
"Kau membentakku?" Alexa tak percaya.
"Bukan membentak. Aku cuma menyuruhmu untuk mengecilkan suara." Kiandra sendiri kaget, sebab kalimat tadi terlontar begitu saja.
Raut Alexa merah padam. Ia sakit hati. Mereka bersahabat sudah bertahun-tahun dan tak pernah sekalipun Kiandra mengeluarkan nada setinggi itu. Apa lagi untuk hal yang tidak ia salah.
Braak!
Alexa mengebrak meja, lalu pergi begitu saja.
Anna sampai terkejut, sebab gebrakan Alexa begitu keras dan tepat di hadapannya.
"Loh? loh? looh...??" Roy ingin memanggil Alexa. Tapi wanita dengan baju hitam seksi-nya itu sudah menghilang di antara kerumunan orang yang tengah berjoget.
"Aku saja." Ethan dengan cepat bangkit dan mengejar.
Kiandra menghela nafas panjang, lalu memegangi kepala. Sungguh, dia tak bermaksud membentak Alexa. Hanya saja...
Ia pandangi Anna dari celah jari. Wajah gadis itu makin pucat dengan ekspresinya yang gelisah.
Kenapa jadi begini?
Kening Roy berkerut sambil bersedekap. Ia lirik Kiandra yang diam-diam tengah memperhatikan Anna, padahal di sampingnya ada Nora yang jauh lebih menarik dari pada gadis di depannya.
Hadeeeh...
Menyadari sesuatu, Roy hanya bisa menghela nafas panjang, lalu mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari telunjuk.
"Maaf..." ucap Anna pelan, membuat Roy yang tengah berkutat dengan pikirannya, langsung menoleh.
Anna meneguk ludah. Dia sungkan dengan Roy yang baru di temuinya. Tetapi, ia lebih tak mau jika harus berbicara dengan Kiandra.
"Saya kesini hanya untuk mengganti lilin. Tapi, ternyata semua lilin masih menyala. Jadi..saya pamit dulu, ini sudah malam sekali."
Suara Anna lirih dan nyaris tertelan musik yang di putar keras-keras. Namun, baik Roy maupun Kiandra, masih bisa mendengar.
Kasihan sekali dia..
Jujur Roy iba pada Anna yang sudah mereka bohongi.
Tapi, ia dan kawan-kawannya harus mengundang gadis itu, semata agar semua jelas dan Kiandra tak perlu lagi mengejar-nya.
"Apa maksudnya dengan mengganti lilin?" sela Kiandra ingin tahu.
Roy dan Anna kompak melihat ke arahnya. Sedangkan Nora hanya menyimak, sembari sesekali meminum Heineken dari gelas kaca-nya.
"Maaf. Saya betul-betul harus pulang." Tak mau lebih lama lagi di situ, Anna segera bangkit, lalu mengambil plastik hitamnya yang berisi lilin dan segera berjalan menjauh.
"Apa-apaan dia...?" Kiandra kesal Anna mengacuhkan-nya. Ia masih di tempat, saat punggung gadis itu terlihat. Tetapi, begitu ia menghilang, Kiandra langsung berdiri.
"Kian." Panggilan Roy menghentikan gerakan Kiandra yang memang ragu untuk mengejar Anna.
Kiandra kembali duduk. "Kalian mengerjai dia?" tanyanya dengan kedua alis hampir menyatu.
Roy mendengus. Ia malah pusing, karena semua malah jadi di luar rencana.
"Nora cantik, kau bisa pindah duduk di bar sana, dan mintalah apa saja pada bartender. Semuanya gratis untukmu." Roy mengedipkan satu mata.
"Benarkah?" mata bulatnya yang di bingkai eyelash palsu berbinar.
Roy mengangguk sembari tersenyum lebar.
"Terima kasih." Nora mencondongkan tubuh, kemudian mencium pipi Roy sekilas dan berlalu.
Kiandra menunjukkan ekspresi jijik, ketika sempat-sempatnya Nora mengedipkan satu mata dan melempar ciuman jarak jauh ke arahnya.
"Yang seperti itu ingin kalian berikan padaku?" Kiandra makin kesal.
Roy tak langsung menanggapi, malah mengeluarkan satu batang rokok dan menyalakan-nya.
"Kau sudah jatuh cinta." ucap Roy setelah menghembuskan asap rokoknya.
"Siapa?" tanya Kiandra.
"Kau." jawab-nya santai.
Kiandra mendengus seraya membuang muka. "Ini bukan tentang jatuh cinta!" ucapnya marah. "Tapi, tentang kalian yang bisa-bisanya bersekongkol di belakangku."
"Kami tak punya pilihan. Ini Bapakmu sendiri yang menyuruh." Roy berdalih.
Kiandra mengusap rambut kasar.
"Yang kami ingin, hanya supaya gosip tentangmu yang homo atau impoten itu hilang. Kau juga hanya perlu menbuktikan bahwa masih normal. Tapi apa? kau malah sudah jatuh cinta."
