
Sepertinya Kiandra baru beberapa menit saja tertidur. Tatapi, gedoran pintu kamar di sertai suara ribut yang tak kunjung berhenti, memaksanya untuk bangun.
"Om Kiikiii...!"
"Om Kiki, sudah siaaanngg...!"
"Om Kiikiii...!"
"Ooomm...!!"
"Berisik!" Kiandra melempar batal ke arah pintu dengan mata terpejam.
Namun, panggilan dua bocah itu terus saja berlanjut. Seperti kaset rusak, mereka berteriak-teriak dan mengedor pintu kamarnya tanpa jeda.
"Dimana pawang-nya? kenapa mereka di biarkan berkeliaran....?" Kiandra merengek, sambil menutupi telinga-nya dengan bantal.
"Oooommm...!!"
"Om Kiikiii...!"
Suara cempreng mereka makin merusak gendang telinga.
"Astagaa...makan apa Kirana, sampai anak-anaknya seberisik ini...??" Kiandra tak habis pikir.
Berkali-kali ia pindah posisi tidur, agar suara dua mahluk itu tak menganggu. Tapi, bukannya mendapat nyaman, kepala Kiandra malah pusing. Sampai akhirnya, dengan sangat terpaksa ia menyingkap selimut.
"Om Kikiii...!"
"Om Kiikii...!"
Tanpa lelah, bergantian mereka memanggil. Kencang dan melengking suaranya. Alami tanpa perlu toa.
Kiandra duduk di pinggir ranjang dengan mata setengah terpejam. Wajahnya kusut, dengan mimik masam dan rambut tak beraturan.
Dook! Dook! Dook!
Mungkin sekarang, dua bocah itu menggunakan kaki untuk mengedor pintu, sebab kedengarannya lebih keras dari yang tadi.
Kiandra mengacak rambutnya kesal. Gara-gara Anna dia baru bisa tidur pagi. Tubuhnya masih lelah, serta matanya pedih minta di istirahatkan. Tetapi, dua makhluk antah berantah ini malah mengusik ketentraman-nya.
"Mungkin setelah ini aku pulang saja..." Dengan langkah gontai, Kiandra berjalan menuju pintu.
"Iiiiihhhh...Om Kiki p*rno nggak pakai bajuuu...!" tunjuk Kalila, begitu dia membuka pintu.
Kiandra yang masih memegang handel, dan mengintip dari balik pintu mendengus dengan bola mata berputar.
"Mentang-mentang badanya bagus, sukanya pamer." Kama mencibir, saat Om-nya itu bersedekap, sambil bersandar pada pinggir pintu.
"Tenang saja. Kakak pasti lebih keren dari Om Kiki besok. " Kalila meyakinkan saudara kembarnya.
"Tentu saja!" Kama mengusap hidung penuh percaya diri.
Kiandra menguap lebar mendengar pembicaraan dua anak kembar identik tersebut.
"Kama! Kalila!" panggil suara lain.
Kiandra menoleh ke sumber suara, dan mendapati kakak perempuan-nya sedang berjalan ke arahnya.
"Mama?" bersamaan Kama dan Kalila menyerbu sang ibu.
"Kenapa lama sekali?" tanya wanita 50tahun yang masih nampak awet muda tersebut.
"Om Kiki nggak bangun-bangun." kompak mereka menunjuk Kiandra.
Kirana melirik ke arahnya. Tapi, Kiandra pura-pura tak melihat.
"Kalian turun duluan. Kakek, Nenek dan Papa sudah menunggu." sedikit membungkuk, Kirana memerintah.
"Kami mau sama Om Kiki." Kalila merajuk.
"Kami mau minta gendong lagi." Kama menambahkan.
Muka Kiandra tertekuk mendengar ucapan duo bocil tersebut.
"Eh, Nenek memasak cumi tepung kesukaan kalian." si ibu pura-pura berbisik di telinga mereka.
"Yang benar?" mata keduanya membelalak.
Kirana mengangguk sambil tersenyum.
"Yeeeyy...! " Kama dan Kalila kegirangan.
"Tapi..."
Sorak-sorai keduanya terhenti. Mereka memandang si ibu dengan raut penasaran.
"Tapi, Mama tidak menjamin cumi tepungnya masih banyak, kalau kalian tetap di..." ia belum menyelesaikan kalimat-nya.
Namun, Kama dan Kalila yang sudah paham, segera berlomba menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
Kirana terkekeh melihat tingkah kedua buah hatinya. Terkadang mereka membuatnya bagai monster dengan intonasi suara jutaan oktaf tingginya. Tetapi, dengan cepat pula, mereka merubah-nya menjadi wanita paling beryukur di dunia.
Kirana tidak tahu, bahwa sedari tadi Kiandra terus memperhatikan. Tanpa mengatakan sepatah katapun, Kiandra hendak menutup pintu kamar.
Namun, dengan sigap Kirana langsung menahan-nya. Kening Kiandra berkerut menatap kakak satu-satunya itu. Sebenarnya, bisa saja ia acuh dan tetap menutup pintu. Tapi, jika itu di lakukan, maka jari Kirana yang menahan daun pintu, akan ikut terjepit.
"Ibu memintamu untuk ikut sarapan bersama." Kirana harus mendongkak, karena postur si adik yang tak ubahnya dengan sang Ayah.
"Minggir." tak menanggapi ucapan kakak-nya, Kiandra malah menyuruh pergi.
Tapi, Kirana justru semakin kuat menahan daun pintu agar tetap terbuka.
Waktu kecil dia memang pernah di mandikan Kirana. Dia tahu hal itu karena ada fotonya, dan sang ibu sering sekali menjadikan hal itu guyonan, agar dia mau berdamai dengan kakak-nya.
