
"Tuan muda?" tiba-tiba suara lain terdengar dan mengagetkan keduanya.
Wajah Kiandra langsung masam, begitu tahu siapa yang datang.
"Tuan muda di sini? kenapa tidak bilang-bilang? kami bisa menyiapkan..."
"Memang kau siapa, sampai aku harus laporan?" potong Kiandra ketus. Ia kesal moment pentingnya di ganggu.
"Maaf, Tuan muda. Maksud saya bukan begitu." Pria yang bertugas menjaga keamanan Vila keluarga Marthadinata itu menundukkan kepala.
Kening Kiandra berkerut,
Jangan-jangan dia melihat tingkah konyol ku tadi?
batinnya berprasangka.
"Saya akan memberi tahu pelayan untuk menyiapkan kamar dan keperluan lainnya."
Anna yang sedari tadi cuma diam sambil memeluk boneka pemberian Kiandra kaget.
Kamar...?
Matanya melebar melihat Vila mewah yang berada di ujung jalan sana, membuat hatinya kembali resah dan jantungnya berdebar cemas.
"Tidak usah. Aku sudah mau pulang." ucap Kiandra, seraya mengandeng tangan Anna masuk ke dalam mobil.
Wanita itu sudah seperti kerbau di cucuk hidung, karena tak menyangka Kiandra akan langsung membawanya pergi.
Si penjaga yang berseragam biru dongker itu tak mengatakan apapun, dan hanya merunduk hormat, saat Tuan muda-nya itu mulai menjalankan mobil Mercedes Benz GLA-Class AMG 35 4Matic warna Cosmos Black Metallic-nya.
.
Jam di dalam mobil sudah menunjukkan pukul sebelas malam, ketika mobil sedan mewah itu sampai di jalan raya yang benderang dengan lampu kota.
Selama perjalanan menuruni kawasan puncak hingga kini tak ada yang bicara. Anna yang sudah mengantuk menguap dan matanya hampir terpejam, sebab nyaman dengan teddy bear berukuran jumbo yang di jadikan bantalan.
Namun, raut serius Kiandra yang sedang menyetir membuatnya mati-matian menahan kantuk. Bagaimana pun, ia belum tenang, jika belum sampai rumah dan berada di kamarnya sendiri.
"Lalu...bagaimana soal aku yang memintamu tetap bersamaku?"
Pertanyaan Kiandra yang belum sempat di jawab terlintas.
Anna mempererat pelukannya pada si beruang, sedang pandangannya mengawang jauh menembus kaca mobil yang gelap.
"Aku tidak tahu suka dalam hal apa. Tapi yang jelas, aku tertarik padamu. Aku selalu ingin kita dekat. Aku senang bersamamu. Saat kau pergi dan aku tak tahu kau dimana, aku gelisah serta terus memikirkanmu."
Ucapan Kiandra membuat semu merah di pipi wanita itu. Walau belum punya perasaan istimewa. Tapi, siapa yang tidak salah tingkah menerima pernyataan cinta dari pria seperti Kiandra.
Jangan besar kepala. Kau bukan lagi Tengku Delana Princess of Kelantan. Kau hanya kaum miskin yang tempat tinggalpun tak punya.
batin Anna memperingatkan.
Rasanya selalu pahit, jika mengingat segala yang ia tinggalkan hanya untuk mengejar Rico, pria b3jad yang telah merebut semua yang ia punya.
Namun, dengan semua kekacauan yang telah di perbuat. Untuk terus tinggal di tanah airnya pun ia sudah tak punya muka.
Posisi serba sulit inilah yang membuat Anna bingung mengambil keputusan. Hingga akhirnya berputus asa dan menghukum diri dengan menjadi gembel di Negara tetangga ini.
Meski begitu, Anna patut bersyukur. Dalam masa pelarian dan keinginan mengakhiri hidup, ia selalu di pertemukan dengan orang-orang yang tulus.
Nisa yang menampung serta memberinya pekerjaan, hingga ia tak perlu kelaparan lagi di jalan. Lalu, ketika Rico mengetahui keberadaannya dan hendak mencelakai dirinya, ada ibu Kiandra yang seperti malaikat tak bersayap.
Ibu, maaf aku sudah berbohong dan membuat ibu merasa bersalah. Tapi, suatu saat aku akan jujur dan pergi tanpa menyusahkan ibu serta keluarga.
Anna sedih, ketika mengenang kebaikan ibu Kiandra yang seperti orang tua sendiri.
