Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
AKHIRNYA



Awalnya Ayah Kiandra pun sempat curiga, jika putra nya itu memiliki kelainan. Bayangkan saja, dari Kiandra usia sekolah, kuliah, sampai kini ia bekerja dan hampir berusia tiga puluh lima tahun, tak pernah sekalipun anaknya itu memperlihatkan ketertarikan kepada seorang wanita.


Padahal sejak usia kanak-kanak, putranya sudah menjadi magnet untuk lawan jenis.


Kiandra terlahir dengan fisik yang begitu sempurna, di tambah bau uang yang mengikuti kemanpun ia pergi, membuat  putra semata wayangnya itu selalu di istimewakan dimanapun.


Dahulu di usia yang sama, ia sudah menghabisi banyak perawan. Tetapi anaknya ini, betul-betul membuatnya sakit kepala dan berpikir yang tidak-tidak.


Seperti jangan-jangan impoten atau lebih parahnya lagi gay. Tidak mungkin kan, di keluarga Marthadinata yang terhormat terdapat kaum pelangi? Hanya laki-laki otak dengkul yang tak menyukai lembutnya tubuh perempuan dan lebih memilih hubungan menjijikan lewat lubang d*bur.


Namun, hari ini semua dugaan itu terbantahkan. Diam-diam Ayah Kiandra tersenyum. Yah... Kiandra adalah darah daginya, tentu saja dia mirip dengannya. Seperti halnya ia yang tak ingin istrinya di sakiti, putranya itu pun akan marah jika hal serupa menimpa wanitanya.


Kiandra, bungsuku yang akan tetap menjadi anak kecilku.


Ayah Kiandra berkata dalam hati.


"Apa maksud Daddy?" Kiandra berbalik melihat Ayahnya yang masih duduk tenang di bangkunya.


Namun, bukannya langsung menjawab, si Ayah malah mengamati dirinya.


Kiandra mendengus, lalu kembali menarik tangan Anna untuk di ajaknya pergi.


"Kau menyukainya?" tanya si Ayah, yang lagi-lagi membuat jantungnya nyaris tak terkontrol.


Kiandra berdehem untuk menenangkan diri terlebih dahulu, kemudian kembali berbalik untuk melihat lawan bicara.


"Daddy mau bilang apa? Aku sudah mengatakan tak mau menikah." ia berkata dengan intonasinya yang biasa.


Ayahnya tersenyum. "Kau menyukai Delana, Kian?" ia bertanya lagi.


Seketika raut dingin itu memerah bagai tomat. "Apa...? Daddy bilang apa...?" ia masih saja pura-pura.


Kirana dan Ibunya saling pandang dengan kedua mata melebar, kemudian seolah saling bisa membaca isi pikiran, mereka melihat ke arah Kiandra yang kini seperi terdakwa yang kebingungan.


"Kenapa tidak di jawab? Daddy hanya ingin tahu." pria berambut putih itu kembali berkata.


Kiandra gamang, kedua alisnya saling tertaut dan bibirnya terkatup rapat-rapat.


Sial! Kenapa Daddy jadi menanyakan hal tak penting seperti ini?


batinnya kesal.


"Iya, kenapa tidak di jawab?" Kirana berkata sembari bertopang dagu dan tersenyum lebar.


Ck! Kenapa dia juga ikut-ikutan?


Tanpa sadar Kiandra mempererat cengkraman tangannya, dan hal tersebut membuat Anna mengaduh.


Kiandra yang lupa sama sekali jika sedari tadi ia berdiri sambil menganggam tangan Anna terkejut. Cepat-cepat ia melepas tangan wanita itu dan sedikit menjauh.


Keluarganya yang melihat hal tersebut diam-diam merasa geli. Tak terkecuali Ibunya yang kini sudah melupakan kesedihannya dan sudah mulai paham maksud si suami.


"Aku tidak menjawab pertanyaan tak masuk akal seperti itu!" seperti biasa Kiandra menutupi rasa malu dengan bersikap emosional.


Kirana yang mendengar hal tersebut melengos dengan raut malas.


Sebodoh ini orang yang baru mengenal cinta.


ia mencemooh dalam hati.


Tetapi, secara tidak langsung ia juga menjadi teringat masa lalunya bersama Dave, dan itu tak ubahnya seperti Kiandra sekarang. Memang, cinta terkadang membuat penderitanya menjadi naif dan bodoh.


