Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SELAMAT TINGGAL



"Chief, saya ijin untuk mengundurkan diri." ucap Aldo tiba-tiba.


Seketika Kiandra yang tadinya fokus ke pekerjaan melihat ke arahnya.


"Tapi saya janji, akan menyelesaikan semua tanggung sebelum..."


"Apa-apaan omonganmu itu?" potong Kiandra ketus. "Kau ingin merusak hari bahagiaku, hahh?!" mukanya langsung memerah jika emosi.


"Bu, bukan begitu Chief... Tapi, saya..." Aldo mencoba menjelaskan.


"Kau ingin naik gaji?" pungkas Kiandra dengan kening berkerut dalam.


"Tidak, Chief." ia geleng-geleng.


"Ganti mobil baru?" Mata Kiandra memicing.


"Itu apa lagi, Chief. Saya tidak suka ganti-ganti kalau sudah nyaman." Aldo meralat.


Astaga... kenapa jadi membicarakan gaji dan mobil..?


batinnya tak habis pikir.


.


"Lalu apa?" Kiandra yang sudah bisa menghilangkan keterkejutannya bersedekap sembari menatap ke arahnya.


Aldo menghela nafas panjang, lalu mengaitkan jemari tangannya di atas meja. "Saya ingin membantu orang tua saya di kampung, Chief." ia berujar.


Ekspresi Kiandra menyiratkan ketidakpercayaan.


"Bapak saya sudah tua dan sakit-sakitan, kedua kakak perempuan saya juga sebentar lagi akan menikah dan di bawa suami masing-masing untuk merantau. Orang tua saya... hanya punya saya Chief." Aldo memberitahu.


Raut Kiandra mengendur mendengar ucapan Personal Asistennya yang di sertai senyum tipis itu. Ia mengalihkan pandangan, serta mencoba memposisikan diri sebagai pria itu.


"Di kampung, orang tua saya mempunyai beberapa petak sawah dan ladang. Memang tidak terlalu luas Chief. Tapi, karena sawah dan ladang itu juga, saya bisa kuliah di kota dan menjadi seperti sekarang. Dan dengan kondisi saat ini, orang tua saya tidak bisa membayar orang untuk mengarap sawah dan ladang tersebut. Untuk mengerjakan sendiripun, kedua orang tua saya sudah tidak mampu." Aldo berhenti sesaat, kemudian menatap Kiandra yang masih terdiam memandanginya. "Saya... hanya meminta pengertian Anda, Chief." lanjutnya sembari merunduk.


Keadaan ruang kerja dengan pencahayaan maksimal dari tembok kaca yang berada di belakang Kiandra itu hening.


Kiandra tak menyangka akan di tinggal orang terbaiknya dalam keadaan seperti ini. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar, dan selama ini ia sudah menganggap Aldo lebih dari seorang Personal Asisten.


Meski kadang kala tindakannya membuat ia curiga. Tetapi, sampai detik ini Aldo tak pernah berbuat curang, jahat atau merugikan dirinya dan Perusahaan.


"A, Apa tidak bisa...kau tetap di sini dan kita bisa mempertimbangkan kenaikan tunjangan, supaya kau bisa membayar orang untuk mengarap sawah dan ladangmu itu?" Kiandra memberikan penawaran, meski itu jelas menyalahi aturan.


Aldo terkekeh. "Anda takut kehilangan saya, Chief?" guraunya untuk mencairkan suasana.


"Iya." jawabnya tegas.


Aldo tertegun.


"Kau sendiri tahu bagaimana awal-awal kita harus memikul beban dan tanggung jawab ini, padahal aku sendiri belum lulus dari kuliah pascasarjana." Pria dengan rahang tegas dan kedua matanya yang berwarna cokelat terang itu berkata.


Aldo tak mengatakan apapun. Tetapi, ia mengingat moment itu sebagai yang tersulit, karena semua butuh adaptasi dan itu tak mudah. Mengingat Kiandra yang masih begitu labil, serta dirinya yang belum memahami kinerja dan juga kemauan Chief nya itu.


Namun, semua bisa di lalui. Termasuk rong-rongan dari keluarga jauh Sanjaya yang merasa lebih berhak atas Sanjaya Company, dari pada Kiandra yang hanya berstatus sebagai adik ipar.


Dunia memang mengenal Kiandra Mahika sebagai CEO muda jenius yang sukses membangun Marthadinata Groub di era Covid sekalipun. Akan tetapi, dunia tidak mengenal Aldo Prayogi, sebagai Personal Asisten yang membantu, menopang dan membuatnya terus mampu berjalan hingga Perusahaan semakin besar seperti sekarang.


