Anna melihat ke arahnya. "Kau... terlihat tak senang dengan hal ini?" ucapnya.
"Bukannya tidak senang, hanya kaget." Kiandra mengklarifikasi tanpa melihat mata lawan bicara.
"Benarkah?" Anna tak yakin, sebab sikap pria itu terlalu acuh.
Kiandra menoleh ke arahnya. "Untuk apa aku berbohong?" ia mengkerutkan kening.
Anna terkekeh. "Syukurlah kalau begitu." ujarnya. "Karena... meski hasil tes DNA belum keluar. Tapi, Papa begitu yakin jika Kak Dave adalah anak Uncle Ibrahim." ia terlihat antusias.
Kiandra menipiskan bibir. "Sayangnya aku tidak mengenal Om Rendy atau Uncle Ibrahim mu itu."
"Aku juga tidak mengenal beliau." Anna menanggapi cepat. "Beliau hilang ketika Papa baru berusia satu tahun." ia menerangkan.
"Ooh.." Kiandra membulatkan mulut.
Tetapi, Anna tahu jika calon suaminya itu hanya pura-pura terkesan.
Malam di kota Bharu lebih tenang dari pada di kota Jakarta. Mungkin karena tembok istana yang tebal atau mungkin memang Negara bagian dari Malaysia itu warganya lebih sedikit menggunakan kendaraan pada malam hari.
Lampu-lampu berwana kuning terlihat menghiasi taman istana yang bersih. Membuat suasana terasa syahdu dan romantis.
.
"Kiandra, boleh aku bertanya sesuatu?" Anna berkata setelah mereka terdiam beberapa waktu.
Kiandra yang pikirannya tak di tempat, cuma mengangguk tanpa benar-benar memperhatikan.
Anna mengeser duduk agar lebih dekat dengan pria yang sedang bertopang dagu itu. "Eeemmm... kenapa kau suka padaku?" tanyanya.
"Apa?!" Kiandra kaget.
"Kenapa kau suka padaku?" ia mengulang.
Kedua alis Kiandra hampir menyatu. "Ke, kenapa tiba-tiba menanyakan hal seperti itu? Memang kenapa kalau aku suka? Kau tak percaya di sukai laki-laki hebat seperti ku?" ia menutupi rasa malu dengan bersikap pongah.
"Bukan seperti itu." ralat Anna sabar. "Iya, kau memang Kiandra Marthadinata yang hebat, yang sampai kedua Abangku pun memuji pilihanku kali ini sangat luar biasa. Sangat sempurna, dari fisik, kepribadian, sampai keturunanya pun tak di ragukan lagi kehebatanya."
"Hei, hei, hei... kalau memuji jangan berlebihan, nanti di kira bohong. Padahal semua itu benar." ia mendegus sembari melirik angkuh.
Mau tidak mau Anna menahan geli.
Pria narsis.
batinnya gemas.
Tapi, ia segera menunjukkan sikap serius.
"Maksudku, bukankah kalau saling suka, lalu serius ke jenjang pernikahan untuk hidup bersama sampai seumur hidup. Itu artinya harus saling percaya?" Anna menatapnya.
Kiandra berdecak. "Kenapa berputar-putar seperti gangsing? Kau ingin bilang apa?" tanyanya kesal.
Wajah Anna langsung cemberut.
Dasar tak bisa di ajak basa-basi.
batinnya dongkol.
Namun, karena ia sudah paham karakter pria yang duduk di sampingnya itu, maka ia hanya menghela nafas panjang untuk mempertebal sabar.
"Kau harus percaya padaku." pungkasnya kemudian.
"Hahh?" Kiandra tak paham.
"Terbukalah tentang kekalutanmu." Anna melanjutkan.
Kening Kiandra berkerut seraya menghindari temu pandang dengan calon istrinya itu.
Raut wajah Anna berubah muram. Tapi, ia tak mau memaksa dan memilih menunggu.
Keduanya sama-sama duduk sambil memandang lurus ke arah taman bagian dalam dari Istana Kubah Keriang yang megah tanpa bicara lagi.
.
"... Aku... hanya sedikit syok." Akhirnya Kiandra buka mulut.
Anna segera fokus mendengarkan.
"Aku hanya pernah sekali atau dua kali melihat fotonya di ruang kerja Daddy. Yang aku tahu, dia saudara angkat Daddy dan salah satu pemimpin terbaik yang di miliki Marthadinata Corp. Tidak ada yang membahas tentangnya, begitupun aku yang tak tertarik." Kiandra bercerita dengan pandangan mengawang. "Ketika Kirana akan menikah dengan Dave, Daddy memberi tahu ku tentang Dave yang bukan anak kandungnya. Bahwa Dave adalah anak istri pertamanya dengan pria lain. Tapi, Daddy sangat menyayanginya, maka Daddy menganggapnya seperti anak sendiri." Kiandra meneguk ludah, lalu terdiam.
Jujur Anna ikut sedih melihat Kiandra yang biasa arogan, kini terlihat muram. Tetapi, ia ingin mendengarkan kisah ini sampai selesai.
"Mungkin benar aku egois sampai tak memperhatikan sekitar. Aku tak mau tahu tentang kenapa Daddy dan Ibu membela Kirana dan Dave sampai seperti itu. Lalu tentang Dave yang aku anggap melarikan diri, karena melimpahkan semua tanggung jawabnya kepadaku. Tapi, sebenarnya mereka juga kan yang membuatku bersikap begini?" Kiandra bertanya.
Anna kaget tiba-tiba di beri pertanyaan seperti itu.
