Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
HARI SENIN



Dari kemarin saya berusaha menghubungi. Tapi nomor anda tidak aktif Chief." kata Aldo yang pagi ini tak sesemangat biasanya.


Kiandra menghela nafas.


"Tapi saya sudah menyusun semua seperti yang anda intruksikan." Aldo memberikan map cokelat berisi lembar dokumen yang telah dia ketik dan print.


Kiandra menerima tanpa berkata apapun, kemudian mulai membuka map tersebut dan mempelajarinya.


"Tumben anda tidak bisa di hubungi. Apa...saya telah berbuat salah lagi Chief?" Aldo yang duduk di hadapannya dan di pisah sebuah meja makin terlihat murung.


Kiandra melirik ke arahnya, "Ponselku hilang." ia berujar, lalu kembali fokus ke pekerjaan.


"Hilang?" kedua mata Aldo melebar.


"Yaah..." malas-malas Kiandra menanggapi.


Namun, bukan itu yang membuat Aldo kaget. Sepuluh tahun dia menemani pria kaku tersebut, dan rasanya mustahil si Chief bisa bertindak ceroboh dengan menghilangkan benda sepenting ponsel.


"Golden Hope?" Kiandra berhenti pada satu lembar kertas. "Supplier mana ini?" ia menoleh ke arah Aldo. "Kenapa aku baru tahu?" tanya-nya.


"Supplier baru." Aldo menjawab. "Barang-barangnya selalu laku di swalayan kita. Para Manager juga senang bekerja sama dengan direkturnya yang terkenal ramah dan senang bersosialisasi."


"Owh..." Kiandra cuek, lalu kembali membuka lembar berikutnya. Masalah supplier memang sudah ada sendiri yang menangani dan ia tinggal terima laporan tiap bulannya.


"Pemiliknya orang malaysia." Aldo masih melanjutkan.


Tapi Kiandra sudah tak berminat dan lebih peduli pada neraca perdagangan.


"Katanya beliau masih kerabat Mentri."


"Siapa?" Kiandra langsung menoleh dan bertanya.


"CEO PT Golden Hope." jawab Aldo.


Kiandra terdiam.


"Bukankah anda sedang mencari rekanan di pemerintahan?" Aldo mengingatkan.


Kiandra menjatuhkan punggung ke kursi kulitnya yang empuk.


Aldo benar, dia memang ingin dekat dengan orang pemerintah atau partai. Sebab cuma dari sana, satu-satunya yang Keluarga Marthadinata tak bisa tembus. Tak lain karena Ayahnya yang membenci politik, dan terlalu antipati pada orang-orang di dalamnya.


Ayahnya bahkan menyebut para pejabat berdasi itu tikus dan menolak untuk bergaul dengan mereka.


Padahal salah satu penunjang kekayaan keluarga Marthadinata adalah property dan hal itu erat hubungannya dengan pemerintah.


"Bagaimana kalau anda terima tawaran makan siang dari direktur Golden Hope?" Aldo menyarankan.


Kiandra masih menimbang. Biasanya dia malas untuk makan siang dengan supplier, karena dia tak begitu menguasai retail dan mereka akan dengan mudah memanfaatkan ketidak tahuannya.


"Katanya...beliau sangat cantik, Chief." bisik Aldo sembari menahan senyum.


Sayang, Kiandra yang di ajak bercanda, malah menanggapi dengan pelototan.


"Ma, maksud saya bukan yang aneh-aneh Chief." cepat Aldo meralat ucapan-nya"Lagi pula beliau sudah punya tunangan dan sebentar lagi akan menikah."


"Apa urusannya denganku?" ucap Kiandra ketus.


"Yaa...supaya anda tidak salah paham..." Aldo yang sudah badmood dari sebelun masuk kerja, makin lesu dan tertunduk.


Kiandra mendengus. Sebenarnya jika membuka link, banyak yang ingin dekat dengan Keluarga Marthadinata.


Tapi, dunia politik adalah lahan basah dan Kiandra mesti hati-hati memilih orang. Salah-salah ia malah bergaul dengan koruptor dan imbasnya bisa kemana-mana.


"Baik, jadwalkan hari ini makan siang dengannya." Kiandra memutuskan.


"Siap Chief. Saya akan segera memberi kabar ke sana." Aldo menegakkan punggung dengan muka sumringah.


Kiandra melihat jam tangannya, lalu berdiri dan merapikan jas hitamnya yang tanpa cela.


Aldo memasukan semua map yang tadi Kiandra pelajari ke dalam koper, lalu mengikuti langkah Kiandra yang hampir mencapai pintu.


Bergegas ia mendahului, guna membukakan pintu untuknya.


Kiandra lewat begitu saja, saat Aldo yang berdiri di sisi pintu membungkuk hormat.


"Chief." sapa Victoria yang menunggu di balik pintu.


Lagi-lagi Kiandra tak mengubris dan berjalan lebih dulu meninggalkan Victoria dan Aldo di belakang.


