Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SENTIMENTAL



"Di mana anak-anak?" tanya Kirana begitu suaminya memasuki ruang tidur.


"Mereka langsung lari ke halaman belakang begitu aku berikan satu set action figure One Piece." jawab Dave sambil menutup pintu kamar.


"Itu mahal sekali, kan..." istrinya cemberut. "Kau selalu menuruti permintaan aneh-aneh mereka." lanjutnya dengan kedua alis hampir menyatu.


"Mereka sudah lama menginginkan mainan itu. Dan beberapa hari lalu, Kalila sampai menangis karena Kian lupa membelikannya." Dave menjelaskan seraya duduk di pinggir tempat tidur.


Mendengar suaminya menyebut nama adiknya, membuat Kirana mendengus. "Kian itu...dia betul-betul membuatku sakit kepala." ia memijit pelipisnya yang berdenyut.


"Setidaknya Kian terbukti tidak melakukan hal di luar norma, kan?" Dave tersenyum.


Kirana menghela nafas, kemudian termenung dengan pandangan lurus ke tembok. "Aku selalu berharap Kian segera menikah, agar Ibu dan Daddy lega. Tapi, satu sisi aku juga tak ingin Kian mengalami hal yang sama seperti kita dulu."


Dave terdiam.


"Aku bukannya tak setuju Kian dengan Delana. Tapi..." Kirana tak melanjutkan kalimatnya.


Untuk sesaat ruangan hening tanpa ada yang bicara.


"Maksudku... dengan perbedaan yang ada, pasti kedepan mereka akan sama-sama kesulitan." intonasi suara Kirana terdengar sendu, meski yang bersangkutan tak mengeluarkan air mata.


"Seperti katamu, Kian bukan anak kecil lagi. Dia sudah memilih jalan itu, bahkan berani menentang Dad." suaminya menanggapi. "Kita doa kan saja yang terbaik." ia tersenyum menenangkan.


Kirana mengangguk lesu, kemudian pamit ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya yang murung.


Tinggal Dave yang berada di ruangan itu, membuat pikirannya melayang ke percakapannya tadi bersama wanita yang mengaku bernama Delana tersebut.


"Se, sebelumnya saya sudah pernah bertemu dengan Tuan Muda Kiandra."


Jujur Dave terkejut saat wanita itu berkata demikian.


"Saya juga tidak pernah menyangka, kalau Ibu adalah orang tua Tuan Muda dan rumah ini adalah rumah beliau..."


Meski nada suaranya terdengar ragu, serta gesturnya menunjukkan ketidaknyaman. Tapi, Dave bisa menyimpulkan bahwa wanita itu tidak berbohong.


"Saya.. Saya juga ingin minta maaf..."


untuk pertama kali selama perbincangan, wanita itu berani menangkat muka dan memandangnya.


"A, amnesia saya... Amnesia saya sebenarnya sudah sembuh. Hanya saja saya tidak berani untuk jujur, karena saya... karena saya belum punya pekerjaan dan tidak punya uang untuk hidup di luar..."


Ia tertegun menatap kedua mata yang nampak berkaca-kaca itu.


"Tapi... saya berjanji akan secepatnya meninggalkan rumah ini begitu ada uang."


Ia tak bergeming.


"Benar, saya tidak bohong." wanita itu mencoba menyakinkan-nya. "Saya sungguh-sungguh, karena saya tidak ingin lagi merepotkan Ibu. Apa lagi... Tuan Muda dan Tuan Besar sampai seperti ini ...." ia tertunduk dengan air mata hampir menetes.


Dave menghela nafas panjang mengingat semuanya.


Satu sisi ia paham, kenapa Ayahnya begitu berhati-hati kepada orang asing, termasuk kepada wanita yang tak sengaja di tabrak Ibunya tersebut.


Namun, di sisi lainnya Dave bisa merasakan suatu ikatan emosional tersendiri, yang ia tak tahu entah itu simpati atau empati kepada wanita yang belum jelas asal-usulnya itu.


Sekali lagi ia hanya bisa menghela nafas panjang dan belum berani menyimpulkan apapun.


Tetapi, dalam hati ia berjanji, jika wanita itu terbukti memiliki niat jahat, maka ia orang pertama yang akan memberinya pelajaran.


Kian harus bahagia


ucap Dave dalam hati.


.


