
"Walau berbeda ibu, tapi tetap saja mereka sedarah."
"Tidak di sangka, keluarga Marthadinata yang terhormat menganut faham philadelpoi*."
(pernikahan sedarah)
"Jangan-jangan itu semacam tradisi agar keluarga mereka tetap jaya di masa krisis seperti ini."
"Mengerikan kalau memang seperti itu."
Slentingan-slentingan tak enak yang dahulu sering di dengar makin membuat Kiandra emosi.
Di kegelapan malam dia berjalan cepat menelusuri jalan setapak yang membelah kebun mawar putih milik si ibu menuju rumah. Jarak yang cukup jauh dari rumah kaca membuat pikiran Kiandra kian panas oleh kenangan di masa lalu.
"Semua juga tahu tentang aib keluargamu."
"Eh, kau tak tertarik pada wanita, atau sebenarnya cuma tertarik pada saudara perempuanmu?"
"Sister complex."
"Tidak, bukan sister complex. Tapi memang keluarga mereka yang punya kelainan penyuka saudara sendiri."
Kata-kata menyakitkan yang harus ia terima ketika awal masuk kuliah masih terpatri jelas dalam pikiran, dan atas nama estetika ia cuma bisa diam, walau setelahnya semua di bungkam oleh si Ayah tanpa di ketahui siapapun.
Namun, bagi Kiandra yang menjunjung nama baik serta kesempurnaan hidup sudah terlanjur sakit hati oleh semua hinaan pasca kedua kakaknya itu menikah.
"Ibu memang terlalu memanjakanmu!"
amukan Kirana terngiang, membuat Kiandra makin emosi.
Dia teringat bagaimana setiap malam Ibunya yang sudah tua menangis diam-diam, karena merindukan kakak-nya yang hidup jauh dari rumah dan dalam keadaan miskin.
Kiandra juga mengingat bagaimana Ayahnya rela di kecam sana-sini, bahkan beberapa ada yang memutus hubungan kerja, hanya untuk memenuhi ego kakaknya yang ingin menikah dengan seorang pria yang dalam akte keluarga di nyatakan sebagai anak kandung.
Semua tersakiti karena pernikahan itu. Tapi pada kenyataannya, Kiandra lah yang paling banyak menelan pil pahit.
Dave yang di bangga-banggakan ternyata orang lain, kemudian mereka yang tetap melangsungkan pernikahan tanpa mempedulikan pandangan masyarakat, dan mereka juga yang dengan seenak jidat menunjuknya untuk mengambil alih tanggung jawab atas Sanjaya Company, perusahaan retail milik keluarga Dave. Padahal ketika itu jelas-jelas ia buta sama sekali akan jenis usaha tersebut.
Bagaimana mungkin, dia yang separuh hidup hanya mempelajari property bisa serta merta paham tentang retail yang banyak jenisnya. Kiandra memijit keningnya yang berdenyut pusing.
Lebih sialnya lagi, kedua orang tuanya mendukung hal tersebut, karena dia di anggap mampu.
Mampu sampai rambutku rontok dan aku terpaksa memangkasnya pendek seperti ini?!
Kiandra menyepak tanah yang di lewati, membuat kakinya kotor dan tanah merah itu terbongkah.
Rasanya ingin sekali ia langsung pulang ke apartemen, dari pada lebih lama lagi berkumpul dengan Kirana dan Dave di rumah ini. Tetapi, otaknya masih bisa berpikir panjang. Seandainya itu ia lakukan, masalah akan menjadi besar, Ayah dan Ibu nya pasti akan tahu, dan jika sudah menyangkut kedua orang tuanya, hasilnya pasti tak akan bagus.
Kiandra mempercepat langkah menuju rumah yang nampak benderang dari kejauhan. Tinggal beberapa meter lagi ia mencapai beranda, ketika tiba-tiba lengannya di raih seseorang.
"Tuan muda Kiandra!" seru Anna membuat-nya kaget. "Saya berkali-kali memanggil anda." ia menerangkan sambil mengusap dahinya yang berkeringat dengan punggung tangan.
"Kau...berlari menyusulku?" selidik Kiandra setelah mengamati Anna yang nampak kelelahan.
Wanita itu mengangguk rikuh.
"Di perintah Kirana?" tuduhnya.
"Tentu saja tidak!" Anna mejawab cepat seraya beberapa kali mengeleng-gelengkan kepala.
