Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
JALINAN



Perayaan ke empat tahun berdirinya Dedalu Resort yang berlokasi di Tawangmanggu, Jawa Tengah berlangsung semarak.


Selain mengundang band papan atas, acara yang di kemas semi-formal itu juga semakin meriah dengan pembagian voucer menginap tiga hari dua malam untuk lima tamu beruntung, serta sembako gratis untuk masyarakat sekitar.


Hal itu tentu bukan hal baru bagi perusahaan di bawah naungan Marthadinata-Sanjaya Groub, Tbk. Konsorium yang menjadi salah satu yang terbesar di Asia Tenggara itu memang terkenal dengan derma-nya. Bahkan mereka punya badan amal tersendiri yang tiap harinya membantu masyarakat kurang mampu.


"Ku pikir karena datang ke sebuah acara perjamuan, kau akan memakai gaun." celetuk Aldo, sembari mengamati Victoria yang malam ini menjadi partner-nya.


Wanita dengan setelan kemeja putih dan jas hitam khas lelaki itu hanya melirik sesaat, lalu meminum orange juice -nya.


"Tapi aku senang, saat tahu kau menuruti perintah Chief untuk pergi berdua denganku." Aldo tersenyum memandangi wajah angkuh wanita di sampingnya.


Bibir Victoria tetap terkunci, dengan pandangan lurus mengarah pada keramaian pesta yang berlangsung di ballroom Dedalu Resort yang di desain tradisional-elegant.


Aldo tak tahu, kejadian apa yang membuat Victoria akhirnya setuju untuk datang ke kota kecil berhawa sejuk itu.


"Jika kau tak mau menuruti perintahku untuk menemani Aldo datang ke acara itu, aku akan mengirim email pengaduan."


Victoria mengingat ancaman Kiandra yang di layangkan untuknya.


"Akan aku tulis, bahwa kau mencoba mengodaku!"


Victoria meneguk ludah. Raut Kiandra terlihat murka ketika itu, membuat dirinya mau tak mau mematuhi.


Namun beginilah nasib menjadi bodyguard wanita. Jika tidak di remehkan, maka akan di lecehkan si Penyewa.


Dalam hal ini, Victoria beruntung, karena Kiandra tak pernah meremehkan, apa lagi melecehkannya.


Hanya saja, Ayah dari Tuan-nya tersebut mengamanatkan misi rahasia, yang sampai sekarang belum bisa Victoria laksanakan. Mengingat hal itu membuat kedua alisnya saling tertaut dengan pipi memerah.


Das kann ich nicht.(Aku tak bisa melakukan hal itu) Ucap Victoria dalam hati, seraya melirik pria di sampingnya yang tengah mengumbar senyum.


"Selamat malam." Sapa seorang wanita berusia lima puluhan tahunan.


Aldo dan Victoria reflek melihat ke sumber suara.


"Aldo, kan? Asisten Pribadi Kiandra?" ia tersenyum ramah. Di sampingnya berdiri seorang pria dengan kisaran usai yang sama.


Awalnya Aldo tak begitu mengenali, karena lama tak bertemu. Namun warna iris mata yang sama dengan Chief-nya, membuat dia segera mengingat.


"Nyonya Kirana, Tuan Dave." Aldo langsung menunjukkan sikap hormat pada pasangan tersebut.


"Selamat malam Nyonya, Tuan." Victoria yang membaca situasi, turut menundukkan kepala.


"Tidak usah terlalu formal seperti ini." Ia terkekeh, membuat kedua matanya membentuk bulat sabit.


"Iya, Nyonya." Ucap Aldo sedikit kikuk.


Aldo bukannya tak tahu berbagai kabar tentang pasangan ini. Tapi karena dia tahu, maka kini ia bisa mengerti, kenapa Chief-nya mati-matian tak mau datang ke Tawangmanggu.


"Mana Kian?" suara bass dari pasangannya terdengar.


Aldo melihat pria yang foto masa mudanya banyak menghiasi tembok kantor pusat sebagai salah satu tokoh yang membuat kamajuan untuk perusahaan.


Jadi beliau yang harusnya memimpin Sanjaya Company...? selidik Aldo dalam hati. Apa yang membuat beliau melepas semua dan memilih hidup di kota kecil seperti ini bersama Kakak Chief? ia mulai penasaran.


"Kau tak mendengarku?" pria lima puluh tahun itu bertanya lagi, karena Aldo hanya memandang tanpa bicara.


"Ma,maaf, kan saya Tuan." Cepat-cepat Aldo mengusir rasa ingin tahunya.


"Dia pasti gugup bertemu denganmu." istrinya terkekeh sambil menyikut lengannya pelan.


"Kirana..." si suami menoleh ke arahnya, memberinya kode agar jangan bercanda.


Pasangan yang tak lagi muda. Namun bisa tetap begitu mesra. Membuat yang muda berharap kelak pun jika menikah bisa dengan orang yang tepat, agar tua hanya menjadi usia, akan tetapi rasa seperti baru kemarin menikah.


