
"Maaf, tadi Tante malah tertawa." Ucap Nisa setelah mereka selesai bekerja, dan kini tengah duduk berdua sambil menikmati kue yang Kiandra kirim.
Anna hanya tersenyum, lalu menundukkan pandangan pada potongan kue yang entah sudah berapa lama tak ia rasakan kelezatan-nya.
Melihat itu, jujur Anna terkenang masa bahagianya bersama keluarga. Kue itu adalah menu wajib yang harus ada setiap Kakak tertua-nya pulang dari perjalanan bisnis.
Kakak-nya itu sangat menyukai special signature dari The Harvest. Bahkan ketika kecil, dia pernah sakit gigi karena terlalu banyak memakan kue favoritenya ini. Mengingat itu, membuat bibir Anna menipis sesaat.
Seminggu sekali mereka akan mengadakan perayaan kecil-kecilan yang di kemas bersama makan siang. Suasana begitu hangat oleh keakraban dan kebahagiaan keluarganya yang lengkap.
Ayah dan Ibu akan duduk di ujung meja, lalu dua kakak duduk di hadapannya, dan di sampingnya...
"Dhana bilang, aku harus menunggumu menyelesaikan program magister." bisik pria berkemeja biru. "Apa dia gila menyamakan pria dan wanita?"
Garpu yang di pegang Anna terjatuh dan menimbulkan bunyi berdenting di piring. Seketika Anna tersadar dari lamunan.
"Tapi dia benar-benar mengemaskan, astagaaa..." Nisa tak sadar, jika sedari tadi lawan bicaranya tak mendengar. Dia terus menikmati kue, sambil sesekali terkekeh membaca tulisan dimakan di lempeng cokelat-nya.
Anna memperlihatkan deretan gigi putihnya dengan sedikit memaksa, lalu meraih gelas air dan meneguk untuk menyembunyikan gelisah.
Aku tak boleh memikirkan hal itu lagi. Anna memperingatkan diri sendiri.
Ia menghela nafas beberapa kali, kemudian memperhatikan tulisan dimakan pada bagian atas kue tersebut.
Wajar Nisa sampai terpingkal, sebab terlalu konyol pria dewasa seperti si pengirim, menuliskan pesan seperti itu.
Dia berlagak polos, atau memang ingin melucu...? Anna tak habis pikir.
"Kalau memang ingin mendekatimu, kenapa tak menulis pesan yang lebih romantis?" tanya Nisa setelah menyuapkan satu sendok kue ke mulu. "Seperti, Selamat bekerja, Aku merindukanmu, atau apa lah, asal tidak Dimakan." Ia geli.
Anna mengulum senyum.
"Jangan-jangan...jika besok dia mengirimkan baju atau alas kaki, dia akan menulis di pakai." Nisa terbahak sampai menutup mulut.
Sebenarnya, Anna pun geli mendengar hal absurd tersebut. Tapi menyadari jika itu bisa menjadi masalah besar, ia hanya tersenyum kecut.
"Dia..saya yakin hanya iseng." Setelah tawa Nisa reda, Anna berkata perlahan.
"Iseng?" mata wanita tengah baya itu membulat. "Mana mungkin orang iseng mengirim kue special signature dari The Harvest? Astaga Anna...Tante pun mau, jika bentuk keisengannya seperti ini." Ia kembali tertawa.
Anna merunduk, bingung hendak menyangkal bagaimana lagi.
"Sepertinya dia benar-benar orang kaya." Celoteh Nisa setelah menghabiskan dua slice.
Deg! Jantung Anna berpacu lebih cepat.
"Dia memberikan perhiasan begitu saja, seolah itu barang murah." Ia menekankan. "Sampai kue pun, dia memberi yang terbaik dan terlezat. Kalau tidak benar-benar kaya, rasanya mustahil dia mampu beli." Nisa menyimpulkan.
Tak ada ekspresi terkesan di wajah Anna.
"Walau dia sudah beristri, dan aku tak membenarkan perselingkuhan. Tapi rasanya tetap beruntung sekali, jika di sukai orang setampan dan sekaya itu."
Anna yang mendengar, makin muram dan tak berselera menghabiskan camilan-nya.
"Ayolah Anna...Tante hanya bercanda." Tahu Anna langsung meletakkan alat makan, Nisa segera meralat ucapan-nya.
Anna mencoba tersenyum, sebagai bukti bahwa dia baik-baik saja.
"Coba kau pikir, bagaimana mungkin pria beristri mendekati seorang wanita sekaku itu?" Nisa berdalih. "Tindakan, ucapan, apa yang dia tulis." Ia menunjuk ke arah lempeng cokelat. "Dan dari semua itu, sorot matanya lah yang paling terlihat jujur."
