Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
ANGGOTA KELUARGA KERAJAAN



Tidak seperti yang Anna khawatirkan atau takutkan selama ini. Keluarganya menyambut baik kepulangannya, dan mereka juga bahagia dengan rencana pernikahannya dengan Kiandra.


Mereka saling memperkenalkan diri, di antaranya ada Tengku Safirah istri Majeed, lalu Tengku Diana istri kakak kedua Anna yang bernama Maheer, yang sayangnya tidak muncul di pertemuan karena tengah bertugas ke Kuala Lumpur.


Persamaan bahasa, adat istiadat dan bahkan makanan yang hampir sama, membuat kedua keluarga dengan cepat beradaptasi, serta sebentar saja sudah terlibat dalam percakapan yang intens.


.


Setelah beramah tamah, Sang Sultan mempersilahkan rombongan untuk ke ruangan lain, di mana di situ terdapat sebuah meja panjang dengan kursi-kursinya yang terkesan antik.


Di atas meja sendiri, telah terhidang aneka makanan yang masih mengepulkan asap, serta gelas-gelas kristal yang belum terisi minuman.


"Mari, silahkan..." dengan sangat ramah Ayah Anna mempersilahkan para tamunya untuk duduk dan di bantu pelayan-pelayan yang menarikkan kursi-kursi mereka.


Kirana dan Dave saling pandang dengan mimik canggung, sebab sekaya rayanya mereka, tetap rasanya aneh jika untuk makam saja di bantu hingga seperti ini.


Sebaliknya, Ayah mereka nampak menikmati segala kebaikan yang Sang Sultan berikan. Beda lagi dengan si Ibu, yang dengan tegas menolak bantuan pelayan yang akan memakaikan lap makan ke pangkuannya.


Sedangkan Kiandra, ia malah sibuk memperhatikan satu persatu anggota keluarga Anna, hingga tak peduli dengan apa yang di lakukan pelayan tersebut.


Mereka makan bersama bagai satu keluarga yang sudah lama tak berjumpa. Beberapa kali Ayah Anna dan Ayah Kiandra tertawa untuk sesuatu yang hanya mereka yang tahu.


Kedua ibu juga terlihat dekat dengan pembicaraan seputar anak-anak mereka, serta bagaimana konsep pernikahan nanti.


"Bagi kami, Delana sudah seperti bidadari yang sudah lama kami nantikan."


Begitu Anna mendengar ibu Kiandra memuji tentang dirinya. Ia melirik ke arah Kiandra yang duduk di sampingnya, dan ternyata pria itu juga sedang melihat ke arahnya.


"Bi-da-da-ri." mulut Kiandra membuka tanpa suara.


Seketika kedua pipi Anna memerah, kemudian mengalihkan pandangan.


Kiandra terkekeh melihat tingkah malu-malu wanita itu, kemudian melajutkan makan.


.


"Delana bisa memasak?" Majeed berseru tak percaya.


Anna yang mendengar suara kakak lelakinya yang cukup keras, langsung melihat ke arahnya.


"Masuk ke dapur saja nak pernah die itu." ia geli.


"Abang..." tegur Anna sebal, yang otomatis memancing tawa orang-orang di sekitar.


"Tapi di rumah kami, Delana selalu membantu memasak dan masakannya sangat enak." Ibu Kiandra berkata bak pahlawan. "Benar kan, Kirana?" ia menoleh ke arah putrinya yang sedang makan.


Kirana yang tengah menikmati kuih lompat tikam, yang merupakan salah satu kue tradisional khas Negeri Cik Wan Kembang itu mengangguk-angguk.


"Majeed memang suka menggoda adiknya." Ibu Anna menengahi. "Saat Delana pergi, dia yang paling panik." ia menerangkan dengan nada bicara yang sangat lembut.


"Itu Maheer Mah." Majeed melarat. "Maheer yang panik sampai menangis." lanjutnya.


Anna kaget mendengarnya.


"Saudara kembar saya Maheer demam tinggi di hari ke tujuh Delana pergi." pria dengan sedikit cambang pada dagunya itu menjelaskan.


Demam?


kening Kiandra sedikit berkerut.


Apa dia anak kecil yang habis minum es?


ia mengulum senyum karena menganggap itu lucu.


Akan tetapi, Anna justru tertunduk sembari menatap piringnya yang berisi nasi ulam dan belum ia sentuh sama sekali.


Plaak!


Ia tutup kedua matanya rapat-rapat ketika teringat sakitnya tamparan Maheer pada pipinya.


