
Hampir tiga puluh menit mereka duduk bersebelahan memandangi danau berair hijau dengan beberapa bangau yang tengah berenang.
Keadaan di halaman belakang rumah keluarga Marthadinata itu teduh, dengan pohon-pohon cemara yang tumbuh di pinggir tembok pembatas.
Masih Dave ingat, dahulu ketika masih muda, istrinya sering kali memanjat pohon cemara itu untuk kabur melompati pagar rumah.
Istrinya yang tak lain kakak perempuan Kiandra, memang sangat tomboy. Tapi juga berhati lembut dan baik. Seperti adiknya ini.
Dave menoleh ke samping, melihat Kiandra yang berwajah kaku dan tengah menatap lurus ke arah danau.
Di pinggir danau itu juga, keluarga mereka sering mengelar tikar dan pesta barberque.
Kiandra menghela nafas. Rumahnya penuh kenangan indah. Tetapi, justru kenangan itu juga yang membuatnya tersakiti.
"Kian." Dave yang pertama membuka mulut.
Pria yang kini tumbuh lebih jangkung darinya itu memalingkan muka. Dave maklum akan sikapnya.
Bagi dia yang kini telah menginjak usia 50 tahun, Kiandra tetaplah Kiandra yang dulu. Seorang bocah lelaki yang penuh rasa ingin tahu dan selalu ingin ikut kemana pun dia pergi.
"Kian, aku minta maaf." Dave kembali berkata.
Kening Kiandra berkerut.
"Aku tahu kau kecewa denganku. Tapi, jangan benci kakakmu. Jangan hindari dia, dia..."
"Aku tidak menghindar." potong Kiandra tanpa melihat lawan bicara.
Dave tertunduk, rupanya sifat Kiandra masih sama kerasanya dengan dua tahun lalu.
Namun, Dave sudah berjanji, bahwa hasilnya tak akan sama seperti dulu. Kali ini, ia yang akan lebih sabar. Semua demi istri, orang tua dan adiknya itu sendiri.
"Kalau begitu, temuilah Kirana." hati-hati Dave kembali berkata.
"Aku sibuk." ucap-nya singkat.
Dave menghela nafas.
Angin lembut bertiup, membawa aroma wangi dari kebun mawar putih milik Ibu mereka.
Suasana begitu tenang, sampai suara cipratan air danau yang di gunakan para angsa berenang terdengar.
"Kenapa sampai sekarang kau tak bisa merestui kami?" tanya Dave tegas.
Jantung Kiandra berdetak kencang, sebab pertanyaan Dave menohok dirinya.
Selama ini semua orang menganggapnya hanya kecewa, lantaran mereka ternyata bukan saudara kandung.
Iya, Dave yang ia kira kakaknya adalah anak istri pertama Ayahnya dengan orang lain.
Kisah masa lalu yang rumit, yang membuat Kiandra tak habis pikir.
Kenapa mereka bisa bertindak bodoh hanya karena ingin memperjuangkan orang lain yang jelas-jelas akan membawa musibah?
Namun, Kiandra yang realistis dan tak mau memikirkan sesuatu yang tak berfaedah, memilih diam dan tak mau tahu.
"Kenapa Kian?" tanya Dave lagi.
"Kau salah." jawab Kiandra sembari menatap pria yang duduk di sampingnya.
Kedua mata mereka bertemu, membuat ingatan Dave melambung ke masa di mana ia begitu menginginkan warna bola mata cokelat terang milik Ayah mertua nya itu.
"Kirana bilang, dia akan bahagia menikah denganmu." Kiandra kembali memalingkan muka. Ia tak sanggup, jika terlalu lama bertatapan dengan orang yang pernah di kaguminya.
Kiandra menghela nafas panjang sembari memejamkan mata sesaat, agar hatinya yang tengah bergemuruh bisa sedikit tenang.
"Kalau Kirana sudah bilang seperti itu dan Daddy sudah pasang badan. Apa pendapatku di perlukan?" tanpa sadar Kiandra mengepalkan tangan.
"Kau tak setuju?" dari pada sebuah pertanyaan, itu seperti sebuah pernyataan.
Kiandra tak langsung menjawab. Kedua alisnya hampir menyatu dan rahangnya mengeras.
Masih ia ingat, bagaimana dia yang baru saja lulus kuliah dan menapaki dunia kerja, melihat Daddy nya mati-matian menbendung skandal pernikahan sedarah kedua kakaknya ini.
