Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PESAN



"Pe, permisi." Ucap Anna sebab Kiandra hanya mematung di ambang pintu.


Wajah Kiandra yang dingin, membuat Anna berpikir jika Kiandra sedang marah. Tapi percayalah, Kiandra hanya bingung, tak tahu harus bersikap atau berkata apa.


"Anna, kau sudah pulang?" sambut Nisa dari dalam.


"Iya, Tante!" Anna berseru dari balik pundak Kiandra yang menjulang.


Kembali Anna menatap pria yang menghalangi jalannya, sambil berharap dia akan paham dan mau menyingkir. Tapi sayang, bergeser pun Kiandra enggan.


Mau apa orang ini? Anna mulai gelisah.


Matahari di luar sangat terik, dan ia baru saja menempuh perjalana jauh menggunakan sepeda motor di jalan raya yang macet dan membuat gerah.


Anna ingin segera masuk ke dalam toko yang berpendingin, sebab ia sudah tak betah dengan hawa panas di luar.


Akan tetapi, pria yang entah bagaimana sering dia jumpai itu, malah berdiri bak tembok yang menutup jalan.


"Anna?" Tante Nisa telah berdiri di belakang Kiandra.


Anna segera mengalihkan pandangan ke Pemilik toko.


"Permisi, maaf." Nisa menyentuh sedikit lengan Kiandra, membuat pria itu terkejut dan reflek menyingkir.


Anna segera masuk ke dalam begitu ada celah. Hawa sejuk menyambutnya, membuat punggung Anna yang berkeringat dan di tutupi jaket serasa bisa bernafas.


"Pasti panas sekali di luar." Nisa membantu Anna membawakan kantong  belanjaan.


"Iya, Tante." Anna meletakkan plastik yang lebih kecil ke atas meja dekat kasir. "Maaf kalau lama, tadi macet dan aku tak tahu jalan lain yang lebih cepat."


"Tak apa," Nisa tersenyum seraya menepuk pundak Anna pelan. "Yang penting kau hafal dulu jalan utama, yang lain bisa menyusul."


"Iya." Anna ikut tersenyum, lalu berjalan ke pojok ruang untuk menaruh helm.


"Dapat semua, kan yang ada di catatan?" Nisa mulai mengelurkan isi kantong.


"Iyaa." Anna berseru dari sudut ruang, kemudian melepas jaket kumal warna hitam yang tadi melindungi dari sengat sinar matahari dan mengantungkannya.


Ketika Nisa membongkar kantong belanjaan kedua yang di bawa Anna, wanita empat puluhan itu baru sadar, jika dari tadi Kiandra masih berdiri di dekat pintu.


Nisa hendak mendekati pria tersebut untuk menanyakan, apakah masih ada keperluan, saat pria dengan postur model itu sudah berjalan lebih dulu ke arah karyawannya.


"Ini!" Kiandra langsung menyodorkan buket mawar putih yang baru di beli.


Anna yang sedang memakai pinafore kaget, sampai hanya bisa melongo memandangi buket tersebut, lalu mendongkak untuk melihat pemberinya.


"Untukmu." Tegas Kiandra seperti memerintah.


Anna tak mengerti.


"Bunga ini untukmu!" Suara Kiandra lebih lantang, sebab Anna tak langsung menerima.


Anna masih saja kebingungan dengan hal yang tiba-tiba ini.


Merasa respon Anna sangat lambat, Kiandra menyorongkan buket besar itu lebih dekat sampai mengenai wajah wanita itu.


Anna gelagapan dan mengaduh pelan, karena batang serta ujung kertas pembungkus buket itu hampir mengenai mata dan masuk ke lubang hidung.


Mau tak mau, Anna akhirnya menerima buket mawar putih tersebut. Dia mengosok-gosok hidungnya yang sempat kemasukan batang dari bunga baby breath yang menjadi pelengkap mawar.


"Jangan pernah berpikir mati adalah solusi." Masih dengan wajah kaku Kiandra berpesan.


Seketika Anna melihat ke arah pria berekspresi dingin itu.


"Justru seharunya kau bersyukur masih di beri hidup."


Mata Anna yang sayu melebar.


"Karena selama kau masih hidup, berapa kali pun kau melakukan kesalahan, kau masih bisa memperbaiki." Kiandra menatap baik-baik wanita dengan bibir pucat dan wajah letihnya itu.


"Bagaimana..." Anna tak mampu melanjutkan kalimatnya.


Pikiran Anna langsung tertuju di beberapa malam lalu, ketika ia memutuskan mengakhiri hidup, karena bermimpi tentang penyesalan terbesarnya.


Begitu nyata mimpi itu, sampai Anna yang berusaha bangkit, kembali terpuruk dan berkesimpulan bahwa ia memang layak untuk mati.


