
Lebih dari satu dekade sejak kontroversi yang sempat membuat heboh kalangan menengah keatas, keluarga Marthadinata tak pernah mengadakan pesta atau sekedar jamuan makan yang biasanya di lakukan untuk mempererat hubungan bisnis atau sekedar menambah relasi.
Namun, di tahun ini secara mendadak mereka merayakan Anniversarry pernikahan emas pasangan yang terkenal dengan keharmonisannya tersebut.
Tentu saja kesempatan langka ini tidak akan di sia-sia kan oleh penerima undangan. Bahkan sampai ada yang mencetak undangan palsu, sekedar ingin datang ke dalam rumah yang sudah bertahun-tahun tak menginjinkan orang luar untuk masuk.
Ibu Kiandra sengaja memilih halaman belakang yang memperlihatkan pemandangan indah danau dan kebun mawar putihnya yang sedang mekar sebagai latar.
Rumput jepang yang terawat, membuat mereka tak perlu melapisinya dengan karpet atau alas lain. Deretan panjang meja berisi aneka makanan serta minuman, bersisihan lengkap dengan para pelayan yang siap melayani. Beberapa orang berpakaian koki juga nampak memanggang daging ala barberque-nan.
Tak lupa, suara merdu dari gitar akustik yang menyanyikan lagu-lagu slow rock tahun delapan puluhan, menambah sempurna suasana sore hari ini.
Rona kebahagiaan terlihat jelas di wajah pasangan yang tak lagi muda itu. Ayah Kiandra masih terlihat tampan, meski seluruh rambutnya telah memutih, dan si istri yang setia berada di sampingnya terlihat sangat menawan, walau setiap kali dia tersenyum atau tertawa, maka kerutan di wajahnya akan bertambah.
Tamu yang hadir memberi ucapan selamat, serta mendoakan kesehatan dan kebahagiaan mereka selamanya.
Tidak ada yang membahas soal pernikahan Dave dan Kirana yang kontroversial, karena slentingan-slentingan yang menyebut, jika Dave sebenarnya anak istri pertama Ayah Kiandra dengan selingkuhannya.
Tetapi, tentu di sini tidak ada yang berani membahas kebenaran berita itu. Karena pada kenyataanya, kedua anak kembar mereka normal dan sehat, tidak ada tanda-tanda kecacatan, yang biasanya di turunkan dari pernikahan sedarah.
"Tapi... dari mana gen kembar itu?" bisik seorang tamu, ketika melihat Kama dan Kalila bernyanyi dengan suara cempreng mereka di atas panggung.
Para tamu sangat terhibur dengan tingkah keduanya yang tak punya urat malu dan selalu bersemangat dimana pun dan kapanpun, kecuali ketika tidur tentu saja.
"Benar juga." rekannya terkejut. "Sepertinya tidak pernah ada anak kembar dari generasi-generasi sebelumnya."
Kedua wanita berpenampilan elegan itu saling pandang, lalu memutuskan tak membahasnya lagi saat melihat seorang bodyguard keluarga Marthadinata yang membaur bersama tamu-tamu.
Dave yang berdiri menepi, tersenyum melihat tingkah kedua anaknya yang selalu ceria. Di usia lima puluh tahun seperti sekarang, ia sudah tak terlalu mempedulikan pandangan orang lain, dan itu sangat kontras dengan dirinya di masa lalu.
"Aku cari kemana-mana, ternyata malah di pojokan." istrinya yang berbalut dress warna gold, nampak cantik dengan rambut panjangnya yang di gelung sederhana.
Dave hanya menipiskan bibir, seraya meletakkan gelas minumnya yang telah kosong.
"Kau masih tak suka suasana pesta, Dave?" tanya Kirana setelah berada di dekatnya.
"Tidak. Setelah dua anakmu merubah pesta yang membosankan menjadi begitu menyenagkan." ia terkekeh sambil melihat ke arah panggung dengan ujung mata.
Kirana yang melihat kedua anaknya menyanyikan lagu Ojo Dibandingke geleng-geleng. Sudah lelah dia berteriak-teriak, agar Kama dan Kalila bersikap lebih sopan di hadapan tamu-tamu lainnya. Tapi, tetap saja kedua anak itu bertindak sesuka hati.
"Mirip siapa mereka itu?" ujarnya sembari tepuk jidat.
Suaminya pura-pura terkejut. "Kau tanya aku?" ucapnya.
