Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
RELASI DAN PASANGAN



Kiandra mendengus sembari menjatuhkan diri di kursi. Teman-temannya yang sudah lebih dulu duduk di tempat itu saling pandang, lalu terkekeh melihatnya.


"Rasanya pasti hot sekali di kerubuti wanita-wanita cantik seperti itu." celetuk Ethan.


Kiandra melirik sesaat ke arahnya tanpa mengatakan apapun.


"Kenapa malah ke sini, bukannya ke sana?" Roy menunjuk Anna yang duduk sendirian di sudut ruang.


Lagi-lagi Kiandra tak menanggapi.


"Ini anniversarry orang tuamu. Tapi, kenapa wajahmu seperti itu, hah?" guyon Ethan sambil menyendokkan es krim ke mulut.


"Wajahnya memang seperti itu, kan?" Roy terkekeh, lalu toss dengan Ethan yang duduk di sampingnya.


"Aku sedang malas bercanda." ucap Kiandra singkat.


"Siapa yang sedang bercanda?" tiba-tiba Alexa datang dan langsung bergabung bersama mereka.


"Dimana suamimu?" tanya Ethan ingin tahu.


"Tuh!" tunjuk Alexa. "Ketemu dengan teman lamanya, ngobrol nggak ada jeda, aku di cuekin." wanita dengan ciri khas lipstik merah itu cemberut.


"Semua laki-laki memang seperti itu." Ethan ikut kesal.


"Memang kau tulang lunak?" Roy tak paham.


Ethan langsung memukul pundaknya, membuat pria dengan setelan jas warna ungu tuanya itu terbatuk-batuk karena tersedak minuman.


Sebagai salah satu pengusaha sukses di kota itu, suami Alexa memang turut hadir. Tapi sayang, pria yang lebih tua sepuluh tahun itu tak terlalu dekat dengan kawan-kawan istrinya, serta lebih memilih mengobrol serius dengan lingkup pertemannya sendiri.


"Sepertinya suamimu mencoba mencari peluang di tengah perkumpulan para pebisnis yang hadir." Ethan mengamati.


"Itu hal yang wajar, kan?" Alexa menanggapi sambil memperbaiki riasannya. "Aku yakin, semua yang datang juga tidak akan menyia-nyiakan kesempatan langka berada di satu tempat dengan para konglomerat di kota ini." ia tersenyum kepada Kiandra.


Namun, pria itu tak begitu memperhatikan apa yang sedang teman-temannya bicarakan.


"Lalu... kenapa sobat kita ini tetap santai-santai di sini? dan bukannya ikut membaur mencari koneksi?" Ethan melirik Roy.


Pria yang sedang asik merokok sembari menikmati musik akustik itu tersenyum. "Sorry, aku tidak pandai menjilat seperti mereka." ucapnya santai.


Ethan terbahak mendengarnya. Bahkan Alexa yang harusnya tersindir, malah ikut geli.


"Kau benar!" wanita itu berseru. "Kau memang tidak pandai menjilat, karena kau suka di jilat, hahahahah...." ia tertawa kencang, di susul Ethan dan Roy yang sampai memegangi perut mereka yang kram.


Hadirnya teman dan kerabat memang menambah kehangatan pesta, yang semakin malam, malah semakin meriah dengan hidangan daging panggang dan beer nol persen alcohol. Tentu saja, karena Ibu Kiandra tak menghendaki adanya pemabuk di pesta yang sudah ia rancang sedemikian rupa.


"Kenapa Kian malah duduk bersama teman-temannya?" tanya wanita itu dengan dahi yang makin banyak kerutan.


"Memang kenapa?" Ayah Kiandra yang duduk di samping istrinya bingung.


Ia menoleh ke arah si suami. "Harusnya Kian melamar Delana malam ini." tandasnya pelan.


Pria bermata sipit dengan rambut putihnya itu terkejut. "Apa Kian ada rencana seperti itu?" ia bertanya.


Istrinya mendengus. "Tidak." jawabnya sedikit kesal.


"Lalu?" suaminya tak mengerti.


"Aku yang berharap begitu." Ibu Kiandra tertunduk muram.


Pria itu mengulum senyum melihat ekspresi wanita pemilik hatinya tersebut. Tidak saat muda ataupun sudah menua seperti ini, wanita itu selalu saja bisa merubah raut wajahnya begitu cepat. Membuat ia geli dan semakin cinta saja.


"Mungkin Kian belum siap menikah." ia mencoba memahami.


Seketika si istri menoleh ke arahnya. "Mau menunggu sampai kapan lagi? Kian itu sudah hampir 35 tahun. Nanti tiba-tiba saja, dia sudah 40 tahun. Lalu anak-anaknya bagaimana? Masa anaknya baru masuk TK, dia sudah hampir 50 tahun?"


