
Air hangat yang menguyur dari shower setidaknya bisa mengurangi rasa sakit di bagian kewanitaannya. Beberapa kali Anna menekan bagian itu, lalu mendesis nyeri. Rasanya ada yang bengkak, membuatnya merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Ia berusaha mengabaikan semua itu, walau saat buang air kecil tadi ia sampai menahan tangis, karena begitu perihnya.
Suara gemericik air di keadaan kamar mandi yang tenang, membawa Anna ke dalam lamunan. Ia masih tak menyangka, kalau telah berhubungan dengan Kiandra. Dekapannya yang kuat, lenguh serta erangannya, bahkan aroma keringatnya masih bisa Anna rasakan.
Ia memeluk dirinya sendiri yang merinding kala membayangkan semua itu.
Aku harus bersikap bagaimana setelah ini..?
batin Anna dengan kepala yang seolah mengepulkan asap, karena air hangat yang terus menerus mengenainya.
"Aku akan membawamu ke Kelantan, kemudian melamarmu secara resmi di sana."
Perkataan Kiandra terlintas.
Pulang...?
pikirnya, kemudian mengusap wajahnya yang basah.
Pulang adalah mewah untuk Anna, dan ia ragu untuk hal tersebut.
Jujur ia terkesan dengan janji Kiandra. Tetapi, ia yang pernah di khianati Rico, rasanya sulit untuk mempercayai mulut seorang lelaki.
Mendadak ia jadi memikirkan mantan kekasih yang telah membuatnya terbuang dari keluarga selama bertahun-tahun itu.
Dulu dia sampai menyebarkan foto dan video telanjangku di website kerajaan.
batinnya sembari menggigit bibir bawah.
Masih sangat ia ingat, bagaimana pagi di musin panas seluruh bangsawan dan parlemen gempar, walau setelahnya semua bisa di hapus dengan cepat. Tapi aib yang sudah terlanjur di lihat, membuat Ayahnya terpaksa mengundurkan diri dari tahta dan di gantikan saudara sepupunya. Karena hal itu juga, dari generasi si Ayah sampai seterusnya, tidak akan menempati posisi sebagai Raja, kecuali keturunan dari sepupunya tersebut ada suatu hal yang membuatnya tak bisa memimpin.
Anna menghela nafas panjang, jika mengingat hal itu hatinya bagai di remas. Rico tidak hanya melukai perasaanya, tatapi juga mencoreng nama baik keluarga Petra Yang Agong.
Sampai sekarang aku belum tahu di mana Rico membawa permata itu. Apa sudah di jual? atau masih di simpannya di suatu tempat? Lalu..., aku dengan tidak tahu malu pulang begitu saja??
batin Anna berkecambuk.
Mungkin dengan menikahi Kiandra yang seorang Marthadinata, masalah akan lebih mudah untuk di selesaikan. Namun...
Anna termenung, dengan air hangat yang terus membasahi sekujur tubuhnya bagai hujan, sekitar kamar mandi yang bersekat kaca telah berembun, menandakan ia telah mandi begitu lama.
Kenapa aku bisa tak menyadari kalau masih...
ia tak mampu melanjutkan kalimatnya meski dalam hati.
Anna tertunduk, serta bahunya mulai gemetar. Ia syok dengan kenyataan masih perawan, di tambah rasa menyesal karena baru saja bercinta di luar ikatan pernikahan. Tapi, lebih dari semua itu, ia merasa menjadi wanita paling bodoh karena di permainkan takdir.
.
Di kegelapan malam, Kiandra berjalan menelusuri jalan setapak yang membelah kebun mawar milik si Ibu. Berkali-kali ia merpaikan rambut, lalu kerah baju, dan jas mahalnya yang nampak berkerut di sana-sini.
Ia menoleh ke arah danau yang terlihat benerang, serta orang-orang dari EO yang sibuk membersihkan perkakas pesta. Kiandra mempercepat langkah. Pesta telah usai, dan ada kemungkinan orang tuanya mencarinya atau Anna.
Raut wajah pria itu menunjukkan kewaspadaan. Tapi, jantungnya masih berdebar mengingat percintaannya yang pertama. Yang membuat bahagia, tentu saja karena Anna ternyata masih suci, dan itu sangat tidak ia sangka.
Mendadak Kiandra tersenyum, ketika terbayang wajah wanita itu yang memerah dan menyebut namanya berkali-kali. Mungkin jika tidak kasihan melihatnya menangis, maka ia akan mengulangi lagi.