Jangan-jangan dia melihatku...? batinnya kalut.


Dari meja kasir, Nisa memperhatikan keduanya. Samar-samar ia mendengar kata mati, serta penyesalan hidup.


Karena jujur saja, Nisa sama sekali tak tahu apa pun tentang gadis itu, dan ia mempekejakan Anna atas dasar kasihan. Walau dengan berjalannya waktu, Anna sangat rajin, dan ia malah di untungkan.


"A, aku tak mengerti...maksudmu apa...?" lirih suara Anna setelah mereka hanya diam dan saling pandang.


Kening Kiandra berkerut, dan hal itu membuat Anna yang selalu berpikir negatif makin khawatir.


Aku tak mau Tante Nisa sampai tahu hal ini. Anna gelisah. Matanya bergerak-gerak panik dan jantungnya berdebar tak karuan.


Kenapa orang ini bisa sampai tahu? Anna kembali menatap Kiandra dengan nyalinya yang menciut.


Dia tahu aku ke Club, di tuduh mencuri dan sekarang dia tahu kalau aku ingin mengakhiri hidup. Anna meneguk ludah susah payah.


Buket bunga yang berada dalam dekapnya sampai ringsek, karena ia terlalu kencang memeluk.


"Kau boleh berputus asa. Tapi jangan sampai menyerah."


Anna tercenung menatap pria yang memberinya pesan menohok.


Raut Kiandra yang datar, serta kedua alisnya yang tebal serasa menghakimi. Seolah Anna yang tak sanggup menghadapi cobaan dan memilih melarikan diri.


"Kenapa kau mengatakan hal itu padaku?" tanya Anna yang emosional atas kata-kata Kiandra.


"Kau menanyakan hal yang kau sendiri sudah tahu jawabannya?" Raut Kiandra tak berubah.


Muka Anna langsung masam.


"Pikirkan kata-kataku tadi," Kiandra mendengus sembari mengusap rambutnya ke belakang.


Mata Anna sudah berkaca-kaca dengan kedua alis hampir menyatu. Dia ingin berteriak, bahwa selain memperbaiki, masih ada merelakan, dan itu yang paling sulit.


"Anna, apa dia kenalan mu?" tanya Nisa yang tiba-tiba telah berada di tengah mereka.


"Bu, bukan..."


"Iya." Sangah Kiandra cepat, membuat kalimat Anna tak terdengar.


Sekali lagi Anna di kejutkan dengan tingah pria di sampingnya itu.


"Waah..kalau tadi bilang kenalan Anna, pasti aku akan memberimu diskon." Canda Nisa sumringah.


"Seumur hidup aku tak pernah beli barang diskon." Tanpa di duga, candaan Nisa di jawab lugas oleh Kiandra.


Kedua wanita itu sampai hanya bisa tercengang, mendengar kalimat yang di lontarkan pria berwajah serius itu.


"Apa kau pemilik toko bunga ini?" tanya Kiandra pada Nisa yang masih syok.


"Benar." Ia berusaha tetap ramah.


"Dia karyawanmu?" Kiandra menunjuk Anna, membuat wanita itu kaget.


"I,iya, benar." Gagab Nisa menjawab.


"Kau tak perlu memberi tahu hal itu, kan?" Anna menghambur cemas, berpikir bahwa Kiandra akan memberi tahu Nisa tentang keinginan bunuh dirinya atau ia yang di tuduh mencuri dan pernah masuk Club malam.


"Memberi tahu apa?" Nisa tak mengerti.


"Tidak ada apa-apa, Tante, sungguh." Anna memelas dengan kedua tangan saling menggengam di dada.


Nisa malah curiga.


"Orang ini, aku bahkan tidak mengenalinya." Sangah Anna yang terlanjur panik.


"Hei, aku sudah memperkenalkan diri padamu saat membeli bunga pertama kali, apa kau tak ingat?" cecar Kiandra kesal.


"Kau.." Anna menatap marah pada Kiandra yang menurutnya terus memojokkan.


"Kenapa kau memandangku seperti itu?" protes Kiandra tak suka. "Aku hanya ingin bertanya pada Owner mu kapan kau libur."


Seketika Anna tertegun sampai menutup mulutnya yang membuka.


"Astaga..." Nisa yang awalnya kaget dan bertanya-tanya, kini tersenyum lebar melihat keduanya.


"Aku ingin mengajakmu pergi." Kiandra memalingkan muka dengan kedua pipi bersemu merah dan kening berkerut dalam.


Aroma rosemary dari diffuser yang harusnya menenagkan, kini tak berlaku untuk Anna maupun Kiandra yang jantungnya terus berdebar tak karuan.