
Happy birthday to you..
Happy birthday to you..
Happy birthday Happy birthday
Happy birthday to you..
Di club yang biasa-nya memutar lagu jedung-jedung, kini terdengar lagu Happy birthday to you yang di nyanyikan beramai-ramai.
Lampu warna-warna seketika di nyalakan, ketika Roy selesai meniup lilin. Tepuk tangan meriah dari teman, pegawai, sampai pengunjung Club makin menyemarakan suasana pesta sang Owner Club James Bond.
"Selamat ulang tahun."
"Happy birthday."
"Tanjoubi omedetto."
"Eid milad saeid."
"Alles Gute zum Geburtstag."
"Bon anniversaire."
Roy mendapat ucapan selamat dari banyak orang, membuat ia sangat bahagia, bahkan terharu.
"Khusus malam ini semuanya gratis!" ia berseru dan di sambut antusias luar biasa dari para pelanggan dan teman-teman.
Setelah lagu Happy birthday to you selesai, DJ berkacamata dengan rambut keritingnya itu memutar sebuah lagu Lowriding feat Ka$$iu$ & Redembrece untuk memanaskan suasana.
Semua bergoyang di bawah guyuran lampu disko. Tak lupa para pelayan memenuhi meja-meja berhias mawar merah itu dengan botol-botol Heineken dan segala macam camilan.
"Aku tak menyangka kalian menyiapkan semua ini untukku." Roy masih saja terharu. Karena biasanya, bukan kejutan seperti ini yang ia dapat. Tapi lemparan telur dan tepung, atau traktiran di rumah makan mewah yang menguras kantong.
"Kami kasihan padamu yang sering di marahi istri." Ethan yang duduk di ujung menaggapi.
Alexa dan Kiandra terbahak.
"Asem! nggak jadi terharu." umpat pria perokok itu kesal.
Musik mirip gamelan dari Lowriding masih terdengar dari tempat mereka duduk, saat keempat sekawan itu bercengkraman.
Pandangan Kiandra teralih ke mawar merah yang menjadi hiasan meja. Ia letakkan botol equil-nya, lalu ia sentuh kelopak bunga tersebut.
Setiap kali melihat bunga, Kiandra otomatis akan teringat pada Anna.
Wajah pucatnya, gerak-gerik-nya yang kikuk, bahkan ekspresi bodoh Anna, begitu melekat di dalam pikiran Kiandra.
"Selamat malam."
Suara lain terdengar di tengah percakapan. Membuat mereka, termasuk Kiandra mengangkat muka, untuk melihat siapa yang datang.
"Maaf datang terlambat, jalan ke arah sini macet sekali." seorang wanita dengan dress hitam selulut tanpa lengan sudah berdiri di dekat meja.
"Santai saja." Ethan mengibaskan tangan.
"Sini, sini. Duduk sebelah sini." Roy yang semula duduk di samping Kiandra segera berdiri dan mempersilahkan wanita itu duduk di tempatnya.
"Terima kasih." malu-malu wanita itu menurut.
"Tidak masalah." Roy yang kini duduk di sebelah Ethan tersenyum lebar.
Kening Kiandra sedikit berkerut dengan posisinya yang kini di apit Alexa dan juga wanita itu. Ia selalu tak nyaman dengan orang yang tak di kenal.
"Kian, kenalkan, dia Nora." Ethan menunjuk wanita tersebut.
Kiandra hanya melihat.
"Halo..." wanita bernama Nora itu sudah mengulurkan tangan.
Kiandra tak langsung merepon.
"Kau belum cebok apa, sampai nggak mau salaman?" Alexa menyengol pundak sahabatnya.
Semua yang berada di situ tertawa.
Sialan!
sunggut Kiandra dalam hati, lalu malas-malas menerima uluran tangan Nora.
Lilin-lilin imitasi yang menghiasi meja tempat mereka duduk terlihat redup, karena memang lilin seperti itu tak kuat menyala lebih dari empat jam.
"Kian, sebelumnya kami ingin minta maaf." Mendadak suara Alexa berubah serius.
"Minta maaf?" Kiandra tak mengerti.
"Nora ini yang seharusnya menjadi targetmu." Roy menerangkan, kemudian menyesap rokok dan menghembuskan asapnya menjadi kepulan.
Kiandra memicingkan mata. Sedangkan Nora, tersenyum penuh makna. Agaknya wanita itu sudah tertarik pada paras Kiandra yang tampan.
"Permainan botol kita." Ethan mengingatkan.
Mata Kiandra melebar. Ia ingat permainan itu. Tapi tetap tak tahu maksud teman-teman-nya.
"Daddy mu khawatir kau homo beneran dan menyuruh kami mengetesmu, sorry." Ucap Ethan menyesal.
"Apa?" Kiandra kaget.
