
Awalnya Anna terkejut dengan Kiandra yang tiba-tiba menciumnya. Tetapi, kini ia sadar, kalau dugaan-nya selama ini benar.
Pria itu mendekati dan mengirim berbagai barang mahal, semata karena menginginkan sesuatu darinya.
Anna kecewa, sebab sempat mengira Kiandra berbeda dengan lelaki kebanyakan. Dia kaku, serta sama sekali tak pandai merayu. Jangankan merayu, bersikap dan bertutur lembut saja tak mampu.
Namun, Anna tak memungkiri, justru dengan sikap-nya yang kadang absurd, tanpa sengaja Kiandra bisa menghapus perasaan sedih, serta membuat hidupnya yang kelabu menjadi sedikit berwarna.
Kiandra merengkuh Anna dalam pelukan, lalu jemari tangannya mulai menjelajah rambut, pundak, sampai pinggang wanita itu.
Dahulu Kiandra selalu mencemooh kawan-kawannya yang dengan bebas berciuman dengan siapa saja. Tetapi, kini ia sendiri begitu menikmati. Rasanya sangat menyenangkan, sampai-sampai matanya terpejam dan jiwa maskulinnya terusik.
Mungkin istilah lepas dari mulut harimau dan masuk ke mulut buaya, adalah kiasan yang pas untuk menggambarkan kejadian yang menimpa Anna beberapa bulan silam.
Dia berhasil kabur dari Rico, walau nyaris kehilangan nyawa akibat kecelakaan.
Sempat kehilangan ingatan, serta terlanjur menyebutkan nama asli. Anna di buat beruntung, karena penabraknya seorang wanita baik hati.
Dia yang tanpa identitas, di ijinkan tinggal di rumahnya yang megah, sampai keadaannya benar-benar pulih.
Anna terpaksa berdusta, meski sebenarnya, ingatannya telah pulih di hari kelima terbangun di rumah sakit. Ia tak tahu harus kemana. Tas, serta segala miliknya telah hilang. Bayangan Rico dan segala ancamannya, terus menghantui. Untuk kembali ke tempat Nisa-pun, ia tidak sanggup.
Maaf aku berbohong. Tapi, aku berjanji tak akan menyusahkan, serta membantu di sini sebisaku.
Anna bertekad dalam hati, ketika wanita penabraknya itu sampai menangisi dirinya yang hilang ingatan.
Namun, kekalutan kembali hadir, saat Anna tahu, siapa suami wanita yang tak sengaja menabraknya itu.
Meski fisiknya telah banyak berubah. Tapi, tak mungkin Anna tak mengenali. Dia beberapa kali menjadi tamu kehormatan sang Ayah di Kelantan dan sekaligus menjadi cinta pertamanya.
"Andreas Marthadinata, nice to meet you Princess Delana Amirah."
Dia yang masih bau kencur, bisa-bisa-nya terpikat oleh karisma pria dewasa berpostur jangkung tersebut.
Akan tetapi, agaknya Anna tak perlu cemas, sebab pria yang kini telah berusia lanjut itu, tak sekalipun memperhatikan-nya. Mata sipit dengan warna cokelat indahnya, hanya memandang sang istri saja. Hal yang membuat Anna iri, sekaligus ikut merasakan bahagia.
Kenyaman tinggal di situ membuat Anna lupa, bahwa anggota keluarga Marthadinata bukan hanya pasangan suami-istri itu.
Anna menutup mata rapat-rapat, ketika sentuhan Kiandra mulai di barengi hasrat. Ia sampai terengah, karena pria itu tak menyisakan ruang untuknya bernafas.
Anna tarik kain baju Kiandra pada bagian belakang, sambil berharap dia mau memberinya jeda untuk sekedar menghirup udara.
Namun, sampai ia tersudut di pinggir sebuah meja, serta hampir terbaring di atasnya, Kiandra belum mau menghentikan aksinya.
"Kau cantik sekali, Delana...."
Mendadak wajah tampan Rico yang tersenyum, merayu, kemudian mencumbu dirinya terlintas di pikiran.
Perlahan Anna membuka mata. Cahaya dari lampu kecil yang tergantung di langit-langit ruang, membuat netra-nya silau dan terlihat berkaca-kaca.
Ia menahan kedua pundak Kiandra, saat pria itu mendorong dan memaksanya berbaring di atas meja kayu panjang di belakang-nya.