Kiandra mendengus sembari membuang muka. Ia masih malu soal Kirana yang menampar dirinya di depan wanita itu. Seandainya tadi yang menampar adalah Dave, tentu akan lain ceritanya.
"Saya.. saya hanya ingin minta maaf. Gara-gara saya..." Anna yang gugup mencoba menglarifikasi.
Kiandra berdecak malas sambil mengibasakan tangan, kemudian mulai melangkah. Tapi, Anna kembali menghalangi.
"Saya senang mendapat boneka itu!" ujarnya lantang di depan pria berwajah dingin tersebut.
Seketika Kiandra tertegun.
Sebenarnya Anna hanya spontan agar pria itu mau berhenti untuk mendengarkan-nya bicara. Tetapi, lepas dari semuanya, apa yang di katakannya tadi memang benar adanya, bahwa dia bahagia karena semua perhatian yang pria itu berikan, termasuk soal boneka teddy bear raksaksa yang kini menghuni kamarnya.
Kiandra tak merespon. Hanya kerutan di dahinya yang makin dalam, serta sorot matanya yang makin tajam menatap.
Matanya indah sekali...
dalam hati Anna malah memuji, saat kedua bola mata Kiandra yang beriris warna cokelat terang itu tertimpa bias cahaya lampu.
Sejak pertama bertemu, dia memang sudah menyukai mata itu. Mata yang sama dengan milik Andreas Reynald Marthadinata yang menjadi cinta pertamanya. Bagai sebuah keajaiban, setelah bertahun-tahun berlalu ia bertemu dengan putra-nya, dan kini tinggal satu atap.
Dan putranya itu menyukaiku..?
Anna terkejut oleh pemikirannya sendiri.
Ia segera tersadar dari lamunan dan mendapati Kiandra masih diam memperhatikannya.
"... Yang... yang ingin saya sampaikan lagi adalah.. sesudah Tuan Muda Kiandra pergi, Nona Kirana juga menangis.." Anna tertunduk cemas, karena dia baru saja ingat untuk tak memanggil Kiandra dengan sebutan Tuan Muda.
Semoga dia tidak marah.
Anna berdoa di dalam hati.
Ia lirik Kiandra yang bertampang garang, lalu kembali menunduk takut.
Apa seharusnya aku tak ikut campur?
tanyanya pada diri sendiri.
Tapi.. Nona Kirana sudah begitu baik, dan aku tak mau mereka bertengkar hanya karena salah paham.
hati Anna makin gelisah.
Ia mengira pertengkaran antar saudara itu di sebabkan olehnya, padahal hubungan keduanya memang sejak lama sudah tak baik.
"Menangnya kenapa?" tanya Kiandra tanpa di duga.
Kedua mata Anna melebar. Ia bingung dengan pertanyaan Kiandra yang menurutnya aneh.
"Aku sudah sering melihatnya menangis." ucap pria itu kemudian.
"Apa...?" Anna tertegun.
Kiandra tak menjawab dan langsung pergi melewatinya begitu saja.
Sialan, aku kira dia mengejarku karena peduli. Tapi ternyata karena Kirana.
batin Kiandra makin kesal.
.
Sementara itu di salah satu unit aprtemen yang berjarak tak jauh dari rumah keluarga Martahdinata, Victoria baru saja keluar dari kamar mandi.
Ia merasa segar setelah berendam cukup lama di dalam bathub berair hangat dengan aroma rempah yang membuatnya rilex.
Wanita kelahiran Munchen itu baru saja duduk sambil mengeringkan rambut panjangnya dengan handuk, ketika ponsel yang ia taruh di meja menyala.
Dia raih benda pipih tersebut, lalu mengeser layarnya. Senyum simpul seketika tersungging menghiasi wajah cantiknya yang biasa minim ekspresi.
Aldo mengirim foto dirinya yang kini sudah berhasil menjinakkan Snow, anjing jenis husky siberian yang dahulu di punggut Kiandra dari jalanan.
Selama Kiandra tinggal di rumah orang tuanya, Aldo memang yang di tugaskan mengurus hewan tersebut di Apartemen si Chief.
Disaat Victoria masih bimbang membalas atau tidak pesan tersebut, mendadak panggilan telpon dari Ayah Kiandra membuyarkan romantisme-nya.
"Tidak biasanya Tuan Besar menelpon di jam seperti ini." ucapnya waspada.
Ia segera mengeser tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Selamat malam, Tuan Besar." Victoria memberi salam.