Kiandra menghela nafas panjang sambil kembali melihat ke arah depan. "Sudahlah..." ucapnya. "Toh aku sudah tak mempermasalah semua itu sejak bertemu denganmu." ia melanjutkan.
Kedua mata Anna membulat. "Apa..?" tanyanya tanpa sadar.
"Ehh...??" Anna masih tak paham.
"Semuanya terusir dari kepalaku dan di gantikan dirimu, sialan!" Kiandra kesal melihat ekspresi bengong wanita itu.
Pipi Anna bersemu saat menyadari apa yang Kiandra maksud.
"Setiap kali bertemu, kalau tidak sedang muram ya menangis." Pria itu menambahkan.
"Aku seperti itu kan juga karena..."
"Karena mantan pacarmu yang masih kau bela itu." sambung Kiandra sambil berdiri.
Anna ikut bangkit dari duduk. "Kenapa membahas Rico lagi?" ia menarik lengan Kiandra agar melihat ke arahnya.
"Siapa yang sudah berjanji tak akan menyebut nama itu lagi?" Kiandra tersenyum meremehkan.
"Si, siapa yang..." Anna tak bisa melanjutkan kalimatnya.
Kiandra pura-pura marah dengan membuang muka.
Padahal aku khawatir padanya yang terlihat sangat terpukul.
batin Anna sebal.
"Pokoknya akan aku rekam moment terakhir kalian bertemu." Kiandra berkata sambil berjalan lebih dulu.
"Kian!" Anna kesal.
"Bila perlu aku cetak sekalian foto kalian." ia menambahkan tanpa menoleh ke belakang.
Muka Anna makin tertekuk. Tentu bukan itu tujuannya nanti kalau bertemu Rico. Tetapi, memang dasarnya Kiandra yang sedang ingin menghibur diri dengan menggodanya.
Iya, Kiandra memang syok dan sempat gundah. Akan tetapi, itu tak merubah kebahagiaannya yang telah menemukan tambatan hati.
Anna berjalan cepat untuk mengejar Kiandra yang menjauh, kemudian kembali mengandeng lengannya.
"Kenapa sekarang kau jadi suka main gandeng tangan orang?" Kiandra masih dengan kepura-puraanya bersikap sinis.
Namun, Anna malah menyandarkan kepalanya ke pundak pria itu. "Aku Tuan Putri dan aku punya kekuasaan di istana ku." ia berkata lugas, yang membuat Kiandra seketika terbahak.
Selain lampu warna-warni yang menghiasi taman. Malam ini juga semakin indah dengan banyak bintang di langit, serta hati yang berkelip.
.
.
Satu minggu kemudian, hasil tes DNA yang di tunggu akhirnya datang. Dan sesuai dugaan, Dave 98% memang keturunan Yang Di Pertuan Agong Sultan Ismail Petra.
Hasil itu sekaligus juga menegaskan, bahwa Rendy Aryatedja Marthadinata adalah Tengku Muhammad Ibrahim Petra yang hilang tenggelam saat berusia tiga tahun.
Ayah Kiandra memeluk Dave dengan air mata berlina. Meski bahagia, tapi terselip penyesalan, kenapa baru sekarang kenyataan ini terungkap.
"Seandainya ada satu saja dari mereka yang masih hidup, pastilah...." Muka Ayah Kiandra yang tua dan di penuhi garis kerutan memerah oleh tangis.
"Mereka semua tahu, Dad." Dave berkata. "Mom, Kakek dan juga... Papa." ia tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca.
Ayah Kiandra kembali memeluk dan mengusap rambut bagian belakang pria lima puluh tahun itu bagai anak kecil.
"Anakku..." ucapnya lirih penuh rasa sayang.
Sebagai rasa syukur atas kembalinya keluarga kerajaan yang hilang, Ayah Anna bermaksud mengadakan perayaan, sekaligus menyerahkan tahta Kelantan sesuai janjinya.
Namun, dengan segala hormat Dave menolak semua itu dan meminta sang Sultan dan keturunannya tetap memerintah Negeri seperti saat ini.
"Saya tidak mumpuni dalam memerintah suatu Negara. Dengan tahu jika mendiang Ayah saya adalah bagian dari keluarga Petra saja, saya sudah merasa sangat terhormat." Dave berkata dengan sikap tenangnya yang biasa.
.
"Dave benar-benar mirip Rendy." Ibu Kiandra berkata menjelang tidur. "Baik dan juga bijak." lanjutnya sambil menipiskan bibir.
Si suami yang berbaring di sebelahnya cuma menghela nafas.
"Kau tak senang dengan keputusan Dave?" ujarnya karena melihat respon suaminya yang dingin.
"Tentu saja aku setuju, itu keputusan terbaik." ia menyangkal ucapan si istri.
"Aku kira... kau menyayangkan kesempatan menjadi anggota keluarga kerajaan." istrinya terkekeh.
Suaminya membalas dengan senyum merekah. "Kan sudah ada Kian." tandasnya santai.
Kali ini giliran istrinya yang tertawa.
Ayah Kiandra membenarkan letak bantal, seraya menatap langit-langit kamar. "Aku hanya sedang membayangkan ekspresi Hertoni sialan itu, saat tahu ternyata Rendy sebenarnya pewaris takhta Kelantan." ia memberi tahu.
"Astaga..." istrinya menutup mulut. "Jangan bicara seperti itu. Beliau sudah lama meninggal." ia memperingatkan.
Namun, suaminya tak menanggapi dan malah semakin menarik ujung bibirnya sampai sudut.
Kalian juga pasti senang, kan?
batin Ayah Kiandra haru sembari mengenang dua sosok laki-laki dan perempuan yang sedang tersenyum.
Masa lalu memang menakjubkan untuk kita kenang di hari tua.