
Sementara itu di dalam ruang kerja Kiandra. Aldo dan Victoria nampak serius membicarakan sesuatu.
"Di club milik teman Chief?" mata Aldo membelalak.
Victoria mengangguk.
Kelihatannya perempuan baik-baik. Tapi kenapa ke Club?
tanya-nya dalam hati.
Aldo berdiri sesaat untuk mengambil ponsel dari saku celana, kemudian mengeser-geser layar-nya.
Gerakan tangan Aldo terhenti pada foto Anna yang di kirim oleh resepsionis tadi siang.
"Kau yakin dia yang datang ke Club?" ia memperlihatkan foto tersebut untuk memastikan.
Victoria mengangguk. "Waktu itu dia terlihat sangat mencolok karena memakai piyama, jadi tak mungkin aku salah."
"Piyama? ke Club malam?" Aldo hampir terkekeh, kalau saja tak ingat gentingnya masalah yang kini akan dia hadapi.
Aku sudah janji pada Tuan Andreas untuk mengawasi dan selalu mengingatkan Chief jika salah langkah. Tapi, ternyata aku terlalu fokus pada pekerjaan, hingga lupa tentang hal yang lain."
Pandangan Aldo mengawang menatap paperbag berisi make up yang kini berada di hadapannya.
Chief sampai membelikan peralatan make up semahal ini hanya untuk perempuan itu.
Aldo menyatukan kedua tangan dan menumpukkan sikunya pada kedua paha, lalu menghela nafas panjang.
Sejak kapan Chief mengenalnya? kenapa aku sama sekali tak tahu? apa dia alasan Chief akhir-akhir sering melamun dan marah-marah tak jelas?
Aldo gusar dan mengaruk rambutnya beberapa kali. Kebiasaan bak anak kecil, jika ia tengah pusing di landa masalah yang jalan keluarnya sulit ia temukan.
Bagaimana jika perempuan itu memang datang untuk menjebak Chief, lalu mengeruk keuntungan dari beliau? atau lebih buruknya, dia mata-mata perusahaan lain yang di kirim untuk meruntuhkan dinasty bisnis Marthadinata?
Aldo kaget oleh pemikirannya sendiri.
"Ini bukan salahmu." ucapan Victoria membuat ia menoleh ke arah perempuan berbaju serba hitam tersebut.
"Urusan di luar kantor, seharusnya aku yang menanggani. Tapi, aku tak kuasa bertindak, kalau Chief sudah main ancam." Meski menggunakan bahasa Indonesia. Namun aksen Jermanik Victoria masih terdengar sangat kental, membuat cara bicaranya seperti di seret.
"Bagaimana denganmu?" ragu Aldo balik bertanya.
Mata Victoria melebar, kemudian perlahan memalingkan muka.
"Kehadiran wanita itu bisa menganggu misi kita bukan?" tak biasanya raut Aldo begitu serius.
Victoria tak langsung menjawab, membuat keheningan merayapi kedua-nya yang kini tengah duduk berdekatan di sebuah sofa yang terletak di sudut ruang.
"Kita sudah pernah membahasnya ketika mengantar Chief membeli bunga." Akhirnya Victoria menyahut setelah terdiam cukup lama.
"Membahas saja, tanpa menyelesaian." Aldo meralat.
Mereka saling tatap.
"Kalau berhasil...reward fantastis menunggu kita." Aldo tersenyum tipis.
Sekali lagi mereka saling tatap. Ada sesuatu yang intens di antara mereka, yang membuat dua orang berbeda bangsa dan kewarganegaraan itu terasa dekat. Namun, di satu sisi juga terasa jauh.
"Ich habe mich in dich verliebt." ucap Victoria dalam bahasa jerman.
"Ya Tuhaaann..." Aldo megerang, lalu mengacak rambutnya sendiri."Keadaan sudah seperti ini. Tapi bisa-bisanya dia tetap mengerjaiku?"
Victoria mengulum senyum, melihat rambut Aldo yang biasa klimis kini berantakan.
"Apa tadi artinya?" tanya pria berkemeja tanpa jas itu penasaran.
"Bukankah kau bilang sudah belajar bahasa Jerman?" Victoria bangkit dari duduk.
"Kau pikir aku B.J Habibie yang langsung bisa?" Aldo ikut berdiri.
Victoria pasang muka dingin dan pura-pura tak mendengar.
