
Kiandra merenggangkan tubuhnya kuat-kuat lalu membuka mata. Perjalanan panjang serta pikiran yang terus menegang sejak rencana pernikahann dan kekhawatiran tentang pernikahan itu sendiri membuatnya jauh lebih lelah.
Dia masih tidur telentang dengan selimut yang menutupi diri sembari memandang langit-langit kamarnya yang berornamen emas.
"Kamar tidur tamu saja seperti ini. Bagaimana kamar tidur utama...?" gumannya dengan kedua mata yang lebih sipit dari biasa karena masih mengantuk.
Kiandra pindah posisi menjadi miring ke kanan, kemudian menatap jendela besar yang tertutup kordeng tebal warna putih dengan sulaman benang emas.
"Istana." kadang ia masih merasa geli dengan semua ini.
Ingatan pertemuannya dengan Anna, lalu rasa tertariknya yang ajaib pada gadis itu, membuatnya tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Mungkin aku harus berterima kasih pada Kirana.
batinnya mengenang piyama Keroppi Anna yang selintas mirip dengan kakak perempuannya itu.
Ia kembali telentang, lalu mengusap rambutnya yang kusut hingga keningnya yang lebar terlihat.
"Aku tak mau menikah."
Dia teringat perkataannya sendiri. Kemudian kembali bibirnya mengulas senyum.
Sebenarnya aku juga masih ragu untuk menikah. Tapi...
keningnya berkerut mengingat apa yang sudah di perbuatnya.
Ternyata nafsuku jauh lebih besar dari yang ku kira.
ia menghela nafas.
Kamar tidur seukuran rumah type mininalis itu lengang dan hampir tak ada suara apapun. Ranjang yang nyaman. Di tambah udara dingin yang berhembus dari pendingin ruangan. Membuat Kiandra enggan untuk bangun.
Namun, tiba-tiba pria yang punya kebiasaan tidur dengan bertelanjang dada itu bangkit dan menyibak selimut.
"Jam berapa ini?" ujarnya kaget.
Kiandra melihat jam besar di sudut telah menunjukkan pukul sebelas siang.
"Astaga... kenapa tidak ada yang membangunkan ku?" dengan terburu ia turun dari ranjang sampai hampir terjerembab selimut yang jatuh ke lantai. "Kemana Ibu? Kirana? Apa mereka ingin aku terlihat pemalas di mata calon mertua?" ia mengomel sembari membuka pintu kamar mandi.
Meski kelihatan seperti di buru waktu. Tapi kenyataanya Kiandra tetap dengan ritual mandinya yang lama.
Dia keluar dari kamar mandi satu jam kemudian dengan handuk putih yang melilit bagian bawah tubuh. Lalu mengagumi perutnya yang terbelah enam dengan sempurna di depan cermin, mengusap-usap rambutnya yang basah dengan handuk kecil, dan baru melengang untuk berganti baju.
Kira-kira dua jam dari bangun tidur, kini Kiandra sudah rapi dengan kemeja lengan panjang yang terlipat sampai siku dan aroma parfume Chanel Platinum Egoiste yang memembuat siapapun ingin memeluk dan menghirup wanginya dalam-dalam.
Baru saja ia melangkah menuju pintu. Tetapi kembali lagi ke meja rias, untuk memakai jam tangannya yang tadi terlupa.
"Perfect!" ujarnya sambil tersenyum melihat pantulan diri di cermin.
Mungkin setelah menikah Kiandra akan mendapat banyak pahala, karena istrinya pasti tertawa melihat kebiasaan narsisnya itu.
.
Ketika membuka pintu, ternyata telah ada Pelayan yang menunggu. Dengan sangat hormat, pelayan pria dengan baju tradisional Kelantan warna hitam itu meminta Kiandra untuk mengikuti.
Kalau tidak ada orang ini. Aku benar-benar bisa tersesat.
pikir Kiandra sembari melihat sekeliling istana yang memang jauh terlihat indah jika siang hari seperti ini.
Selesai menuruni anak tangga, lalu berjalan melintasi ruangan mirip aula, kemudian melintasi taman dan masuk kembali ke sebuah ruangan. Akhirnya samar-samar Kiandra mulai mendengar suara yang tak asing baginya.
"Delana senang sekali dengan hadiah Abang."
Kedua alis Kiandra hampir menyatu mendengar suara Anna yang terdengar riang.
"Silahkan..." Pelayan itu sedikit membungkuk seraya mempersilahkan Kiandra untuk masuk ke dalam.
Meski hanya kepada pelayan. Tetapi Kiandra tetap menganggukkan sedikit kepala sebagai bentuk kesopanan.
.
Di ruangan yang tak kalah megah dengan ruangan-ruangan lain. Kiandra melihat Anna sedang berbincang dengan seorang laki-laki yang ia kira adalah Majeed.
"Kiandra!" Anna berseru saat melihatnya.
