Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
TUAN BESAR DAN TUAN MUDA



Hari menjelang malam, ketika mobil Toyota Alphard 3.5 Q A/T warna graphite metallic berhenti di jalanan yang masih berubah tanah dengan kanan-kiri sawah.


"Maaf Tuan besar. Tapi, mobil tidak bisa masuk lebih dari ini." si sopir berucap, sembari menoleh ke belakang tanpa berani memandang lawan bicara.


Pria berjas mahal yang tak lain ayah Kiandra itu membuka sedikit kordeng mobil, seraya mengamati sekeliling yang temaram dengan cahaya senja yang berwarna jingga.


"Aku turun di sini saja." ucapnya kemudian.


"Tapi jalanan..." si sopir belum sempat mencegah. Namun, orang tua berambut putih itu sudah duluan membuka pintu mobil dan melangkah pergi.


Sesaat sopir muda itu dilema antara langsung mengejar sang Tuan atau memarkir dahulu mobil nya yang menghalangi jalan sempit di tengah pematang sawah itu. Tetapi, akhirnya ia lebih memilih mengejar Tuan nya yang sudah makin menjauh.


Meski sudah sangat berumur. Tapi, ayah Kiandra masih sangat sehat. Dia berjalan pelan menelusuri tanah berkerikil yang mengotori sepatu hitam mengkilatnya.


"Tuan, tongkatnya tertinggal." ujar si sopir yang berhasil mengejar.


Pria itu cuma melirik sekilas, sebelum melanjutkan perjalanan dan mengacuhkan si sopir yang sudah membawakan alat bantu jalan-nya tersebut.


Aku sengaja meninggalkan benda itu di mobil. Tapi, malah dia bawa-bawa ke sini.


batin pria tua bermata sipit itu kesal.


Benar kata Nyonya besar. Tuan besar memang kolot.


kata si sopir dalam hati, sembari melihat ayah Kiandra yang berjalan terseok-seok karena tubuhnya yang memang sudah sangat renta.


Pada akhirnya ia cuma bisa mengikuti di belakang, sembari berjaga-jaga jika majikannya itu tergelincir kerikil atau kelelahan.


Setelah beberapa meter melewati pematang sawah dengan penerangan minim, mereka sampai ke sebuah perkampungan dengan rumah-rumah sederhana berhalaman luas.


Setiap ada penduduk yang bersisihan dengan mereka, tak segan sang majikan tersenyum dan menyapa lebih dulu. Hal yang terlihat luar biasa bagi si sopir, sebab ia mengenal Tuan besar nya itu sebagai pribadi yang tegas, bahkan menakutkan.


Contohnya ketika baru dua hari dia menjalankan profesi sebagai sopir pribadi pria berperawakan jangkung tersebut. Ia melihat-nya memukul seorang pegawai dengan tongkat yang kini sedang di bawa hingga gigi-gigi si pegawai koyak nyaris tanggal.


Entah apa kesalahan pegawainya itu. Tapi, rasanya keji jika melihat perbuatan pria tua tersebut.


Lamunan-nya buyar, ketika Tuan besarnya itu berhenti mendadak di sebuah rumah bertembok bata merah dengan kanan-kirinya yang terdapat kebun jagung.


Kening sopir muda itu berkerut, karena Tuan besarnya tak segera masuk ke halamannya yang berpagar bambu.


Suasana perkampungan itu amatlah damai, meski lampu-lampu jalanan masih jarang dan menjadikan suasana tak seterang perkotaan. Namun, di situlah letak istimewanya.


Suara jangkrik, kodok dan hewan malam lain mulai bersahutan. Seolah mereka saling bercerita tentang penatnya hari. Aroma tanah yang bercampur segarnya pepohonan, serta padi-padi yang mulai menguning. Dan syahdunya langit di atas sana yang nampak cemerlang dengan jutaan bintang yang tersenyum.


Tidak ada yang bisa menandingi keindahan alami Sang Pencipta, meski manusia memiliki kecerdasan dan berlomba menciptakan keindahan semu yang hanya cantik di permukaan, tapi merusak jika di perhatikan lebih seksama.


"Nuwunsewu. Cari siapa njih?"


Tiba-tiba saja sudah ada seorang dengan baju lusuh serta alat pancing di pundak berdiri di dekat mereka.


Si sopir kaget. Tetapi, tidak dengan sang majikan.


Apa Tuan sengaja menunggu di depan pagar?


ia bertanya dalam hati sambil memperhatikan dua pria dengan usia dan tampilan bagai langit dan bumi itu.