"Lalu apa yang masuk akal menurutmu?" Ayahnya bertanya balik.


Kiandra meneguk ludah.


Namun, semua juga tahu seberapa mengerikan jika Ayahnya itu sudah murka. Dengan kekuasan serta uang yang di miliki, ia bisa memutar balikkan fakta, dan hukum bahkan tak bisa menyentuh dirinya. Cara-cara kotor serta licik dalam bisnis yang enggan Kiandra gunakan, tapi dengan enteng Ayahnya itu mampu melakukan.


Dan kini si Ayah mau ikut campur urusan pribadinya, yang seharusnya ini hal sepele yang tak perlu campur tangannya.


Kiandra berdecak seraya memandangi Anna yang berdiri tertunduk di dekatnya.


Wanita ini... Dia betul-betul sumber masalah!


Kiandra malah menyalahkan Anna, sebab sejak kehadirannya, hidupnya jadi sulit dengan segala kekonyolan yang terpaksa di lakukan.


Kiandra kembali berdehem beberapa kali. Ia harus segera menyingkirkan debaran yang membuat perut mulas dan membuat dirinya nampak bodoh ini.


"Aku tak mau urusan pribadiku di campuri." ucap Kiandra beberapa saat kemudian.


Semua anggota keluarganya menyimak.


"Jangan asal menentukan kriteria wanita mana yang cocok dan tak cocok untukku, karena aku tak mau menikah."  ia menegaskan.


Ibunya langsung murung.


"Baik. Kami tidak akan ikut campur lagi soal kau mau menikah atau tidak, lalu soal kriteria mu harus seperti apa dan bagaimana." Ayahnya berkata santai. "Tapi... dari tadi kau belum menjawab pertanyaan Daddy, nak." ia menambahkan.


Kiandra tercenung. Mungkin panggilan nak biasa di gunakan si Ibu untuknya. Tapi, jika Ayahnya yang memanggil seperti itu, maka akan lain artinya.


"Kau menyukai Delana, nak?" tanya si Ayah sembari menunjuk wanita yang berdiri di sampingnya.


Sekali lagi Kiandra meneguk ludah. Ayahnya betul-betul membuatnya tak berkutik, apa lagi pertanyaan tersebut di lontarkan di depan semua.


Apa salahku? Kenapa aku selalu berada di posisi sulit seperti ini?


Anna mengeluh dalam hati dengan muka keruh dan makin tertunduk.


Ya Tuhan, bagaimana kalau aku ketahuan tidak amnesia? Bagaimana kalau identitasku di ketahui? Bagaimana kalau...


Ia sibuk sendiri dengan pikiran-pikiran negatifnya.


"Jawab saja, iya atau tidak." ujar Kirana tak sabar.


Kiandra menatap kakak perempuannya itu dengan kedua alis hampir menyatu. Ia kesal, karena gara-gara dahulu sering melihatnya menangis dan melihat buruknya perlakuan publik pada dirinya yang  di anggap menikah sedarah, kini ia takut jatuh cinta pada orang yang salah.


Namun, saat Kiandra menoleh ke arah wanita di sisinya itu, entah kenapa ia bisa mengabaikan semua.


Masa bodoh dengan harga diri! Perutku sampai mulas dan jari-jariku dingin seperti ini!


ujar Kiandra dalam hati.


"Iya, aku menyukainya." akhirnya kalimat itu keluar juga dari kerongkongannya. Meski setelah itu, ia nampak menyesal dengan memalingkan muka dan mendesah perlahan.


Ibunya langsung bangkit dengan ekspresi bungah luar biasa. "Kian..." gumananya terharu.


Kedua bola mata Kirana hampir keluar, melihat wajah adiknya yang garang, kini terlihat memelas karena kejujuranya yang di anggap memalukan.


Dia benar-benar menyukai Delana?


batinnya sedikit tak percaya, karena Kirana pikir, tipe orang seperti Kiandra pastilah menyukai wanita cantik dan terpelajar.


Memikirkan hal tersebut membuat Kirana memandangi Anna yang kini sedang terpaku dan saling tatap dengan Kiandra.


Sepertinya dia syok sekali...


ucap Kirana dalam hati, lalu memijit kepalanya dan menghela nafas panjang.


"Walaupun aku belum ada keinginan untuk menikah. Tapi..ya, aku menyukainya, aku tertarik padanya." Kiandra berkata sambil memandangi wajah Anna yang memucat.