Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
DI SIANG YANG TERIK



Sudah seharian Anna berkeliling kota untuk mencari pekerjaan. Tapi, melamar kerja tanpa keterampilan dan ijazah, begitu sulit di terapkan di kota besar seperti ini.


Namun, jangankan ijazah. Kartu data diripun Anna tak berani menunjukkan.


Matahari semakin tinggi, Anna yang kelelahan memutuskan untuk beristirahat di sebuah warung pinggir jalan. Tapi, baru saja ia masuk, asap rokok serta pengunjung yang kebanyakan pria membuat Anna mengurungkan niat dan berbalik pergi.


Dengan langkah gontai Anna berjalan seorang diri di pinggir jalan raya yang bising oleh suara kendaraan.


Setiap bertemu rumah makan atau toko, Anna akan mencoba peruntungan dengan menanyakan soal pekerjaan. Sayangnya rata-rata tidak ada lowongan kerja. Jika ada pun, pasti yang di minta minim tamatan Sekolah Menengah Atas.


Tak peduli berapa kali Anna menegaskan bahwa dia lulusan sarjana, kalau tak ada ijazah, maka ia tak bisa membuktikan dan tak mungkin di terima.


Anna keluar dari toko kesekian dan menghela nafas panjang untuk mengusir rasa putus asa. Ia pandangi sekitar yang ramai oleh lalu lalang orang dengan kesibukan masing-masing.


Mendadak Anna merasa sunyi. Rasa kesepian tinggal di negara asing seorang diri begitu terasa, dan hampir membuat air matanya meleleh.


Namun, segera di tepisnya sentimen itu, kemudian berjalan dan duduk di sebuah bangku taman.


Pohon yang rindang membuat Anna terlindung dari siang yang terik. Ia buka tas ranselnya, lalu mengambil botol minum yang di bawa dari rumah kos.


Iya, rumah kos. Anna sudah tak tinggal dan bekerja dengan Nisa sejak dua hari yang lalu. Tidak seperti dia yang dulu kelimpungan di jalan. Kini Anna mempunyai uang, dan sedikit-sedikit sudah hafal nama daerah serta jalan.


"Aku harus segera mendapat pekerjaan sebelum uang di tabungan habis." Anna menyemangati diri sendiri.


Tiba-tiba perutnya berbunyi, membuat Anna tersadar jika dia belum makan apapun sejak pagi.


Di taman kota itu banyak pedagang asongan yang menjajakan makanan. Tapi, untuk berhemat Anna sudah membawa roti tawar sendiri.


Sembari melihat-lihat sekitar, Anna lahap memakan dua lembar roti tawar yang di bawanya. Benar-benar cuma roti tawar tanpa apapun, dan ia memakan dengan rasa syukur. Sebab Anna pernah dalam kondisi begitu kelaparan tanpa ada apupun yang bisa di makan, kecuali makanan sisa yang berada di tong sampah.


Selesai makan, ia menghabiskan separuh botol air minum dan menyimpannya kembali ke dalam tas.


Ketika membuka tas, Anna melihat buku kecil berwarna merah dan beberapa kelengkapan identitas lainnya yang ia jadikan satu dan selipkan di sisi bagian dalam tas.


Anna mengambil buku merah tersebut, yang ternyata sebuah paspor dengan lambang dua harimau yang saling beradu. Negaranya, tanah kelahirannya, tempat keluarganya berada dan segala kenangan yang ia tinggalkan.


Bohong jika Anna tak ingin pulang. Bahkan ketika kenyamana hidup bersama Nisa ia peroleh, di malam-malam tertentu, dada Anna akan tersesaki oleh rindu kampung halaman. Tetapi, ia sudah tak punya tempat lagi untuk pulang.


Anna menyeka air matanya yang tanpa sadar menetes, lalu menyimpan benda berharganya itu kembali ke dalam tas ransel dan memanggulnya.


Ia baru saja bangkit, ketika seorang dengan sepatu kulit hitam yang mengkilat berdiri di hadapannya.


Anna menengadah dan kedua netranya langsung membulat.


"Sudah aku duga." Rico tersenyum tipis.


Jantung Anna seketika berpacu kencang.


"Delana." raut Rico mendadak sedingin es.