Anna ingin melawan. Tetapi, masa lalu yang menyedihkan membuatnya putus asa. Hingga pada akhirnya, ia memilih membiarkan pria itu melakukan apapun terhadap dirinya.
Aku tinggal memejamkan mata dan semua akan segera berakhir.
batin Anna pahit.
Jantungnya berdebar makin kencang, ketika bibir Kiandra berpindah ke leher dan semakin turun ke bawah.
Anna memalingkan muka, seraya memejamkan mata rapa-rapat. Ia gigit bibir bawahnya kuat, agar tak mengeluarkan suara apapun.
Bagai sebuah mantra, Anna terus berulang kalimat itu dalam hati dan berharap semua lekas selesai.
Kiandra sampai di titik di mana gengsi yang sering agung-agungkan-nya kini lenyap dalam pikiran. Sosok angkuh penuh perhitungan, serta mengutamakan logika itu hilang, dan cuma menyisakan lelaki yang dahaganya minta di puaskan.
Kiandra menganggap sikap pasrah Anna adalah bentuk persetujuan, membuat ia tak sungkan, serta mulai mempreteli kancing baju wanita itu.
Anna, sialan kau!
Umpat Kiandra dalam hati.
Tubuhnya panas seperti ingin meledak, dan celakanya wanita di bawahnya ini hanya diam.
Satu sisi ia menikmati. Tapi, pikiran warasnya masih mencoba mengingatkan.
Sejak Kiandra kecil, ibu-nya selalu berpesan untuk menghormati dan menjaga harga diri seorang wanita.
"Nak, kau punya ibu dan saudara perempuan. Tentu kau tak ingin bukan, jika ibu atau saudara perempuanmu mendapat kekerasan, apa lagi sampai di lecehkan?"
Ia yang waktu itu masih berusia 10 tahun, menyimak dengan penuh antusias.
"Maka, bersikaplah kesatria dengan melindungi dan mengayomi mereka. Bersabarlah...apa lagi untuk wanita yang kau sayangi."
Kiandra menekankan nasehat yang di barengi senyum tulus sang ibu dalam lubuk hati.
Namun sekarang...
Anna...
Kiandra hampir saja menyentuh bagian terindah dari tubuh seorang wanita, ketika ia mendengar suara isak. Hanya sekali. Tapi, segera menariknya dari lembah maksiat.
Matanya melebar, saat mendapati Anna dengan baju bagian atasnya yang sudah acak-acakan, terbaring di bawah kungkungannya.
"Kalau kau tak menginginkannya, kenapa tidak menolak?" tanya Kiandra, sembari mundur menjauh.
Dari pada kaget dengan apa yang sudah di lakukan, ia lebih sakit hati dengan sikap Anna.
Kiandra pikir, wanita itu juga menginginkan hal yang sama. Tetapi, Anna justru terlihat menyedihkan dengan wajah pucat dan tubuh yang tak berhenti gemetar.
Tanpa menjawab pertanyaan Kiandra, perlahan Anna bangkit, lalu duduk di atas meja kayu berpotongan rendah, yang sebenarnya akan di fungsikan untuk tempat tanaman baru, Tapi, malah nyaris menjadi tempat bergumul dua orang lawan jenis.
Kiandra berdiri menjulang di hadapan Anna dan menatap sengit. Pria itu frustasi, sebab hal pertama dan istimewa baginya, malah membuat wanitanya terlihat terluka.
"Kenapa kau diam saja?" Kiandra kembali bertanya. "Aku bisa saja langsung menyeretmu ke kamarku!" ia mengancam.
Tangan Anna yang gemetar, serta sedang berusaha mengancingkan baju-nya, berhenti sesaat.
Namun, sayangnya Anna tak juga mau membuka mulut. Hanya diam tertunduk, dengan air mata yang tak bisa di ajak kompromi.
Sialan, bisa-bisanya aku...
Kiandra tak mau mengakui.
Dia geram bukan main pada sikap pasif Anna yang menjengkelkan. Akan tetapi, pada akhirnya ia memilih pergi, sebelum hasratnya kembali meronta dan menuntut penyelesaian.
Suara pintu kaca yang di banting menandakan Kiandra yang telah keluar dari rumah kaca.
Anna segera memeluk dirinya sendiri yang tak juga berhenti ketakutan.