Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
YANG TAK DI PAHAMI



Anna berdiri di atas jembatan layang sembari menatap jalanan beraspal di bawah. Wajah pucatnya sembab oleh air mata yang berlomba-lomba membasahi pipi.


"Aku akan melakukan apa pun, karena aku sangat mencintaimu."


Pria yang hanya jelas dalam ingatan Anna itu tersenyum sambil mengelus rambut, kemudian turun ke pipi serta bibir.


"Kau cantik sekali." Tanpa meminta persetujuan. Pria tersebut telah mencium bibirnya, lembut, kemudian menuntut.


Anna sesengukan mengingat masa lalu. Dia pejamkan rapat-rapat matanya, berharap dengan begitu semua kenangan pahit akan menghilang.


Tapi tak semudah itu menghapus hal yang berarti dalam hidup kita. Sekali pun itu hal yang menyakitkan.


PLAAK!!


"Papa!" Spontan Anna menjerit, lalu menunduk dan memeluk diri sendiri.


Tangis wanita dengan piyama motif keroppi itu kian menjadi. Tamparan keras dari orang tuanya itu telah lama berlalu, namun sakitnya masih senyata sekarang.


"Aku memang bodoh...aku tak pantas menjadi anak Papa..." Terbata Anna berkata di tengah tangis.


Dia pandangi lagi aspal yang terlihat makin kelam di gelapnya malam. Air mata Anna bercucuran.


Sekelebat perasaan ngeri menjalar, kala wanita itu membayangkan tubuhnya meluncur turun dan menghantam aspal.


Tentu ia akan menjadi mayat mengerikan. Semengerikan dosa yang telah di perbuat.


"Tidak ada apa pun yang tersisa dari ku..." tangis Anna pilu. Dia remas baju pada bagian dadanya yang terasa sesak dan perih oleh duka yang mendera.


Anna sampai berjalan kaki begitu jauh dari toko bunga milik Nisa yang menjadi tempat tinggalnya, sebab tak mau menyusahkan wanita baik itu.


Dia sudah tak kuat hidup dengan menanggung derita. Dia mencoba hidup baru dengan meninggalkan semua yang menyakitkan, namun waktu tetap berjalan begitu lambat dan mencekam.


Ibarat berjalan di atas pecahan kaca, begitu Anna menjalani hari-harinya yang sesak oleh sedih dan rasa bersalah.


Hingga putus asa kembali datang, membisikan kedamaian hati dengan kematian.


Tapi Anna adalah manusia biasa. Nyalinya langsung ciut, begitu di hadapkan pada maut.


"Aku takut matii..." Ia menangis.


"Bajingan itu tak hanya mengkhinataimu! Tapi juga kita semua!"


"Kau tolol, Anna!"


"Perempuan bodoh!"


"Cinta membuatmu buta!"


"Kau di khianati!"


"Kau menyerahkan segalanya pada bajingan tak tahu terima kasih itu!"


Wajah-wajah penuh amarah itu seolah berkeliling dan memaki-maki dirinya.


Tubuh Anna merosot turun. Dia peluk erat-erat tubuhnya yang dingin dan gemetar oleh lara.


Di jembatan layang yang temaram oleh lampu kota, Anna meringkuk seorang diri. Menangis tanpa suara, menyesali masa lalu yang tak mungkin bisa di ulang.


.


Nafas Kiandra hampir putus, sebab berlari dari bawah, kemudian naik menapaki anak tangga jembatan lanyang yang tinggi dan tanpa berhenti.


Udara dingin di malam hari membuat jemari tangan Kiandra ikut mendingin. Nafasnya naik-turun dengan peluh membasahi kening.


Dari kejauhan dia melihat Anna terduduk di tanah dengan posisi memeluk diri.


Ketika melihat Anna, Kinadra yakin jika wanita itu ingin bunuh diri. Maka dari itu ia berlari sekuat tenaga untuk mencegah.


Tapi seketika langkahnya terhenti dalam jarak beberapa meter dari wanita itu.


Mata cokelat terang Kiandra berkilauan tertimpa cahaya lampu kota. Pandangannya masih tertuju pada Anna yang meringkuk di sudut tergelap.


Pundak Anna terlihat bergetar hebat, menandakan betapa wanita itu menahan suara tangisnya agar jangan sampai terdengar.


Berpiyama hijau dengan motif kartun keroppi dan menangis sampai terbungkuk, namun tak ada suara yang keluar. Hal itu mengingat kan Kiandra akan Kirana, saudara satu-satunya dan amat dia sayang lebih dari dirinya sendiri.


Kenapa perempuan gampang sekali menangis? tanya Kiandra dalam hati. Apa mereka tak tahu, yang melihat jadi ikut bersedih..? kening Kiandra berkerut.


Beberapa menit Kiandra masih mematung, dan hanya memandang Anna yang tengah meratapi hidupnya yang lara.


Sampai Anna bangkit berdiri, lalu menghapus air matanya dengan punggung tangan dan berjalan pergi dengan langkah lunglai.


Kiandra tak bergeming.


Hingga Anna sampai di ujung jembatan layang, kemudian berjalan di pinggir trotoar dan menghilang di kegelapan. Kiandra hanya memandang.