Anna berbalik hendak lari. Tapi, Rico telah lebih dulu memegangi lengannya kuat-kuat.


Anna memekik, membuat sekitar terkejut dan menoleh ke arahnya.


"Maaf kalau kami menganggu." Rico tanpa melepas cengkramannya, sedikit membungkuk dan menunjukkan raut penyesalan.


Orang-orang sekitar maklum, sebab menganggap mereka sepasang kekasih yang sedang bertengkar dan segera saja mengabaikan.


Begitu masyarakat mempercayainya, Rico langsung menarik Anna yang masih berusaha melepaskan diri ke sudut gang sempit.


Rico yang berahang tegas dengan dahi lebarnya itu tak menunjukkan respon, kecuali cuma memandang.


"Lepaskaan!" Anna berteriak.


Rico langsung membekap mulut gadis itu dan menahan salah satu pergelangan tangannya ke tembok.


Jantung Anna berdetak semakin kencang. Kedua matanya sudah berair, dan meski ia mencoba melawan dengan satu tangannya yang bebas. Tapi tetap tak mampu melepas bekapan Rico.


Pria itu memperhatikan sekitar, ketika di rasa semua masih aman. Ia kembali fokus pada Anna yang menatap marah padanya.


"Kenapa kau ada di sini?" suara Rico yang dahulu ia rindukan, kini serasa sepahit empedu.


Gang yang menjadi pembatas dua ruko itu nampak remang, dengan banyak koran bekas berserak, yang menandakan itu sebagai tempat tidur para gelandangan.


Kemarahan serta ketakutan membuat Anna gemetar dan hanya air matanya yang keluar.


Raut Rico mengeras di tatap penuh rasa benci seperti itu.


"Jangan berteriak, atau kita akanĀ  berurusan dengan polisi." Entah memberi tahu atau mengancam. Tapi, perlahan Rico melonggarkan bekapannya, lalu melepas.


Anna langsung membuang muka.


"Kenapa kau bisa kenal Kiandra Marthadinata?" Rico kembali bertanya.


Anna tak menjawab dan malah sibuk memukul-mukul lengan Rico, agar pria itu melepaskan tangannya.


"Kau menjadi kekasihnya? atau simpananya?" Rico menyentak tangan Anna, membuat gadis itu memejamkan mata rapat-rapat menahan sakit.


"Delana, jawab aku!" Rico melepaskan cengkramannya dan gantian mencakup kedua pipi Anna, agar mereka berdua saling pandang.


Sinar mentari yang sempat tertutup awan, kini cahayanya makin benderang, sampai mampu menerobos ke dalam gang.


Baik Anna maupun Rico, kini bisa melihat satu sama lain dengan jelas dan dalam jarak dekat.


Anna tak bersuara sedikitpun. Hanya air matanya yang makin deras mengalir menatap laki-laki yang ia cinta, tapi juga yang menjadi penyebab kehancuran di hidupnya.


"Delana." Rico menelusuri penampilan Anna yang mengenakan celana jeans biru pudar dan atasan kemeja longgar warna abu, lalu kembali mata mereka saling beradu.


"Penampilanmu berubah. Tapi, kau memang Delana." Rico memastikan.


Sekuat tenaga Anna berontak. Tetapi, lagi-lagi Rico berhasil menahannya.


"Biarkan aku pergi! aku tak akan menganggumu, jadi jangan ganggu hidupku!" Anna berteriak-teriak sembari menyembunyikan wajah.


"Kau pikir aku akan tenang dengan keberadaanmu di sekitarku?" Rico menguncang kedua pundak Anna beberapa kali.


Anna merintih menahan ngilu atas perlakuan kasar pria bertinggi 180 cm tersebut.


"Jawab aku, kenapa kau bisa berhubungan dengan Kiandra Marthadinata?" Rico sedikit membungkuk dan kembali mencakup pipi Anna agar ia bisa melihat wajah gadis itu.


"...Aku tak punya hubungan apapun dengannya." setelah terdiam beberapa saat, akhirnya Anna mau membuka mulut.


Kening Rico berkerut. Jawaban Anna tak sesuai dengan realita yang ia tahu.


"Pembohong!" ia mengumpat.