
Ponsel baru berhenti berbunyi, setelah lima sampai enam kali panggilan. Kiandra mendengus, lalu merubah mode panggilan menjadi silent.
.
Sesampai di kantor, Kiandra langsung di hadapan dengan rapat bersama para manager cabang.
Berbagai keluhan dari masing-masing kantor menjadi bahasan bersama, dan jika ada yang benar-benar buntu tanpa solusi, itu akan menjadi PR untuk Kiandra bedah, lalu kembali akan di bahas di rapat berikutnya.
Hanya berselang setengah jam dari rapat pertama, Kiandra terjadwal meeting dengan para Supervisor untuk produk baru dari gerai swalayan.
Devisi retail adalah yang paling membuat pening, karena berurusan dengan banyak seller yang tidak semua Kiandra tahu.
Mungkin aku memang lebih cocok di properti dari pada retail seperti ini.
batin Kiandra, ketika mendengar laporan supervisor dari salah satu gerai.
Sampai lewat jam makan siang, Kiandra masih di sibukkan dengan berbagai urusan.
Mungkin tidak terasa lelah di fisik, karena dia selalu duduk nyaman di ruangan berpendingin. Tapi, otaknya di paksa terus di peras untuk mengurusi semua hal dari dua perusahaan berbeda yang kini melebur jadi satu.
.
Kiandra sedang menandatangi setumpuk berkas, saat pintu di ketuk dan sekretarisnya masuk.
"Maaf Chief, ada Pak Rico ingin bertemu." ia menyampaikan.
"Siapa?" Kiandra tak begitu familiar dengan nama itu.
"Pak Rico dari Golden Hope. Salah satu seller kita." wanita dengan setelan baju kerja warna biru muda itu menjelaskan.
Kening Kiandra berkerut. Ia betul-betul lupa tentang orang yang di sebutkan. Biasanya di situasi seperti ini, akan ada Aldo yang menjabarkan lebih detail. Tapi, personal asisten nya itu sedang istirahat makan siang.
"Suruh masuk saja." perintah Kiandra akhirnya.
"Baik, Chief." karyawannya itu menurut, kemudian membuka pintu dan pergi.
Kiandra baru saja selesai menandatangani berkas terakhir, lalu menumpuknya jadi satu bersama dokumen-dokumen lain, ketika pria dengan setelan jas dari Wong Hang warna biru dongker itu masuk.
"Selamat siang, Pak Kiandra." ia memberi salam.
"Selamat siang." Kiandra bangkit berdiri dan menyambut uluran tangan Rico. "Silahkan duduk." ia mempersilahkan.
"Terima kasih." Rico tersenyum. Dengan ujung mata, ia melihat ruang kerja Kiandra yang luas dan di dominasi warna putih-hitam yang elegan.
"Tumben anda jauh-jauh ke sini." Kiandra membuka obrolan.
Rico melihat Kiandra mengenakan kemeja putih dengan kalung bvlgari yang menyembul di sela kancing kemeja, kemudian jam tangan Vacheron Chonstantin Tour de l' lle yang berharga puluhan milyar, serta jas jahitan tangan dari Brioni yang tergantung di sisi kiri.
Rahang Rico menegang memandang Kiandra yang nampak superior dengan latar langit biru yang secerah hidupnya yang sempurna.
"Pak Rico?" panggil Kiandra, sebab pria itu menatap tanpa kedip.
"Oh, maaf." lekas Rico tertawa untuk menutupi panas hati-nya.
Meski merasa aneh. Tetapi, atas nama kesopanan, Kiandra ikut terkekeh.
"Saya hanya ingin memberikan ini." Rico menyerahkan kotak ekslusif dengan hiasan tali yang unik.
Kiandra menerima dengan pandangan bertanya.
"Minggu lalu saya pulang ke negara asal. Dan saya ingin memberikan sedikit oleh-oleh sebagai tanda terima kasih, karena anda sudah memberi kami slot lebih, sehingga penjualan kamipun naik." kata-kata Rico terdengar tulus.
"Terima kasih." tak kalah tulus, Kiandra berkata. "Tapi, seharusnya anda tidak perlu repot-repot seperti ini. Sudah kewajiban kami untuk membuat seller puas dan tercipta kerja sama yang saling menguntungkan." Kiandra yang sejak kecil sudah terbiasa dengan segala jenis penjilat, menanggapi dengan sikap profesional.
"Iya, tentu saja." Rico tertawa renyah.
"Apa ini batik?" tanya Kiandra ketika tak sengaja melihat kain motif pada kotaknya yang transparan.
"Benar." jawab Rico. "Seperti di sini yang mempunyai batik. Di negara saya juga ada batik, hanya saja pembuatannya dengan kuas, bukan dengan canting."
