
"Kenapa berkata seperti itu?" Anna memberanikan diri bertanya.
Kiandra mendengus dengan kening yang makin berkerut. "Karena kau masih peduli padanya!" ujar pria itu kesal.
"A, apa...?" kedua mata Anna melebar. "Bagaimana Anda bisa menuduh saya peduli? Saya hanya ingin tahu, kenapa dia..."
"Cukup!" potongnya seraya membekap mulut wanita itu.
Anna kaget sampai tak berusaha melawan.
"Jangan bicarakan laki-laki sialan itu!" ia mengintimidasi.
Anna masih terdiam sembari memandanginya tanpa kedip.
Kiandra melepas bekapannya, kemudian bersedekap. "Lupakan dia." lanjutnya dengan muka masam.
Anna menutup mulutnya yang mengangga.
Astaga... dia cemburu?
batinnya tak percaya.
Anna mengulum senyum untuk menyembunyikan geli. Rasanya lucu, melihat pria gagah seperti Kiandra cemburu seperti anak kecil.
"Iya, saya tidak akan membicarakan lagi, dan melupakannya." ia berkata.
"Baguslah!" Kiandra pura-pura acuh, padahal hatinya senang wanita itu menuruti maunya.
Melihat sikapnya, Anna tak kuat menahan geli dan terkekeh.
"Kenapa sekarang kau tertawa begitu?" pria itu menatap janggal.
Anna cuma menggeleng sambil berusaha tak tertawa lagi.
Sebenarnya Kiandra tahu, jika Anna menertawakan dirinya. Tapi, karena wanita itu terlihat bahagia, ia mengabaikan kedongkolannya.
Daddy saja bertahun-tahun di perbudak Ibu. Pokoknya aku harus lebih sabar.
pikir Kiandra seraya menghela nafas panjang.
Ia melirik ke arah Anna yang masih memperhatikannya. "Apa?" tanyanya galak.
Anna kembali menggeleng. Tapi, kali ini di sertai senyum simpul.
Mereka terdiam. Di kejauhan terdengar suara angsa dari danau yang berkoak. Mungkin sedang berebut makan atau malah berebut betina. Entahlah, yang jelas di depan pintu masuk rumah kaca, mereka berdua mematung dan hanya saling pandang.
"... Terima kasih." ucap Anna pelan.
Kiandra memicingkan mata.
Terima kasih?
pikirnya bingung, karena merasa tak memberi apa-apa.
"Berkat Anda... saya mempunyai keberanian untuk pulang." ia melanjutkan.
Kiandra memalingkan muka dengan jantung yang mendadak berdesir dan menimbulkan efek mulas. Selama hidup, sudah tak terhitung banyaknya dia mendapat ucapan terima kasih. Tapi, terima kasih yang ini membuatnya bungah tak terkira.
"Yang penting kau mau jadi istriku dan tinggal di sini." ujarnya tanpa melihat lawan bicara.
Awalnya Anna terkesima, kemudian pelan-pelan senyum menghiasi wajah cantiknya yang tanpa polesan apapun. "Iya." ia menjawab.
Mendengarnya Kiandra malah jadi salah tingkah. Ia menoleh ke arah Anna dan berdehem beberapa kali. "Ma, maksudku... kau juga boleh tinggal di Kelantan kalau mau." Ia menyembunyikan sebagian wajahnya yang memerah dengan tangan. "Aku siap mengantarmu ke sana. Kapanpun." ia menambahkan.
Sekali lagi Anna di buat tertegun, oleh pria yang awalnya ia kenal begitu egois dan emosian itu.
"A, aku bukannya ingin mengekangmu. Tapi... kau tahu, kerjaku di sini." Kiandra menjelaskan sampai grogi.
Anna tersenyum. "Iya, saya mengerti." sahutnya.
Sebenarnya Kiandra masih ingin berlama-lama bersama wanita itu. Akan tetapi, matahari semakin tinggi dan banyak pekerjaan yang menunggunya di kantor.
"Aku pamit." ucap pria itu seraya memasukan kedua tangan ke saku celana.
"Iya..." Anna berkata pelan. Jika di lihat dari gesturnya, sepertinya ia juga belum rela menyudahi percakapan ini. Tetapi, ia hanya memandang pria bermata indah itu tanpa melarangnya pergi.
Kiandra sudah berbalik dan melangkah. Tapi, ia kembali menoleh ke belakang. "Aku minta maaf!" ujarnya kepada Anna yang masih berdiri di tempat.
Kedua mata wanita itu melebar tak mengerti.
Tidak bisa di ungkapkan bagaimana terharunya perasaan Anna mendengar ucapan pria yang punggungnya berayun menjauh tersebut.
Orang bilang, jatuh cinta itu karena terbiasa. Tapi yang sebenarnya, hati kita sudah tertarik di pandangan pertama.
