
Aldo menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil menghela nafas panjang. Pandangannya mengawang ke langit-langit kamar tidurnya yang berlampu kuning.
Jam di dinding sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia baru pulang lembur, setelah tadi mengambil alih tugas-tugas Kiandra yang menghilang tanpa kabar.
Pinggangnya pegal, dan rasa kantung membuatnya ingin langsung tidur. Tetapi, perutnya yang lapar memaksa untuk bangkit, serta melepas kemeja warna putih yang telah seharian di pakai.
Kejadian tadi siang betul-betul di luar nalar. Ia sudah menduga, jika Rico ada sesuatu dengan Anna, dan itu terlihat dari cara Direktur PT Golden Hope itu bicara. Ia juga mengerti, kenapa Chief nya tidak ada angin tidak ada hujan main putus kontrak. Apa lagi alasannya kalau tidak cemburu. Hal yang membuatnya tersenyum kecut, karena seharusnya si Chief bisa bersikap lebih bijak.
Namun, yang tak di sangka-sangka adalah soal Rico dan Anna yang pernah tidur bersama.
Bisa-bisanya orang itu membongkar aib sendiri di tempat umum.
Aldo tak habis pikir dengan sikap Rico.
Mendadak ia tercenung setelah mengganti kemejanya yang bau keringat dengan kaos oblong tipis warna merah.
Ia teringat bagaimana ekspresi Kiandra saat mendengar semua yang Rico lontarkan. Terlebih lagi, hal itu di lakukan di depan anak buahnya.
Harga dirinya pasti jatuh.
pikirnya menyimpulkan.
Awlanya Aldo terlihat prihatin, kemudian berubah tak peduli. Ia bersiul keluar kamar menuju dapur untuk membuat mi instan, ketika tiba-tiba ponselnya berbunyi.
Sambil bersunggut karena perutnya sudah keroncongan, ia mematikan kompor yang baru saja di nyalakan, lalu merogoh saku celana.
Seketika wajahnya cerah melihat siapa yang menelpon.
"Halo Vic!" sapanya setelah mengeser tombol hijau.
"Aku ada di depan rumahmu." suara dari dalam speaker terdengar tegas.
Aldo kaget.
"Aku di depan rumahmu." suara perempuan itu kembali terdengar. "Cepat keluar!" perintahnya kemudian.
Aldo belum menjawab, tetapi sambungan telpon telah terputus.
"Bagaimana dia tahu rumah ini...?" tanyanya pada diri sendiri.
Tak menunggu waktu lebih lama, ia bergegas menuju pintu keluar sambil menyimpan ponselnya kembali ke saku celana.
Dan benar saja, begitu pintu di buka, ia melihat Victoria telah duduk di atas motor sport nya yang terparkir di halaman rumahnya yang tanpa pagar.
Aldo tercenung di depan pintu, dan untuk beberapa saat mereka saling tatapan dalam jarak jauh.
Sepertinya aku terlalu meremehkan karena dia perempuan.
batin Aldo seraya tersenyum.
"Tumben pacarnya ke sini Mas Aldo!" seru seseorang, yang langsung membuatĀ baik Aldo maupun Victoria tersadar.
Kedua orang itu otomatis melihat ke sumber suara. Di seberang jalan tidak jauh dari rumah Aldo, terlihat kumpulan bapak-bapak yang sedang nongkrong di pos ronda.
"Eh, bukan, Pak!" sanggah Aldo sembari garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
"Nggak usah malu-malu Mas. Enak kalau sudah nikah ada yang ngurus." seru bapak-bapak yang lain, lalu di sambung tawa teman-temannya.
Aldo nyengir mendengarnya, sembari mendorong Victoria agar cepat masuk ke dalam.
Victoria yang awalnya enggan. Mau tak mau akhirnya menurut, setelah memahami arti gurauan bapak-bapak itu.
Lingkungan tempat tinggal Aldo memang bukan perumahan elite. Tetapi, di situ sangat guyup, dengan warganya yang aktif mengadakan ronda malam, kerja bakti, sampai arisan. Jika tidak ada kegiatan pun, bapak-bapaknya tiap malam kerap berkumpul di Pos Ronda, sekedar untuk bertukar cerita atau bermain catur seperti sekarang. Sangat menyenangkan untuk orang yang senang bersosialisasi. Tapi, menjemukan untuk orang introvert yang lebih senang berdiam di dalam rumah.
"Di tunggu undangannya Mas Aldo!"
Victoria masih bisa mendengar seruan dari luar, ketika Aldo baru saja menutup pintu.
"Maaf." ucap pria yang masih mengenakan celana kerja dan belum mandi itu. "Di sini cuma aku yang masih lajang, makanya bapak-bapak itu sering bercanda seperti itu. Jangan di masukan ke hati. Tapi, kita langsung menikah saja." ia terkekeh, lalu mengedipkan satu mata.