Ia baru saja selesai memotong daun-daun kering, serta mencabuti rumput liar, yang kemudian akan di masukan ke dalam kantong plastik. Lalu nanti akan ada orang yang mengambil untuk di jadikan pupuk kompos, yang kemudian akan kembali di gunakan untuk menyuburkan tanaman di dalam rumah kaca dan kebun.


Namun, belum sempat ia menyapu daun-daun tersebut dan memasuknnya dalam kantong plastik, dadanya kembali bergemuruh, saat mengingat moment kedekatannya tadi dengan Dave.


Sejak melarikan diri dari Kelantan, kepribadian Anna memang berubah menjadi introvert dan cenderung penakut. Tapi, entah kenapa kali ini ia bisa langsung percaya kepada pria paruh baya itu.


Padahal tadi pertama kalinya kami mengobrol.


batin Anna mendadak merasa bungah.


Awalnya ia memang merasa sungkan kepada Dave. Tetapi, begitu mereka berdekatan dan mulai bicara, semua menjadi mengalir begitu saja.


Rasanya sudah lama aku tak merasa selega ini.


Anna tersenyum-senyum sendiri.


Ia pandangi matahari yang bersinar gagah di atas sana. Meski siang itu begitu terik, tapi di dalam rumah kaca ini ia terlindungi. Mungkin, perasaan seperti inilah yang Anna rasakan saat tadi bersama Dave. Ia merasa aman, dan itu entah kenapa.


Tidak, pasti bukan karena Tuan Dave. Tapi, karena memang rumah ini lah yang membuatku nyaman.


Anna menyakinkan diri.


"Delana." Tiba-tiba seseorang memanggil, membuat lamunan Anna seketika buyar.


Ia langsung menoleh ke sumber suara, dan mendapati Ibu Kiandra sudah berdiri di belakang dengan senyum mengembang.


"Kau sudah selesai dengan pekerjaanmu?" tanyanya ramah.


Anna langsung gugup. "Ma, maaf, Bu. Belum. Anu... ti, tinggal sedikit lagi." ia cepat-cepat menyapu sisa daun kering dan memasukkan semua ke dalam kantong plastik berwarna hitam.


Ibu Kiandra geli melihatnya. "Tidak usah buru-buru begitu." ujarnya sembari menahan tawa. "Ibu tidak akan marah, hanya karena pekerjaanmu belum selesai."


Kedua pipi Anna bersemu, karena ia memang takut kalau-kalau mendapat teguran dari wanita baik hati tersebut.


"Oya, temani Ibu jalan-jalan, ya?" lanjut Ibu Kiandra setelah Anna selesai mengikat ujung plastik sampah.


"Eh...?" Wanita berkuncir dengan wajah polos tanpa riasan apapun itu melongo mendengar ajakan tersebut.


Tanpa sempat mengucapkan apapun, Ibu Kiandra sudah menarik tangannya keluar dari rumah kaca, lalu membawanya masuk ke dalam mobil Mercedes-Benz E300e EQ Power yang sudah menunggu di depan.


"Bu, kita mau ke mana?" tanya Anna saat mobil yang mereka naiki sudah membelah jalan raya.


Ibu Kiandra menoleh ke arahnya. "Ibu kan sudah bilang, jalan-jalan." ia menjawab sembari tersenyum penuh arti.


Anna meringis sambil mengangguk, padahal sebenarnya dalam hati ia khawatir akan terjadi sesuatu yang tak di inginkan.


Kenapa perasaanku tak enak begini.


batin Anna cemas.


Dan benar saja, mereka memang jalan-jalan. Tapi, Ibu Kiandra malah membawanya ke sebuah salon rambut untuk merubah gaya rambutnya menjadi lebih stylist.


"Terima kasih." Ibu Kiandra terlihat senang melihat hasil potongan rambut dari Lie Kuang yang memang sangat profesional.


Namun, rupanya hal itu hanya pembuka. Karena setelah melakukan pembayaran, Ibu Kiandra kembali mengandeng tangannya ke sebuah butik dan membelikannya banyak baju sampai dalaman.


"Bu, ini terlalu banyak." Anna rikuh sendiri.


Tetapi, Nyonya Marthadinata itu tak mempedulikan ucapannya, dan masih saja menambah beberapa stel baju yang membuat Anna mengangga dengan harganya.


"Kau suka make up atau skincare?" tanya wanita yang masih terlihat sangat sehat di usia tujuh puluh tahunan itu.


Anna meneguk ludah, seraya melirik empat orang pria di belakang Ibu Kiandra yang sudah kerepotan dengan banyaknya barang belanjaan.