
Kiandra berjalan cepat tanpa memperhatikan Anna yang kesulitan mengikuti langkah kakinya.
Beberapa kali mereka bersisihan dengan karyawan yang menyapa dengan sorot bertanya.
Kening Kiandra berkerut. Ia tak suka tatapan penuh selidik seperti itu. Mengingatkan kumpulan orang yang pernah memborbardir rumahnya, sampai ia hanya bisa mendekam di kamar.
Dia juga teringat tayangan televisi yang memperlihatkan kakak perempuannya di keroyok wartawan, serta di cercar berbagai pertanyaan menyudutkan hingga membuat ketakutan.
Namun, yang terpatri jelas dalan ingatan adalah aksi pelemparan telur oleh penggemar fanatik mantan suami kakaknya.
Seorang Marthadinata tak pernah di hina. Tapi bahkan Ayahnya tak bisa melindungi kakak-nya kala itu.
Kenapa aku malah teringat hal itu?
Kiandra mendengus dan segera melupakan ingatan masa kecilnya yang suram.
Tanpa ijin ia gandeng lagi tangan Anna yang tertinggal di belakang, lalu menyentak pelan agar gadis itu berjalan lebih cepat.
Mood Kiandra selalu jatuh, jika sudah menyangkut masalah yang berhubungan dengan masa lalu kakak perempuan-nya.
Dia sampai antipati dengan yang namanya cinta dan memandang negatif pada pernikahan pun, karena kakak-nya tersebut.
"Tunggu. Tak usah mengandengku seperti ini. Aku bisa jalan sendiri." terburu Anna menyeimbangi cara Kiandra berjalan.
Tapi, entah suara Anna yang mirip cicitan atau karena hal lain. Pria tinggi itu tak mendengar dan malah makin mempercepat langkah.
Anna melihat sekeliling. Ia bisa merasakan tatapan dari para pegawai yang kebetulan berada satu ruang dengannya.
Mereka memandangku seolah aku pencuri yang tengah di seret ke meja hijau.
batin Anna malu.
Para karyawan memang begitu berminat pada Anna, karena Anna adalah wanita pertama yang di perlakukan istimewa oleh CEO mereka.
Chief mereka 15 tahun memimpin. Tapi, baru kali ini memecat karyawan karena masalah sepele, yaitu tidak sengaja mengusir tamu tanpa janji dan identitas jelas.
Hal aneh dan membuat sekitar menduga-duga, tentang siapa dan ada hubungan apa Anna dengan sang CEO.
"Wanita itu bukan, yang tadi hendak di usir satpam...?" diam-diam seorang pegawai menunjuk ke arah Anna yang baru saja keluar dari area lobi.
"Betul, dia kembali bersama Pak Ethan." yang lain menimpali.
"Pak Ethan teman Chief kita?" ia kaget.
"Apa Chief ingin menunjukkan kalau dia normal, makanya sampai mengandeng seorang wanita di hadapan kita?" di sudut lain, seorang pegawai membuka obrolan.
"Mungkin." rekannya berkata. "Tapi...kenapa harus wanita seperti itu? apa Chief tidak bisa membayar wanita yang berpenampilan lebih glamor?"
"Membayar wanita itu?" pegawai yang lain-nya ikut bicara. "Menurut kalian, wanita bayaran seperti apa yang sampai membuat Chief memecat manager senior dan tiga anak buahnya?"
Seketika dua orang karyawan wanita itu terdiam.
"Pasti ada sesuatu," pegawai tersebut menambahkan. "dan pasti akan kita selidiki." ia terkekeh.
Rasa ingin tahu tahu yang tidak pada tempatnya itu buruk. Semoga saja Kiandra tak tahu apa yang para pegawainya gosipkan dan rencanakan.
.
Anna mengibaskan tangan kasar, begitu mereka sampai di halaman gedung dan tengah menunggu Valet mengambilkan mobil dari basement.
"Apa-apaan kau ini?" Kiandra yang seumur hidup selalu di puja kaum hawa, terkejut genggaman tangannya di tepis.
