
Selesai bermain, Aldo mendapat tepuk tangan meriah dari para tamu yang hadir, sebagian besar menyanjung keahliannya bermain alat musik gesek tersebut, meski yang ia mainkan hanya beberapa bait saja.
Radha, kekasih Rico, sampai berkali-kali memuji pria yang nampak tersipu di tengah banyaknya orang yang terkesima dengan keahliannya yang satu ini.
"Hebat sekali!" Radha berseru "Tadi Vivaldi, kan? Hebat!" ia girang luar biasa.
"Saya cuma memainkan yang saya ingat." Aldo garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Tetap saja itu amazing!" wajah Radha sampai merah karena begitu kagumnya, karena kebetulan dia menyukai musik klasik dan tidak semua orang paham jenis musik itu. Dan saat tahu Aldo bisa memainkannya, rasanya ia seperti menemukan teman sejawat.
"Om keren! Bisa memainkan Four Season dengan begitu indah." seorang gadis usia lima belas tahunan berujar.
Aldo tersenyum, kemudian menyerahkan biola tersebut kepadanya. "Kelak, kau pasti bisa memainkan lagu itu dengan lebih indah."
"Aku tidak yakin..." ia tertunduk dengan muka cemberut.
Alasan Aldo tiba-tiba memainkan biola di tengah-tengah pesta, itu karena gadis ini. Seorang anak dari salah satu punggawa PT Golden Hope yang membawa-bawa biola kesayangannya dan tak sengaja Aldo terlibat percakapan dengannya.
Aldo bersedia memainkan alat musik yang menjadi bakat terpendamnya, tak lain agar gadis itu tidak insecure dan terus belajar biola.
"Kau masih muda, waktu mu masih panjang. Asal tekun, pasti cita-citamu untuk menjadi Violis seperti Nicola Benedetti akan terwujud." pria dengan rambutnya yang tertata rapi itu memberi nasehat.
"Terima kasih Om. Saya jadi semangat lagi." gadis itu tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya.
"Semangat!" Aldo mengenggam tangan kanan nya dengan gaya lucu, membuat anak itu tertawa geli.
"Terima kasih sudah membuat anak saya bersemangat kembali." Ibunya yang ternyata salah satu pemegang saham PT Golden Hope menyapa ramah.
"Ah, tidak... Saya hanya..." Aldo merendah.
"Selain menjadi tangan kanan Chief Kiandra dari Marthadinata-Sanjaya Groub, Pak Aldo ini juga jenius bermusik ternyata." Radha ikut menyanjung.
"Saya tidak jenius." Aldo meralat.
"Jenius dan setia." ucap Rico yang tiba-tiba sudah berada di antara mereka.
Aldo langsung menatap tajam, meski bibirnya masih menyungging senyum.
"Kalau begitu, beruntung sekali saya malam ini." Wanita yang menjadi Ibu dari anak yang biolanya di pinjam Aldo itu sumringah.
"Sangat beruntung, seperti Golden Hope yang bisa berpartner dengan Sanjaya Company." Radha yang malam ini terlihat seksi dengan dress warna gelap berbelahan tinggi pada paha itu mengerlingkan mata pada Aldo.
Pria itu cuma menipiskan bibir.
Beberapa kali para petinggi Golden Hope menyapa Aldo yang malam itu datang sebagai perwakilan dari Martahdihata-Sanjaya Groub dan dengan senang hati pria dengan setelan jas dari Wong Hang warna biru navi itu menyambut mereka.
Sampai di pertengahan pesta, Rico mengajak Aldo menepi ke sudut yang paling sepi.
Kedua pria itu mengobrol santai sembari memperhatikan Radha yang sebagai tuan rumah bertindak sangat terbuka. Wanita itu juga bersedia mengambilkan minum dari meja tengah untuk seorang tamu penting yang baru saja datang dengan gayanya yang ramah.
"Anda beruntung memiliki pasangan yang sefrekuensi." Aldo berkata sambil meletakkan gelasnya yang telah kosong ke meja di dekatnya.
Rico tersenyum. "Iya, saya memang beruntung bertemu dengan Radha." kalimatnya biasa, tapi tersirat makna lain.
"Entah kapan saya bisa menemukan yang seperti calon istri Anda." Aldo bergurau.
Rico terkekeh. "Mungkin jika Chief Kiandra sudah menikah." ia membalas.
Giliran Aldo yang tertawa.