"Kau itu sampai membentak Alexa! karena apa? karena kau tak terima Alexa membentak dia."
"Aku tidak membentak Alexa! dia saja yang sensitif." Kiandra masih menyangkal.
"Kau masih mungkir?" Roy malah ikut kesal.
"Aku tak pernah mungkir. Aku hanya membicarakan kenyataan!" Kiandra masih bersikukuh dengan ucapannya. "Seharusnya kalian minta maaf pada Anna. Dia tidak tahu apa-apa, dan masih kalian kerjai dengan tengah malam menyuruhnya datang ke Club seperti ini."
"Hooohh..." Roy menyandarkan punggung ke kursi. "Sejak kapan kau peduli pada orang lain? perempuan lagi." Roy pura-pura bodoh.
Seketika wajah Kiandra memerah.
Roy terkekeh sambil geleng-geleng melihat Kiandra yang berwajah kaku salah tingkah dengan meminum equil langsung dari botol.
"Aku hanya kasihan." ucapnya begitu menghabiskan setengah air mineral berbotol warna hijau, yang tak ada bedanya dengan botol minuman keras Heineken.
Lagu That that dari PSY feat Suga BTS yang di remix DJ Angger Domas memenuhi ruang, membuat mereka yang sedang terlena dalam minuman beralkohol makin melambung dan terbang.
Roy menyesap rokok, sambil memperhatikan Kiandra yang tengah termenung.
"Aku tak mungkin jatuh cinta dengan wanita seperti itu kan?" Kiandra menatap Roy. Dari nada bicaranya, itu seperti ungkapan. Tapi, juga seperti pertanyaan.
Roy menipiskan bibir sembari mengetuk rokoknya ke asbak, membuat puntungnya yang terbakar berguguran.
"Kalaupun nanti aku terpaksa menikah, wanita itu haruslah yang bermanfaat untuk kelangsungan perusahaan." Pandangan Kiandra kosong menatap orang-orang yang tengah tertawa menikmati hiburan dunia.
Roy tak menyela, meski kalimat Kiandra terjeda cukup lama.
"Dia harus sempurna sesuai dengan kriteria yang aku mau. Karena kelak, dia tak hanya jadi istriku. Tetapi, juga sebagai pendamping CEO Marthadinata-Sanjaya Groub yang memiliki tanggung jawab besar pada ribuan orang yang mengantungkan hidup keluarganya pada kami." Mata Kiandra nyalang oleh keteguhan.
Aku tak akan mengulang kesalahan bodoh mereka.
Ia melanjutkan dalam hati.
"Baguslah kalau kau memang berpikir begitu." Roy mematikan rokoknya yang tinggal puntung. "Itu artinya kami tak perlu khawatir. Karena...perhatianmu pada perempuan itu, membuat kami sedikit cemas." ia terkekeh.
"Aku tahu levelku." Kiandra menarik sudut bibir.
Namun, ketika dia membayangkan wajah Anna yang pucat dan selalu terlihat ingin menangis, seolah di dalam hati-nya ada lubang besar yang menganga.
Sesuatu yang tak Kiandra pahami. Dan yang ia tahu, merubah tampilan gadis itu menjadi lebih segar dengan make up lah jalan satu-satunya, agar pilu itu terusir dari wajah-nya dan hati Kiandra bisa ikut merasa tenang.
"Oya," Roy mengambil sesuatu dari bawah meja. "wanita itu menitipkan ini pada Ethan." Roy meletakkan dua paperbag warna pink dan tosca di atas meja.
Kiandra kaget. Itu adalah make up dan anting yang dia berikan untuk Anna.
"Ada ponselmu juga yang tertinggal di toko bunga itu." Roy mengeser benda pipih warna hitam yang di keluarkan-nya dari salah satu paperbag.
Kiandra meraih ponsel miliknya yang telah beberapa hari lalu hilang, kemudian ia sentuh beberapa angka yang menjadi password smartphone tersebut.
Layar menyala dan masih memperlihatkan halaman game mobile legend -nya yang belum log out.
Kiandra tertegun. Ia teringat moment Anna sedang merangkai bunga dan ia memperhatikan gadis itu sampai lupa dengan game kegemarannya ini.
"Tolong jangan mengirim apapun lagi."
Sorot mata Anna yang selalu di liputi kegelisahan muncul dalam pikiran.
"Saya kembalikan."
Bibir pucatnya yang malah terlihat begitu mengoda, sampai memunculkan hasrat untuk **********.
"Kenapa anda selalu memaksa saya?"
Sampai ketika gadis itu menangis dan gemetar pun, kini tengah berseliweran di dalam kepala.
Tidak. Aku tak akan sebodoh itu.
Kiandra meraih botol heineken yang entah milik siapa, kemudian untuk pertama kalinya selama 35 tahun, ia menengak minuman beralkohol.
...----------------...
Halo, terima kasih sudah membaca.
Menurut kalian cerita ini bagaimana? entah kenapa, saya merasa insecure 😂
Happy Weekend 🥳
Sehat dan bahagia semua pembaca Seducing Miss Introvert.
-🍀-