Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
PERTALIAN MASA LALU



"Anna?" Nisa kaget melihat pegawainya pulang dalam keadaan baju dan rambut basah. "Kau tidak bawa payung?" tanya-nya.


"Ti, tidak, Tante." Anna terlihat kikuk.


"Apa kau baik-baik saja?" Nisa merasa aneh dengan sikapnya.


"Apa?" tanya Anna tak mengerti. "Eh, iya. Saya baik-baik saja." jawab-nya gugup. Sebab pikirannya masih terfokus pada Kiandra. Anna takut, kalau-kalau pria itu menyusulnya.


Wanita 45 tahun itu berjalan mendekat. Ia amati baik-baik wajah Anna yang sedikit basah karena air hujan. Hal itu membuat Anna rikuh dan tertunduk dalam.


"Anna," Nisa memanggil.


Anna menengadah, kini jarak mereka dekat dan Nisa masih saja mengamati.


Pikiran Anna sudah mengarah ke hal yang tidak-tidak.


Tante Nisa kenapa? apa ada yang aneh dengan wajahku?


batinnya cemas.


Tapi, mendadak raut Nisa berseri, membuat Anna tertegun.


"Kau memakai lipstik?" ia bertanya penuh suka cita.


Reflek Anna mengelap bibirnya berkali-kali dengan punggung tangan.


"Kenapa di hapus?" Nisa menyayangkan.


"Ah, anu..saya..."


"Padahal kau terlihat cantik dengan warna itu." Nisa melanjutkan.


Anna langsung tertunduk malu.


"Mulai besok pakai lipstik lagi ya?" pinta bos-nya girang. 


Mata Anna melebar.


"Pelanggan juga pasti akan senang dan bertambah kalau penjualnya cantik." Dia terlihat sangat antusias.


"Tapi saya..."


"Oya, bagaimana hasil pemeriksaan-nya?" tak mengindahkan omongan Anna yang nyaris tak terdengar, Nisa bertanya hal lain.


Awalnya Anna bingung. Namun ia ingat, bahwa ia ijin pergi dengan alasan berobat.


"Dokter bilang...hanya kelelahan biasa." ia berbohong.


"Kau ambil cuti saja tiga hari." Nisa menyarankan. "Gunakan waktu itu untuk merefresh diri. Tidak baik juga kalau kau terus diam di dalam kamar."


"Tidak tante, saya hanya butuh tidur." Anna tersenyum menyakinkan.


Nisa menghela nafas. "Ya sudah, yang paling mengerti tentang kondisimu adalah dirimu sendiri. Tapi, jangan pernah memaksakan diri, kalau memang sudah tidak mampu."


"Iya, Tante." Anna kembali tersenyum.


"Naiklah untuk mandi, makan dan istirahat. Tak usah ikut membantu menutup toko, ya?" Nisa nepuk pundak Anna prihatin.


Wanita itu selalu merasa iba, jika memandang Anna yang sorot matanya di selalu penuhi kekahwatiran.


"Terima kasih Tante." Anna sedikit menbungkukkan badan.


"Iya, sama-sama." Nisa tersenyum sambil memandang Anna yang menaiki anak tangga menuju lantai dua.


.


Begitu sampai Anna bergegas menengok ke jendela.


Hujan telah berganti menjadi gerimis. Dalam pekatnya malam yang hanya di sinari lampu kota, Anna tak lagi melihat mobil Kiandra yang terparkir di halaman ruko.


"Syukurlah..." ia menghela nafas lega, kemudian bersandar pada tembok dan melorot duduk di lantai.


Mengabaikan rambut dan bajunya yang basah karena kehujanan. Anna malah melamunkan kejadian tadi.


Dia raba bibirnya yang dingin dan kini tak lagi berwarna. Anna teringat bagaimana tatapan mata dan ekspresi dari pria berambut cepak yang suka seenaknya sendiri itu.


"Kenapa dia terus mendekatiku...?" tanya Anna seorang diri.


Dia pandangi kamar tempatnya tidur yang sebetulnya lebih cocok di sebut gudang, dengan selembar kasur busa tipis di tengah ruang.


Anna meneguk ludah ketika mengingat jantungnya yang hampir berhenti berdetak, kala Kiandra bergerak maju dan tanpa di duga memoleskan lisptik pada bibirnya.


Begitu dekat mereka saat itu, membuat Anna bisa mencium aroma bergamout yang bercampur amber dan musk memenuhi indra penciumannya.


"Marthadinata...Sanjaya. Marthadinata.." Anna mengulang sembari mengali ingatan masa lalunya yang sudah sangat jauh ia tinggalkan.


"Halo, apa kabar anak cantik?" sosok tinggi berjas itu tersenyum dan mengulurkan tangan padanya.


"Pantas aku merasa familiar, dan terutama mata itu..." Anna terkesima.


Ingatan Anna terlempar ke masa lalu, dimana ia pernah bertemu sosok itu. Sosok yang mirip dengan Kiandra, yang mempunyai senyum menawan dan sepasang mata yang sama indahnya dengan pria narsis itu.


Pria yang diam-diam ia kagumi dan menjadi cinta pertama-nya saat kecil.