Kirana memicingkan mata. Sesaat dia cuma menatap. "Apa yang semalam kau lakukan di rumah kaca?" ia bertanya.
Seketika ekspresi Kiandra berubah. Ia terdiam, sampai dengan mudah-nya Kirana membuka pintu lebar-lebar, kemudian masuk ke dalam kamar.
"Jangan-jangan... kau mengambil salah satu tanaman langka di sana untuk kau bawa pulang." tuduh Kirana kemudian.
"Apa...??" Kiandra tertegun. Pikirannya sudah cemas, kalau-kalau Kirana mengetahui perbuatannya. Namun, ternyata yang di bahas hanya soal tanaman.
Ia geli pada diri sendiri, juga pada pemikiran kakaknya yang sejak dulu sangat polos.
"Apa yang kau tertawakan?" Kirana mendelik, sebab mengira Kiandra menertawakan-nya.
Sayangnya hal itu malah membuat tawa Kiandra makin menjadi. Mata Kirana lebih sipit dari-nya, jadi mau melolot seperti apa pun, akan tetap terlihat sama saja.
"Kau itu sudah ibu-ibu. Tapi, hahahahaa... tetap saja seperti bocah." Kiandra terbahak.
"Apa kau bilang?" Kirana tersinggung dan langsung mencubit pinggang adik-nya yang terbuka.
Kiandra berteriak, karena cubitan Kirana memang sangat sakit.
Tak cukup dengan mencubit, Kirana memukuli punggung, serta pundak Kiandra berkali-kali, sampai pria itu benar- benar berhenti tertawa.
"Sudah gila apa kau ini?" Kiandra yang bertelanjang dada, berusaha menghindar dan melindungi diri.
"Kau yang gila tiba-tiba menertawakanku!" Kirana berjinjit, kemudian dengan cepat menarik telingan Kiandra sampai merah.
"Sialan! kau pikir aku anak kecil?!" Kiandra emosi.
"Kau bilang apa padaku?!" Kirana tak terima.
Dave yang khawatir, karena istrinya tak kunjung turun. Mendengar perdebatan kakak-beradik itu dari samping kamar yang terbuka.
Tetapi, anehnya pria paruh baya itu malah tersenyum.
"Pantas kau jomblo sumur hidup, mulutmu kasar pada wanita!" cerca Kirana sambil berkacak pinggang.
"Heh, kenapa pembahasan-nya sampai sana?" muka Kiandra merah padam.
Dave memutuskan untuk pergi, karena sepertinya si istri dan adiknya, membutuhkan waktu lebih lama untuk melampiaskan rindu.
Ketika Dave kembali ke ruang makan, ia melihat Anna sedang membantu menyiapkan sarapan.
Kedua anak kembarnya sudah tak sabar, ketika wanita itu menyuguhkan sepiring besar cumi goreng tepung.
"Taruh sini, taruh sini." kicau mereka, supaya Anna menempatkan piring cumi tepung di dekat mereka.
Dengan senang hati, wanita dengan rambut panjang terkuncir itu menaruh piring cumi tepat di hadapan anak kembarnya.
"Mana Kirana dan Kiandra, Dave?" pertanyaan si ibu, membuat Dave yang masih mematung di tengah ruang tergugah.
Saat itulah, Anna bertemu pandang dengan Dave. Tetapi, itu hanya sesaat, karena Anna langsung menunduk dan kembali ke dapur.
"Mereka akan segera menyusul." Dave menjawab sambil tersenyum dan duduk di bangkunya.
"Mungkin mereka berdua sedang kangen-kangenan." Ayah Kiandra terkekeh.
"Kangen-kangenan?" dahi istrinya berkerut, karena jelas hal itu tak mungkin.
"Dad benar." Dave mengamini.
"Bukan, bukan!" Kalila yang mulutnya penuh makanan ikut bicara.
Ketiga orang dewasa yang berada di meja makan, segera menaruh perhatian pada si kembar.
"Om Kiki di marahi Mama." ia melanjutkan.
"Kalila." Ayahnya mengelengkan kepala.
Bibir anak perempuan itu langsung mengerucut.
"Kenapa Om Kiki di marahi?" Kakeknya malah menganggapnya gurauan.
"Soalnya Om Kiki nggak pakai baju." jawab Kama lugas.
Semua yang di situ tertawa, tak terkecuali Dave yang mengulum senyum.
Anna kembali dengan membawa sayur bayam yang masih mengepulkan asap. Hati-hati ia berjalan menuju meja makan.
"Kalian jangan suka bicara sembarangan." Ayahnya menasehati.
"Enggak kok." ucap Kama cepat, dan di iyakan oleh Kalila yang mengangguk-angguk.
"Kami dengar sendiri suara Mama yang marah." Kama berkata, seraya memasukan cumi goreng tepung ke mulut.
"Om Kiki sih, tidur nggak pakai baju." Kalila mengejek.
"Mungkin Om Kiki kegerahan." kali ini Neneknya yang menanggapi santai. Sedangkan si Kakek, masih saja geli mendengar ocehan dua cucunya.
Anna yang masih membawa sayur, turut tersenyum mendengar cerita si kembar yang menurutnya sangat mengemaskan.
"Enggak mungkinlah Nek, kan pakai AC." Kama menyangkal.
"Oya?" Neneknya pura-pura kaget.
"Om Kiki itu cuma mau pamer, soalnya badanya kotak-kotak." celetuk Kalila.
Tiba-tiba Anna menjerit, bersamaan dengan sepanci sayur panas yang tak sengaja di jatuhkannya.