Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
KEKUASAAN



"Bulan ini terakhir kalinya kita mengambil barang dari Golden Hope." Kiandra berkata setelah tadi sempat terdiam menatap layar laptop.


"Maksud Anda Chief?" ia tak mengerti.


Kiandra memutar kursinya agar berhadapan langsung dengan Personal Asistennya tersebut. "Kurang jelas kata-kataku?" keningnya berkerut.


Kedua mata Aldo membulat. Ia masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi.


"Batalkan semua perjanjian dagang dengan PT Golden Hope!" Kiandra memberi perintah, sembari mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jari telunjuk.


Aldo kaget. "Chief, itu tidak mungkin." ia berujar. "Ada perjanjian di atas matrai, dan Perusahaan kita juga akan merugi, mengingat banyaknya produk dari PT Golden Hope yang fast moving di swalayan-swalayan kita."


"Maka kita akan menutup kerugian itu dari penjualan property!" tandas Kiandra cepat.


Aldo tertegun.


Kenapa dia tiba-tiba seperti ini?


pikir-nya bingung.


"Anda bisa di musuhi oleh para pemegang saham dari Sanjaya Company jika bertindak sembrono seperti ini Chief." Aldo mengingatkan.


Raut Kiandra kaku. Aldo benar, retail adalah milik Sanjaya Company yang tak lain adalah Perusahaan keluarga kakak iparnya. Dan karena suatu hal, Perusahaan itu melebur menjadi satu dengan Marthadinata Corp yang bergerak di bidang property, dan berubah nama menjadi Marthadinata-Sanjaya Groub yang kini Kiandra pimpin.


"Semua bisa kita bicarakan Chief." Aldo berkata.


Kiandra menoleh ke arahnya.


"Ada apa? Apa Pak Rico membuat Anda marah?" tanyanya ingin tahu.


Kiandra tak menjawab. Sebab otaknya tengah berpikir keras.


Jangan-jangan ini ada hubungannya dengan wanita itu?


Aldo menebak dalam hati.


"Aku nanti yang akan menjelaskan sendiri dengan para pemegang saham itu." ucap Kiandra beberapa saat kemudian.


Kedua mata Aldo melebar. Karena sebelumya, Chief nya itu paling malas berhadapan dengan para orang tua yang terkenal kolot tersebut.


"Karena itu, putuskan semua kontrak kerja dengan PT Golden Hope. Sekarang juga!" ia menatap Personal Asistennya tajam.


Aldo tertegun. Tapi, ia tak lagi mencegah. "Baik. Saya akan mengabari PT Golden Hope secepatnya." ia undur diri.


Kiandra mendengus begitu Aldo keluar dari ruangan. Pikirannya di penuhi pertemuan-pertemuannya dengan Rico, serta tiap kalimat yang pria eurasia itu ucapkan padanya dahulu


Pantas saja dia selalu menyindirku soal pendamping hidup.


batinnya marah.


Tiba-tiba ia teringat hadiah kain batik yang pernah Rico berikan padanya sebagai oleh-oleh dari Negara asalnya.


"Dia sengaja memberiku kain pasangan supaya Anna memakai barang pemberiannya?" kening Kiandra berkerut dalam oleh dugaan yang tanpa bukti.


Kesal. Ia langsung membuka laci meja paling bawah, dan mengambil kain batik bercorak indah yang masih dalam kardusnya, kemudian melempar begitu saja ke tempat sampah.


Kiandra tak hanya emosi oleh rasa cemburu. Tetapi, ia juga teringat bagaimana Anna saat mabuk dan meracau tentang masa lalunya yang pahit.


Dasar baj*ngan! Bisa-bisanya dia membuat seorang wanita sampai harus meninggalkan keluarga dan tanah airnya. Sedangkan dia malah hidup enak dengan wanita lain?


pikir Kiandra dengan muka merah padam.


.


Aldo tersenyum seperti biasa, saat bertemu Victoria yang berjaga di depan pintu.


"Guten morgen, Vic." sapanya seraya mengangkat satu tangan.


Bodyguard wanita itu tetap dengan ekspresi dinginnya.


Aldo terkekeh, lalu berjalan santai melewatinya.


"Kenapa masih di sini?" pertanyaan Victoria yang tegas, membuat langkah Aldo terhenti.


Pria berpenampilan rapi itu menoleh ke arahnya. "Kau ingin aku bolos, Vic?" tanyanya melucu.


Victoria mengatupkan bibir rapat-rapat, dengan kedua alis terangkat. Tetapi, Aldo terlihat biasa-biasa saja menanggapi. "Ayolah, Vic. Aku bukan orang yang akan berbuat jahat pada Chief kita."


Kening Victoria mengerenyit mendengar pria itu berbicara gamblang.


"Sudah sepuluh tahun aku di sini. Bahkan sebelum kau ada." ia menerangkan. "Kalau memang aku berniat jahat pada Chief. Kenapa tidak dari dulu saja aku melakukannya?" ia bertanya.


Victoria tak memberi respon, serta masih menunjukkan ekspresi tak terbaca.


"Sudahlah," Aldo melengos. "Aku masih banyak pekerjaan." ia langsung putar balik dan berjalan pergi.


Wanita kelahiran Jerman itu tak mengatakan apapun, dan hanya melihat punggung Aldo yang semakin menjauh.