Kirana pasang wajah masam. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok Anna yang duduk sendirian di antara para tamu yang tengah asik bernyanyi dan berjoget meniru Kama dan Kalila.
Ekspresi wajah wanita itu murung, sangat kontras di banding sekelilingnya yang di penuhi kegembiraan karena ulah anak-anaknya.
"Delana sangat cantik." pujinya.
Dave ikut mengarahkan kedua matanya, kepada wanita dengan rambut panjangnya yang di biarkan terurai dan di beri hiasan jepit mutiara di salah satu sisinya itu.
"Dia terlihat anggun dan... aku selalu merasa dia memiliki aura tersendiri yang membuat Kian bisa tergila-gila padanya." Kirana melanjutkan.
Dave menipiskan bibir. "Aura darah biru memang berbeda." ucapnya.
"Kau tidak tahu?" Pria yang mengenakan setelan jas lengkap warna hitam itu heran.
Kirana mengkerutkan kening tak mengerti.
"Begitu keputusan Ibu tidak bisa di ganggu gugat, Dad segera mencari tahu tentangnya." Dave mengawali cerita.
Kirana nyaris tak berkedip menyimak apa yang di katakan si suami.
"Delana anak ketiga Raja Kelantan, dan satu-satunya Tuan Putri di Negara bagian Malaysia itu." ia menerangkan.
Kedua mata Kirana nyaris keluar dari rongga.
Dave geli melihat ekspresi istrinya, tapi ia berusaha tak tertawa. "Benar-benar Tuan Putri, bukan cuma sekedar gelar atau sebutan. Tapi, Delana itu memang keturunan langsung dari Raja Kelantan. Makanya Dad tidak lagi mempermasalahkan, dan diam-diam malah ingin Kian segera menikahinya."
Untuk beberapa detik Kirana tak bergeming. Otaknya masih berusaha mencerna tentang segala hal yang sudah dia lalui bersama wanita itu. Tetapi, tetap rasanya mustahil jika seorang Anna yang pemalu dan kikuk itu sebenarnya adalah Tuan Putri.
"... A, apa Kian tahu tentang hal ini...?" akhirnya ia bisa buka mulut.
Dave angkat bahu.
Dahi Kirana yang sudah terdapat keriput, semakin berkerut melihat reaksi suaminya.
"Sudahlah, kau tidak perlu memikirkan hal ini." Dave menepuk pundak istrinya pelan. "Ingat, Kian sudah dewasa. Yang penting semua sudah merestui, dan Delana terbukti dari keturunan baik-baik." ia menenangkan.
Namun, Kirana tetap saja resah. Entah mau berapa kali dia di nasehati. Tetapi baginya, Kiandra tetaplah anak-anak yang butuh pengawasan darinya.
"Ngomong-ngomong soal Kian. Dimana dia?" Dave mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah." istrinya mengeleng. "Dia kan suka seenaknya sendiri." lanjutnya cemberut.
Dave tersenyum geli.
Puncak dari acara di Pesta tersebut adalah saat hari menjelang malam.
Pada saat itu, musik sengaja di matikan dan semua undangan bisa melihat matahari terbenam, dengan danau berair keemasan, serta bayangan pohon-pohon cemara yang menjulang.
Tak lupa aroma wangi dari kebun mawar putih yang terletak tidak jauh dari tempat acara, menambah keindahan rasa yang pasti di rasakan semua orang yang hadir di situ. Termasuk Kama dan Kalila yang sampai melongo menyaksikan terbenamnya sang Surya.
Namun, ada satu yang bahkan tak tertarik melihat fenomena alam tersebut, dan malah sibuk dengan pikirannya yang sedari tadi terus berkecambuk.
Anna tertunduk memandangi kuku-kuku jarinya yang di hias sedemikian rupa. Sepanjang acara, Ibu Kiandra memperkenalkannya kepada para tamu dan relasi. Membuat hatinya semakin gundah. Ia ingin menolak. Tapi, apa alasanya? Sedangkan mereka secara tidak langsung sudah memproklamirkan dirinya sebagai keluarga.
Aku harus bersikap bagaimana kalau dia datang?
batin Anna bingung.
Tetapi, nyatanya sampai seluruh acara hampir selesai dan hari telah berubah gelap, dengan dekorasi lilin-lilin imitasi dan lampu di nyalakan, ia tak juga melihat kehadiran orang itu.
Pasti karena dia tahu aku di sini. Makanya tak mau datang.
Anna menyimpulkan dalam hati.
Di keramain itu, ia semakin merasa sepi saja.