
"Ibu memintaku membawakan ini." Anna berkata setelah Victoria keluar dan menutup pintu.
Kinadra hanya menatap sembari bertopang dagu, dengan selipan bolpen di jari tangan.
Melihat reaksinya, Anna jadi tak enak. Ia berjalan lebih maju lagi, lalu meletakan totebag berwarna putih itu di atas meja.
"Ibu berpesan, ini makanan kesukaan Tuan Muda, jadi harus habis." ucapnya perlahan.
Kening Kiandra langsung berkerut, membuat Anna tertunduk takut.
"Maaf. Saya bukannya menyuruh Anda. Tapi Ibu yang..."
"Kau ini tidak bisa memanggil namaku, ya?" potong pria itu kesal.
"Apa...?" kedua mata Anna melebar.
Kiandra berdecak, seraya membuang muka.
Sedang banyak pikiran seperti ini. Ibu malah menyuruhnya datang. Bagaimana kalau aku emosi, lalu memecat semua karyawan?
batinnya jengkel.
"Ma, maaf.." Anna kikuk.
Kiandra menoleh ke arahnya dengan kedua alis hampir menyatu.
"Saya... belum terbiasa." ia melanjutkan. "Eeemmm... Ki, Kiandra..." Anna mengigit bibir bawah dengan pandangan tak fokus karena malu.
Pria itu tetap pasang wajah sangar.
Kenapa dia selalu membuat takut?
keluh Anna dalam hati sembari meremasi jemari tangan.
"... Kalau begitu... saya permi..."
"Duduk!" perintah Kiandra tepat sebelum Anna menyelesaikan kalimatnya.
"Eh?" ia bingung.
"Kenapa diam saja? Telingamu masih normal kan?" tanyanya ketus.
Wajah Anna masam mendengar pertanyaan Kiandra. Sebab tentu saja pendengaranya masih baik-baik saja. Ia hanya kaget, karena pria itu tiba-tiba memerintah dengan nada tinggi. Tetapi, memang dia bisa apa?
Dasar diktator!
batin Anna sembari duduk di hadapan pria dengan kemeja warna burgundy dan kalung cartier yang terlihat mengkilat di celah lehernya itu.
"Temani aku makan." ucap Kiandra tanpa di sangka.
Kedua mata Anna seketika melebar.
"Makan di sini bersamaku." ia melanjutkan.
Jantung Anna seketika berdebar lebih kencang, ketika melihat raut serius Kiandra dari dekat, serta sepasang mata cokelat terangnya yang selalu memikat.
"Kenapa malah bengong? Ayo di buka!" ujarnya tegas, membuat Anna seperti di jatuhkan dari langit.
"Ba, baik!" tergagap dia membuka simpul totebag dan mengeluarkan semua isinya.
"Kau ini kebanyakan melamum." pungkas Kiandra saat Anna sedang menata makanan di atas meja. "Seharusnya kau lebih cekatan sedikit. Kalau di dunia kerja, bisa-bisa kau setiap hari di marahi atasan dan jadi korban bullying teman-teman kantormu."
Mendengarnya Anna cuma tertunduk dengan muka tertekuk.
Aku benar-benar tak mengerti dengan sifatnya.
pikirnya sambil menyabarkan diri.
Tak berapa lama, Kiandra sudah memakan rawon daging dengan lauk tempe goreng serta kerupuk.
Anna meneguk ludah, saat CEO muda itu menambahkan dua sendok lagi sambal cabai setan ke dalam piringnya yang sudah penuh dengan cacahan cabai.
Pantas saja Ibu membungkus banyak sambal. Suka pedas ternyata.
pikir Anna sembari diam-diam memperhatikan Kiandra yang tengah makan dengan lahap.
"Kian selalu lupa waktu kalau sudah bekerja.
Perkataan Ibu Kiandra tiba-tiba terlintas.
"Dulu, Ibu sampai memberi mandat khusus kepada Personal Asistennya, agar mengingatkannya untuk makan siang."
Anna melirik jam dinding di sudut yang sudah menunjukkan pukul satu lebih.
"Besok kalau kalian sudah menikah, selalu bawakan Kian bekal ya? Dia suka masakan rumah. Terutama rawon daging sapi dengan sambal cabai setan."
Ia tertunduk, mengingat pesan Ibu Kiandra yang di sertai raut bahagia.
Aku pusing memikirkan masalah ini.
keluh Anna dalam hati, lalu menghela nafas dan mengangkat muka.
"Melamun lagi?" tanya Kiandra begitu mata mereka bertemu.
Anna kaget sampai hampir saja berdiri. Tapi, untungnya ia masih bisa menguasai keadaan.
Ternyata pria itu telah selesai dengan makan siangnya, dan kini sedang menatap tanpa kedip ke arahnya.
"Apa sih yang kau pikirkan?" nada bicaranya terdengar sarkas.
Anna gugup. Bingung harus menjawab apa.
Melihat hal itu, Kiandra mengambil jus jeruk dingin yang belum ia minum, dan menyodorkan kepada wanita itu.
Anna sudah membuka mulut hendak menolak.
"Ta, tapi Anda..."
"Aku sudah minum air putih." pria itu menunjuk mesin dispenser di sudut ruang.
Meski masih rikuh, tapi ia takut untuk menolak lagi. Akhirnya, pelan-pelan ia buka tutup tupperwear berwarna bening tersebut, lalu ia minum isinya perlahan.
