Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
UNIK-RUMIT



Anna pikir, Kiandra akan langsung melepaskan pelukannya. Tapi, pria itu bahkan tidak bereaksi pada kalimat yang sudah susah payah ia tuturkan.


Kenapa dia tidak mengatakan apapun?


tanyanya dalam hati.


Perlahan Anna mendorong tubuh Kiandra, dan ternyata dengan mudah ia terbebas dari dekapan yang sedari tadi membuat jantungnya bergolak.


Ia menegadah dan mendapati pria itu menatap dirinya dengan kening berkerut dalam, tapi raut wajahnya merah padam.


"Kenapa tidak dari tadi ngomongnya?" ucap Kiandra ketus.


Anna membulatkan mata. Ia pikir akan mendapat perlakuan romantis dari pria tersebut. Tetapi, ternyata ia tetap galak seperti biasa.


"Soalnya... tadi saya sempat bingung..." hanya alasan itu yang mampu Anna utarakan, walau tentu saja itu hanya rekaan belakang.


Kiandra mendengus, membuat Anna diam-diam merasa kecewa, karena sesaat tadi sempat terbesit harapan ia akan di perlakukan dengan lebih lembut.


"Hei,"  muka Kiandra sudah ada di depan mata.


Seketika Anna menjauh, sebab hidung mereka hampir bersentuhan. "A, ada apa?" spontan ia bertanya.


Kiandra menipiskan bibir dengan kedua mata cokelat terangnya yang menatap intens. "Menurutmu aku sempurna?" ia balik bertanya.


"Eh..?" Anna tak mengerti.


Pria itu tersenyum makin lebar.


Loh? Kenapa dia...?


Anna heran, karena Kiandra bersikap aneh.


"Tidak ada yang perlu di rubah, karena Anda sudah sempurna di mata saya. Saya menyukai Anda..."


Anna teringat ucapannya sendiri.


Ya ampun...


ia langsung menutup mulutnya yang membentuk huruf O besar.


"Yaah..aku memang sempurna, dan kau beruntung di cintai orang sepertiku sampai bingung begini." Kiandra yang kelewat percaya diri menyimpulkan.


Anna merunduk demi menutupi rasa geli.


Kalau di pikir-pikir, memang hanya saat bersama Kiandra dia bisa sedikit terhibur dengan tingkahnya yang kadang kala konyol.


Pria naris itu berdehem beberapa kali, membuat Anna mengangkat muka. "Panggil lagi. " ucap-nya dengan gaya sok cool, padahal jelas-jelas wajahnya menunjukkan kebahagiaan.


"Panggil?" Anna tak mengerti.


Kedua alis Kiandra hampir menyatu menantapnya. "Nama." tandas pria itu penuh penekanan.


Anna mengerjap tak menjawab.


Apa benar aku menyukai wanita yang louding nya lama ini?


Kiandra memijit keningnya yang menegang, sembari membayangkan setiap hari harus bersabar dengan kelemotan-nya.


"Tuan Muda Kiandra." Anna memanggil.


Ia makin kesal di panggil begitu. "Sudah aku bilang panggil..."


"Kiandra." wanita itu terkekeh sambil menutup mulut.


Kiandra tertegun sesaat. "Hei, hei... kau sudah berani mengerjaiku, ya?" ucapnya begitu sadar sudah di jahili.


"Mana saya berani." Anna pura-pura polos. "Saya hanya takut, kalau saya salah panggil, Anda bisa salah injak pedal mobil seperti tadi."


Kiandra terhenyak.


Sialan, ternyata dia tahu.


ia memalingkan muka untuk menutupi rasa malu.


"Jangan besar kepala, kau pikir itu karena mu? Sudah aku bilang kan, kalau aku mengantuk." ucapnya kemudian.


Kenapa dia bisa segengsi ini?


Anna tak mampu menahan tawa.


"Maaf. Iya, saya tahu...hahahaha..." ia memegangi perutnya yang kram.


Tapi, sedetik kemudian ia langsung terdiam, saat secepat kilat Kiandra mengecup bibirnya.


"Ayo tertawa lagi." kedua manik mata berwarna cokelat terang itu berkilat terkena cahaya dari luar.


Anna terkesima, seraya meraba bibirnya yang baru saja bersentuhan dengan bibir pria itu.


"Bilang sama Ibu, kalau mendandani jangan cantik-cantik, nanti anaknya khilaf bagaimana?" Kiandra gantian tertawa hambar, lalu menjauh dan membenarkan letak duduk.


Anna meneguk ludah dengan pikiran melanglang.


Khilaf katanya?


batinya bertanya. Kemudian di perhatikan penampilannya, terutama gaya busananya yang memang cukup terbuka dengan dress biru tua di atas lutut dan model kemben pada bagian atas.


Anna baru paham kalau sedari tadi belahan dadanya menyembul, lalu buru-buru ia merapatkan jas warna gelap tersebut.


