Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
LUKA DAN PERHATIAN



Semua yang berada di situ kaget sampai bangkit dari tempat duduk masing-masing. Si kembar berteriak-teriak, sedang Ibu Kiandra tak kalah panik. Hanya Dave yang dengan sigap menarik lengan Anna, kemudian menguyurnya dengan segelas air dingin.


Beberapa pelayan langsung datang, begitu mendengar suara benda jatuh. Suasana makan pagi seketika di warnai keributan, dengan sayur bayam yang mengotori lantai.


"Saya minta maaf." berkali-kali Anna meminta maaf sembari menahan nyeri, saat tangannya mulai memerah dan bengkak.


Seorang pelayan terburu-buru datang membawa sebaskom es batu atas perintah Ayah Kiandra.


"Suruh dia merendam tangannya di situ." dari tempat duduknya, kepala keluarga Marthadinata itu memerintah. Dia dan Dave yang paling tenang di situ.


Pelan-pelan Anna memasukkan tangannya yang tersiram kuah panas ke dalam wadah berisi es batu.


"Ayo kita ke rumah sakit." ibu Kiandra yang berada di sebelahnya cemas.


"Terima kasih." Anna terlihat rikuh. "Saya sudah tidak apa-apa. Sudah tidak terasa sakit lagi." ia memaksa tersenyum.


"Pasti sakit sekali."


Duo kembar yang ikut mengelilingi Anna, serta mengamati tangan kirinya yang di rendam di baskom air es sedih.


"Tidak terlalu sakit kok, anak manis." Anna kembali tersenyum.


"Itu sakit sekali." bantah Kalila.


"Benar!" Kama setuju. "Karena dulu kami juga pernah tersiram kuah panas bakso." ia menjelaskan.


"Oya?" Anna geli melihat cara mereka bicara dan sesaat lupa pada rasa nerdenyut di tangan.


"Iya." Kalila mengangguk berkali-kali. "Makanya aku bingung, kenapa Onty masih bisa tersenyum padahal sedang kesakitan?"


Ucapan polos Kalila seketika membuat Anna tertegun.


Dave yang berdiri di antara mereka, diam-diam memperhatikan sikap Anna. Meski sepanjang pengamatannya wanita itu terlihat baik. Tapi, tetap saja ia merasa ada sesuatu yang di sembunyikan.


.


"Setelah ini kau istirahat saja." ibu Kiandra menyarankan.


Wanita itu membantu mengeringkan tangan Anna yang bengkak dan merahnya mulai berkurang, setelah hampir 15 menit di rendam air es.


Anna yang sudah lama tidak mendapat perlakuan sebaik ini merasa kikuk. Ia menoleh ke arah meja makan, di mana anggota keluarga yang lain telah lebih dulu sarapan, setelah para pelayan membersihkan semua kekacauan yang ia buat.


"Bu, saya bisa sendiri." Anna berkata, ketika dengan telaten ibu Kiandra mengoleskan salep untuk luka bakar ke tangannya.


"Bisa sendiri. Tapi, bukan berarti orang lain tidak boleh membantu,kan ?" wanita sepuh itu tersenyum, membuat kerutan di pipi dan bawah matanya makin terlihat jelas. Tetapi, ajaib-nya, malah membuat sosok baik hati itu makin menarik.


Aku bisa membayangkan, betapa cantiknya beliau ketika muda.


pikir Anna, dengan mata yang menatap haru.


Sementara itu di meja makan. Ayah Kiandra, Dave, beserta dua anak kembarnya sudah lebih dulu sarapan.


"Dad." panggil Dave.


Ayah mertuanya yang baru saya meminum segelas air putih, menoleh ke arahnya.


"Kenapa Dad membiarkan orang asing itu tinggal di sini?" setelah beberapa hari menimbang, akhirnya Dave menanyakan hal yang menjadi ganjalan di pikirannya.


Pria berambut salju itu melihat istri-nya dan Anna dari kejauhan, kemudian kembali menatap anak menantunya.


"Ibumu menyukainya." jawab-nya singkat.


Dave tertegun. Tetapi, kemudian ia menghela nafas maklum.


Iya, apa lagi alasan paling logis yang bisa membuat Andreas Marthadianta mengijinkan orang tanpa identitas masuk ke dalam ranah-nya, jika bukan karena sabda sang istri.