Pria itu sengaja lewat di samping rumah yang sepi dengan penerangan minim, lalu menaiki tangga darurat yang terhubung langsung ke lantai dua, kemudian berjalan lurus melewati koridor panjang menuju kamarnya.
Namun, baru saja ia berbelok, ia langsung di kejutkan dengan kehadiran kakak perempuannya.
Wanita lima puluh tahun itu sudah memakai baju rumah, serta menghapus keseluruhan make up nya dan kini berdiri menatap tajam ke arahnya.
"Dari mana?" tanya Kirana tanpa basa-basi.
"Aku melihatmu keluar dari rumah kaca." ujar Kirana, yang membuat langkah adiknya itu terhenti.
Kiandra langsung was-was. Bukan karena takut pada kakak perempuannya itu. Tetapi, jika si Ibu sampai mendengar ribut-ribut ini.
Kirana berjalan mendekat. "Kau apakan Delana?" tanyanya tegas.
"Apa maksudmu?" Kiandra menoleh ke arahnya.
"Aku melihatmu pergi meninggalkan pesta bersama Delana." ucap wanita itu sambil mendongkak untuk memastikan ekspresi si adik.
Kedua mata Kiandra melebar, membuat kening Kirana berkerut.
"Memangnya kenapa? Tidak ada hubungannya denganmu." Pria itu masih berusaha mengelak.
"Dua kali aku memergoki kalian." ucap Kirana santai, tapi menusuk jantung Kiandra yang bagai penjahat mendengar dakwaan.
Namun, ia masih menunjukkan ketenangan. "Jangan campuri urusanku." ujarnya.
"Apa seorang Kakak yang menasehati adiknya itu di sebut ikut campur?" Kirana bertanya.
Kiandra mulai kesal. Tapi, ia tidak boleh bertindak gegabah atau orang tuanya akan mendengar pembicaraan mereka.
"Aku akan menikahinya." tandas Kiandra yang ingin buru-buru pergi.
"Apa...?" Kirana tak percaya dengan apa yang di dengar.
"Aku akan menikahinya." ia mengulang. "Jadi kau tidak usah sok menasehati." lanjutnya.
Kini malah Kirana yang syok. Ia yakin, jika adiknya yang menyebalkan tidak akan mungkin berbuat lebih. Tetapi, dari kalimat yang di dengar, malah menyiratkan hal seperti itu.
Melihat kakaknya masih terdiam, Kiandra mendegus, lalu memutuskan pergi. Akan tetapi, baru saja ia melangkah. Tiba-tiba Kirana meraih pundaknya dan menamparnya begitu saja.
PLAAK!
Pria itu terkejut sampai tak mampu memberikan reaksi.
"Kau bilang apa? Apa menurutmu semua akan selesai dengan menikahinya?!" Tak ada angin tak ada hujan Kirana mengamuk
Kiandra masih bergeming. Ia bingung, bagian mana yang salah dari kalimatnya, sampai membuat kakaknya itu meledak dan menamparnya.
"Bagaimana kalau dia hamil lebih dulu? Lalu anak yang lahir itu tahu, kalau dia anak di luar pernikahan? Bagaimana caramu menjelaskan pada anakmu itu?!" lanjutnya dengan muka merah padam.
"Tutup mulutmu, Kirana!!" bentak Kiandra yang takut orang tua mereka dengar.
Kirana tersentak. Mereka memang sering kali berselisih pendapat. Tapi Kiandra tak pernah menghardiknya sekeras ini.
Dave yang mendegar ribut-ribut, segera keluar kamar. Ia kaget melihat dua bersaudara itu sudah bersitegang di tengah koridor. Tak mau ada sesuatu, ia bergegas menghampiri.
"Kau tidak ubahnya seperti Daddy." ucap Kirana dengan suara bergetar dan mata meremang.
Kiandra tak mengerti.
"Kirana, ada apa?" tanya Dave yang sudah sampai.
Namun, istrinya itu tak menjawab dan malah berlari ke kamar.
Untuk sesaat Dave bingung antara bertanya kepada Kiandra atau mengejar istrinya. Tapi kemudian, ia memilih mengabaikan adik iparnya yang masih tertegun.
Setahu Kiandra, kakak perempuannya itu adalah kesayangan Daddy nya. Dari dulu, dia selalu di manja. Apapun rengean kakak nya itu, pasti akan di turuti. Termasuk pernikahnya dengan Dave yang menimbulkan kontroversi di masyarakat. Tak jarang ia sendiri pun iri dengan kedekatan mereka. Tetapi ucapan kakaknya yang emosional barusan, sedikit merubah persepsinya selama ini.
"Aku... tak ubahnya seperti Daddy..?" gumannya heran.