"Apa dia putranya?" Anna bertanya seorang diri.


Mendadak ia teringat bagaimana Kiandra menasehatinya tentang mati.


"Jangan pernah berpikir mati adalah solusi."


Raut datar itu menatapnya.


"Justru seharunya kau bersyukur masih di beri hidup."


Anna menekuk kedua lutut, kemudian memeluk diri.


"Karena selama kau masih hidup, berapa kali pun kau melakukan kesalahan, kau masih bisa memperbaiki."


"Apa aku bisa memperbaiki semua...?" ia berguman.


Kehadiran Kiandra bak warna yang hampir ia lupakan di hidupnya yang kini abu-abu.


Berusaha mengabaikan. Tetapi, kekonyolan dan perhatian pria itu terlalu mengusiknya.


"Delana." panggil seorang pria lain.


Tiba-tiba Anna memekik dan menutupi wajah.


"Apa yang barusan kupikirkan?" Anna terlihat marah. Namun kedua matanya meremang siap mengucurkan air mata.


"Dia seorang Marthadinata. Dan kau? siapa kau?" Anna berbicara seolah di situ ada orang lain. "kau hanya Anna yang bodoh! Anna yang tak punya apa-apa! yang miskin dan tak punya harga diri!"


Anna mulai menangis. "Jangan pernah berharap, karena kau tak punya apapun yang bisa kau harapkan."


Air mata Anna kian deras mengalir. Ia menjatuhkan diri ke lantai dan tidur meringkuk menutupi wajahnya yang di penuhi duka.


Aku hanya sampah untuk semua orang... pilu ia menilai diri sendiri.


.


"Sudahlah!" Alexa menaruh botol heineken ke atas meja keras-keras. "Kami kan sudah bilang, lupakan saja perempuan itu." ia melanjutkan.


Kiandra yang tengah bersandar pada kursi dengan rokok yang terselip di sela jari tak menanggapi.


"Kau mau bilang bagaimana juga nggak ngaruh, dia ini sudah jatuh cinta." Ethan yang duduk di samping-nya menimpali.


Kiandra mendelik ke arah pria berkacamata itu.


"Kenapa?" tanya Ethan pura-pura bodoh.


Tahu Kiandra tak mungkin bisa menjawab, ia tertawa.


Kesal, Kiandra mengisap rokok dalam-dalan, lalu menghembuskan asapnya ke arah Ethan.


Seketika pria yang berprofesi sebagai dokter anak itu batuk-batuk sambil mengibas-ngibaskan tangan.


"Anj*ng!" maki Ethan sambil berpindah tempat.


Kiandra dan Roy terbahak. Sedang Alexa tetap pasang muka masam.


"Salah apa aku? sialan!" umpat Ethan yang kini duduk di samping Alexa.


"Banyak." jawab Kiandra dari seberang meja.


"Heeleeeh.., bilang aja sensi." ucap Ethan kesal, membuat rekannya yang lain geli.


Kali ini Kiandra tak peduli, dan lebih memilih meminun equil-nya.


"Heh, Kian itu tidak jatuh cinta." Roy menengahi. "Dia cuma tak mau harga dirinya jatuh karena tak bisa menaklukan satu wanita."


"Kau bisa berkata begitu karena tak lihat kejadian tadi siang." Ethan menyanggah.


"Tadi siang?" tanya Roy dan Alexa hampir bersamaan.


"Hei, hei, heii.." Kiandra memperingatkan.


"Aku sudah jadi sopir. Sampai sana masih jadi obat nyamuk. Di sini dia menyemburku dengan nikotin." Ethan sebal bukan main. Pria keturunan Tiong hoa itu memang paling anti dengan rokok.


"Siapa yang jadi obat nyamuk?" Kiandra tak terima. "Kau yang mengobrol akrab dengannya."


"Cemburu bilang." Ethan melipat kedua tangan dan tersenyum sinis.


"Kenapa aku harus cemburu, setan?" Kiandra makin tak terima.


"Kau tanya aku? aku tanya siapa?" tak mau kalah Ethan menaggapi.


Untuk kesekian kali, kedua orang yang tak lagi remaja itu terlibat percecokan.


"Sometimes, all I think about is you


Late nights in the middle of June


Heat waves been fakin' me out


Can't make you happier now...


Sometimes, all I think about is you


Late nights in the middle of June


Heat waves been fakin' me out


Can't make you happier now..."


Tak melerai, Roy malah asik menirukan lagu Heat Waves dari Glass Animal yang kini tengah di remix oleh seorang DJ di Club miliknya, yang malam ini pun sangat ramai oleh berbagai keseruan.


Di rumah ada suamiku yang gila. Di sini ada teman-temanku yang gila. ucap Alexa dalam hati, lalu meneguk heineken-nya langsung dari botol.


...****************...


Halo, sudah mau weekend nih.


Itu artinya saya akan bagi-bagi pulsa lagi untuk rangking 1-10 mingguan.


Jangan lupa follow IG Hijaudaun_birulangit untuk info nya ya 🤗


Selamat membaca.


Jangan lupa like dan komen positif.


Terima kasih.


-🍀-