Aldo ikuti kemana wanita yang berprofesi sebagai bodyguard itu melangkah.
"Kau tahu tulang lenganku sampai harus di pijat karena pukulan mu waktu itu?"
Victoria tak acuh.
Victoria sempat melihat ke arahnya. Tapi hanya sesaat, sebelum ia membuka pintu dan keluar ruangan.
"Hei, Vic!" Aldo tak bisa mengikuti, sebab dia di amanatkan Kiandra untuk menyelesaikan sisa pekerjaan.
Victoria masa bodoh dan malah sibuk dengan jam tangangan-nya yang menunjukkan keberadaan lokasi Kiandra.
Kening Aldo berkerut menatap punggung Victoria yang menelusuri lorong, kemudian berbelok dan menghilang.
Aldo yang masih berdiri di ambang pintu berdecak, lalu mengacak rambutnya kembali dengan raut sebal.
"Lembur lagi sepertinya aku." Ia menghela nafas panjang, kemudian masuk kembali ke dalam ruangan.
.
Hujan turun begitu lebat, ketika mobil BMW Z4 warna San Fransisco Red yang di tumpangi Kiandra dan Anna sampai di depan toko bunga milik Nisa.
Anna gelisah memandang kearah kaca mobil yang buram karena derasnya air hujan.
Dia terpaksa menerima ajakan Kiandra, semata agar pria itu melupakan apa yang telah ia katakan tadi.
Lebih baik dia menganggapku matre, dari pada masa lalu ku di ketahuinya.
batinnya sedih.
"Kau tinggal di sini?" tanya Kiandra, membuat gadis itu mengalihkan pandangan dari hujan.
Anna hanya mengangguk. Lalu mulai bersiap hendak turun.
"Tunggu sebentar lagi sampai hujan sedikit reda, di sini tidak ada payung." Kiandra menperingati.
"Tidak apa-apa."
Suara petir mengelegar, membuat ruangan dalam mobil yang gelap sesaat menjadi terang benderang.
Anna bisa menangkap sosok Kiandra yang tengah meyilangkan kedua tangan pada stir mobil dan melihat kearah-nya.
Anna langsung menunduk, begitu mata mereka bertemu.
"Kau akan datang ke Club bersama Ethan?" tanya Kiandra lagi.
Anna mengeleng.
"Memang seharusnya seperti itu." Kiandra senang, meski tak menunjukkan.
Jam di mobil masih menunjukkan pukul 5 sore. Namun, suasana begitu gelap, dengan suara hujan yang memenuhi indera pendengaran.
"Dengan ini juga saya harap anda tidak datang menemui saya ataupun mengirim hadiah lagi." Gadis berkuncir itu berkata perlahan.
"Kau melarangku?" Kiandra kaget. Tetapi, Anna lebih kaget lagi dengan apa yang pria itu lontarkan.
"Bu, bukan. Eh, iya. Tidak, mangsut saya...kita tidak ada hubunga apa-apa." Anna berusaha tetap tenang.
"Kau ingin kita punya punya hubungan?" kening Kiandra berkerut.
"Apa?" dalam keremangan mobil yang mesinnya masih menyala dan hujan yang seolah tak akan berhenti, mata Anna hampir keluar karena begitu terkejut.
"Ngomong saja kalau kau ingin punya hubungan denganku." pria berambut cepak itu melipat kedua tangan ke dada.
Anna sampai menutup mulut-nya yang melongo, karena ucapan Kiandra begitu di luar perkiraan.
"Tidak. Anda tahu bukan itu maksud saya." ujar Anna setelah mampu menguasai keadaan.
"Lalu?" seperti tak terpengaruh apapun, ekspresi Kiandra tetap datar. Meski cara bicaranya begitu konyol.
"Tolong jauhi saya." ucap Anna tegas.
Kiandra langsung tertegun.
"Tidak ada alasan bagi anda yang superior untuk mendekati saya."Anna melanjutkan. "Biarkan saya dengan kehidupan saya yang dulu. Saya tidak ingin terlibat urusan apapun dengan anda."
Kiandra masih tak bergeming.
Anna tatap pria dengan paras rupawan itu baik-baik.
"Terima kasih." ia berkata muram. "Permisi." tak menunggu reaksi Kiandra, Anna membuka pintu dan berlari di tengah hujan.