
Anna menggigit bibir bawah, membuat kening Kiandra berkerut tak suka. Tapi, kali ini ia tak menegur, sebab sedang menunggu kejujuran wanita tersebut.
Suasana yang tadinya subuh, kini benar-benar telah berganti menjadi pagi yang cerah dengan matahari yang bersinar di atas langit biru. Kicau burung dan hewan-hewan kecil yang tadi masih terdengar, kini sudah di gantikan hiruk pikuk bunyi kendaraan di luar sana.
Namun, Anna masih membisu. Tak mau menjawab pertanyaan Kiandra yang mulai tak sabar.
.
"I, itu hanya masa lalu..." setelah hampir lima belas menit diam tanpa kata, hanya kalimat itu yang keluar dari bibirnya.
Kiandra mendengus. Ia sudah menduga, jika wanita itu tak mungkin mau jujur dengan mudah.
"Saya.. saya menceritakan masa lalu, hanya supaya Anda mengerti, bahwa saya tidak tepat untuk Anda." Anna memandang takut-takut pada Kiandra, lalu merunduk. "Bukan untuk meminta bantuan kepada Anda. Apa lagi... sampai Anda harus mencari laki-laki itu..." suaranya melemah.
Ia telah bersiap menerima ledakan emosi dari pria itu, yang biasanya akan langsung menampik apapun alasannya. Tapi, saat ia mengangkat wajah dan kembali melihatnya, Kiandra cuma menatap sambil bersedekap.
Hal itu membuat Anna meneguk ludah dalam-dalam, karena percayalah, diam nya Kiandra lebih membuat ngeri, dari pada omelan kasarnya.
"Ka, kalau sudah tidak ada yang ingin di bicarakan, saya permisi du..."
"Apa kau sedang meremehkanku?" pungkas Kiandra tegas, membuat Anna yang sudah berdiri kembali duduk.
"Apa..?" ia tak mengerti.
"Aku tanya, apa kau sedang meremehkanku?" Kiandra mengulang.
"Tentu saja tidak." wanita itu mengeleng cepat. "Saya hanya..."
"Apa kau pikir aku tidak bisa mencari tahu sendiri siapa laki-laki itu?" potongnya kemudian.
Kedua mata Anna seketika membulat sempurna.
"Aku maklumi," Kiandra melirik. "Mungkin karena kau orang luar, jadi meremehkan jaringan keluarga Marthadinata."
"Bukan begitu, saya.." Anna ingin menjelaskan. Tapi Kiandra telah lebih dulu bangkit dari duduk.
"Aku akan cari orang itu sendiri." pria itu memasukan kedua tangan ke kantong celana pendeknya. "Aku yakin, dalam waktu tiga hari sudah ketemu." ia melihat Anna yang nampak gelisah. "Saat itu...Aku sendiri yang akan mengkorek informasi darinya." lanjutnya seraya melangkah pergi
"Tunggu!" dengan cepat Anna mencegah. "Tolong, jangan begini..." ia menghadang Kiandra dan memelas.
"Begini apa? Kau tinggal bilang, kan?" Kiandra sampai berkacak pinggang sangking gemasnya.
Kurang sabar apa aku?
ucapnya dalam hati.
Niatnya mau melamar, malah jadi begini.
ia mendengus sambil mengalihkan pandangan dari wanita itu.
Jujur ia cemburu, karena dari cara Anna bercerita, terlihat sekali jika dia begitu mencintai mantan pacarnya tersebut.
Mau kawin lari katanya? Apa dia pikir ini sinetron Ind*siar? Lalu bagaimana dengan anak-anakmu? Perasaan orang tuamu? Memang benar, kau ini naif dan bodoh!
ia mengomel dalam hati.
Anna memandang Kiandra yang terlihat angker dengan kedua alis tebalnya yang berkerut, serta raut wajah yang di liputi amarah.
"Ka, kalau saya memberi tahu siapa dia. Apa Anda mau berjanji satu hal?" ragu-ragu ia buka suara.
Kiandra menoleh ke arahnya. "Apa kau bilang?" ia bertanya.
Anna meremasi jemari tangan untuk meredam gelisah. Ia tahu Kiandra sedang marah, untuk itu ia harus berhati-hati dalam memilih kalimat.
Jangan sampai dia bertemu Rico.
batinnya was-was.
Dia membayangkan, jika kedua pria itu bertemu, pastilah nanti Rico akan menghinanya. Dan lebih fatalnya lagi, mungkin saja aib mereka ketika berpacaran dulu akan di bongkar habis-habisan. Imbasnya, tidak hanya dia yang malu, tapi Kiandra serta keluarganya pun akan turut menanggung.
