
Kiandra bukan lagi anak kecil yang lari begitu melihat kakak iparnya tersebut. Kini ia telah dewasa, atau begitulah yang ia yakini. Maka ia tak pergi, meski sebenarnya ingin.
"Kian, kemarilah." Ibunya sudah mengandeng lengannya dan membawanya duduk.
Kiandra tak berkata apa-apa dan menurut saja.
"Apa ini ini bunga untuk ibu?" tanya ibunya pura-pura terkejut.
Kiandra menipiskan bibirnya sesaat, lalu menyerahkan buket sederhana itu kepada wanita yang telah berusia lebih dari 70 tahun yang duduk di sampingnya.
"Terima kasih, nak." ibunya tersenyum bahagia.
Kiandra memalingkan muka dan sama sekali tak menunjukkan raut terkesan, sebab akhirnya kini ia paham alasan si ibu bilang kangen dan ingin ia datang ke rumah dengan membawa bunga.
"Apa kabar Kian?" Dave yang duduk di hadapannya bertanya.
Pria bermata cokelat terang dengan rambut cepaknya itu tak berniat menjawab.
"Kemarin aku ke kantor dan kau tak ada." ia melanjutkan.
Kiandra cuma mendengus sembari berusaha tak bertemu pandang.
"Mana Daddy?" Kiandra malah bertanya hal lain pada ibunya.
"Di ruang kerja." si ibu menjawab.
"Aku mau menemui Daddy." Kiandra sudah bangkit berdiri.
"Kian." Dave ikut berdiri.
"Sepertinya...aku lupa ada janji makan siang dengan dirut Sido Makmur." Kiandra berusaha terlihat sewajarnya dalam bersikap, meski dalam hati ia marah bukan main.
"Ibu sudah memasakan rawon favoritmu." si ibu ikut berdiri untuk mencegahnya pergi.
Dahi Kiandra sudah berkerut.
"Kau juga belum bertemu Daddy mu." Ibunya menambahkan. "Kau tak tahu, beberapa hari ini penyakit Daddy mu sering kumat dan bahkan minggu lalu harus di opname di rumah sakit."
Kiandra kaget dan menoleh melihat wajah tua ibunya yang sedih.
Suasana ruang keluarga yang nyaman dengan beberapa hiasan ukiran kayu itu terasa sepi tanpa ada seorang pun yang bicara.
Kiandra meneguk ludah. Ia selalu tak suka di tempatkan pada posisi seperti ini. Lebih baik ia di hadapakan dengan banyak pekerjaan yang membuat fisik dan pikiranya lelah, dari pada harus menghadapi hal yang membuat batinnya tercabik.
"Sambil menunggu makan siang, temuilah Daddy mu." suara ibunya memecah hening.
Kiandra masih tak beraksi.
Ia elus pundak anak lelaki satu-satunya yang ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa. Anak lelaki yang kini telah tumbuh begitu besar, sampai tak mungkin lagi ia gendong dan timang seperti dahulu.
"Kian.." panggilnya dengan mata berkaca-kaca.
Kiandra tak menyahut. Ia kesal dengan ibunya yang memancing datang ke rumah, hanya supaya ia bertemu dengan Dave.
Padahal, semestinya ibunya lah yang paling mengerti, betapa ia tak mau bertemu dengan kakak iparnya tersebut.
"Aku akan menemui Daddy." dengan berat hati ia memutuskan. Kemudian langsung pergi tanpa melihat ibu dan Dave yang sedari tadi memandangnya dengan perasaan rindu yang membuncah.
Ruang kerja Ayahnya berada di lantai dua dan terletak paling sudut dekat kamar tidur utama, membuat Kiandra mempunyai cukup waktu untuk mengatur emosi.
Sepanjang koridor, Kiandra di suguhi pemandangan dari foto-foto masa lalu.
Orang tuanya memang gemar mengkoleksi foto dan memajang di hampir semua tembok rumah, sebab menurut mereka, kenangan adalah harta yang sebenarnya.
Tapi kali ini, foto-foto penuh kebahagiaan dirinya di masa lalu, hanya membuatnya makin muak.
Ia membuang muka, kala tak sengaja melihat foto tertawa seorang anak usia 10 tahun yang di panggul lelaki muda.
