
Kedua mata Anna membulat sempurna, kala wajah pria berkemeja cokelat itu terlihat jelas.
Anna langsung meraih lengan Kiandra, kemudian bangkit dan bersembunyi di balik punggungnya.
Pria itu mendekat dan menjulurkan tangan.
Plaak!
Seketika Kiandra tepis tangan pria itu sampai menimbulkan bunyi.
Baik pria tersebut, maupun Anna sendiri kaget. Bahkan pasangan dari pria tersebut ikut bangkit dari duduk.
Kiandra menatap dengan pandangan mengancam. Meski ia tak berkata apapun, jelas pria tersebut tahu, bahwa Kiandra tak menghendakinya mendekat, apalagi menyentuh wanita yang kini berada di balik punggungnya.
"Rico, honey, ada apa?" tanya pasangannya heran.
Raut Anna yang mulanya ketakutan, mendadak terkejut.
Honey?
Anna pandangi wanita berblazer putih dengan outer dan rok model span warna kuning tersebut.
"Tidak...hanya..."
Sebelum pria yang di panggil Rico itu menuntaskan kalimatnya. Tanpa berkata apapun, Kiandra sudah mengandeng tangan Anna dan pergi dengan angkuh.
Anna sampai tersentak, karena sebelumnya Kiandra tak memberi aba-aba dan main seret.
"Sombong sekali. Apa dia tak pernah di ajari sopan?" pasangannya mencibir. Ia tak suka dengan sikap Kiandra yang pergi tanpa permisi.
Tapi Rico tak menanggapi keluhan wanita yang menjadi partner-nya tersebut.
"Kau kenal gadis itu?" tanya si wanita saat Rico masih mematung menatap punggung Kiandra dan Anna yang makin menjauh, lalu keluar dari ruangan.
Itu Delana? tapi kenapa bersama anggota keluarga Marthadinata?
tanya-nya dalam hati.
Rico teringat ketika tadi mereka saling bertemu pandang.
Tidak mungkin itu Delana. Penampilannya sangat berbeda, dan lebih tidak mungkin dia ada di kota ini.
Rico menyimpulkan dalam hati.
"Honey, kau melamun?" wanita tersebut menatap mesra.
"Aku hanya sedang memikirkan Prince Charming tadi." ia bergurau untuk menepis ketegangan.
Wanita itu terkekeh, kemudian mereka kembali duduk.
"CEO sombong itu?" ia menipiskan bibirnya yang berwarna peach.
Rico tak menjawab dan hanya tersenyum.
"Setelah melihatnya dari dekat, aku mengenalinya." wanita tersebut berkata. "Dia Kiandra Mahika. Beberapa bulan lalu wajahnya memenuhi majalah SWA dan bulan ini dia juga tampil di majalah Marketers." Ia menerangkan.
Rico tak merespon dan memilih menyantap udon nya yang telah dingin.
"Hebat sekali bukan?" pasangannya itu memuji. "Dia masih muda. Tapi sudah memimpin perusahaaan multinasional. Dia juga seorang enterprenuer yang tak segan membagi ilmu bisnisnya."
"Dia hebat karena latar belakang keluarganya." Rico menepis semua pujian yang di lontarkan. "Coba saja dia lahir di keluarga miskin. Mau sehebat apapun skill yang di miliki. Dia akan di pandang sebelah mata dan mustahil mendapat kesempatan."
"Ah, Rico..." wanita itu mengelus punggung tangan-nya yang berada di atas meja. "Kaupun sebentar lagi akan sesukses orang itu. Bahkan bisa lebih."
Pria berkemeja cokelat itu memalingkan muka dan tersenyum pahit.
"Kau dari orang biasa yang sukses karena usaha sendiri. Sangat berbeda dengan si Marthadinata, yang mungkin saja bisa terkenal karena nama besar keluarganya. Kau lebih istimewa Honey."
Rico tersenyum. "Aku juga lebih beruntung daripada dia." Ia meraih tangan pasangannya. "Karena aku bisa mendapatkan hatimu Radha." Dikecup punggung tangan wanita bersuara lembut tersebut.
"Kau pintar sekali merayu." Ia tersipu.
"Itu salah satu keistimewaanku." Rico mengedipkan satu mata.
Mereka tertawa bersama, kemudian melanjutkan makan dan membicarakan hal lain.
Namun, diam-diam Rico masih memikirkan sosok Anna yang mirip dengan Delana.
Delana. Mustahil itu Delana.
