Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
HARI YANG DI NANTI



Dengan persiapan maksimal, meski waktu terbatas. Akhirnya hari yang di nanti pun tiba.


Perjalanan dari Jakarta ke Kota Bharu, yang merupakan ibu kota Negara Kelantan, sekaligus tanah kelahiran Anna menggunakan Private Jet milik keluarga Marthadinata.


Sepanjang perjalanan melintasi udara, dada Anna terus berdebar tak karuan. Ia masih merasa ini mimpi. Jemarinya yang saling tertaut di pangkuan terasa dingin, dan hatinya terus-menerus merasa khawatir tentang apa yang akan terjadi nanti.


Akan tetapi, saat ia menoleh ke samping dan melihat Kiandra yang ketiduran sampai mulutnya membuka, membuat segala kecemasan sirna dan di ganti rasa geli.


Ia membenarkan selimut Kiandra yang melorot, kemudian memandangi wajah pria yang berhasil memaksanya keluar dari kubangan kenistaan, yang ironisnya hanya kebohongan Rico semata.


"Kau tenang saja. Ada aku di sini."


Anna teringat perkataan Kiandra beberapa saat lalu sebelum mereka take off. Ia mengulas senyum, lalu mengenggam tangan dan menyandarkan kepalanya pada pundak pria itu.


Iya, ada kau di sini. Aku tak perlu cemas.


batin Anna sembari ikut memejamkan mata.


.


Private Jet dengan lambang huruf M besar dan tulisan Groub yang tertera di salah satu sisi lambunya itu terus naik melewati batas wilayah kedaulatan Negara Republik Indonesia menuju Negeri Jiran yang terkenal dengan Musang King-nya yang lezat.


.


Tak sampai lima jam, Private Jet tersebut telah mendarat di Bandar Udara Sultan Ismail Petra, nama yang di ambil dari Sultan Kelantan ke 13, dan juga merupakan nama Kakek buyut, serta nama Ayah Anna sendiri.


Atas bantuan keluarga Kerajaan juga, dengan mudah mereka bisa memperoleh ijin parkir di bandara dan mendapat ruang khusus untuk pertemuan.


Tengku Muhammad Majeed Petra, yang merupakan putra pertama dari Yang Di Pertuan Agong Sultan Ismail Petra sendiri yang datang untuk menjemput.


Di pesawat tadi Anna memang telah memasrahkan semua. Tetapi, kini ketika ia di hadapkan langsung dengan kakak kandung yang sudah bertahun-tahun tidak ia temui, tubuhnya mendadak panas-dingin.


Umpat kekecewaan serta kemarahannya masih Anna ingat, membuatnya mengenggam tangan Kiandra erat dan tak berani untuk menatap wajah pria itu secara langsung.


"Delana." Majeed memanggil.


Namun, Anna malah semakin bersembunyi di balik lengan Kiandra yang menenagkannya.


Selain mereka bertiga, untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan, Ayah, Ibu, Kirana, serta Dave sudah lebih dulu di persilahkan untuk masuk ke dalam mobil dengan lambang Kesultanan Kelantan di plat nomornya itu.


Majeed memang mengendaki pertemuan secara pribadi dulu dengan Anna. Semata untuk memastikan, jika itu memang benar adik perempuannya yang sudah lama hilang.


Dan meski kini dia tidak seceria dulu, tapi Majeed bisa memastikan, jika wanita yang tengah ketakutan itu memang saudaranya.


"Adikku." ia berjalan mendekat sembari mengulurkan kedua tangan.


Awalnya Anna ragu. Tapi, ketika ia coba memandang pria di hadapannya itu, kedua matanya seketika berkaca-kaca.


"Abang..." ia terisak, kemudian berlari kepelukannya.


Kiandra yang melihat adegan itu mau tak mau harus menelan cemburu. Meski jujur ia juga turut bahagia.


Tidak apa-apa. Tidak apa-apa, itu kan kakaknya.


dalam hati ia menghibur diri, sembari mengalihkan perhatian dengan melihat beberapa petugas berpakaian serba hitam yang berjaga di belakang Pangeran Kelantan tersebut.


Seharusnya Vic aku ajak juga


pikirnya yang merasa tersaingi.


.


" Alhamdulilah.. Allah kembalikan Delana untuk kita bisa berkumpul bersama lagi." Majeed berkata dengan logat Melayu yang kental.


"Maafkan Delana, Abang..." Anna menangis haru. Ia tidak menyangka kakaknya akan menyambut kedatangannya sampai seperti ini.


"Jangan sedih terus." Majeed melepas pelukannya, kemudian memandangi wajah Anna yang basah. "Ini hari bahagia Delana ke?" ia tersenyum.


Anna mengangguk seraya menghapus air mata, kemudian tersenyum memandang wajah tampan dari Pewaris takhta Negeri Kelantan tersebut.


"Salam hormat kepada Yang Amat Mulia Pengiran Muda Tengku Muhammad Majeed Petra." ucap Anna takzim.


Untuk sesaat Majeed tertegun. Tapi, kemudian ia membalas salam itu dengan senyum paling tulus dan mengulurkan tangan kananya untuk Anna cium.