"Maaf, apa benar itu kediaman bapak Hermawan?" Ayah Kiandra bertanya dengan sangat ramah, sampai sedikit membungkukkan badan karena tingginya yang terlalu menjulang.


"Betul." laki-laki seusia anak pertamanya itu membenarkan. "Tapi...sudah hampir satu bulan ini pak Hermawan sakit sampai ndak bisa nyawah."


"Oohh..." ayah Kiandra manggut-manggut.


"Monggo. Silahkan masuk saja. Pak Hermawan di rawat di rumah. Istri dan anak perempuannya juga ada." laki-laki itu menyarankan sambil lalu.


Kini tinggal Ayah Kiandra dan si sopir yang kembali berdiri bagai patung di tengah jalan.


batin sopir muda itu tak sabar, karena sang majikan masih saja diam tak bergerak.


Hingga perlahan pria itu membuka pagar bambu yang sama lapuknya dengan usianya.


Si sopir tanpa di minta mengikuti di belakang.


Untuk mengetuk pintu pun, dia terlihat ragu. Tetapi, akhirnya di ketuknya juga pintu kayu bercat cokelat tersebut.


Tok, tok, tok...


Hening. Belum ada tanda-tanda orang membuka kan pintu.


Dia kembali mengetuk. Kali ini lebih keras. Sampai akhirnya dari dalam rumah terdengar suara perempuan menyahut.


Tak lama pintu terbuka. Dan seketika itu pula, raut wanita berusia enam puluh tahun itu menegang melihat kehadiran ayah Kiandra.


"Tahu istilah serapat apapun bangkai di sembunyikan tetap akan berbau?" pria itu tersenyum.


"Tolong, Tuan." sekonyong-konyongnya perempuan berkain jarik itu bersimpuh di kaki ayah Kiandra. "Tolong jangan apa-apaan dia. Dia tidak tahu apa-apa...demi Tuhan, tuan...Saya membesarkannya tanpa tahu dia berasal dari mana..." ia langsung histeris sambil memegangi kaki pria yang nampak jumawa itu.


Si sopir yang berada di belakang sang majikan cuma bisa mengkerutkan kening dengan rasa iba mengelayut dada.


Tak lama muncul suami dari wanita yang masih menangis memohon di bawah kaki pria berjas mahal tersebut.


"Apa kabar, Her?" sapa ayah Kiandra dengan senyum yang sama.


Rona ketakutan seketika membayang di wajahnya yang pucat. Tak sampai beberapa menit, lelaki kurus dengan rambut beruban itu ambruk ke lantai.


"Baapaaakkk...!!" jerit si istri seraya menghambur ke arahnya. Kemudian di susul anak perempuan mereka yang baru pulang dari warung dan kaget sampai menjatuhkan obat-obat yang baru di beli.


Desa yang semula tenang dengan pemandangan indah itu langsung berubah gaduh.


.


.


Di waktu yang hampir bersamaan, Anna sedang berada di dalam kamar sembari memperhatiakan boneka teddy bear raksaksa yang kini memenuhi tempat tidurnya.


"Pokoknya bawa! kalau tidak, itu artinya kau tak suka dan akan aku buang."


Anna teringat kalimat perintah dari Kiandra yang bersifat mutlak.


"Mana mungkin aku tega membiarkan boneka selucu dirimu di buang." Anna berkata seorang diri.


Sebenarnya dia menyukai boneka itu. Tapi, ia merasa sungkan dan enggan menerima, karena yang memberi adalah Kiandra.


"Dengan wajah seperti apa kau di beli?" ia terkekeh sambil memandangi wajah tersenyum dari si teddy bear.


Anna jadi teringat masa kecilnya pernah di hadiahkan boneka yang sama. Yah, walaupun tidak sebesar ini. Tetapi, sangat bermakna untuknya, karena itu adalah hadiah pertama dari kedua kakak kembarnya.


"Delana, kami menabung cuma untuk membelikanmu boneka ini."


"Ini benar-benar uang dari tabungan kami."


Mengenang dua saudaranya yang kembar identik itu membuat Anna terharu dan tanpa sadar menitikan air mata.


Tak seorang pun yang tak merindukan tanah di mana dia di lahirkan. Begitupun Anna. Meski yang tersisa hanya pahit. Tapi, tetap saja yang namanya rindu tak bisa berdusta.


"Hei, putri Kelantan!" tiba-tiba seseorang berseru.


Anna tersentak dan menoleh ke sumber suara.


Kiandra sudah berdiri di ambang pintu kamar sambil bersedekap.