Biasanya laki-laki suka dengan wanita berpakaian terbuka, apa lagi jika tubuh si wanita langsing serta mulus. Tentu, walaupun tak bisa menjamah, tapi hanya dengan melihat, itu sudah menjadi hiburan tersendiri.


Mungkin dia sudah bosan melihat deretan wanita cantik yang selalu mengelilinginya.


Namun, Kiandra langsung mencegah. "Kenapa mau di hapus?" tanyanya.


"Ta, tadi Anda bilang.." Anna ragu.


Kiandra segera mengambil tisu dari tangannya dan membuang ke tempat sampah.


Lagi-lagi Anna di buat linglung dengan tingkah pria itu.


"Jangan di hapus dulu. Mau aku pamerkan. " Kiandra berkata sambil memasang sabuk pengaman.


Apa dia bilang? Pamer?


kening Anna mengerenyit sangking gagal pahamnya.


.


Tak membutuhkan waktu lama, Range Rover Sport warna santorini blcak itu sudah melaju kencang di jalan raya menuju pusat kota.


"Oya, kalau denganku jangan sering-sering melamun. Apalagi sampai menangis." Kiandra memberi tahu, saat mobil yang mereka naiki memasuki kawasan yang kanan-kirinya terdapat penginapan, tempat karoke sampai Cafe.


Anna tak begitu fokus dengan perkataan Kiandra, karena ia tengah sibuk melihat sekeliling.


Rasanya aku pernah lewat daerah sini.


pikir Anna sambil mengigit bibir bawah.


"Hei, jangan di gigit begitu. Kalau lipstiknya hilang bagaimana?" Kiandra mengomel.


"Maaf..." Anna tak enak. "Tapi... tadi Ibu membawakan lipstik, katanya untuk berjaga-jaga." ia memberi tahu.


"Kalau begitu cepat di pakai." perintah Kiandra sembari fokus menyetir.


Meski merasa aneh dengan ucapan Kiandra, Anna menurut. Dan saat ia membuka kaca mobil bagian atas, ia terkesima oleh wajahnya.


Tadi di tempat Spa aku tidak begitu memperhatikan karena tegang. Tapi, ternyata aku memang terlihat cantik sekali.


ia memuji diri sendiri.


Kiandra yang melihat dengan ujung mata ikut senang melihat Anna yang terlihat gembira.


.


.


Mobil SUV itu berhenti di sebuah Club paling ekslusif dengan parkiran paling ramai, padahal itu malam biasa dan bukan weekend.


"Tempat ini...." Anna membaca tulisan James Bond yang nampak bersinar di kegelapan malam.


"Milik temanku." Kiandra berkata ringan. "Beberapa kali kau pernah ke sini, kan?" tanyanya sambil melipat kemeja lengan panjangnya.


"I, iya... pernah. Tapi..." Anna tak melanjutkan kalimatnya.


Untuk apa kita ke sini?


pertanyaan itu hanya berhenti di kerongkongan.


.


"Ayo." ajak Kiandra sambil membuka pintu mobil.


Ragu-ragu Anna mulai mencopoti kancing jas yang sedari tadi membungkus tubuhnya.


"Kenapa di buka?" Kiandra yang satu kakinya sudah terjulur keluar, menoleh ke arahnya.


"Eemm... bu, bukanya kalau di tempat seperti ini..."


"Cepat kancingkan lagi!" perintahnya marah.


Anna betul-betul tak paham karakter pria yang kini terlihat santai dengan kemeja Tom Ford nya yang di keluarkan dan lengannya yang di lipat sampai siku.


Bukanya kalau tetap memakai jas yang kebesaran ini penampilanku jadi aneh? Aku cuma tidak mau membuatnya malu, tapi kenapa dia seperti itu...?


batin Anna muram.


.


Saat keluar dari mobil, Anna melirik Kiandra yang tengah bersiul sambil memainkan kunci mobil.


Dia terlihat senang


Anna menilai dalam hati, karena baru kali ini melihat pria kaku itu bersiul.


.


Mereka tak langsung masuk ke dalam, sebab Kiandra masih meneliti penampilan-nya dari atas sampai bawah.


"Untung aku pakai jas yang model ini, jadi bagian bawahnya agak panjang." ia berbicara sendiri sembari merapikan jas miliknya yang di pakai Anna. Ia sempat menarik-narik kain jas tersebut supaya bisa sampai lutut, tapi tentu saja itu tak mungkin.


Beberapa pengunjung yang lewat memperhatikan mereka, dan hal itu membuat Anna malu.


"Tuan Muda, kita..."


Kiandra berdecak. "Kenapa masih panggil begitu? Apa di dalam nanti kau juga mau memanggil ku begitu?" ia gemas.


"Maaf..." Anna mengigit bibir bawah.


"Harus berapa kali lagi aku mengatakan, jangan mengigit bibir seperti itu!" Kiandra memarahi seperti seorang bapak kepada anak.


Petugas parkir yang berada di sekitar lokasi sampai terkekeh melihat tingkah dua orang itu.