"Ooh.." Kiandra manggut-manggut.
"Saya memberikan sepasang untuk anda dan calon pendamping." Rico tersenyum, tapi sorot matanya tajam menatap.
"Pendamping?" Kiandra meletakkan hadiah pemberian Rico dan menoleh ke arahnya.
"Iya, bukankah anda bilang sudah memiliki pendamping?" Rico pura-pura heran. "Kapan anda menikah?" tanya-nya penasaran.
Seketika air muka Kiandra berubah. Tetapi, itu hanya sesaat, sebelum ia mampu menutupi.
"Secepatnya." jawab Kiandra singkat.
Senyum Rico melebar, "Saya tunggu undangannya."
"Tentu saja." Kiandra memalingkan muka.
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Rico pamit.
.
Secepatnya dia bilang?
Rico mencemooh dalam hati.
Ia berjalan gagah melewati koridor gedung utama Marthadinata-Sanjaya Groub.
Beberapa karyawan yang sudah pulang dari makan siang berpapasan dengannya, dan dengan ramah Rico tersenyum pada tiap orang yang melihatnya.
"Siapa dia?"
Rico mendengar seorang karyawati berbisik.
"Entahlah. Rekan Chief mungkin."
"Ganteng."
"Sepertinya indo."
Dalam hati Rico bangga. Ia tak segan berbalik hanya untuk mengangguk kan kepala dan tersenyum pada mereka.
Tindakan sederhana. Tapi, membuat para wanita yang penasaran, makin melting di buatnya.
Rico mengusap rambut ke belakang, lalu merapikan jas penuh gaya dan masuk ke dalam lift.
Di hidupnya yang melarat dan tanpa kebahagiaan, satu-satunya anugerah yang membuat Rico merasa beruntung adalah fisiknya yang terlahir rupawan.
"Iya, sayang. Tunggu sebentar, ok?" Rico keluar dari lift dan terlihat sedang menelpon.
Ia masuk ke dalam mobil Audi A 8 L warna seville red metallic dan mulai menghidupkan mesinnya.
"Iya, oke. Bye, love you."
Sambungan telpon terputus. Ekspresi Rico yang awalnya ceria, langsung berubah dingin.
Ia meletakkan smart phone nya begitu saja ke jog samping, kemudian menginjak pedal gas dan memutar stir.
Kiandra Marthadinata, kau hanya beruntung di lahirkan dengan banyak anugerah.
batin Rico, tanpa perasaan.
.
Ketukan pintu membangunkan Kiandra yang rupanya sempat tertidur ketika memikirkan keberadaan Anna.
Aldo masuk dengan membawa tas plastik warna bening.
"Saya bawakan mi iblis level 15 dan es pocong tanpa selasih, Chief." meski sering kali menjadi sasaran amuk Kiandra. Tapi, dedikasi Aldo memang patut di acungi jempol.
Personal Asistennya itu mengganti wadah sterofoam dengan piring dan menuang es campur-nya ke dalam gelas kaca.
"Silahkan, Chief." Aldo menyuguhkan mi pedas dan es warna pink dengan potongan buah itu di hadapan Kiandra.
Awalnya Kiandra hanya melihat. Tapi, Aldo memang tahu apa yang menjadi favorite-nya.
"Saya juga sudah beli ini. Untuk jaga-jaga." Aldo nyengir sambil meletakkan obat sakit mag.
Mau tak mau Kiandra yang masih kesal tertawa.
"Kau meremehkan aku?" guraunya.
"Mana saya berani Chief." Aldo geleng-geleng. "Saya hanya tidak mau anda sakit lagi." ucapnya jujur.
"Aku tidak akan sakit, kalau kau cepat menemukan wanita itu." Kiandra menunjuk-nunjuk Aldo dengan sumpit.
"Anda... peduli sekali dengan wanita itu. Apa ini seperti yang saya duga?" tanya Aldo hati-hati.
"Apa?" tanya Kiandra yang bersiap menyumpit mi.
"Wanita itu punya hutang pada anda. Tapi, tak mampu membayar dan melarikan diri." jawab Aldo serius.
Untungnya, mi pedas yang Kiandra makan sudah tertelan, kalau tidak, mungkin saat ini ia sudah tersedak.
"Jangan bicara lagi, aku sedang makan!" perintah Kiandra galak.
Salah lagi...
keluh Aldo dalam hati.
Namun, ia senang melihat Kiandra makan dengan lahap. Walau ia sendiri bergidik dengan banyaknya cabai setan yang terdapat di mi goreng tersebut.
...----------------...
Maaf baru sempat update. Kemarin saya sibuk sekali 🙏