"Chief...tidak bisa hadir karena berbenturan dengan acara lain." Aldo menjawab, setelah tadi sempat terdiam melihat interaksi keduanya.


Tampak kecewa membayang di wajah insan yang mulai termakan usia tersebut.


Setelah berbasa-basi sebentar, pasangan itu pamit dan berjalan pergi.


"Apa tadi kakak perempun Chief?" tanya Victoria begitu mereka tak terlihat.


"Benar." Aldo menjawab. "Aku melihat foto mudanya di ruangan Chief, dan beliau benar-benar sangat cantik seperti orang jepang." Ia memuji.


Kening Victoria berkerut, lalu kembali jaga jarak.


"Eh?" mendadak mata Aldo melebar. "Kau tadi bicara padaku?" cepat ia memegangi kedua pundak wanita dengan setelan baju lelaki itu.


"Lass los!" (Lepaskan!)


"Menggunakan bahasa Indonesia?!" Aldo kegirangan.


"Hei, Vic!" Aldo mengejar. "Ayo kita mengobrol, malam ini masih panjang." ia mulai merayu.


"Get out!" usir Victoria galak. Tapi Aldo tetap mengekor penuh suka cita.


.


Di lain tempat, di sebuah Apartemen pusat kota.


Kiandra duduk di sofa memandangi gemerlap ibu kota di malam hari, sambil mengelus anjing jalanan yang beberapa waktu lalu ia tolong dan kini tengah tidur di pangkuan.


Anjing menjijikan dengan luka bernanah dan tubuh tinggal tulang itu kini terlihat sehat dengan bulu-bulu putih-abu-nya yang tebal dan wangi.


Siapa yang menyangka, jika anjing itu ternyata jenis Siberian Husky yang kecilnya saja berharga kisaran empat sampai lima juta rupiah.


Ponsel milik-nya yang ia letakkan di meja menyala, membuat lamunan Kiandra akan Anna teralihkan.


Pelan-pelan Kiandra memindahkan anjing cantik itu ke sofa, lalu beringsut mengambil benda pipih tersebut.


Nama Kirana bodoh, tertera di layar.


"Untuk apa malam-malam begini dia menelponku?" gerutu-nya kesal.


Sambil melihat layar ponsel yang terus menyala. Pria yang malam ini terlihat santai dengan kaos putih dan celana pendeknya, kembali duduk ke sofa.


Saat getar ponsel terdengar lagi untuk ke ketiga kali, baru lah Kiandra mau mengeser layarnya.


"Halo?" sahut Kiandra malas-malas.


"Kian, apa kabar?" suara Kakak perempuan-nya terdengar bersemangat.


"Baik." Dia menjawab singkat.


"Kau sedang apa sekarang?"


"Menelpon."


Terdengar tawa yang diam-diam ia rindu dari dalam speaker.


"Kau pasti mengatakan dengan wajahmu yang sok cool itu, kan?" ia mengejek di tengah tawa yang belum berhenti.


Bola mata Kiandra berputar. "Langsung saja ada apa? Aku mau tidur." ucapnya ketus.


Sesaat tak terdengar apa pun, membuat Kiandra hendak menutup sambungan telpon.


"Kenapa tak datang ke acara ulang tahun Resort?" tanya si suara perempuan dari dalam ponsel.


"Aku sibuk." Lagi-lagi nada bicara Kiandra ketus.


"Kian, kau masih belum bisa menerima pernikahan kami?"


Kening Kiandra seketika berkerut dengan sorot mata menyipit.


"Sudah hampir tiga tahun, kau tetap tak mau menemui kami?" ia melanjutkan.


"Aku tak paham maksud ucapanmu Kirana." kata Kiandra tegas. Sangking tegasnya, sampai anjing yang tengah tertidur itu bangun. "Bukankah bagimu yang penting daddy dan ibu menyetujui?"


"Bukan seperti itu..."


"Seperti itu juga tak masalah untukku." Potong Kiandra dingin. "Itu hidupmu dengan Kak Dave, tak ada kaitannya denganku."


"Kian?" suara seorang pria terdengar, membuat Kiandra terpaku. "Ayo kita bertemu, kita bicara berdua."


Bibir Kiandra yang terkatup gemetar menahan luapan emosi.


"Halo? Kian?"


Tanpa berkata, Kiandra mematikan benda pipih tersebut dan melemparnya jauh ke ranjang yang letaknya di sudut ruang.


Siberian Husky dengan mata biru cerah itu memandangi Penolong-nya yang duduk dengan wajah tertunduk dalam, kemudian menjulurkan leher dan mengelus-elus dengan cara mendesakkan kepala.


"I'm okay.." Kiandra mengusap kepala anjing cerdas itu sembari berusah tersenyum, meski matanya berkaca-kaca.


...----------------...


Maaf baru update, beberapa hari ini saya banyak kesibukan di RL 🙏


Terima kasih sudah membaca Seducing Miss introvert, memberikan like, gift, serta vote 🙏


Jangan lupa untuk komen, walaupun cuma bilang, next 😅


-🍀-