"Tapi, malam itu Nora kecelakaan dan baru bulan-bulan ini dia keluar dari rumah sakit." Roy dan Nora saling pandang, lalu kembali fokus ke Kiandra.
"Penjual bunga itu. Siapa namanya?" Alexa menoleh ke arah Ethan.
"Anna." pria berkacamata itu menjawab cepat.
"Iya, Anna." Alexa menjentikkan jari tangannya yang berkutek. "Dia muncul di saat yang terlalu tepat. Kami awalanya juga mengira dia itu Nora. Talent yang sudah di bayar Roy untuk berpura-pura menjadi wanita yang harus kau rayu. Tapi...yaah...siapa yang menyangka kalau akan terjadi kecelakaan dan si Anna itu yang datang."
"Jadi kalian..." Kiandra bahkan tak sanggup untuk marah karena terlalu syok.
"Sekali lagi kami minta maaf." Roy menaruh puntung rokoknya ke asbak.
"Kami hanya ingin membantumu terbebas dari gosip sampah itu, dan cuma itu satu-satunya jalan." Alexa menyambung omongan Roy. "Menuruti Daddy mu." Ia menekankan.
Kiandra meneguk ludah.
"Kau tinggal merayu seorang wanita. Menjadi kan dia pasanganmu, lalu perlihatkan pada orang tuamu dan siapa pun wanitanya tak masalah. Asal bisa membuat orang tuamu percaya." Alexa berkata panjang lebar.
Kiandra tertegun.
"Untuk hal itu, kami rasa Nora lebih profesional dari pada si Anna itu." Alexa sedikit kesal, karena teringat kejadian di toko bunga.
"Anna?!" seru Ethan tiba-tiba.
Jantung Kiandra seperti hendak melompat keluar.
"Kau sudah sampai?" dengan di iringi pandangan mata kawan-kawan-nya, Ethan menghampiri Anna yang ternyata sudah berdiri di belakang mereka.
"Ah..saya..." Anna dan Kiandra saling tatap. Tetapi, Anna segera membuang muka dan lebih peduli pada Ethan yang sudah mengambil plastik hitam bawaannya dan memaksa dirinya ikut.
"Duduk dulu." ajak pria berkacamata itu.
"Tidak, terima kasih. Saya..." Anna tak bisa menolak, sebab Ethan sudah menarik paksa lengannya.
Anna sengaja menggantikan Nisa untuk datang ke Club, sebab tak tega melihat-nya yang sudah kelelahan harus naik motor dan menempuh perjalanan cukup jauh di malam hari.
Namun, di tengah jalan terjadi kemacetan panjang karena kecelakaan dan hal itu membuat Anna membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke tempat ini.
Begitu sampai, Anna kebingungan mencari Ethan di tengah riuh orang-orang yang tengah berpesta.
Demi nama baik toko, Anna memberanikan diri melangkah di antara orang-orang yang teler dan musik yang menyakiti gendang telingannya.
Di tengah hingar-bingar musik dan lampu warna-warni itulah, Anna menangkap sosok Kiandra yang sedang duduk.
Anna segera menghampiri pria itu, berharap ia bisa membantu mempertemuka-nya dengan Ethan. Tetapi, yang di dengar dan di lihat, justru jauh dari yang dia bayangkan.
.
Anna telah di dudukan Ethan tepat di depan Kiandra yang di apit Nora dan Alexa. Sedangkan dia sendiri berada di antara Ethan dan Roy.
Ekspresi Anna sedikit muram, ketika menyadari telah di bohongi, karena lilin-lilin di meja masih menyala.
"Anna, kami juga harus minta maaf padamu." Roy menepuk bahu-nya, membuat Anna kaget sampai berjingkak dan menghindar.
"Sorry. Kau kagetan ya?" Roy mengangkat kedua tangan.
Anna tak menjawab dan memalingkan muka. Sedikit was-was, Anna melihat Alexa yang menatap sinis, lalu Nora yang memandang rendah pada tampilannya.
"Tenang saja. Kita semua teman, kan?" Ethan menunjukkan senyum ramahnya.
"Saya hanya ingin mengantarkan lilin." Anna menegaskan.
"Iya, santai saja. Lilinya sudah aku terima." Ethan tersenyum jenaka, sambil menunjuk plastik hitam milik Anna yang dia taruh di kursi kosong sampingnya.
"Kalau begitu saya..."
"Duduk dulu, kami ingin menjelaskan sesuatu!" perintah Alexa tegas.
Anna tak berkutik. Tampilan Alexa dengan bibir dan kutek merah menyalanya persis seorang antagonis.
"Kecilkan sedikit suaramu!" bentak Kiandra, membuat mulut Alexa mengangga dan teman-teman-nya yang lain terkejut.