"Aku berharap kau keluar dari sini saat renta dan pikun. Hingga tak ada pilihan lain kecuali memang harus pensiun." tandas Kiandra lugas.


"...Chief.." ucap Aldo setelah tadi tak langsung menanggapi.


Kiandra memiringkan sedikit kepala sebagai tanda menyimak.


"Kita sama-sama tinggal terpisah dari orang tua." ia menatap Kiandra baik-baik. "Seharusnya tanpa saya jelaskan lebih detail, Anda sudah mengerti. Tentang apa yang di harapkan oleh para orang tua kepada anaknya yang tinggal jauh di perantauan selain hanya uang."


Mendengar penuturan Aldo yang di barengi senyum khasnya, membuat Kiandra tak lagi bisa mencegah.


"Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu." ia berkata tanpa bisa menyembunyikan rasa kecewa. "Sesuai aturan Perusahaan, kau akan mendapat gaji, tunjangan serta pesangon untuk semua dedikasimu selama ini."


"Terima kasih, Chief." ucap Aldo tulus.


Kiandra acuh, kemudian menutup map yang sudah selesai ia tanda tangani, lalu mengeser begitu saja ke arah Personal Asistennya. "Keluar sana!" perintahnya tanpa melihat lawan bicara.


Aldo tahu, jika Kiandra merasa terhianati dengan keputusannya yang mendadak. Namun, jalan ini harus di ambil. Ia tidak bisa terus-terusan di samping orang yang akan membangkitan kenangan buruk masa kecilnya. Tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa, jika harus menyakiti orang yang sudah di anggap sebagai kawan baiknya tersebut.


"Saya permisi, Chief." Aldo membungkukkan badan sesaat, lalu berbalik dan keluar dari ruangan.


Kiandra langsung memutar kursinya menghadap tembok kaca yang memperlihatkan pemandangan langit biru dengan matahari yang bersembunyi di balik awan-awan putihnya.


"Daddy salah karena menempatkan orang berbahaya itu di dekatmu. Tapi, tidak ada kata terlambat untuk menyingkirkannya."


Kiandra mengenang pembicaraanya dengan sang Ayah.


"Selama dia tidak berbuat hal yang merugikan Perusahaan atau membahayakan nyawaku. Aku tidak mau Daddy ikut campur." ia menegaskan.


"Kau ingin celaka dulu, baru menuruti Daddy mu?" wajah tua Ayahnya terlihat marah.


"Aku percaya padanya!"


Kiandra menghela nafas panjang, kemudian memijit kening dan memejamkan kedua mata.


Aktifitas berlanjut sebagaimana mestinya. Hingga sore menjelang dan para pekerja pulang, serta hanya menyisahkan Satpam-satpam yang berjaga sampai pagi dan berganti shif.


.


Setelah mampir di sebuah warung untuk makan malam, Aldo berniat untuk segera pulang. Ia sudah menekan pedal gas untuk menjalankan mobil yang menjadi salah satu fasilitas yang di dapat karena posisinya, ketika dari kejauhan ia melihat motor sport yang di kendarai seseorang.


matanya memicing untuk memastikan sosok pengendara yang memakai helm fullface tersebut.


.


Pantai di pagi hari memang menyenangkan dengan riuh dan sinar surya-nya. Tetapi, pantai di malam hari lebih menenagkan dengan hanya deburan ombak yang terdengar sampai sanubari.


Aldo dan Victoria duduk di pinggir pantai sambil memandang laut serta langit yang beradu dalam gelap.


Sudah setengah jam lebih mereka begitu. Hanya diam, tanpa ada yang berkata-kata.


Sesekali ombak yang cukup besar sampai di bebatuan yang mereka pijak, membuat kaki mereka basah oleh airnya. Namun, lagi-lagi mereka bergeming.


Angin pantai berhembus, membawa aroma asin dari laut ke daratan. Rambut panjang Victoria yang terkuncir tinggi berkibar-kibar menuruti kemauan angin yang ingin terbang bebas.


"Sekarang kau tak perlu khawatir lagi, Vic." ucap Aldo sembari memandangi wanita yang duduk di sampingnya itu. "Tschuss." lanjutnya.


Victoria tetap menatap jauh ke laut yang terbentang hadapannya. Hatinya gamang, ucapan selamat tinggal terasa menyakitkan, meski ia coba tak peduli.


Aldo mengambil sesuatu dari balik jas nya yang terkancing rapat. "Aku membeli ini saat mengetahui tentang masa laluku." ia menunjukkan senjata api jenis glock 22 yang di ambilnya dari rumah keluarga Ardiansyah Adam yang terbengkalai.