Mungkin, jika bukan karena ada keluarga Sanjaya yang menguasai media elektronik dan online, skandal itu akan meledak layaknya bom nuklir yang di lancarkan Zionis ke bumi Kan'an.
Butuh waktu lama untuk memulihkan semua, termasuk harga saham milik Marthadinata Corp yang anjlok.
Dan meski semua telah kembali tertata. Cibiran dan gosip yang di hembuskan mantan keluarga kakak iparnya itu tak berhenti mengusik ketenangan hidup mereka.
Lalu apa yang di sebut bahagia?
Sebuah pertanyaan, yang sedari dulu tercokol di hati Kiandra.
Ia menyisir rambut ke belakang. Marah dengan semua yang dulu terjadi. Tetapi pendapatanya selalu tak berguna, hanya lantaran ketika itu ia masih berusia 23 tahun dan di anggap tak tahu apa-apa.
"Aku setuju atau tidak, apa pentingnya sekarang?" terdorong rasa kesal, nada bicara Kiandra meninggi.
"Itu penting karena kita keluarga!" Hampir-hampir Dave tak bisa mengontrol emosi, lantaran sikap ketus adik-nya.
"Kau orang lain." Kiandra menatap sengit, kemudian berdiri.
"Kian!" bentak Dave.
"Itu kenyataan!"
Keduanya sudah tersulut amarah. Tapi masih sadar, jika kini ada Ayah mereka yang mengawasi.
"Kalian membodohiku. Kau, Daddy, Kirana, bahkan Ibu." intonasi suara Kiandra menurun.
Dave mengusap wajah, lalu menghela nafas berat. Lagi-lagi aib masa lalunya yang menjadi penghalang.
"Kau tak tahu apa-apa..." suara Dave hampir seperti keluhan. "Kau tak tahu, kenapa mereka tak bisa mengatakan pada kalayak bahwa aku bukan anak kandung Dad."
"Tak ada yang lebih penting dari nama baik keluarga!" bentak Kiandra frustasi. "Daddy bisa memberi restu. Tapi kenapa tak bisa mengatakan pada masyarakat bahwa kalian bukan saudara?! Kirana yang kena batunya! Seharusnya dia hidup mewah, bergaul dengan para sosialita! Bukannya hidup melarat di desa terpencil!"
Kiandra mengepalkan kedua tangan. Ia marah luar biasa. Demi kakaknya yang mengikuti pria inilah, ia sampai menerabas hutan dan membangun resort di sana. Semata supaya daerah itu manjadi lebih berkembang dan hidup kakaknya tak terlalu terasing.
Dave tertunduk memegangi keningnya yang berdenyut. Seandainya nama Ayah kandungnya boleh di sebut. Maka semuanya akan jelas untuk Kiandra.
Tetapi sayangnya, hal itu tak boleh di ungkap, sebab ada ibu yang harus ia lindungi kehormatannya.
"Begitulah kau Dave, selalu hanya bisa diam." cibir Kiandra.
Kedua mata pria 50 tahun itu meremang.
"Jangan temui aku lagi. Bahagiakan saja Kirana dan dua keponakanku." Kiandra berbalik arah dan melangkah pergi.
Dave mamatung memandang punggung Kiandra yang menjauh. Sudut matanya berair, karena lagi-lagi ia gagal memperbaiki semua.
.
"Sial!" Kiandra menendang rumput, membuat tanaman tersebut tercongkel sampai akar.
Ia langsung menaiki mobil dan meninggalkan rumah keluarga-nya tanpa pamit.
Sepanjang perjalan, keningnya terus berkerut dan siapa saja yang mencoba menyalip akan dia klason keras-keras.
"Baj*ngan!" umpat Kiandra ketika sebuah motor menyalip dari kiri dan menyenggol kaca spionnya.
Ia ingin mengejar. Tapi motor itu dengan gesit mencari celah di antara kendaraan lain dan melaju kencang.
Bertambah emosi lah Kiandra, sampai segala macam nama hewan di sebut.
Hingga beberapa saat kemudian, raut sedih Dave terlintas, membuat wajah Kiandra yang kesal berubah masam.
Sebenarnya Kiandra tahu, Dave tak sepenuhnya salah. Hanya saja, kecewanya begitu besar dan akhirnya meledak ketika nama baik keluarga menjadi tercemar.
Kiandra menghela nafas panjang. Emosinya mereda sendiri dan ia baru sadar belum mengabari Aldo tentang materi rapat hari senin.
Sembari menyetir ia meraba kantong celana, kemudian kantong kemeja.
"Lho? mana ponselku?" tanya Kiandra bingung.