Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PESANAN-PAMIT



"Chief, kemarin Tuan Ethan telpon ke ponsel saya. Nanti malam anda harus datang ke Club." Aldo memberi tahu begitu Kiandra duduk.


"Ke Club?" Kiandra yang baru saja mengikuti rapat dan isi kepalanya masih di penuhi berbagai permasalahan kantor sedikit loading.


"Ulang tahun, kata beliau." Aldo melanjutkan.


Astaga...aku hampir lupa ulang tahun si kampret.


Kiandra langsung memijit dahinya yang berdenyut.


"Tuan Ethan juga mengatakan, supaya anda tidak perlu membeli ponsel baru."


"Apa?" Kiandra terkejut.


"Tidak usah membeli ponsel baru." Aldo mengulang.


"Bukan itu!" bantah Kiandra. "kau pikir aku tuli apa?" ia malah jadi kesal.


"Ma, maaf Chief. Saya pikir anda...."


"Dari mana dia tahu aku akan beli ponsel baru?" potong Kiandra tanpa menghiraukan permintaan maaf Aldo.


"Saya juga tidak tahu Chief." Aldo yang tak mau di curigai langsung pasang tampang polos.


Kiandra mendengus dengan kedua alis hampir menyatu. Ia lirik personal asistennya yang terlihat was-was.


Tidak mungkin Aldo bohong. Tapi, tahu dari mana si setan itu klo ponselku hilang dan ingin beli baru?


tanya-nya dalam hati.


.


Sementara itu di Club James Bond, Anna dan Nisa sedang bekerja sama menata meja-meja menjadi bentuk memanjang dan membuatnya dalam beberapa baris.


Setelah huru-hara Ethan datang bersama Alexa, pria itu memang kembali menelpon pada malam harinya. Dia memesan table decor untuk acara ulang tahun sabahatnya yang di laksanakan di sebuah Club malam.


Saat pertama kali datang, Anna sudah tak enak. Sebab club ini adalah club yang pernah di datanginya ketika tengah depresi mengingat masa lalu.


Bahkan dulu Anna ke Club ini dengan memakai piyama tidur, dan ketika itu jugalah ia pertama kali bertemu Kiandra.


Seharusnya aku tak menerima pesanan ini.


Anna yang sedang menata mawar merah di atas meja yang di lapisi kain hitam terlihat menyesal.


Tapi mau bagimana lagi, Tante butuh uang untuk membayar sewa ruko dan lain-lain.


Anna menoleh ke arah Nisa yang tengah sibuk membuat buket-buket kecil dari mawar merah dan daun cemara.


"Bagaimana rasanya dekat dengan orang seperti temanku?"


Mendadak Anna teringat pertanyaan sarkas Ethan setelah pria itu melakukan pemesana.


Teman yang di maksud pastilah Kiandra dan itu membuat Anna makin terpuruk. Ia tak bisa menjawab dan untungnya pembicaraan mereka lewat telpon, jadi Ethan tak bisa melihat ekspresinya ketika itu.


Anna letakkan lilin-lilin imitasi yang mirip dengan aslinya di dekat mawar merah yang di rangkai Nisa, membuat tampilan meja itu nampak elegan dengan kombinasi warna hitam dan merahnya.


Anna melihat sekeliling ruangan. Lantai dansa, meja bartender dan sofa-sofa yang terletak di sudut, semuanya lengang tanpa ada orang. Hanya beberapa OB yang sesekali lewat dengan membawa sapu atau pel.


Jam memang masih menunjukkan pukul empat sore dan Club tersebut buka jam tujuh malam. Jadi wajar tempat itu sepi dan lampu disko belum di nyalakan.


"Kau menyukai Kian?"


Pertanyaan Alexa membuat Anna tertunduk.


Setengah melamun ia letakan rangkaian mawar merah dan daun cemara di bagian tengah meja, kemudian di susul lilin-lilin kecil imitasi, yang bisa menyala dengan batrai di dalamnya. Begitu ia mengurutkan sampai membentuk rangkaian memanjang memenuhi tengah meja.


Andai Alexa tahu, bahwa hati Anna sudah membeku dan sulit untuk di cairkan, sekalipun Kiandra membawakan berbagai macam hal yang di gemari wanita.


"Jangan pura-pura. Aku tak suka dengan wanita munafik!"


Lagi-lagi omongan Alexa menyakiti hati Anna.


Tidak apa-apa. Yang penting semua pemberiannya sudah aku kembalikan.


ucap Anna dalam hati, kemudian menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya.


Tak sampai jam lima sore, mereka telah menyelesaikan semua pekerjaan dan langsung pamit dari club dengan tulisan James Bond warna-warni di depan-nya.