"Tapi... saya akui kesetiaan Anda terhadap beliau, mahal. " tandas Rico beberapa saat kemudian.
Aldo yang mendengar hanya menarik sudut bibir. "Saya hanya melakukan apa yang saya yakini."
Pesta yang di hadiri orang Indonesia dan Malaysia itu semakin meriah dengan hiburan penyanyi ibu kota.
"Soal Putri dari Kelantan itu, apa memang begitu mirip dengan wanita yang bersama Chief?" selidik Aldo.
"Anda tertarik rupanya." Pria dengan jas warna abu tua dari brand Armany itu tertawa.
"Saya selalu tertarik dengan semua yang berhubungan dengan beliau." Aldo tersenyum lebar sampai kedua matanya terpejam.
Rico balas tersenyum, seraya melipat kedua tangan ke dada dan menghela nafas. "Mereka bukan mirip, tapi memang wanita yang bersama Chief adalah Tengku Delana Amirah Petra. Dia anak perempuan satu-satunya dari Sultan Kelantan yang beberapa tahun lalu turun tahta. " Rico berhenti sejenak untuk melihat reaksi lawan bicara. Dan sesuai dugaannya, Aldo terlihat terkejut. "Anda tidak percaya?" tanyanya.
"Rasanya... mustahil.." Aldo ragu.
Rico terkekeh. "Coba cari saja di situs pencarian tentang Kesultanan Kelantan. Saya yakin, masih ada foto nya di sana" ia menyarankan.
Aldo tercenung.
"Selain itu... alasan kenapa saya ingin dekat dengan Chief Kiandra, itu karena Delana adalah mantan kekasih saya." ia menatap dengan mimik serius.
Kali ini Aldo betul-betul kaget.
"Entah bagaimana mereka berkenalan. Tapi, Delana putri yang terbuang dan di Malaysia, keadaan Negara itu sedang tidak baik karena berbagai skandal. Saya hanya khwatir, hal itu bisa merugikan Chief yang tidak tahu apa-apa." Rico menunjukkan raut keprihatinan kepada Aldo yang masih tertegun.
.
Kembali ke jalan raya yang ramai oleh kendaraan yang berlalu-lalang, serta mobil Range Rover milik Kiandra yang masih terparkir di bahu jalan.
Pria itu tetap mendekap Anna, meski wanita itu memohon dengan berbagai cara.
"Saya tidak mau Anda kecewa." untuk kesekian kali Anna mencoba mengoyahkan tekat Kiandra.
Namun, Kiandra yang masa bodoh tetap tak peduli dan malah mempererat pelukannya.
"Tuan Muda, Anda berhak mendapat yang lebih baik dari saya." Anna tak berhenti untuk melepaskan diri. "Anda sendiri yang memberi nilai saya satu, untuk Anda yang di mata saya bernilai seratus."
Kening Kiandra berkerut mendengar ucapan yang baginya seperti sindiran. Tetapi, ia tetap bersikap kekanakan dan bungkam.
"Tuan Muda..." Anna hampir putus asa, tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi pria keras kepala dan seenaknya ini.
Kedua mata Anna kembali meremang. Hatinya kalut, ia tidak bisa mengatakan yang sebenarnya. Tetapi, jika ia menerima, ia takut membuat semua kecewa. Bagaimana pun ia sudah berhutang banyak kepada keluarga Marthadinata.
Kenapa hidup ku selalu serumit ini...?
batin Anna tersiksa.
"Apa yang tidak kau sukai dari aku?" tanya Kiandra tiba-tiba.
Anna yang masih berada dalam pelukan pria itu kaget.
"Apa yang tidak kau sukai?" tanyanya lagi.
Anna masih tak mengerti.
"Jika ada yang tidak kau sukai... Aku.. akan berusaha merubahnya."
Entah dengan ekspresi bagaimana pria kaku itu berkata. Tapi, Anna yang telinganya menempel di dada pria itu, bisa dengan jelas mendengar detak jantungnya yang bergemuruh, dan membuat jantungnya sendiri ikut berdebar.
Mendadak suasana terasa lebih hening dan hanya terdengar suara jantung mereka yang bersahutan. Tangan Anna yang tadinya menggengam, perlahan membuka dan mengelus punggung Kiandra yang lebar.
"Tidak ada yang perlu di rubah, karena Anda sudah sempurna di mata saya. Saya menyukai Anda..." Anna menyembunyikan wajahnya yang merah ke dalam dekapan Kiandra yang menetramkan.