Rico menepis bayang-bayang sosok cantik bergaun motif shabby warna pink yang selalu ceria menyambutnya.
.
Sementara itu, Anna dan Kiandra telah sampai di parkiran mobil.
Begitu sampai, Kiandra segera melepas gandengan tangannya dan membuka kunci mobil Lexus LC warna Onyx- nya.
"Hei! kau mau jadi patung?" seru Kiandra dari kejauhan.
Anna tak bergeming.
Kiandra memalingkan muka dan mendengus.
Susah sekali jalan bareng perempuan.
keluhnya dalam hati.
Awalnya Kiandra cuek dan tetap masuk, lalu menyalakan mesin mobil. Tapi, ketika ia melihat Anna dari kaca depan, ia mulai curiga.
Kiandra bergegas membuka pintu dan keluar. Dia berjalan mendekati gadis itu, dan benar saja Anna mengigil dengan wajah pucat.
"Kau kenapa?" Kiandra sedikit cemas.
Namun, Anna tak menjawab dan malah terisak.
"Hei," Kiandra tepuk pundak wanita itu. Tapi, air mata Anna malah deras mengalir.
"Ke, kenapa malah menangis? hei, memang aku ngapain?" pria berwajah kaku itu mulai panik.
Rico...itu Rico...
Anna membekap mulutnya dengan kedua tangan, berharap dengan begitu suara tangisnya tak terdengar. Tapi dengan berbuat begitu, kesedihannya malah makin terlihat menyayat.
Kiandra gelisah. Ia usap rambut cepaknya berkali-kali, seraya melihat kanan dan kiri.
Bagaimana kalau ada orang yang melihat dan masuk koran?
Kiandra memijit pelipisnya yang berdenyut.
Lepas bagaimana perasaannya kepada Anna, sampai ia begitu tertarik pada gadis itu. Nama baik keluarga adalah utama. Tidak boleh ada skandal apapun, meski itu hanya hal kecil dan sepele.
Cukup ketika era kakak perempuan-nya saja, nama baik keluarga-nya tercemar.
Sial! kenapa harus ada orang mirip Kirana?
Kiandra mendengus, lalu tanpa basa-basi kembali menyeret dan memaksa Anna masuk ke dalam mobil.
Lagi-lagi Anna tak punya kesempatan untuk bersedih. Dia kaget dan sampai memekik, ketika Kiandra menarik pergelangan tangannya begitu saja.
"Aku tidak tahu apa masalahmu. Tapi, kalau ingin menangis di sini saja. Jangan di luar." sebelum Anna sempat protes, Kiandra sudah memarahi.
"Aku..."
"Iyaa, ya..aku tahu." potong Kiandra kesal. "Kau malu karena jatuh di depan laki-laki tadi, kan?"
Astagaa...
Anna menganga mendengar penuturan Kiandra yang menurutnya konyol.
Air matanya sampai kering sendiri, sebab Anna tak kepikiran untuk menghapusnya.
"Jadi tipe mu yang seperti itu? yang memadukan kemeja cokelat dengan celana abu tua?" Kiandra tersenyum sinis.
"Aku tidak..."
"Sudah jangan menangis." Kiandra menatapnya. "Kau bodoh kalau menangis karena hal seperti itu."
Anna terpana memandang sosok bermata indah itu.
Sebelum bertemu Kiandra. Hanya dengan mengingat masa lalu, Anna akan bersedih dan merenungi nasibnya seharian.
Sekarang, ia bertemu langsung dengan orang yang membuatnya terlempar ke jurang kenistaan, serta harus meninggalkan segala kenyamana.
Namun anehnya, sedihnya seketika lenyap.
Meski Kiandra mengomelinya seperti orang tua memarahi anak. Tetapi, pria itu jugalah yang secara tak langsung mampu menghapus kesedihannya.
"Sudah bengong-nya?" ucap Kiandra ketus.
Anna tergagap dan langsung tertunduk dalam.
"Aku memang tampan." Kiandra berkata seraya menginjak pedal gas. "Harusnya sekarang kau lebih malu, dari pada saat tadi jatuh di depan laki-laki tak tahu mode itu."
"Apa...?" Anna mengangkat muka tak mengerti.
Kiandra berdecak melihat raut Anna yang menurutnya terlihat bodoh, kemudian fokus menyetir.
Kirana dua. Cepat sekali ekspresinya berubah.
Kiandra kesal mengingat saudara perempuan satu-satunya yang telah begitu lama tidak ia temui.