.


"Senang ya, nak. Bisa pulang ke rumah." suara ibu Kiandra terdengar, membuatnya kembali mengangkat muka dan melihat ke arah wanita yang duduk di hadapannya itu.


"Delana." panggil si Ibu.


Anna gantian menoleh ke ujung, di mana kedua orang tuanya duduk berdampingan. Mendadak nyali Anna berkerut, saat tak sengaja bertatap mata dengan sang Ayah.


"Makan yang banyak." ibunya menyuruh. "Ada ayam percik favorite Delana." ia tersenyum lembut.


"I, iya Mama." ia menjawab sambil menyembunyikan rasa gugup.


Jujur ia masih takut dengan Ayahnya, karena permata yang di curi Rico belum di temukan. Dan walaupun keluarganya menyambut hangat, tetap saja ia merasa belum tenang.


Selesai makam malam, para pelayan dengan pakaian mirip beskap di Jawa, mengantarkan tamu-tamunya untuk menempati kamar tidur masing-masing.


.


Mendadak Anna menarik tangan Kiandra, saat mereka sampai di bawah tangga dan akan berpisah.


"Kenapa?" pria itu heran.


Anna terlihat rikuh. Ia berjalan lebih mendekat, agar pelayan yang berada di belakang mereka tak mendengar.


"Aku camas." ucapnya pelan.


Kiandra tersenyum. "Ini rumahmu sendiri. Kenapa cemas?" ia membungkukkan sedikit punggungnya supaya sejajar wajah wanita itu.


Anna bingung hendak menjawab apa.


Suasana di dalam Istana memang terang benderang dengan lampu kristal fantastis di tengah ruang. Belum ornamen-ornamen mewah dan kordeng-kordengnya yang bersulam benang emas. Tapi, hal itu justru makin membuatnya tak tenang.


"...Tiba-tiba... Aku teringat Tante Nisa." ucapnya sambil merunduk.


Kiandra membulatkan kedua mata, seraya mengingat-ingat nama itu. "Memang kenapa dia?" hanya itu yang sanggup keluar dari mulutnya, sebab ia tidak punya ingatan khusus tentang pemilik Toko Bunga di mana dulu Anna bekerja.


Tuan Putri dari Kelantan itu menggeleng lesu. Entahlah, ia memang bahagia bertemu keluarga. Tapi ada sesuatu yang menganjal di hati.


"Jangan berpikiran macam-macam." Kiandra mengelus pundak wanita itu.


Anna mengangkat mukanya yang letih akibat perjalan jauh dan pikiran carut-marut.


"Sekarang lebih baik kita tidur. Besok kau harus menjadi Toure Guide ku, kan?" gurau Kiandra dengan muka minim ekspresinya.


Mau tak mau Anna geli melihatnya.


"Bye." pria itu berbalik.


Anna melambaikan tangan sambil tetap berdiri di anak tangga.


Namun, baru dua langkah, Kiandra kembali menoleh ke arah wanita itu. "Yang Amat Mulia Tengku Delana... Eeenngg... apa lagi kelanjutannya?" ia bertanya dengan wajah konyol.


Anna menutup mulut menahan tawa, lalu menyuruhnya cepat naik dengan mengibaskan tangan beberapa kali.


Kiandra memang sengaja melakukan hal itu. Semata agar Anna tidak tegang. Tetapi, sejujurnya ia juga kaget dengan fakta kalau wanita yang terlihat lemot itu benar-benar Tuan Putri yang tinggal di Istana.


Seleraku memang tidak bisa di tipu.


batinnya sembari membusungkan dada.


.


Setelah Kiandra dan pelayan yang mengantar menuju tempat beristirahat tak terlihat, raut wajah Anna berubah muram.


Ia menghela nafas panjang, kemudian berjalan menuju ruangan luas dengan deretan foto-foto keluarga Kerajaan Kelantan dari generasi ke generasi.


Di sofa-sofa besarnya yang bermotif bunga etnic, duduk Ayah, Ibu dan Kakak lelakinya tadi.


Anna menunduk hormat, lalu duduk di salah satu sofa terdekat.


Keadaan ruangan terasa dingin bagi Anna yang gelisah. Ia r3mas-r3mas jemari tangannya yang berada di pangkuan. Sekarang tidak ada lagi Kiandra atau keluarganya yang akan membelanya.


Aku memang bersalah. Mau tak mau aku harus menghadapi ini.


dalam hati ia menguatkan diri sendiri.