Melihatnya, kening Victoria sedikit berkerut. Tapi, ia tak berusaha menghindar atau merebut benda berbahaya itu.


"Aku selalu menyimpannya di balik jas." Aldo membuka jas miliknya, kemudian menunjukkan bagaimana ia menyembunyikan.


Raut Victoria kaku, sebab menyadari kelalaiannya selama ini.


"Mungkin kau pernah menyadarinya." pria itu berkata santai sembari meletakkan senjata api itu di tengah-tengah mereka duduk. "Dulu saat aku dan Chief berjalan-jalan di Mall, aku hampir tak bisa mengendalikan diri dan nyaris menembaknya." ia menoleh ke arah wanita yang kini menatap bagai singa yang siap menerkam. "Tapi tidak jadi, karena aku teringat padamu." lanjutnya.


Raut Victoria seketika mengendur.


"Aku memikirkan, bagaimana jika aku membunuhnya? Pasti kau juga akan di hukum. Lalu setelah itu aku menyesal, bisa-bisanya ingin membunuh Chief yang sangat aku hormati..." ia tertunduk sedih.


Deburan ombak kembali memecah sunyi malam. Hawa pantai semakin dingin dengan anginnya yang kencang dan mengerak-gerakkan pepohonan di sekitar.


Mungkin bagi yang penakut, keadaan pantai di malam hari seperti saat ini terasa mencekam. Akan tetapi, bagi Aldo yang tiba-tiba di peluk Victoria, malam ini terasa sangat mendebarkan.


"Ich mag dich sehr.." bisik wanita itu.


Aldo mematung dengan kedua mata membulat.


Apa...? Apa dia bilang...?


pikirnya masih menyangka ini khayalan.


"Tolong jangan pergi. Aku... aku sungguh menyukaimu." Victoria mengulang.


Kali ini Aldo langsung melepas pelukan wanita itu dan mentapnya baik-baik.


"Kau bilang apa tadi?" ujarnya sembari menguncang bahu Victoria.


Namun, wanita yang berprofesi sebagai bodyguard itu terlihat malu dan enggan untuk mengatakannya lagi.


Aldo menghela nafas muram. "Padahal sebelum pergi, aku cuma ingin tahu bagaimana perasaanmu..."


Victoria langsung kalut. "Ja, jangan pergi. Maksud saya... saya ingin kita bersama." ia menjelaskan dengan bahasa Indonesia yang terbata.


Awalnya pria dengan rambutnya yang sudah acak-acakan tertiup angin itu melihat dengan ujung mata, kemudian memandang sepenuhnya wanita kelahiran Jerman itu. "Ayo katakan." perintahnya sembari mengangkat satu alis.


Andai itu bukan malam hari, tentu kedua pipi Victoria yang memerah akan terlihat lucu.


"...Aku... cinta kamu." ucapnya seraya tertunduk.


"Hoorreee...!!" seketika Aldo melompat bak anak kecil.


Victoria kaget melihat reaksi pria tiga puluh tahunan itu.


"Kau jadi istriku ya, Vic?" Aldo meraih kedua tangan Victoria dan mengajaknya melonjak-lonjak seperti orang menang lotre.


Victoria yang mengira pria itu sedang bersedih, heran dengan perubahaan suasana hatinya yang begitu cepat. Tapi jujur, dia juga ikut bahagia.


Sampai akhirnya malam semakin larut dan mereka memutuskan untuk pulang.


.


"Apa?" Victoria yang sudah di atas motorĀ  sport nya yang menyala terkejut sampai membuka kaca helm.


"Iya, aku memang mengajukan pengunduran diri hari ini. Tapi, sesuai prosedur Perusahaan, aku baru resmi berhenti satu bulan lagi." Aldo yang berdiri di depan mobilnya menjelaskan.


"Ja, jadi...?" Victoria tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Jadi besok aku masih berangkat bekerja seperti biasa." pria itu tersenyum lebar.


Victoria tercengang.


Aldo tertawa seraya membuka pintu mobil. "Besok di kantor kita harus gandengan tangan, ya?" ia mengedipkan satu mata sebelum masuk ke dalam mobil.


Victoria yang mengira ini hari terakhir mereka bertemu masih syok, karena tadi sudah terlanjur memeluk dan mengucap kata cinta.


Sepertinya aku memang terlalu meremehkannya.


ia berkata dalam hati.


Bulan di atas sana ikut tersenyum melihat adegan itu.