"Ada apa, Anna?" tanya Nisa ketika mereka sampai di parkiran.


Nisa sudah naik ke motor dan memakai helm. Tapi Anna masih mematung.


"Anna?" panggil Nisa.


"Tante..." perlahan Anna mendekat. Ia pandangi baik-baik wanita 40 tahun yang sudah bersedia menampung dan memberinya pekerjaan itu.


Angin sore yang segar mengibas-ngibaskan rambut panjang Anna yang terkuncir, membuat anak-anak rambutnya berhamburan dan menutupi sebagian pipi dan kening.


"Saya...ingin mengundurkan diri." ucap Anna pelan.


Mata Nisa membulat.


Anna tertunduk. Ia genggam helm hitam yang belum di pakainya kuat-kuat untuk meredam gejolak hati.


"Kenapa mendadak sekali?" Nisa tak mengerti.


"Iya...saya..memutuskan untuk pulang ke kampung halaman." Anna berbohong.


"Kau yakin?" Nisa kurang yakin.


Anna tak menjawab dan malah makin menundukkan pandangan.


Nisa masih sangat ingat, malam di mana gadis itu datang dalam keadaan basah kuyup dan menangis meminta sesuap nasi untuk dia makan.


Gadis muda yang awalnya ia kira penipu, sebab wajah-nya sama sekali tak menunjukkan dari kalangan bawah. Tapi, melihat caranya makan yang terlihat rakus dan terburu-buru, Nisa langsung menaruh iba.


Ia menerima Anna bekerja, bukan karena gadis itu memohon sampai berlutut. Tetapi, karena gadis itu sama seperti dirinya, sebatang kara.


"Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusanmu." karena Anna tak kunjung menjawab, Nisa yang berusaha maklum.


"Terima kasih, Tante.." wajah pucat Anna yang tertutup anak-anak rambut yang berantakan terlihat tersenyum tipis.


Sungguh, jika bukan karena wanita baik ini, tentu dia akan menjadi gelandangan. Atau lebih parah lagi, ia akan menjadi korban kejahatan seksual di jalanan ibu kota yang kejam.


Anna akan selalu mengingat nama dan wajah Nisa, sambil berharap, suatu saat nanti bisa membalas semua kebaikan wanita itu.


"Ayo pulang, kita bicarakan lagi setelah sampai di rumah." Nisa memberi kode agar Anna segera naik ke motor.


"Iya." Anna memakai helmnya, lalu naik membonceng Nisa di belakang.


Tak lama motor matic itu telah melaju kencang di antara kendaraaan lain.


Anna menegadah ke atas, langit perlahan berubah warna menjadi jingga, kemudian gelap seiring dengan tenggelamnya sang surya.


Mata Anna berkaca-kaca, hatinya di penuhi nestapa dan kadang pundaknya tak kuat menaggung beban tadir yang sudah Yang Kuasa gariskan.


.


Jam di dinding toko menunjukkan  pukul 9 malam dan mereka baru saja menutup gerai, ketika dering telpon berbunyi.


"Biar Tante saja." cegah Nisa, ketika Anna yang sedang mengunci pintu toko ingin mengangkat telpon yang letaknya di meja kasir.


Anna menurut dan melanjutkan dengan menutup kordeng jendela.


"Selamat malam, dengan Nisa Floris."


Anna mendengar Nisa mengucap salam.


"Apa?!"


Suara Nisa yang keras, membuat Anna menoleh ke arahnya.


"Benarkah...? semua?"


Anna bisa melihat ekspresi panik Nisa saat melihat jam dinding.


"Baik, baik. Saya akan segera ke sana untuk mengganti semuanya." Nisa mengakhiri sambungan telpon.


"Ada apa Tante?" tanya Anna sembari berjalan mendekat.


"Anna, kau sudah mengganti semua batrai lilin kan?" tak menjawab, Nisa justru memberi pertanyaan lain.


"Sudah. Saya sudah mengganti semua dengan yang baru." Anna bingung.


"Tapi, kenapa..." Nisa tak melanjutkan kalimatnya.


"Ada apa Tante?"tanya Anna tak mengerti.


"Mereka bilang, lilin-lilin-nya mati dan kita di minta ke sana untuk menggantinya."


Anna kaget mendengarnya.


"Ini sudah malam dan tempat itu jauh. Apa lagi itu club yang..." Nisa tak habis pikir, kenapa lilin-lilin imitasi yang baru di ganti batrainya bisa tak menyala.


Anna mengigit bibir bawah melihat kekalutan wanita penolongnya.


"Anna, ambil stok lilin yang ada di gudang. Setelah itu kau tidur lah duluan." Nisa memberi perintah, lalu melepas apron bertulis Nisa Floris.