Apa aku jujur lebih dulu saja?
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiran.
Tidak! Tidak!
ia menolaknya sendiri.
Dia baru tahu aku punya mantan pacar saja sudah kaget. Apa lagi, kalau dia sampai tahu aku....
wajah Anna berubah sedih.
"Kenapa malah diam saja?" ujar Kiandra, membuat wanita di depannya itu terbangun dari lamunan. "Kau ingin memberi tahu namanya tidak?" ia bersedekap dengan gayanya yang angkuh.
"Eemmm... A, anu.. Dia hanya masa lalu." Anna berkata pelan "Sayapun... sudah melupakannya..."
Kiandra berdecak. Ia kesal dengan basa-basi ini.
"Ka, kalau Anda mau berjanji tidak mencari tahu tentangnya, maka... saya akan memberi tahu namanya." Anna memberanikan diri membuka penawaran.
"Baik." tanda di duga ia langsung menyanggupi.
Anna tercenung.
Kenapa segampang ini?
tanyanya dalam hati. Karena jika melihat karakter Kiandra, rasanya mustahil dia langsung setuju.
Anna malah ragu. "Eeemmm...Na, namanya..." Lidahnya terasa kelu menyebut nama pria yang sudah menghancurkan masa depannya itu.
Kaki kanan Kiandra sudah bergerak-gerak tanda tak sabar.
Anna meneguk ludah susah payah. "...Enrico..." akhirnya ia berucap pelan.
"Siapa?" Kiandra langsung bereaksi dengan mencondongkan diri agar bisa mendengar lebih jelas.
Anna otomatis mundur.
"Siapa namanya heh?" ia kembali bertanya seraya ikut maju mengikuti.
Anna yang gugup karena jarak wajah Kiandra yang begitu dekat jadi tak fokus. "Enrico." ucapnya sambil menghindari mata berwarna cokelat terang milik pria itu.
"Nama panjangnya?" dia masih bertanya.
"Eh?" Anna terkejut.
"Nama panjangnya siapa?" Kiandra mendesak.
"U, untuk apa Anda menanyakan nama..."
"Enrico siapa?" potong Kiandra dengan sorot mata mengancam.
Nyali Anna menciut.
Yang penting dia sudah janji kan tadi.
batinnya mengingatkan.
Anna meneguk ludah cemas.
Ini yang terbaik kan?
tanyanya pada diri sendiri.
"... Suma Enrico Haziq." ucap Anna perlahan.
"Suma Enrico Haziq." Kiandra menyebut nama tersebut sembari menjauhkan diri. "Suma Enrico Haziq." ia menyebut lagi nama itu sambil berjalan melewati Anna begitu saja.
Anna tertegun. Kemudian bagai orang yang kelupaan benda penting, ia segera berlari menyusul Kiandra.
"Tuan Muda!" panggilnya sambil meraih lengan pria itu. "Anda sudah janji kan tadi?" terengah ia bertanya.
"Janji?" Kiandra pura-pura bodoh.
"Anda tidak akan mencarinya, kan?" Anna memastikan.
"Ooohh..." mulut pria itu membulat.
Anna sudah frustasi melihat gelagatnya.
Dia akan menepatinya kan?
jantung Anna berdebar kencang.
"Iya, aku memang sudah janji tadi." Kiandra berkata ringan.
Anna langsung bernafas lega, serta hampir mengulas senyum.
"Tapi, itu kan tadi." lanjutnya tanpa beban.
Kedua mata Anna membelalak. "A, apa maksud...."
"Aku janjinya tadi. Kalau sekarang tidak." ia menarik sudut bibir, lalu melangkah pergi meninggalkan Anna yang syok.
.
Yang benar saja. Mana mungkin aku membiarkan laki-laki seperti itu lolos.
Kiandra berkata dalam hati.
Namun, yang sebenarnya dia hanya ingin mengukur kehebatan mantan kekasih Anna itu dengan dirinya.
Jabatanku sudah yang tertinggi. Dia punya apa?
batinnya sombong.
Atau jangan-jangan dia lebih tampan dariku?
Kiandra kaget sampai berhenti berjalan, kemudian meraba pipi mulusnya yang tak bercela.
Aku harus segera memastikan dengan mata kepalaku sendiri.
ia mempercepat langkah.
Memang, sampai kapanpun cinta bisa membuat pria sedewasa apapun berubah kekanakan.
.
Sementara itu, di halaman belakang Anna masih mematung dengan hati kalut luar biasa.
Bagaimana ini?
ia menangkupkan kedua tangannya yang dingin ke dadanya yang berdegub kencang.