Anna mengikuti Kiandra yang berjalan di antara kebun mawar putih yang masih kuncup, hingga pria itu menghilang masuk ke dalam rumah imduk yang berada di ujung sana.
Hatinya berdebar, seiring senyumnya yang merekah bersamaan air mata yang meleleh membasahi pipi.
"Terima kasih Tuhan..." gumannya penuh rasa syukur.
.
Tak butuh waktu lama, berita Kiandra yang akan menikah menyebar begitu cepat dan sontak membuat orang-orang sekitar tak percaya. Apa lagi terkait calon istrinya yang berasal dari Negara tentangga dan berdarah biru.
Mata Ethan dan Alexa membulat sempurna, saat mendengar penjelasan dari Kiandra yang dengan pongah membenarkan berita yang beredar.
"Iya, dia memang putri kandung Ismail Petra dari Kelantan." ia berkata. "Sabtu besok aku akan melamarnya langsung ke Kelantan." lanjutnya.
"Gilaaa..!" Ethan yang pertama bereaksi. "Konglomerat ketemu Bangsawan." ia menjatuhkan punggung ke kursi sambil geleng-geleng.
Roy yang mendengarnya terbahak. Ia tidak begitu heboh seperti dua kawannya, karena sudah tahu, dan ia pun dulu sudah mencoba memberi tahu tentang siapa Anna. Tapi sayang, mereka tak percaya dan malah mengabaikan.
"Aku yakin ada yang salah." Alexa menganalisis, sebab di lihat dari manapun, menurutnya Anna tidak ada potongan Tuan Putri.
Kiandra tidak marah, tapi justru tertawa, karena ia paham yang Alexa pikirkan.
Aku juga dulu tak percaya, dan hanya menganggap mereka orang yang wajahnya mirip.
ia geli sendiri jika mengingat kejadian itu.
"Cheers! untuk teman kita yang tak jadi jomblo seumur hidup!" Roy mengangkat botol Heineken-nya yang tinggal separuh.
"Cheers! Pokoknya malam ini Kian yang bayar semua!" Ethan ikut mengangkat botol hijaunya.
Roy terbahak, sedangkan Kiandra mengumpat mendengarnya.
Namun, Alexa cuma bertopang dagu dan pura-pura tak peduli dengan apa yang di lakukan ketiga kawan baiknya.
"Iya, iya...!" ujarnya sebal, karena mereka memelototi dirinya untuk ikut angkat botol.
Setengah hati wanita cantik dengan lipstik merah nya itu mengambil gelasnya, lalu menyatukan dengan dua botol lainnya di udara. "Semoga lancar sampai hari H." ucapnya dengan mimik cemberut.
Kiandra terkekeh mendengar doa Alexa yang khas ibu-ibu, seraya mengangkat botol Equil miliknya. "Cheers!" ia berseru.
"Cheerss!!" serentak mereka menyahut, bersamaan bunyi botol dan gelas yang saling beradu.
"Tinggal kau yang belum laku." gurau Roy sambil menyenggol bahu Ethan yang duduk di sebelahnya.
"Enak saja." Pria berkaca mata itu tak terima. "Aku bukannya tidak laku, tapi..."
"Tidak berani!" ejek Alexa cepat.
"Apa kau bilang?" Ethan makin tak terima.
"Tidak berani menikah. Beraninya kawin." tandas wanita itu santai.
Sontak Kiandra dan Roy tertawa sampai perut kram.
"Lidahmu benar-benar tidak bertulang ya." Ethan menatap wanita itu dengan kening berkerut.
Akan tetapi, Alexa tetap cuek sambil meneguk gelas beningnya yang berisi alcohol kadar empat persen.
Kiandra dan Roy diam-diam saling pandang. Dari zaman kuliah, mereka juga sudah tahu, tentang kenapa Ethan tak pernah serius pada satu wanita. Atau kenapa di usia matang dan karir mapan seperti sekarang, pria keturunan Tiong Hoa itu belum memikirkan tentang pernikahan. Semua tahu alasannya, hanya Alexa yang tidak.
Lagu Kill Bill yang di populerkan SZA, dan kini tengah di remix oleh seorang DJ muda anak seorang musisi terkenal itu memenuhi ruang, mengundang pengunjung ke lantai dansa dan berjoget bersama.
Club James Bond memang selalu meriah dengan musik, lampu sorot warna-warni, minuman-minuman yang membuat lupa sesaat pada masalah, dan tentu saja para pemburu nikmat dunia itu sendiri
Namun, Kiandra yang melihat semua itu dari kejauhan tak tertarik. Pikirannya kini malah sedang tertuju pada laki-laki yang sudah berani mempermalukannya dulu.
Wajah tampannya mengulas senyum, serta matanya yang berwarna cokelat terang tampak berkilat tertimpa bias lampu.
Seharusnya sekarang dia sudah menerima ganjaran dari perbuatannya.
ia berkata dalam hati.