"Cukup sampai sini lelucon kalian yang melibatkan saya." Dengan keberanian yang di tumpuk oleh rasa malu dan marah, akhirnya Anna mampu berkata tegas.
"Lelucon?" Kiandra memiringkan kepala tak mengerti.
Hari telah sore dengan langit mulai menandakan akan turun-nya hujan.
Sementara agak jauh di sebelah barat gedung, terdengar riuh suara klakson dan kendaraan bermotor dari area jalan raya yang mulai padat di jam pulang kerja.
"Saya berterima kasih atas pertolongan anda tempo hari." kini nada suara Anna melembut.
Anna tak mau ini berlarut-larut, karena itu ia sampai berbohong sakit dan hendak ke dokter kepada Nisa, untuk menyelesaikan semua permasalahan.
"Saya..saya tidak tahu kenapa anda atau teman anda bersikap seperti ini pada saya. Tapi, tapi...sa, saya sangat terganggu." mata Anna yang di penuhi kecemasan menatap Kiandra.
Mata pria itu melebar, sebab awal mula ia mendekati Anna memang karena permainan yang ia mainkam bersama kawan-kawan-nya.
"Jadi..jadi tolong jangan mengirim apa pun lagi." pinta Anna memelas.
"Kau bilang apa...?" Kiandra sampai membungkukkan badan, agar yakin kalau ia tak sedang salah dengar.
Anna mundur sambil menautkan kedua jemari tangannya yang dingin ke dada.
"Jangan mengirim apapun lagi." gadis itu mengulang.
Kiandra menegakkan tubuh dan menatap bingung.
Apa yang aku baca di internet soal mendekati wanita itu salah?
tanya-nya dalam hati.
Bukankah wanita suka dengan bunga dan perhiasan? wanita juga suka di beri hadiah dan kejutan manis?
Pria lajang dan tak pernah memadu kasih sepanjang usianya itu keheranan, karena ia merasa sudah melakukan semua trik dengan benar.
Namun dalam pandangan Anna, bukan raut heran yang terpatri di wajah Kiandra. Tetapi, ekspresi seram dengan kedua alis hampir menyatu dan sorot mata tajam ke arahnya.
Kenapa wajahnya seperti itu?
nyali Anna lagi-lagi di buat ciut.
Tak lama petugas Valet datang dengan mengendarai mobil BMW Z4 warna San Fransisco Red yang segera mengalihkan rasa takut pada diri Anna.
Mobil di parkir tempat di samping mereka, membuat Anna bisa melihat dengan jelas kemewahan fiture yang di tampilan mobil dengan kap yang bisa terbuka itu.
"Silahkan, Chief." petugas Valet memberikan kunci mobil dan segera pamit.
Sudut bibir Kiandra tertarik angkuh. Bukan karena petugas Valet. Tapi, karena melihat Anna yang begitu terkesima melihat mobil mahalnya.
"Kau suka?" tanya-nya.
"Suka sekali!" Anna menoleh ke arah Kiandra dengan mata berbinar. "Seri ini jarang ada. Kau inden berapa bulan untuk mendapatkannya?" antusias ia balik bertanya.
Kiandra memicigkan mata. Gaya dan ekspresi yang di tampikan gadis itu terlihat lain dari biasa.
"Eh, maksud saya...eemm..maksud saya bukan itu...." Menyadari kecerobohannya, Anna mencoba mengklarifikasi. Tapi sayang, ia sudah gugup lebih dulu.
Ya Tuhan...semoga dia tidak sadar.
Anna memohon dalam hati.
"Jadi...,setelah melihat mobilku, kau mau aku antar pulang kan?" Kiandra melipat kedua tangan ke dada.
Anna yang awalnya tertunduk dengan mata terpejam rapat karena takut ketahuan, seketika membuka mata dan menengadah.
"Pulang...?" seperti orang lingkung ia bertanya.
Tetapi, Anna langsung paham dan tak butuh jawaban, ketika wajah datar Kiandra tersenyum menyebalkan.
Dimana-mana yang namanya perempuan sama saja. Matre dan sok jual mahal.
batin Kiandra menyimpulkan.