Pikirannya berputar tentang Anna. Tentang saat mereka pertama bertemu di club, saat melihat dirinya di toko bunga dan ketika melihatnya menangis hendak bunuh diri.


.


.


Seseorang sampai berpikir ingin bunuh diri, pasti karena sudah putus asa sekali. Karena untuk melukai diri sediri itu butuh keberanian yang tak main-main.


"Chief? Chief, anda dengar saya?" Aldo mengeraskan suara.


Tapi pria yang pagi ini terlihat sangat tampan dan rapi dengan setelan jas giorgio armani warna hitam itu tak menyahut. Bahkan pandangan matanya kosong menatap lurus.


Baru tahu kalau Chief juga bisa melamun. Aldo takjub.


Kiandra menghela nafas panjang, lalu mulai membuka lembar dokumen yang harus dia periksa dan tanda tangani.


"Chief, hari ini anda ada jadwal ke Tawangmangu, ingat?" hati-hati Aldo berkata.


"Aku kan sudah bilang, kau saja yang datang." Kiandra menjawab tanpa menoleh ke lawan bicara.


Aldo yang semula berdiri di posisi samping, beringsut dan duduk di hadapan Kiandra.


"Chief, pikirkan lagi. Warga desa itu ingin bertemu anda untuk berterima kasih." Aldo memberi tahu.


"Itu sudah aku jawab juga kan," Kiandra memparaf satu lembar kertas dokumen, lalu menumpuknya bersama yang  lain.


"Jawab apa...?" Aldo memelas. "Ini bisa jadi nilai plus untuk anda."


"Plus ku sudah banyak." Pria dengan raut dingin serta sepasang alis tebalnya itu tak peduli.


Astaga orang ini. Gemas Aldo di buatnya.


"Kau saja yang datang. Aku ada urusan yang lebih penting." Akhirnya Kiandra menatap ke arahnya, setelah menandatangani lembar terakhir.


"Hah?" Mata Aldo membulat. "Ada urusan yang anda anggap lebih penting dari pekerjaan?" ia tak percaya.


"Berapa menit lagi kita rapat?" tak mengubris omongan Aldo, Kiandra bangkit berdiri sembari merapikan dasi, yang sebenarnya sudah sangat rapi dan tak bercela.


"Sekitar tiga puluh menit lagi." Aldo ikut berdiri sambil melihat jam tangan.


Kiandra terlihat berpikir.


"Ada hal yang perlu saya siapkan, Chief?" tanyanya.


Kiandra tak menjawab, dan malah tertunduk dengan kening berkerut dalam, seolah sedang memikirkan hal rumit.


"Chief?"


"Kau keluar saja dulu," Pria itu memberi perintah, yang sekali lagi membuat Aldo terkejut. Sebab biasanya mereka akan bersama-sama menuju ruang rapat, sambil membahas langkah-langkah apa saja yang di perlukan demi kemajuan perusahaan.


Tapi Aldo hanya menyimpan tanda tanya itu dalam hati dan memilih undur diri.


Apa Nyonya semalam mengatakan sesuatu, sampai Chief terlihat tertekan begitu? tebak Aldo dalam hati.


"Chief masih berada di dalam?" tanya Victoria begitu Aldo menutup pintu.


Pria dengan setelan kemeja biru navy itu sedikit kaget dengan kemunculan Victoria yang tiba-tiba.


"Kenapa kau baru datang?" tak menjawab, Aldo malah balik bertanya.


"Das geht dich nichts an!" Bukan urusanmu!) Victoria membuang muka dan berjalan menjauh.


"Hei, kau tahu, kan aku tak bisa bahasa Jerman." Aldo mengikuti.


"Bleiben sie weg von mir." ( Menjauh dari ku) Ucap Victoria tanpa menoleh.


"Ayolah, kenapa kalau dengan ku, kau selalu memakai bahasa yang tak aku pahami?" Aldo berdiri di hadapan Victoria yang berdiri menyudut tembok dan dalam posisi siap.


Wajah blasteran Jerman-Indonesia Victoria memang sangat menawan. Namun tatapan serta ekspresinya yang tak ramah, membuat sekitar enggan menyapa.


"Bagaimana kalau menggunakan bahasa inggris saja? Kau pasti bisa kan? Itu lebih universal." Aldo masih berusaha bersikap manis.


Tapi sayang, Victoria yang sejak kecil di didik dengan cara militer, tak menunjukkan ketertarikan.


"Baiklah..." Aldo menjauhkan diri dari Victoria, setelah lelah bicara sendiri tanpa di respon. "Aku kan belajar bahasa jerman." Ia memutuskan.


Raut Victoria yang datar tak berubah.


Aldo memandangi wanita bertubuh tinggi langsing dengan pakaian serba hitam itu sesaat, lalu tersenyum sendiri dan memutuskan segera pergi ke ruang rapat.


Victoria meneguk ludah, menunggu sampai Aldo benar-benar tak terlihat. Sampai akhirnya ia menghembuskan nafas yang ternyata tanpa sadar di tahan sejak tadi.


"Idiot." Senyum tipis terpatri di wajah cantik Victoria.