Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
BAHAGIA



"Ada apa?" tanya Dave sembari menenagkan istrinya yang menangis.


Tapi, Kirana belum mau buka mulut. Ia menyesal sudah menyinggung masa lalu orang tuanya yang semestinya tak perlu, tetapi kelakuan adiknya sungguh tidak bisa ia toleri.


Kenapa Kian jadi laki-laki seperti itu...?


batinnya yang masih menganggap Kiandra anak baik, masih tak bisa menerima.


Bertahun-tahun mereka bermusuhan untuk masalah yang sulit di jelaskan. Dan kini setelah mereka bisa sedikit lebih dekat, ia di perlihatkan sesuatu yang mengorek luka lama.


Masih sangat Kirana ingat, bagaimana sakit hati dirinya saat mengetahui ia anak di luar penikahan, serta lebih perihnya lagi, ia adalah anak hasil p*merkosaan.


Iya, Ayahnya mendapatkan Ibunya dengan cara paling kotor. Hal yang mustahil di percaya, jika melihat kemesraan hubungan mereka kini. Tetapi, itulah kenyataan yang harus Kirana telan.


Pernikahannya dengan Dave pun menjadi sulit karena hal tersebut. Walau setelahnya semua bisa di atasi, tapi tetap saja itu menjadi trauma tersendiri.


".. Aku tidak ingin Kian mengalami nasib sepertiku." ucapnya setelah bungkam cukup lama.


Dave memandang tak mengerti.


Kirana mengusap matanya yang basah, lalu balas menatap si suami. "Kian dan Delana, mereka... sudah melakukan hal di luar batas." ia memberitahu.


Pria yang separuh hidupnya di penuhi kegusaran tentang garis hidup yang rumit itu tertegun.


Air mata Kirana kembali meleleh. "Aku sudah menduga... Kian yang bertahun-tahun tak tertarik kepada wanita, tiba-tiba sekarang bisa seterikat itu dengan Delana."


Dave menyimak.


"Itu karena mereka memang sudah terikat." ia melanjutkan.


Pria setengah baya itu belum memberikan komentar, kecuali hanya mengusap pipi istrinya yang sembab.


"Kian tak tahu apa-apa tentang masa lalu Daddy dan Ibu. Tapi..., kenapa dia melakukan kesalahan yang sama...?" raut wanita itu semakin sedih.


Dave segera memeluk untuk memberikan ketenangan. Ia juga mengelus-elus rambutnya, sembari mendengarkan luapan emosi wanita yang sangat ia cintai itu.


Diam-diam ia merasa bersalah, karena istrinya tahu bahwa dia anak hasil p*merkosaan dari mulutnya sendiri, yang kala itu sama-sama naif dan tak tahu apa-apa.


"Kirana, mungkin kau lupa satu hal." ucap Dave setelah tangis istrinya mulai reda.


Kirana yang masih menyeka sisa air mata dengan tisu melihat ke arahnya.


"Kau tidak bisa membandingkan kasus Dad dan Ibu, seperti Kian dan Delana." ia melanjutkan.


"Tapi," wanita yang masih terlihat muda di usia lima puluh tahun itu hendak protes.


"Mereka saling suka." potong suaminya cepat.


Seketika ia tercenung.


"Kian dan Delana. Mereka melakukan atas dasar suka sama suka." tandasnya. "Meski itu salah. Tapi kalau melihat sifat Kian, pasti dalam waktu dekat ini dia akan segera menikahi Delana, dan bukankah itu akan membuat kita semua senang?" ia bertanya.


Kirana tak menjawab, ia masih gamang dengan pikirannya sendiri.


Dave menaruh tangan ke pundak istrinya, membuat wanita itu melihat ke arahnya. "Aku bukannya membela Kian. Tapi, sekali lagi aku mengingatkan, Kian sudah dewasa dan tidak sepatutnya kita terlalu ikut campur ke dalam urusan pribadinya."


Kirana langsung memalingkan muka. Ia tak setuju dengan pendapat suaminya. Tetapi, ia tak bisa menyanggahnya.


"Ayolah Kirana, kita sudah setua ini, perluaslah sudut pandangmu." Dave berkata dengan nada lembut. "Kita semua punya dosa, hanya jenisnya saja yang berbeda. Tidak perlu terlalu menilai buruk pada sesuatu, yang bisa saja itu menjadi awal perubahan ke arah yang lebih baik." pria itu mencoba bijak.


Kirana tertunduk mendengar nasehat dari pria yang selalu tenang dalam menghadapi segala situasi itu. Kemudian mengangkat muka dan mereka saling pandang.


"Dad dan Ibu akan senang...?" ia mencoba tersenyum meski kaku. "Setelah bertahun-tahun menanti, akhirnya harapan untuk melihat Kian menikah akan terwujud...?" kedua matanya yang berwarna cokelat terang berkaca-kaca.


Suaminya mengangguk seraya tersenyum.


Kirana menyandarkan kepalanya ke pundak pria yang menjadi cinta pertama dan selamanya itu. "Maaf aku tak berpikir panjang." ucapnya menyesal. "Aku hanya tak mau Kian seperti kita. Aku ingin dia bahagia." lanjutnya.


"Kian pasti bahagia." si suami menyakinkan.


Pasangan tersebut saling pandang, lalu saling menautkan bibir sesaat.


Jangan ada yang seperti kita.


doa Kirana dalam hati.


Seolah bisa mendengar suara hati istrinya, Dave membingkai wajah wanita itu, kemudian mengecup pipi kanan dan kirinya. "Tidak akan ada lagi yang seperti kita." ia berbisik.


Keduanya saling menempelkan kening dan tersenyum haru.


.


.