Sebenarnya Victoria geli dengan tingkahnya. Ia juga malu, karena mengerti apa yang bapak-bapak di luar itu bicarakan. Tetapi, masalah yang mendera, membuatnya tak mampu ikut tertawa.
"Kau mencari rumahku hanya untuk menanyakan hal itu, Vic?" Aldo tak percaya.
Ekspresi kaku di wajah Victoria tak berubah. Ia juga tak menjawab pertanyaan pura-pura dari pria di hadapannya itu.
"Baiklah, baiklah..."Aldo maklum. Ia berdehem beberapa kali untuk menetralkan suasana, kemudian melihat Victoria sambil tersenyum. "Bagaimana kalau bicaranya sambil duduk saja?" ia menawarkan.
Victoria melirik sofa di belakang dengan tatapan curiga, lalu bola matanya kembali bergerak ke arah Aldo.
"Kenapa?" pria itu geli.
Kening Victoria berkerut. "Jawab pertanyaan saya!" tegasnya. "Kau sering bertemu laki-laki itu di luar jam kantor." ia menatap tajam.
Kedua mata Aldo melebar.
Victoria melangkah mendekat. "Tuan Besar sudah memberimu pilihan. Tapi, kenapa kau belum pergi? Jangan sia-siakan masa depanmu untuk masa lalumu." ia menasehati.
Aldo terdiam, lalu berbalik arah. "Kau sudah makan, Vic?" tanyanya tanpa melihat lawan bicara. "Aku hendak memasak mi instan, kau mau?" ia menawari.
Victoria tak menjawab, sedagkan matanya mengikuti kemana punggung pria itu pergi.
"Maaf ya, aku tinggal sendiri dan tak pandai memasak. Jadi... hampir setiap hari aku makan mi instan, kalau tidak ya telur."
Victoria mendengar pria yang tengah sibuk menjerang air dan membuka bungkung mi instan itu bercerita.
"Tapi, untuk makan siang aku selalu makan nasi dan sayur kok, di rumah makan dekat kantor." pundaknya terlihat terguncang karena tertawa.
Raut Victoria keruh. Meski Aldo berdiri membelakangi dan ia tak bisa melihat wajah pria itu. Tetapi, hanya dengan mendengar suaranya saja, ia sudah bisa merasakan kepedihan itu.
Hatinya lagi-lagi dilema.
Aldo berbalik dan berjalan ke arahnya dengan mangkok besar berisi mi kuah yang mengepulkan aroma soto. "Ayo, ikut makan Vic." ajaknya sambil meletakan mangkok tersebut ke atas meja di ruang tamu yang merangkap ruang makan.
Victoria tak beranjak dari tempatnya berdiri.
"Walaupun sekarang banyak merk mi instan. Tapi, aku tetap paling suka Indomie." Aldo berbicara hal tak penting.
"Ezekiel." panggil Victoria.
Seketika pria itu tertegun.
Untuk beberapa saat keadaan menjadi sunyi, dengan uap panas dari mangkok mi yang menari-nari di udara.
"... Chief tidak tahu apa-apa." lanjut Victoria.
Aldo yang semula tertunduk, melihat ke arahnya.
Victoria meneguk ludah dengan susah payah, kemudian diam-diam mengepalkan kedua tangan untuk memberinya keberanian. "Papaku adalah orang yang menyebabkan kecelakaan itu." ia berkata.
Aldo tak berreaksi dan cuma melihatnya saja.
Victoria berjalan lebih maju. "Kalau memang mau dendam, bukannya lebih baik dendam kepada anak si p*mbunuhnya langsung?" ia menantang.
Aldo bangkit dari duduk. "Aku sudah tahu, Vic." ucapnya santai.
Victoria terkejut.
Aldo berjalan mendekat. "Tapi... tidak mungkin aku dendam padamu, kan?" ia menipiskan bibir.
Mata Victoria nanar menatap pria di hadapannya itu.
"Kau juga pasti tahu, kalau aku menyukaimu dari pertama kita bertemu." Aldo berkata jujur.
Victoria yang dingin, kini tak ubahnya seperti wanita-wanita lain yang tak berkutik, ketika di hadapkan oleh masalah perasaan.
Dadanya bergemuruh dan lidahnya kelu tak mampu mengucapkan sepatah katapun. Pikiranya ingat akan tugas utamanya, tentang tujuannya kenapa sampai ke rumah ini. Tetapi hatinya...
"Vic," Aldo sudah menjulurkan tangan.
Namun, wanita itu langsung tersadar dari kekalutannya dan menepis tangan pria itu. "Chief adalah tanggung jawab saya. Maka saya tidak akan segan kepada siapapun yang berniat mencelakan beliau!" ia memperingatkan, lalu berbalik pergi meninggalkan Aldo yang mematung seorang diri.