.
"Apa Kian bisa menerima, jika Dad yang menjelaskan?" tanya Dave muram.
Dave tertunduk. Di usianya yang sudah kepala lima, ia bertekad tak akan lari lagi dan menghadapi semua. Kali ini, bukan demi istri yang di cintainya. Tetapi, demi adik yang di sayanginya.
.
"Kata ibu Daddy sakit, kenapa malah main golf?" tanya Kiandra begitu membuka pintu ruang kerja Ayahnya dan mendapati pria tersebut sedang latihan golf.
"Mana salammu? dasar anak kurang ajar." Ayahnya yang nyaris seperti albino dengan kulit dan rambut putih itu melihatnya sesaat, lalu kembali memukul bola golf.
Kiandra mengerucutkan bibir, lalu duduk dan memperhatikan ayahnya mengayun-ayunkan tongkat golf.
"Nanti encok-nya kumat bagaimana?" tanyanya sambil bertopang dagu.
Pria yang sama jangkungnya dengan Kiandra itu menghentikan kegiatannya.
Dari jarak jauh seperti ini saja, Kiandra bisa mendengar suara nafas Ayahnya yang berat.
"Pantas saja kau ini tak laku-laku, omonganmu itu pahit." Omel Ayahnya sambil menyimpan stik golf, lalu mengambil botol air mineral dan berjalan mendekat.
"Aku bukannya tak laku. Tapi tak mau. Standarku tinggi, beda dengan Daddy dulu."
Ayahnya malah tertawa, kemudian duduk dan meminum air mineralnya sampai hampir habis.
Bapak dan anak itu duduk bersebelahan di ruang kerja dengan banyak lemari buku di pinggir dan mini golf di bagian tengah-nya.
Mereka sama-sama memandang halaman belakang yang terdapat danau berwana hijau yang di bingkai oleh langit cerah dengan awan-awan kecil berarak.
"Ada Dave, kau sudah bertemu?" tanya si Ayah setelah beberapa menit mereka terdiam.
Kiandra berdecak, seraya memalingkan muka.
Ayahnya kembali terkekeh melihat sikap angkuh anaknya yang hampir mirip dirinya.
"Daddy dan Ibu kan yang merencanakannya?" Kiandra merebahkan diri ke sofa dan mengangkat satu kaki ke paha.
"Merencanakan apa? rencana pernikahanmu?" Ayahnya pura-pura kaget, lalu tertawa.
Raut Kiandra makin kesal.
"Daddy bangga lo, saat melihatmu mengisi motivasi di Bisnis Hack. Kau terlihat keren." Ayannya mengangkat dua jempol.
Mata Kiandra langsung berbinar. Ia tak menyangka Ayahnya melihat dan bahkan memuji.
"Memang turunan Daddy itu luar biasa." lanjut pria itu bangga.
Seketika raut Kiandra berubah malas.
Dasar, sudah tua pun masih narsis.
ucapnya dalam hati.
Keadaan kembali tanpa suara.
Dari balik kaca, mereka melihat kawanan burung angsa yang memang di pelihara, tengah berenang bebas di danau.
"Dahulu..hubungan Daddy dan Kakek kalian tak begitu baik." mendadak nada suara Ayahnya berubah serius.
Kiandra menoleh dan memperhatikan Ayahnya, yang ternyata pipinya makin cekung dan bawah matanya semakin bergelambir.
"Kakakmu lah yang menyatukan kami, sampai ibumu bisa di terima di keluarga ini." Ayahnya bercerita sambil menatap jauh ke angsa-angsa yang sedang bercengkraman dengan anak-anaknya.
"Kalau Daddy mau menceritakan tentang Kirana dan Dave, aku sudah tahu dan aku tak masalah." Kiandra berkata.
Ayahnya menoleh ke arahnya dan tersenyum. Bola mata yang sama indahnya dengan miliknya itu cerah terkena bias cahaya dari luar.
"Mau sampai kapan kau bersikap begini?" tanya Ayahnya tanpa emosi.
"Aku tak masalah." Kiandra menegaskan.
"Kau sakit hati. Akui itu." Ucapan Ayahnya membuat dada Kiandra berdenyut nyeri.