Pagi harinya, keluarga tersebut sudah berkumpul untuk melakukan sarapan bersama untuk yang terakhir, itu karena Kirana dan Dave yang harus kembali ke Tawangmangu dan Kiandra yang akan kembali ke Apartemennya sendiri.


Kama dan Kalila tak henti-hentinya mengoceh tentang aksi mereka di pesta, lalu memuji keharmonisan Kakek dan Neneknya, alih-alih tak ingin pulang, karena akan kembali bersekolah.


Mereka makan dengan atmosfire keceriaan yang di tebarkan si kembar. Tetapi, ibu mereka sendiri terlihat murung, sambil sesekali melirik ke arah adiknya yang duduk di ujung.


Kiandra yang dari tadi makan sembari menunduk mengangkat muka. "Tidak tahu." jawabnya singkat.


Kedua keponakannya itu cekikihan sembari saling lirik penuh arti.


Namun, pertanyaan iseng dari si kembar malah memancing pertanyaan lain dari si Ibu.


"Kian, semalam kau di mana? Banyak tamu yang mencari." ia menatap putranya.


Kiandra langsung gugup. Tapi, sebisa mungkin ia tidak memperlihatkan. "... A, aku bersama teman-temanku." ia menjawab tanpa melihat mata lawan bicara.


Ayahnya mengulum senyum mendengar jawaban tersebut. Tetapi, ia memilih tak ikut campur dan melanjutkan menikmati sarapan.


Si ibu tak menaruh curiga, sebab ia memang tidak begitu memperhatikan dimana kawan-kawan Kiandra di antara para tamu pesta yang begitu banyak.


Kirana yang hendak buka mulutpun, di cegah oleh gelengan suaminya yang menyuruhnya tetap diam.


"Kami pikir, semalam Om Kiki mau ngelamar Tante Delana lo." ucap Kama yang di benarkan oleh anggukan saudaranya.


Semua yang duduk di meja makan kaget. Tak terkecuali Kiandra sendiri yang sampai melotot.


"Ah, tapi... ternyata Om Kiki memang payah!" ejek Kama seraya mengacungkan jempol ke bawah.


"Melamar di depan banyak orang itu impian para gadis, Om." Kalila menambahkan. "Tante Delana juga pasti akan terharu sampai menangis, dan say yes, gitu." ia memberi tahu dengan menjiplak gaya si ibu ketika menasehatinya.


Namun, pikiran Kiandra tak tak beres, malah menjurus ke Anna yang sampai menangis karena ia perawani.


Dasar bocah-bocah sialan.


dalam hati Kiandra menyalahkan dua keponakannya.


Mukanya merah padam, karena hal pertama bagianya itu, sampai terbawa mimpi dan membuatnya terbangun dalam kondisi ingin.


"Kian, nanti malam kami akan pulang." ucap Dave membuat pikiran mesumnya langsung hilang.


Kedua pria itu saling pandang dari tempat duduk masing-masing.


"Kami harap, kau bisa sesekali main ke sana." kakak iparnya itu menipiskan bibir.


Biasanya Kiandra akan acuh. Tapi, beberapa hari tinggal bersama, sedikit melunakan hatinya yang keras.


"Iya, Om Kiki nggak pernah main ke rumah." Kama pasang muka sebal.


"Pasti Om Kiki takut di poroti." Kalila mencibir.


Kiandra berdecak mendengar omongan keponakan-keponakannya yang seenaknya sendiri itu.


"Sebulan sekali aku akan main." pungkasnya galak.


"Benar?!" serentak dua bocah itu berdiri sampai mengebrak meja makan.


Namun, tidak ada yang marah walau ada minuman yang tumpah dan mengotori alas meja, karena semua orang yang berada di situ juga tengah kaget dengan ucapan Kiandra barusan.


"Seminggu sekali!" Kama mengacungkan jari telunjuk.


"Semingguuu...!" Kalila ikut berteriak.


"Kalian pikir aku tidak kerja?" Kiandra sewot.


"Sebulan itu liburnya empat kali!" Kama tetap bersikeras.


"Delapan kali!" Kalila meralat. "Om Kiki kalau hari sabtu libur." ia memicingkan mata melihat si Om yang kelabakan dengan tingkah keduanya.


"Hei, memang kalian...."


"Semingguu seekaaliiiii...!" sebelum Kiandra menyelesaikan kalimatnya, duo kembar itu sudah merengek dengan suara cempreng mereka yang berisik.


Kirana, kendalikan anak-anakmu!


Kiandra menatap kakak perempuannya tajam. Tapi sayang, ibu si kembar itu pura-pura tak melihat.


Ibu Kiandra yang menyaksikan semua itu dengan mata tuanya tersenyum. Ia bahagia melihat anak-cucunya akur. Sentuhan lembut di tangan, membuatnya mengalihkan pandangan. Suaminya ternyata sudah memandanginya sedari tadi.


"Kau senang melihat anakmu yang keras kepala di keroyok cucu-cucumu?" ia bertanya.


Istrinya terkekeh sambil menutup mulut. "Aku cuma bahagia." ujarnya.


"Sebentar lagi kau akan lebih bahagia." suaminya berbisik.


Ibu Kiandra hendak bertanya lebih lanjut. Tetapi, semua tertelan oleh kegembiraan yang di bawa si kembar.


.


Pagi yang damai itu kontras dengan pagi hari di sebuah rumah mewah dengan cat temboknya yang kusam, serta halaman luasnya yang terlihat tak terurus.


Aldo dengan baju kerjanya yang rapi, berdiri di depan sebuah bufet dengan figura foto berukuran besar yang tergantung di atasnya.


Ia membuka laci dari bufet tersebut, kemudian mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dan membuka isinya. Sebuah senjata api jenis Glock 22, lengkap dengan 15 peluru terdapat di dalamnya situ.