Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KEINGINAN DAN DOA



Mungkin karena memang punya kuasa dan uang, maka walau segala sesuatu serba mendadak. Tapi, nyatanya semuanya bisa tertata dengan begitu baik dan terperinci.


Tak terkecuali masalah baju pengantin dan cincin kawin, yang untuk sebagian besar orang pasti harus menyiapkan jauh-jauh hari.


Akan tetapi, karena yang akan menikah adalah putri satu-satunya dari Duli Yang Maha Mulia Yang Di Pertuan Agong Sultan Ismail Petra dari Kelantan, maka untuk urusan tersebut telah ada orang-orang terbaik yang mengurus.


Untuk baju, Kiandra dan Anna akan menggunakan Ratu kain, yaitu songket Malaysia yang di tenun langsung oleh pengrajin wanita dari Serawak ketika sang Nenek, yaitu Cik Wan Annisah Petra menikah. Tapi, tentu saja dengan beberapa bagian baju yang di rubah agar sesuai dengan bentuk tubuh Anna.


Untuk cincin, sebenarnya pihak keluarga Anna telah menyiapkan. Akan tetapi, Kiandra menolak dan memilih mencari sendiri. Dan karena keinginannya itu, maka sekarang ia duduk sambil memegangi kepala dengan kedua tangan.


Aku lupa kalau ini bukan di Jakarta.


batinnya kalut.


Ia tidak pernah ke kota Bharu dan tak tahu di mana harus membeli perhiasan dengan kualitas serta model yang menarik.


Apa aku ke Singapura sebentar? Atau ke Kuala Lumpur yang dekat? Tidak! Tidak! Cincin ini akan aku pakai terus, aku tak mau memakai model yang pasaran.


pikirannya masih berperang dengan idealisnya yang harus sempurna.


Sial! Coba Sultan itu tidak semendadak ini. Pasti aku bisa pesan cincin dari pengrajin Paris.


ia mengomel dalam hati.


Tiba-tiba ketukan pintu terdengar, membuat ia terbangun dari kegusaran berpikir.


"Kian." Anna muncul dari balik pintu.


Pria itu melihat calon pengantinya yang sumringah.


"Kau belum bersiap untuk foto prewedding kita?" tanyanya.


Kedua mata Kiandra membulat.


Ya ampun.. Aku sampai lupa.


ia mengerang dalam hati.


"Semuanya sudah menunggu." lanjut wanita yang pagi ini terlihat cantik dengan riasan yang menawan.


"Iya, ya..." Kiandra bangkit dari duduk.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Kau sedang marah?" tanya Anna begitu pria itu mendekat.


"Mukaku memang begini." ujar Kiandra sebal.


Wanita yang mengenakan baju kurung merah muda dengan sulaman bunga-bunga itu terkekeh.


.


Begitulah sisa hari di isi dengan rutinitas padat keduanya. Sementara masalah cincin belum juga mendapat solusi, serta membuat Kiandra tak begitu bergairah ketika melakukan berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pernikahannya sendiri.


Hal itu rupanya di sadari oleh Anna ketika mereka melakukan sesi foto dan temu keluarga besar. Tapi, ia masih menganggap itu hanya masalah overthingking belakang.


Hingga malam kedua menjelang pernikahan, dia memutuskan berbincang masalah cincin.


"Bagaimana kalau kita menggunakan cincin yang sudah Papa sediakan?" ia menyarankan.


Kiandra yang duduk di sebelahnya mendengus. "Aku tak suka modelnya." ucapnya tegas.


Sebenarnya Anna sedikit kesal dengan penolakan Kiandra. Tetapi, sekali lagi karena ia sudah paham dengan karakter pria itu, maka ia coba bersabar.


"Atau... besok setelah foto prewedding terakhir, kita bisa ke Kuala Lumpur untuk mencari di..."


"Tidak!" potong Kiandra.


Anna sampai kaget dengan intonasi suaranya yang tinggi.


"Aku tidak mengerti, kenapa Papa mu bersikeras menikahkan kita mendadak begini? Harusnya semua di rencanakan dengan sempurna. Ini menikah! Bukan sekedar berkunjung terus pulang!" Kiandra yang lelah fisik dan pikiran tak bisa membendung emosinya lagi.


Memang, seharusnya ini hanya kunjungan biasa. Tapi, karena beberapa hal tak terduga semua menjadi seperti ini. Akan tetapi, bukannya semua tak jadi soal, karena keluarga dan semuanya sangat mendukung.


Malam di taman Istana Kubang Kerian selalu tenang dan temaram dengan lampu-lampunya yang berpendar kuning. Anna meneguk ludah mendengar ucapan Kiandra yang terasa menyakitkan.


"... Kak Kirana memujiku." ucap Anna setelah terdiam beberapa saat.


Kiandra mengkerutkan kening tak mengerti.


"Kak Kirana bilang, aku wanita hebat karena bisa merubah pandanganmu soal cinta sampai akhirnya kau mau menikah." Anna memandangnya.