Raut pria mirip Majeed yang tadinya terlihat senang itu, mendadak berubah serius saat melihat kedatangannya.
Kenapa dia melihatku begitu?
batin Kiandra heran.
"Ini Abang Maheer." Anna memperkenalkan begitu dia duduk.
Kedua mata Kiandra membulat. "... Dia...?" ia menunjuk ke arah pria yang masih menelitinya dari atas sampai bawah.
Anna terkekeh. "Kembaran Abang Majeed." ia menerangkan.
"Nice to meet you, Kiandra." Maheer mengulurkan tangan kanannya terlebih dahulu.
Kiandra menyambutnya sembari tersenyum kaku.
Kenapa aku jadi teringat duo keponakanku devil ku?
pikirnya saat melihat Maheer.
"I senang you tangkap Enrico hanjing tu." ia tertawa. "Biar die membusuk kat penjara sana!"
Kiandra sedikit terkejut dengan omongan pria yang duduk di samping Anna tersebut.
Aku pikir anggota Kerajaan itu selalu jaim. Ternyata ada yang blak-blakan seperti ini.
ia berkata dalam hati.
"Kian, Abang membawakan oleh-oleh cantik." Anna menengahi, agar mereka tak lebih jauh membicarakan tentang Rico.
Kiandra melihat Anna membuka paperbag berwarna pink yang tadinya berada di atas meja.
"Mutiara Sabah." Anna memperlihatkan sebuah bros dengan hiasan mutiara putih semu merah muda dalam sebuah kotak berwarna hitam.
Respon Kiandra biasa saja, karena memang benda itu kecil dan sederhana. "Kau suka yang seperti ini?" tanyanya.
Anna mengangguk mantap. "Iya!" ia menjawab. "Ini hadiah yang aku minta untuk ulang tahunku tiga tahun lalu. Dan Abang benar-benar membelikannya." ia menoleh ke arah Maheer dan tersenyum mesra.
Maheer membalas dengan mengacak rambut adiknya itu penuh rasa sayang.
"Jangan kabur-kabur lagi, Ok?" pria berwajah sangat mirip dengan kembaranya itu meminta.
Anna mengangguk-angguk sembari memegangi tangan Maheer yang mengusap lembut pipinya.
Apa-apaan itu?
dalam hati Kiandra cemburu.
"Oya, dimana yang lain?" tanya Kiandra alih-alih membuatnya merasa seperti obat nyamuk dengan keakraban kakak beradik itu.
"Sedang berkeliling Istana." Anna menjawab. "Soalnya kau tidurnya lama." ia bergurau, yang di sambut tawa kecil Maheer.
Sial, kenapa begini saja aku kesal?
batinnya tak habis pikir.
"Ayo, aku antar makan." ajak Anna sambil menyimpan kotak kecil berisi bros Mutiara Sabah tadi ke tempatnya. "Kau pasti lapar, kan?" ia tersenyum kepada Kiandra.
Tetapi, pria berkemeja cokelat itu cuma diam.
"Jom!" Maheer bangkit dari duduk. "Abang Majeed masak pulut bakar and sirah labu. You harus cuba, lezat!" ia sudah merangkul Kiandra dan memaksanya berdiri.
"Makanan apa itu?" tanyanya malas-malas.
"Makanan Kelantan punyalah, Bro." ujar Maheer sambil menepuk pundak Kiandra cukup keras sampai meringis.
Anna yang tertinggal di belakang, senang melihat Kakaknya merangkul Kiandra sambil berjalan beriringan.
"Hei Bro, untung you handsome." ucap Maheer sembari melepas rangkulan dan memasukan kedua tangannya ke saku celana.
Kiandra menoleh ke arahnya untuk menuntut penjabaran lebih. Akan tatapi, Pengiran Negeri Kelantan itu tak mengucap apa-apa lagi dan malah berjalan lebih dulu.
Sikapnya berbeda sekali dengan kembarannya.
Kiandra mencibir dalam hati.
"Abang Maheer memang seperti itu." Anna yang menyusulnya berkata.
"Seperti itu menyebalkan maksudnya?" ia mencelos.
Anna terkekeh.
"Kau senang ya?" sunggutnya.
"Senang karenamu." sambung Anna seraya mengandengnya. "Terima kasih sudah mengantarku pulang." ucapnya sambil mendekap lengan pria itu.
Kiandra pura-pura acuh. Padahal dadanya berdebar dan wajahnya memerah sampai telinga.
"Hei! tengok-tengok kalau nak mesra-mesraan!" seru Maheer dari kejauhan.
Anna kaget dan segera menjaga jarak dengan Kiandra.
Melihatnya Maheer tertawa, lalu balik badan dan kembali berjalan.
"Itu yang di maksud seperti itu?" sindir Kiandra sembari melihat kakak lelaki Anna dengan ujung mata.
Anna cuma mengulum senyum.