Ia mengangkat kepalanya yang tadi bersandar pada teddy bear, lalu menoleh ke arah Kiandra yang sedang menyetir.
"Aku jarang ke Vila, jadi tak tahu udara malam nya bisa sedingin itu. Mungkin karena mendekati musim penghujan." kata pria dengan kemeja berwarna maroon itu.
Anna cuma menyimak, tak tahu harus menanggapi bagaimana.
"Kau masih kedinginan?" tanya pria itu lagi, sembari melihat ke arahnya sesaat.
"Ti, tidak." Anna mengeleng.
Kiandra menghentikan mobilnya di sebuah perempatan, ketika lampu traffic light berubah merah. Beberapa kendaraan lain tetap melaju dengan melanggar lalu lintas, karena jalanan memang sudah lengang di tengah malam seperti ini.
Kondisi di dalam mobil yang remang dan sunyi, di tambah sekitar yang sepi, membuat Anna sedikit gugup.
Ragu-ragu ia melirik ke arah Kiandra, karena pria itu tak lagi bicara. Tetapi, kemudian dia yang di buat terkejut, karena ternyata sedari tadi Kiandra sudah memandangi dirinya.
Anna panik, lalu membuang muka dan pura-pura melihat ke luar jendela. Bunyi dug, dug, dug pada jantungnya, membuat ia lebih erat memeluk si teddy bear.
"Kau suka boneka itu?" tanya Kiandra datar.
"Eh?" Anna balik menatap Kiandra, kemudian tertunduk, karena kedua alis pria itu berkerut. "I, iya...saya suka..." suaranya hampir tak terdengar.
"Berarti kau akan tetap bersamaku, kan?" celetuk-nya kemudian.
"Apa...?" kedua mata Anna melebar.
Lampu traffic light sudah berubah hijau dan kendaraan di belakang Kiandra sudah melaju mendahului. Tetapi, pria itu masih belum mengubah posisi tuas mobilnya dari P ke D.
"Kan aku sudah bilang suka. Dan ingin kau tetap bersamaku." tandas Kiandra serius.
Mulut Anna membuka lebar. Tetapi, tak ada suara apapun yang keluar.
"Pokoknya seperti itu." ia mengeser tuas mobil, lalu menginjak pedal gas. "Awas saja kalau berani pergi-pergi lagi." lanjut pria berekpresi galak tersebut, bersamaan dengan sedan hitamnya yang melaju membelah gelapnya malam.
.
.
Di waktu yang sama, di sebuah Club ekslusif yang hanya bisa di datangi para petinggi dan crazy rich. Di tengah pria-pria yang sedang menikmati tarian
pole dance yang di bawakan dengan begitu sensual oleh dua wanita berkebangsaan Eropa. Duduk pula Rico, di salah satu meja VIP, sambil sesekali meminum Maccalan 18 yo Whisky-nya.
"Saya tidak menyangka, anda menyukai yang seperti itu." Pria di depannya berkata, sembari tersenyum melihat dua pole dancer yang seperti tak berpakaian.
Rico menaruh gelas whisky nya yang tinggal separuh, lalu menipiskan bibir kepada rekan satu mejanya.
"Apa anda tidak menyukai yang seperti itu?" ia balas bertanya, seraya melirik ke arah dua penari seksi tersebut.
Pria berkemeja putih itu terkekeh. "Tentu saja saya suka." lanjutnya jujur.
"Berarti memang ini hal yang wajar bukan?" Rico berkata. "Lihat, seluruh ruangan penuh dengan pria-pria yang sebagaian besar sudah berkeluarga. Tapi, mereka meninggalkan istri-istri mereka dan malah membayar mahal untuk sekedar cuci mata ini."
Pria di depannya tersenyum.
"Artinya, semakin mereka punya uang lebih. Maka yang di inginkan akan lebih pula, dari cuma sekedar istri yang baik." sorot mata Rico tajam menatap lawan bicara.
"Sayang sekali, dalam hal ini kita berbeda pendapat." pria berkemeja putih itu berkata. "Saya menyukai wanita cantik. Yah...seperti para pole dancer itu. Tetapi... jika sudah berkomitmen menikah, maka saya hanya akan setia pada istri saya."
Rico terbahak.
"Seperti yang saya dengar, anda sangat idealis, pak Aldo." ucap Rico setelah berhenti tertawa.
Aldo membalas dengan tawa yang sama, lalu meraih gelas Maccalan 18 yo Malt Scotch Whisky nya dan meminum sampai habis.