"Hei, bukan..."


"Eh, apa-apaan itu? Siapa yang bisa memaksaku melakukan sesuatu? Kau? Jangan membuatku tertawa. Ini bukan soal itu. Jangan menyimpulkan sendiri." Kiandra berkata panjang lebar.


Namun air mata Anna malah menetes. "Aku tahu kau terpaksa menikah karena kita sudah.."


"Stop!" Pria itu langsung menguncang bahu Anna dan membuatnya mengangkat muka. "Aku ini mencintaimu! Aku melakukannya juga karena mencintaimu! Jangan malah di balik-balik seperti itu!" ia marah.


Tangis Anna seketika pecah.


Sial..


Kiandra tepuk jidat.


Ia melihat ke sekiling taman sembari berharap tidak ada yang melihat Tuan Putrinya ini menangis.


"Aku hanya ingin pernikahan kita sempurna." ucapnya setelah tangis Anna mereda.


Wanita yang tengah menghapus sisa air mata itu diam saja.


Kiandra menghela nafas panjang, kemudian memperhatikan calon istrinya tersebut. "Aku cuma kesal, karena tidak di beri waktu lebih untuk menyiapkan segala sesuatunya." ia menjelaskan.


Namun, Anna masih tak menanggapi.


"Ayolah jangan seperti ini." pria itu memelas. "Aku paling bingung kalau kau menangis." lanjutnya.


Akhirnya Anna mau melihat ke arahnya. Di keremangan taman, ia bisa melihat kegelisahan di wajah Kiandra.


"... Aku tidak butuh acara pernikahan yang sempurna, karena yang aku mau pernikahan kitalah yang sempurna." Anna menatap sungguh-sungguh.


Kiandra terperangah. Hampir-hampir ia melupakan makna pernikahan itu sendiri.


"Maafkan aku..." ucapnya menyesal.


Anna menggeleng pelan. "Aku yang minta maaf.." ia kembali merunduk, sebab menyadari seberapa terburu-burunya sang Ayah.


Kiandra menjulurkan lengan untuk mengusap pipi Anna yang masih sembab. "Aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk hari besar kita."


"Aku tahu." Anna tersenyum memandangnya.


Walau sulit. Tapi, semua jadi begitu mudah jika mau saling memahami.


.


Di waktu yang sama, Ibu Kiandra tak henti-hentinya berdoa agar acara pernikahan yang akan di selengarakan satu hari lagi itu di beri kelancaran dan kemudahan.


Ayah Kiandra yang pura-pura tidur di sebelah, turut mendengar setiap kalimat indah si istri yang di tujukan untuk memuji Yang Kuasa dengan hati yang juga ikut bersyukur.


Anugerah ini terlalu luar biasa untuk aku yang berselimut dosa.


batinnya terharu.


Namun, sebisa mungkin ia tahan air mata agar tak mengalir di kedua mata tuanya yang terpejam.


.


Di sisi lain dari Istana, di kamar yang di tempati Kirana dan Dave. Pasangan itu juga belum tidur dan masih duduk-duduk di sofa besar yang terdapat di dalam ruangan.


"Ini terlalu surprise bukan?" Kirana senang.


Suaminya yang duduk sembari membaca buku tebal berisi sejarah dan silsilah kerajaan Kelantan tersenyum.


"Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi si kembar kalau tahu Papa mereka keturunan langsung Sultan Kelantan. Oh Astaga...!" ia kegirangan sendiri.


Dave terkekeh. "Aku jadi kangen anak-anak." ucapnya.


"Mereka harus sekolah." Kirana menegaskan. "Mereka sudah terlalu lama ijin." ia menambahkan dengan mimik serius. Kemudian selang beberapa detik, ekspresinya kembali berubah. "Ah... Kian, adikku. Dia menang selalu beruntung sejak kecil." ia memuji tulus.


Dave menipiskan bibir melihat istrinya yang nampak sangat bahagia.


"Dia cerdas dari lahir." Kirana menghitung jari. "Walau jutek tetap banyak yang suka, berkali-kali menegaskan tak mau menikah. Tapi tiba-tiba sekarang dia mau menikah dengan bangsawan." ia menatap tak percaya pada si suami.


"Dia kan kesayangan kita." Dave geli melihat raut si istri.


Biasanya Kirana segera membantah. Tetapi, kali ini wanita lima puluh tahun itu tersenyum. "Iya, dia adik satu-satunya yang paling kusayangi. Dan karena adik kesayangan ku itu pula, kini kau bisa berbangga hati tentang orang tuamu." Kirana memandang suaminya dengan kedua bola matanya yang berwarna cokelat terang.


Dave meraih tangan istrinya, kemudian mengecup telapaknya sesaat. "Aku selalu bangga sejak mengetahui beliau rela mempertaruhkan nyawa untuk wanita yang kini menjadi istriku." ia tersenyum.


Mungkin bagi orang lain, malam ini sama seperti malam-malam biasa. Akan tetapi, bagi keluarga Marthadinata malam ini terasa sangat istimewa.