Victoria menghela nafas panjang, lalu ikut menyusul keduanya.


Segala sesuatu jika sudah pakai perasaan, menjadi serba salah. Tak terkecuali untuk Victoria yang harus bersikap profesional.


.


Hari senin selalu lebih sibuk dari hari-hari lain.


Berbagai rapat membosankan harus di jalanin. Tapi, Kiandra yang telah berkomitmen dan memiliki tanggung jawab sebagai satu-satunya harapan orang tuanya untuk mempertahankan eksistensi perusahaan yang menaungi ribuan pegawai, tak pernah mengeluh, walau kadang rasanya begitu lelah dan ingin tidur saja.


.


Sesuai janji, Kiandra datang untuk memenuhi undangan makan siang dari Direktur PT Global Hope.


Kiandra datang bersama Aldo dan tentu saja Victoria juga ada. Tetapi, seperti biasa, bodyguard nya itu akan mengawasi di suatu tempat.


"Silahkan..." seorang pelayan dengan sangat ramah mempersilahkan Kiandra masuk ke ruangan yang lebih private.


Dari kejauhan, Kiandra melihat seorang pria dan wanita sudah lebih dulu duduk.


"Beliau datang bersama tunangannya Chief." Aldo yang berada di sebelahnya memberi tahu.


Kiandra tak begitu menanggapi dan terus saja berjalan tegap menuju meja mereka.


"Mr. Kiandra Mahika." si wanita langsung berdiri begitu melihat Kiandra datang.


"Miss Radha Ismadi?" Kiandra tersenyum dan menyambut uluran tangan wanita tersebut.


"Waah...saya tidak menyangka anda mau menerima undangan makan siang dari saya." Radha tersipu. "Saya sangat berterima kasih kepada Mr. Aldo yang sudah menyampaikan pesan saya."


"Tidak Miss. Saya hanya menyampaikan dan kebetulan Chief ada waktu luang." Aldo yang biasa guyon, menunjukkan sikap selayaknya profesional.


"Tetap saja saya berterima kasih." wanita dengan setelan rok selutut dan blouse warna putih itu sangat cantik dan sikapnya menyenagkan, membuat siapapun yang berada di dekatnya akan merasa senang.


"Kita pernah bertemu sebelumnya." pria yang duduk bersama Radha itu ikut bangkit dari duduk.


Kiandra menoleh ke sumber suara.


"Oya, hampir saja lupa." Radha menepukkan kedua tangannya yang berkutek, lalu mengapit lengan pria tersebut.


Mata Kiandra memicing. Ingatannya yang kuat masih mengenalinya, meski waktu itu hanya melihat sekilas.


"Perkenalkan Mr. Kiandra, dia Rico. Manager pemasaran, sekaligus tunangan saya." wanita itu terlihat bangga.


"Apa kabar?" Rico menjulurkan tangan ke arah Kiandra. "Saya harap, anda masih mengingat saya." pria dengan setelan jas warna cokelat tua yang di padu kemeja kuning itu tersenyum.


"Tentu saja saya masih ingat." Kiandra balas tersenyum, lalu menyambut uluran tangan Rico.


"Mari, silahkan duduk." dengan ramah dia mempersilahkan Kiandra dan Aldo untuk duduk.


Segera mereka terlibat dalam perbincangan bisnis dan sesekali menyinggung hal pribadi, sambil menyantap hidangan.


"Kami akan melangsungkan pernikahan tiga bulan lagi." Radha yang ceria menerangkan. "Saya harap, anda juga bisa hadir."


"Tentu saja saya akan hadir." dengan sikapnya yang tenang, Kiandra menjawab.


"Ngomong-ngomong...anda sudah memiliki pendamping Mr. Kiandra?"


Pertanyaan Rico membuat Aldo hampir tersedak. Itu adalah pertanyaan sakral dan tabu untuk si Chief.


Dari sekian banyak pertanyaan, kenapa menanyakan hal itu? apa kalian tak dengar gosip Chief kami yang homo, impoten dan lain-lain?


Aldo meracau sendiri dalam hati.


Apa lagi ketika si Chief tak langsung menjawab. Ia segera mengambil gelas air putih dan menghabiskan dalam sekali teguk untuk meredakan ketegangan.


Sebentar lagi ada gunung meletus.


batin Aldo sembari melirik wajah Chief-nya yang makin kaku dan dingin.


"Ah, maaf kalau pertanyaaan saya..."


"Anda lupa atau sengaja memancing saya?" Kiandra memotong kalimat Rico, kemudian terkekeh.


Namun, tawa Kiandra adalah musibah dan yang menyadari itu hanya Aldo, yang kini hanya bisa meneguk ludah.


"Bukankah anda sudah bertemu pendamping saya waktu itu?" Kiandra kembali tersenyum. Senyum yang amat lebar, sampai kedua matanya menyipit dan seolah ujung bibirnya tertarik.