Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
MAKNA



Semakin mendekati hari H, semua orang makin sibuk dengan berbagai persiapan. Para pekerja di perintahkan merapikan taman, mengecat ulang bangunan, bahkan si Ayah membeli beberapa perabotan baru. Hal yang tak perlu sebenarnya, karena percayalah, segala sesuatu di rumah itu sudah sangat berlebih.


Semuanya sangat antusias, apa lagi dengan kehadiran si kembar yang tak henti berlarian dan berteriak-teriak. Hanya ketika mereka tidurlah, maka suasana rumah kembali senyap.


.


Kiandra menghela nafas, ketika seorang pegawai butik memakaikan dasi kupu-kupu di leher-nya.


Ia pandangi dirinya di cermin. Tapi, yang terbayang masih saja Anna.


Memang sialan dia. Awas saja kalau sampai permen pun dia kembalikan.


Kiandra berkata dalam hati, membuat ekspresinya menjadi lebih kaku dan dingin.


Wanita pegawai butik yang membantunya fitting, sampai salah mengira, jika custumer-nya itu tak berkenang dengan pelayannya.


Kiandra kembali menghela nafas panjang. Dengan berat hati ia menuruti perintah si ibu untuk ikut fitting baju pesta yang telah di pesan secara khusus.


Mereka datang sekeluarga dengan menaiki satu mobil. Hal sederhana yang membuat kedua orang tua-nya senang, sebab selama bertahun-tahun, mereka tak pernah pergi dengan formasi lengkap seperti ini.


"Gagah dan tampan sekali putra ibu." sembari menepuk-nepuk pundak Kiandra, si ibu memandang haru.


Rasanya wanita itu masih tak percaya, anak yang ia kandung dengan susah payah, ia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa dan seolah baru saja ia timang dalam buaian, kini sudah menjelma menjadi pria dewasa yang begitu memukau.


"Ibu berlebihan, ah.." Kiandra melengos, sembari melepas dasi kupu-kupu dari leher.


"Benar. Ibu berlebihan." tanpa di duga Kirana yang berada di sudut ikut berkomentar. "Dia tidak gagah dan tampan. Tapi, kasar dan arogan. Makanya tidak ada wanita yang berani mendekati."


Kening Kiandra berkerut mendengar sindiran kakak perempuan-nya yang mengenakan dress warna kuning daffodi .


"Kirana." si ibu menegur.


Kiandra mendengus, seraya membuang muka. Sebisa mungkin ia tak mau meladeni ocehan kakak-nya. Setidaknya tidak saat ini.


"Ngomong-ngomong kau akan ke pesta dengan mengandeng siapa, Kian?" Ayahnya keluar dari ruang fitting, di ikuti Dave di belakang.


Mereka bedua mengenakan tuxedo warna gelap, yang senada dengan yang di pakai Kiandra. Hanya saja, untuk detailnya milik si Ayah sedikit berbeda.


Hal itu pula yang membuat Kiandra marahl, hingga bersikap ketus saat si ibu memuji. Tak lain, karena mereka memesankan desain yang sama untuk dirinya dan Dave.


"Apa Daddy sedang menyindirku?" Kiandra balik bertanya sembari melepas tuxedo yang baru saja di pakai.


Terdengar suara Kirana terkekeh dari tempatnya duduk. Dave segera mengelengkan kepala ke arah istrinya, berharap dia tak memperkeruh suasana.


"Apa?" tanya Kirana tanpa suara sambil mengangkat kedua bahu dengan ekspresi sok polos.


"Siapa yang menyindir? Daddy mu ini bertanya." Pria yang sama jangkungnya dengan Kiandra itu berjalan mendekat. "Kirana dengan Dave, ibu-mu jelas dengan Daddy. Dan kau?" mata sipitnya yang di bingkai keriput itu tak bisa menutupi kecemerlangan dari warna bola mata-nya yang berwarna cokelat terang.


"Aku kan memang belum berkeluarga." Ucap Kiandra santai. Ia sudah melepas tuxedo hitam-nya, lalu meletakan begitu saja di bahu sofa.


Tanpa di minta, seorang pelayan butik segera mengambil tuxedo mahal dari kain sutra yang di campakan pemiliknya.


"Maksud Daddy-mu, teman kencan, nak." si ibu yang sedang di bantu pelayan butik memakai aksesoris gaun, ikut berbicara.


Kiandra tak menjawab.


"Bagaimana kalau Victoria?" bisik si Ayah sambil tersenyum.


Kiandra menunjukkan raut tak berminat.


"Kenapa? dia memang bodyguard mu. Tapi, kalau cantik tak masalah kan? yang penting kau tak sendirian." Ayahnya yang berperawakan mirip diri-nya itu menyarankan.


Terkadang pria itu tak habis pikir dengan sifat putra semata wayangnya.


Kepribadian Kiandra soal wanita sungguh bertolak belakang dengan dirinya dulu, yang mana waktu kuliah saja sudah tidur dengan banyak wanita.