Suaminya manggut-manggut. Seolah mengerti, padahal hanya senang melihat istrinya mengomel.


Kalau masih bisa cerewet, artinya masih sehat.


batin pria itu puas.


.


Aldo melihat dari kejauhan Ayah dan Ibu Kiandra yang terlihat romantis tersebut. Kemudian pandangannya berganti ke Kiandra sendiri, yang sedang duduk bersama teman-temannya, lalu pandangannya kembali teralihkan pada Dave yang sedang berduaan bersama sang istri.


Aldo yang berdiri sendiri di keramaian nampak ragu. Tetapi, ia memantapkan diri untuk melangkah mendekat.


Namun, baru beberapa langkah ia berjalan, Victoria yang mengenakan dress warna hitam dan rambut panjangnya yang di sanggul menghadang.


"... Kenapa, Vic?" Aldo yang pertama buka mulut.


"Saya yang seharusnya bertanya, kenapa?" wanita itu membalas.


Aldo menipiskan bibir. Dalam keremangan tempat pesta yang di sinari lampu-lampu warna kuning, mereka masih bisa melihat dengan jelas ekspresi masing-masing.


"Aku hanya ingin menyapa Tuan Dave dan Nyonya Kirana." Aldo menjawab jujur.


Wajah Victoria langsung kaku. "Jangan macam-macam di sini." ia memperingatkan. "Di sini banyak bodyguard bersenjata yang menyamar menjadi tamu." lanjutnya.


Pria itu terdiam.


"Pergilah, sebelum Tuan Andreas menyadari kehadiranmu." Victoria memerintah.


"DDOORRR!!!"


Sekonyong-konyongnya Kama dan Kalila mengagetkan keduanya. Kemudian meringis sambil melihat dua orang yang sedang dalam suasana tegang itu bergantian.


"Sepertinya kalian ada something." Kama berspekulasi dengan gaya jahilnya.


Aldo dan Victoria saling pandang.


"Tidak!" sergah Kalila seraya mengandeng lengan Aldo yang masih bergeming. "Om Aldo buatku!" ujarnya. "Kalau kakak itu kan sama Om Kiki." ia menunjuk Victoria yang masih saja tegang.


"Heh! Om Kiki itu sama Tante Delana." Kama meralat.


"Om Kiki dua, biar kanan-kiri oke." Kalila mengusulkan.


Kedua bocah tengil itu berbicara sendiri di tengah-tengah Aldo dan Victoria yang tengah berkecambuk dengan pikiran masing-masing.


"Kama, Kalila, kalian menganggu tamu lagi?" tegur Kirana yang sudah berada di dekat mereka.


Aldo dan Victoria seketika menoleh ke sumber suara.


"Maaf kan mereka. Mereka memang suka usil." Kirana tak enak hati.


"Siapa yang usil?" kompak keduanya tak terima.


"Kalila, lepaskan tanganmu dari Om itu." perintah si ibu dengan kedua alis yang sudah naik.


Kalila cemberut. Tapi, di turutinya juga perintah tersebut.


"Anda ini... rasanya kita pernah bertemu, kan?" Kirana melihat ke arah Aldo sembari mengingat-ingat.


Pria itu tersenyum. "Iya, saya..."


"Dia Personal Asisten Kiandra. Beberapa kali kita pernah bertemu." Dave yang baru datang menimpali.


Aldo tertegun melihat kehadiran kakak ipar Kiandra itu.


"Maaf kan anak-anak kami." ia melanjutkan.


"Sudah di bilang, kami tidak nakal." Kama protes.


"Kenapa Papa dan Mama minta maaf?" sambung Kalila sewot.


"Eh, iya... Emm.. benar. Mereka tidak nakal." Aldo akhirnya bisa menguasai keadaan.


"Saya permisi." tahu sudah bukan ranahnya, Victoria lekas pamit.


"Kenapa buru-buru?" Kirana heran. Tetapi, Victoria sudah menghilang di antara tamu-tamu lainnya.


"Dia bodyguard Kian. Tentu saja harus mendampingi Kian." suaminya memberi tahu.


"Oh.. yang di minta Daddy untuk merayu Kian?" Kirana terkesima. "Secantik itu, tapi adikku tak tertarik?" ia tak percaya.


Saat kedua orang tuanya sedang membahas Victoria, kedua anak kembarnya sudah berlari mencari hiburan lain.


Dan kini, tinggal Aldo sendiri dan pasangan suami-istri tersebut.


"Anda berdua terlihat sangat bahagia ya?" ia berkata.


Dave serta Kirana melihat ke arahnya.


"Tidak, maksud saya... pasangan di keluarga ini sangat bahagia dan harmonis semua." ia tersenyum.