Anna tertegun.
"Saat kalian bertemu, coba pandangi matanya." Nisa menyarankan. "Jika dia menghindari tatapanmu, itu artinya dia menyukaimu." Ia terkekeh.
Seketika Anna membayangkan sepasang mata indah berwarna cokelat terang yang salalu melirik ke arah lain, jika tak sengaja mereka saling pandang. Menyadari hal itu, kedua pipi Anna merona.
Bagai di tampar, Anna yang sedang membayangkan keindahan mata Kiandra, di sadarkan oleh kata borjuis, yang sebenarnya Nisa ucapkan untuk membuatnya senang. Namun sebaliknya, wanita berpiyama keroppi itu seolah di paksa mengingat hal yang harus dia hindari, jika ingin hidup tenang.
Apa yang kau pikirkan, Anna? tanyanya pada diri sendiri. Kau ingin bilang, jika kau tertarik pada pria itu? dia mengigit bibir bawah dengan kedua alis hampir menyatu.
Sementara Nisa, tetap asik menyantap kue sambil menonton sinetron favorite nya.
Lupa, kau ini apa?! bentakan keras dalam diri membuat Anna tertunduk, menahan nafas, lalu meremas kain baju.
Aku harus bicara dan mengembalikan perhiasan itu. Anna berkata dengan mata berkaca-kaca.
Malam makin larut, jam di dinding kamar Anna yang sempit telah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Tetapi, Anna tak kunjung bisa memejamkan mata. Keinginan untuk segera bertemu Kiandra dan mengembalikan apa yang dia beri begitu melekat, membuat wajah pria itu selalu membayang di pikiran.
"Maaf, aku tak bisa menerima ini." Anna mengulurkan paperbag warna tosca bertuliskan Tiffany and Co.
Kedua tangan pria bermata cokelat terang itu masih tenang di dalam saku celana.
"Aku mohon..." Anna memelas sembari menyodorkan paperbag itu lebih dekat.
Mendadak wajah kaku pria itu membentuk senyum sinis.
"Munafik!" ia menepis paperbag tersebut, sampai jatuh ke lantai.
Anna kaget mendapat perlakuan sedemikian rupa dari pria yang beberapa waktu lalu masih memberinya nasehat bijak.
Pria yang meski berwajah galak, namun tak pernah bersikap kasar dan malah melindunginya dari om-om mesum yang mengodanya ketika datang ke Club dalam keadaan stres.
"Kenapa kau mengembalikan-nya, padahal kau suka barang-barang mewah?" nada bicaranya angkuh seperti biasa. Tapi ada aura sinis di kalimatnya.
"Bagaimana..." Lidah Anna mendadak kelu. Suaranya lemah tak terdengar.
"Kau mau sok jual mahal karena tahu aku menyukaimu?" Kiandra maju sembari menatap Anna tajam.
Anna mengeleng ketakutan. Dia berjalan mundur sambil menangkup kedua tangannya yang gemetar ke dadanya yang bergemuruh.
"A, aku...aku tak pernah..." Air matanya meremang. Ia sudah tersudut ke dinding. Akan tetapi, Kiandra masih saja berjalan maju.
Mata Anna berkeliling panik ke penjuru toko yang sunyi. Dimana Tante Nisa? tanyanya dalam hati.
Kiandra berdiri menjulang di depannya, dan jarak mereka hanya beberapa centi.
Nafas Anna tercekat, keringat dingin mengalir di pelipis, dan dia tak berani mendongkak untuk menatap wajah pria itu.
Kiandra membungkuk, lalu tepat di telingan Anna dia berbisik,
"...."
Anna seketika terbangun dari tidur dengan keringat bercucuran dan air mata mengalir deras.
Nafasnya seperti hendak putus, dan nyeri yang hebat melanda tubuh bagian dada.
Anna meringkuk, dia benamkan wajahnya yang penuh lara ke bantal, agar suara tangisnya yang pecah tak terdengar.
Dia tahu itu hanya mimpi. Tapi terasa sangat nyata. Senyata bisikan Kiandra yang di dengungkan ke telingan,
"Berapa harga yang harus aku bayar untuk barang rusak?"
Anna menjerit, melolong, dan menangis keras-keras. Namun itu hanya mampu di lakukan dalam hati.
Tubuhnya yang terbungkus piyama keroppi warna pink tergelung bak janin, gemetar, dengan bantal yang ia peluk erat untuk menyumpal kesedihannya.
Relung hati Anna meminta pertolongan. Tapi dalam kamar sempit itu tak ada orang lain selain dirinya sendiri.