Setelahnya, kakak-adik itu saling pandang dengan binar persaudaraan yang kekal.


Anna mengenalkan Kiandra kepada Majeed, serta menceritakan bagaimana pria itu menghukum Rico atas kejahatannya.


Anna juga membanggakan Kakaknya yang pandai memasak dan menjadi idola kaum Hawa di Negerinya.


Akan tetapi, saat teringat akan permata yang belum di temukan, membuat suka cita Anna perlahan sirna.


"Tapi, Delana janji akan terus mencarinya." ia berkata penuh sesal.


"Kita nak bahas soal itu nanti. Sekarang lebih baik kita segera pulang. Papa dan Mama tak sabar ingin bertemu Delana." Majeed yang beralis tebal dengan senyum lembutnya itu menyarankan.


Anna yang masih tak enak hati hanya mengangguk pelan, kemudian melihat ke arah Kiandra untuk meminta selalu berada di sisinya.


Jujur Anna takut di hukum atas kesalahannya. Tapi, gengaman tangan Kiandra dan sikap tenang pria itu, membuatnya merasa lebih berani.


.


Rumah keluarga Marthadinata memang mewah dan megah. Apa lagi danau buatan dan kebun bunga mawar putihnya yang jelas sangat spektakuler di mata masyarakat menengah ke atas sekalipun.


Namun, rumah Anna di Kota Bharu, jelas lebih membuat tercengang. Tak terkecuali Kiandra atau Ayahnya sendiri yang memiliki selera di atas rata-rata.


Rumah yang di maksud adalah Istana Negeri Kubang Keriang, yang menjadi kediaman Sultan Ismail Petra dan keluarga, setelah ia memutuskan mengundurkan diri dari tahta dan pulang ke Kelantan.


Dari kejauhan, Istana itu sudah terlihat menakjubkan dengan kubahnya yang berwarna emas seperti bangunan masjid jika di Indonesia. Terdapat enam sisi dinding putih bercorak kerucut, juga pagarnya yang berwarna hitam, ketika mobil yang mereka naiki memasuki area Istana.


Halamannya lebih luas dari halaman rumah keluarga Marthadinata dan di dominasi warna hijau dengan jalan setapak di tengah.


Ibu Kiandra tak henti-hentinya memuji kebersihan halaman Istana bernuansa putih-emas yang tak ada satu helai pun daun kering yang berserak.


Memasuki bagian dalam Istana, mereka di sambut karpet tebal berwarna biru dengan sulam emas pada pinggirannya yang menutupi seluruh ruangan.


Jantung Anna berdetak kencang, ketika pintu berwarna emas di buka dan ia melihat siapa yang duduk di salah satu deretan sofa dan kursi yang berjejer di kanan dan kiri ruangan yang katanya ruang tamu. Padahal tempat seluas itu bisa di jadikan lapangan golf mini menurut Kiandra sebagai pengamat.


"Salam hormat dari kami kepada Yang Di Pertuan Agong Sultan Ismail dan keluarga." Ayah Kiandra mewakili rombongan untuk menyapa lebih dahulu.


Dave dan Kirana yang berada di belakang ikut tegang. Berurusan dengan orang kaya atau berpangkat itu hal biasa. Tetapi ini adalah bangsawan, dan bukan sekedar bangsawan. Tapi, Raja dan Ratu dari Negara Kelantan Darul Naim, yang merupakan satu dari tiga belas bagian dari wilayah Malaysia.


Dia terlalu beruntung.


batin Kirana sembari menatap punggung Kiandra yang berdiri di depannya.


.


"Jangan nak sungkan." Pria seusia Ayah Kiandra dengan baju sikap bordir emas yang di padu kain punca potong yang di tenun dari sutra halus itu tersenyum.


Jauh di masa mudanya mereka memang pernah bertemu, dan hubungan bisnis yang dulu sempat terjalin membuat keduanya saling berjabat tangan dan sesaat saling peluk sebagai tanda keakraban.


Majeed mengandeng tangan Anna agar mendekat. Sebenarnya Anna gugup setengah mati, dan mengharap pertolongan dari Kiandra dengan menatapnya. Tapi, calon suaminya itu tak bisa berbuat apa-apa di tengah ruangan sunyi dan terasa sangat formal itu.


"Delana...!" Yang Maha Mulia Sultanah Tengku Anis Petra langsung bangkit dari duduk.


Anna tersentak melihat wanita yang selama ini hanya bisa ia temui dalam mimpi. "... Ma, Mama..." panggilnya terbata.


Tak peduli pada tata krama atau aturan kerjaaan, wanita dengan baju kurung warna senada dengan sang suami itu menghambur ke arah Anna dan memeluknya.


"Mama rindu sangat..." ucapnya sembari memeluk Anna erat-erat.


Dulu bagi Anna, air mata itu dingin dan membuat sesak. Tetapi kini, air matanya yang mengalir terasa hangat dan melegakan perasaaan.


"Mama... Mama..." Anna menyembunyikan wajahnya dalam dekapan si Ibu sambil menyebut namanya berkali-kali.