Rasa asam dari jeruk yang di campur madu, di tambah es batu yang dingin, serta beberapa daun mint, membuat kerongkongan Anna terasa segar dan sejuk.
Ibu memang pandai membuat minuman.
ia memuji dalam hati.
Kiandra memperhatikan gerak-gerik wanita yang duduk di depannya itu. Anna terlihat jauh lebih bersih dan berisi, dari saat pertama kali mereka bertemu dulu. Dan dengan rambut yang di potong sepundak dan di jepit sederhana seperti ini, ia terlihat cantik, meski tanpa riasan berlebih.
Apa aku yakin bisa hidup dengan wanita seperti ini?
tanyanya pada diri sendiri.
Dia selalu gugup. Masa lalunya juga buruk. Punya trauma. Sampai-sampai memanggil namaku pun, ia tak sanggup.
Kiandra menimbang dalam hati.
Yang tak terduga, ternyata dia anggota kerajaan Kelantan. Reward bagus untuk keluarga Marthadinata. Daddy pun, tak akan lagi mempermasalahkan statusnya. Tapi...
ia menatap lebih intens, pada Anna yang tak berhenti meneguk jus jeruk miliknya.
Perlahan pandangan Kiandra berubah sayu. Ia teringat pernikahan kakaknya, serta kekecewaan mendalam yang membuatnya sangat antipati terhadap cinta.
Dahulu ia arogan, dengan menyalahkan Dave dan Kirana. Ia berpikir, seharusnya mereka bisa menahan diri demi kehormatan keluarga. Tetapi, kini tanpa kedua kakaknya itu menjelaskan pun, ia bisa mengerti, betapa cinta itu memang tak ada logika.
Tak hanya cantik dan menarik. Tetapi, juga harus cerdas. Namun di atas semua itu, pasangannya kelak haruslah wanita yang bermartabat dan mampu menjaga kehormatan diri.
Kiandra terkekeh, teringat kriterianya tentang pasangan hidup. Dan membandingkan dengan wanita yang saat ini, tengah memandang heran ke padanya.
Yah..setidaknya dia seorang Tuan Putri yang bermartabat dan terhormat.
dalam hati Kiandra bangga.
Kenapa dia tertawa sendiri?
Anna mengerenyitkan dahi.
Sadar jika wanita itu mulai berpikiran aneh tentangnya, Kiandra segera berdehem beberapa kali sambil memalingkan muka.
"Kau... ke sini dengan siapa?" tanyanya untuk menutupi rasa malu.
"Sopir." jawab Anna singkat.
Kening Kiandra berkerut, tanda ia sedang berpikir. Lalu di lihatnya jam di pergelangan tangan kirinya.
Anna sudah tak mempedulikan lagi pria itu bersikap bagaimana, dan memilih memberesi wadah-wadah Tuppewear kotor.
"Apa di sini ada wasbak?" tanyanya.
Kiandra menoleh. "Untuk apa kau tanya itu?" ia malah balik bertanya.
Anna tak menjawab, karena seharusnya pria itu tahu, untuk apa dia menanyakan tempat cuci piring.
"Kau mau mencuci itu?" Kiandra menunjuk tumpukan Tupperware kotor yang sedang Anna bawa.
Wanita itu mengangguk kaku.
Kiandra langsung berdiri. "Untuk apa kau melakukannya?" ujarnya tak suka. "Kau pikir di sini tidak ada yang namanya cleaning service?"
Anna hendak menjawab, bahwa ia tahu di gedung sebesar itu pasti ada petugas kebersihannya. Tetapi, ia ingin mencuci langsung, agar bisa membawa wadah-wadah plastik dari brand ternama itu pulang bersamanya saat ini juga.
Namun, lagi-lagi ia selalu gagal mengeluarkan pendapat, jika berhadapan dengan muka es batu pria itu.
"Taruh kembali itu semua!" perintah Kiandra seraya mengambil jas warna gelapnya yang tergantung di samping dan memakainya.
"Tapi..."
"Aku antar pulang." tandasnya setelah berdiri di samping wanita itu.
Anna tertegun dengan mulut sedikit membuka.
"Tutup mulutmu, dan jaga estetika saat berjalan bersamaku." ucapnya sembari berjalan lebih dulu.
Apa dia bilang..?
Anna tak habis mengerti dengan karakter orang itu.
.
Sementara itu di lobbi kantor. Hampir lima belas menit, Rico bersitegang dengan Aldo yang tak mengijinkannya bertemu Kiandra.
"Pak Rico, jika Anda tidak bisa mematuhi aturan di sini, saya dengan berat hati akan memanggil Satpam." ucap Personal Asisten Kiandra itu tegas.
"Anda mengancam saya?" Rico geram.
Aldo tak bergeming.
Beberapa karyawan yang melintas mulai bertanya-tanya tentang perdebatan keduanya.
Rico melihat sekeliling, kemudian melangkah mendekat. "Bagaimana kalau saya beberkan tentang Anda yang menyalahi wewenang, dengan memangkas produk dari suplier lain dan memberikan slot-nya untuk kami?" ia menatap tajam.
"Saya rasa sudah cukup basa-basinya." Aldo menanggapi santai. "Saya akan panggil Satpam." lanjutnya.
Namun, bukannya fokus pada kata-kata Aldo, Rico malah melihat ke arah lain.
"Sudah aku duga." gumannya sambil menyingkirkan Aldo dari hadapannya, kemudian berjalan cepat ke arah Kiandra dan Anna yang baru saja keluar dari pintu lift.