Dia prajurit terlatih. Instingnya tajam, serta mudah mendeteksi kebohongan dari gestur dan ekspresi wajah musuh.


ia berkata dalam hati.


.


Di waktu yang sama, di gedung pencakar langit milik PT Golden Hope yang baru beberapa minggu lalu di resmikan.


Radha terengah dengan kancing bajunya yang terbuka dan rok model span-nya yang terangkat sampai atas. Kedua kaki jenjangnya yang mengenakan sepatu heels tujuh centimeter gemetar, dengan posisinya yang menungging dan bertumpu pada meja kerja.


"...Rii..co.. Ricoo..." berkai-kali ia mengumankan nama pria yang memberinya banyak kenikmatan.


Tahu Tunangan-nya menikmati gaya bercinta dari belakang seperti ini, membuat Rico tak sungkan bertindak kasar, dengan memasuki Radha lebih cepat dan dalam.


Radha hampir saja memekik, kalau saja pria yang masih mengenakan kemeja kerja itu tak segera membungkam rapat mulutnya dengan telapak tangan.


Di dalam ruang kerja yang luas dengan interior minimalis modern tersebut, mereka tak merasa takut atau malu akan ada yang memergoki, kendati tepat di balik pintu terdapat banyak karyawan yang tengah serius bekerja.


Peluh mengalir dan nafas semakin memburu, seiring ritme percintaan mereka yang panas serta mengila. Sampai pada di satu titik, tubuh keduanya menegang dan Radha tak kuat untuk tak melenguh keras, saat Rico berhasil membawanya sampai ke puncak.


"Sayang, aku tak mau seperi ini lagi di kantor."Radha merajuk, ketika mereka sudah selesai membersihkan diri.


Rico yang sedang membuat teh hangat di sudut ruang menoleh sesaat ke arahnya. "Kau tak suka, Sayang?" ia bertanya dengan nada bergurau.


Radha tak menjawab, dan hanya wajahnya saja yang tertekuk masam.


Rico yang melihatnya tersenyum, seraya berjalan ke arahnya sambil membawa dua cangkir yang masih mengepulkan asap.


"Bagaimana kalau Paman tiba-tiba ke sini?" ucapnya saat Rico meletakan kedua cangkir itu di atas meja dan duduk di sofa bersamanya.


"Kenyataannya kan tidak." Rico menenangkan.


Radha tetap saja kesal.


Siapa tadi yang melenguh keenakan...?


batin Rico geli.


"Minum, Sayang." ia cepat mengalihkan pembicaraan.


Setengah hati Radha menerima cangkir berisi teh hangat yang baru saja pria itu buatkan, lalu menyesap pelan.


"Aku hanya senang." Rico berkata.


Wanita yang beberapa saat lalu masih berantakan dengan rambut kusut dan make up luntur itu menoleh ke arahnya.


"Usahaku sukses saat bersamamu." Rico melanjutkan. "Kau ini... sudah seperti Dewi Keberuntungan untukku."


Kedua pipi Radha bersemu. "Benarkah?" ia tak percaya.


"Iya." pria itu membenarkan "Seperti yang pernah aku katakan, dulu aku sudah mencoba berbagai usaha. Tapi, hasilnya selalu nihil dan bahkan merugi." ia memandang wanita yang duduk di sampingnya tersebut. "Hanya ketika bersamamu lah, akhirnya aku bisa sukses seperti ini." ia tersenyum menawan.


Radha yang dari awal bertemu sudah terpikat dengan ketampanan Rico, berdebar mendengar pujiannya. Tanpa dia tahu, bahwa itu hanya muslihat, agar ia tak lagi memikirka soal dosa yang baru saja mereka perbuta.


Mendadak dering telpon dari meja kerja membuyarkan romantisme keduanya.


"Tunggu sebentar." Rico berkata sambil berdiri.


Radha cuma menipiskan bibir, lalu pura-pura tak peduli, sembari meminum teh hangatnya.


"Halo," kata Rico setelah mengangkat gagang telpon.


"Selamat siang Pak Rico." suara Aldo yang renyah terdengar dari speaker.


"Apa kabar Pak Aldo?" Rico girang mendapat telpon dari pria yang membawa banyak keuntungan untuk Perusahaan-nya.


"Baik, Pak." jawab Personal Asisten Kiandra itu ramah.


"Tumben Anda telpon? Biasanya... saya yang sibuk mencari Anda untuk bertemu." ia bergurau.


Radha memperhatikan dari tempatnya duduk dengan tatapan ingin tahu.


Namun, mendadak raut senang Rico berubah kaget.


"Apa maksud Anda?" ucap-nya dengan intonasi tinggi, membuat Radha sampai tersentak.


"Iya, Pak Rico. Dengan segala hormat, Marthadianta-Sanjaya Groub tidak bisa lagi melanjutkan kerja sama dengan PT Golden Hope."


Kalimat Aldo yang ia dengar, bak petir di siang bolong.


Radha yang melihat perubahan ekspresi dari Tunangannya tersebut, segera bangkit dari duduk dan berjalan menghampiri.


"Ada ap..." kalimatnya terputus oleh intimitasi Rico lewat mata.


"Anda tenang saja, kami akan tetap bertanggung jawab untuk semua kerugian PT Anda. Tapi dengan syarat, semua produk dari PT Anda, harus sudah bersih dari Swalayan-Swalayan kami, per tanggal satu bulan depan."


Rico terpaku dengan wajah memucat.