Ayah Kiandra bukannya ingin anak lelaki-nya itu menjadi baj*ngan seperti masa lalu-nya. Tetapi, di usia yang sudah sangat senja ini, dia hanya ingin melihat semua yang di kasihinya mendapat kebahagiaan.


"Kalau cuma cantik, tidak harus dengan Vic." Kiandra berkata lugas.


"Tapi, hanya Victoria yang bisa memaklumi tingkahmu yang arogan." Ayah-nya tak mau kalah.


"Itu karena Daddy membayar-nya." Kiandra menjabarkan.


Tanpa Ayah dan anak itu sadari, Dave memperhatikan keduanya dari kejauhan.


Ayah mertua dan adik iparnya itu terlihat sama, jika di lihat dari sudut belakang seperti ini. Hanya rambut si ayah yang beruban, serta pundak-nya yang sekarang sedikit bungkuk lah pembeda-nya.


Tetapi, jika melihat foto-foto masa muda si Ayah, maka seperti itulah Kiandra.


"Dave?" Kirana meraih jemari tangan-nya.


Dave menoleh ke arah si istri yang rambutnya sedang di pasang aksesoris senada dress yang di kenakan.


Dave hanya mengeleng, sembari tersenyum menenagkan.


"Jangan terlalu memikirkan bocah keras kepala itu." Kirana mengira suami-nya murung karena keberadaan Kiandra yang antipati terhadap mereka.


"Tidak. Aku hanya sedikit mengantuk." ia menerangkan.


Namun, tentu saja Kirana tak percaya begitu saja.


"Aku pulang duluan." mendadak Kiandra pamit.


Seketika seluruh keluarga melihat ke arah-nya.


"Hei, Daddy ini sedang bicara padamu." kerutan di dahi Ayahnya makin dalam.


Kiandra pura-pura tuli dan tetap berjalan ke arah pintu keluar.


"Kenapa tidak pulang bersama, nak?" ibu-nya sampai berdiri untuk mencegah.


"Aku ada urusan." tanpa menoleh Kiandra berkata, kemudian membuka pintu dan pergi.


Tinggalah Ayah, ibu, kakak perempuan, serta suaminya di ruang VIP dari sebuah butik terkenal di kawasan ibu kota.


"Mirip siapa kelakuan-nya yang tak ada sopan santun-nya itu?" Ayahnya geleng-geleng.


.


Kiandra berjalan keluar butik sembari menelpon seseorang.


"Aku sudah di luar. Dimana kau?" tanya-nya kepada di penelpon, seraya melihat keramaian siang.


"Chief!" panggil Aldo sambil melambaikan tangan.


Asisten Pribadi-nya itu berada di dalam mobil Mazda 2 warna Jet black Mica, yang terparkir di bahu jalan.


Dia kan bisa bilang lewat telpon, kenapa pakai teriak?


batin Kiandra kesal, sebab karena teriakan Aldo ia menjadi pusat perhatian.


Tak mengindahkan orang-orang yang berbisik mengagumi gaya dan wajah tampan-nya, Kiandra berjalan cepat menuju mobil hitam yang terparkir di seberang.


.


"Saya kaget waktu anda tiba-tiba minta jemput." Aldo terlihat bersemangat seperti biasa. "Untung saya belum pergi makan siang." ia terkekeh.


"Yang tanya siapa?" Kiandra yang duduk di sebelahnya memandang dengan muka malas.


"Saya kan cuma cerita, Chief." Aldo langsung mengkerut.


"Cepat jalan." tak mau mendengar apa-apa lagi, Kiandra segera memberi perintah.


"Baik, Chief..." ucap Aldo pasrah.


Sudah hampir setengah jam mereka hanya berputar-putar di sekitaran pusat kota.


Aldo melirik ke arah Kiandra yang sedari tadi cuma melihat ke arah luar jendela.


Kenapa Chief tidak memberi tahu ingin kemana...?


pikir Aldo heran.


"A, anu..Chief, anda ingin di antar kemana?" ragu-ragu Aldo memberanikan diri bertanya.


Kiandra menoleh ke arah Aldo dengan kening berkerut dalam.


"Ma, maaf Chief." ujar Aldo cepat. Ia mengira Kiandra marah padanya. "Saya bukanya ingin tahu. Tapi, saya bingung kita..."


"Aku dari tadi juga bingung tahu." Sebelum Aldo selesai bicara, Kiandra sudah memotong.


Pria berpenampilan rapi itu tak mengerti.


"Dari tadi aku juga sedang berpikir. Sebaiknya dia aku beri apa?" Ekspresi Kiandra nampak keruh


Bola mata Aldo berputar. Ia sama sekali tak paham apa yang di bicarakan sang Chief.


"Menurutmu, wanita itu paling suka di beri hadiah apa?" tanya-nya serius.


"Hahh?" mulut Aldo menganga.


"Jangan bilang perhiasan, make up atau bunga. Karena semua di kembalikan." lanjut Kiandra kesal.