Dave tak lagi bertanya, sebab kalaupun di kemudian hari orang itu melakukan tindakan kriminal, maka dia tinggal menghukum sesuai perbuatan-nya dan itu hal yang sangat mudah bagi pria penuh kuasa seperti-nya. Yang terpenting, istrinya bahagia dulu, urusan lain belakangan.


Diam-diam Dave salut dengan Ayahnya. Ah, bukankah sudah sejak dulu dia sudah mengagumi sang Ayah?


Dave terseyum simpul, lalu melanjutkan makan di tengah suara berisik kedua anaknya yang terus bicara.


.


"Mana Dave?" tanya Kirana begitu duduk.


"Kembar merengek minta ke Ind*mart beli KinderJoy." Ayahnya yang menjawab, lalu saling bertukar pandang dengan sang istri dan tertawa.


"Daddy apa-apaan...? itu kan sudah lama sekali. Aku saja sudah lupa." Kirana yang paham sedang di sindir merasa malu.


"Memang ada apa?" Ayahnya pura-pura bodoh.


Hal itu memancing tawa istrinya.


Kiandra cuek-cuek saja mendengar pembicaraan yang tak ia mengerti. Dia segera membuka piring di hadapannya dan mengambil nasi. Kindra sudah sangat kelaparan, dan makin lapar, karena di paksa mandi dulu oleh Kakak-nya.


"Kau jangan terlalu keras pada anak-anakmu. Ingat, kau dulu juga sangat menyukai jajanan itu." si ibu mengingatkan.


"Aku tidak keras Bu. Tapi, tegas." Kirana meralat. "Aku takut gigi mereka rusak, karena terlalu sering makan cokelat." ia menambahkan.


Namun, lagi-lagi orang tuanya geli mendengar kata-kata seriusnya.


Memang terasa lucu, sebab anak pastilah mirip dengan orang tua. Hanya saja, tidak semua orang tua bisa bersabar dengan tindakan anak-anak mereka, yang sebenarnya cerminan dari diri mereka sendiri.


"Tumben ibu tidak masak sayur berkuah..?" ujar Kiandra, sambil mengamati isi meja makan.


Orang tua, serta kakak perempuan-nya yang tengah bernostalgia, melihat ke arah-nya.


"Kau selalu ribut soal makanan." Kirana yang duduk di sebelahnya mencemooh. Entah kenapa ia ingin sekali meluapkan kekesalannya selama ini pada adik-nya yang susah di hubungi dan di temui.


"Aku tidak bicara padamu." cibir Kiandra tak kalah kesal.


Herannya, kedua orang tua mereka malah senang melihat anak-anaknya adu mulut seperti ini.


"Tadi ada sayur bayam. Tapi, tak sengaja Delana menumpahkan-nya." si Ibu menjelaskan.


Kedua mata Kiandra melebar. Tetapi, itu hanya sesaat, sebelum ekspresinya kembali kaku seperti biasa.


"Dia sudah sembuh kan? kenapa tidak di beri uang dan di suruh pergi saja?" kata Kiandra yang masih marah karena teringat urusan-nya dengan Anna semalam.


"Kau betul-betul harus mendaftar sekolah kepribadian." ujar Kirana sebal


Ayahnya terbahak mendengar perkataan putrinya. Karena percayalah, dulu saat muda pun, dia pernah di sarankan mengikuti sekolah kepribadian.


"Kian, jangan bicara kasar seperti itu." kali ini Ibu-nya menanggapi serius.


Kiandra cuma mendengus, lalu mulai menyendokkan nasi dan lauk ke mulut.


"Tangan Delana melepuh karena tersiram kuah panas." si ibu memberitahu.


Kiandra kaget, sampai membuat sendok dan garpung-nya terjatuh dan menimbulkan dentingan di atas piring.


"Kok bisa?" Kirana ingin tahu.


Ibu-nya mulai bercerita. Kiandra pura-pura acuh dengan tetap menikmati sarapannya. Padahal dia pasang telinga baik-baik.


.


Tidak seperti yang Kiandra kira sebelumnya.Ternyata bertemu, serta tinggal bersama saudara dan kakak iparnya, tidaklah seburuk yang ia duga.


Mungkin sebenarnya dia pun rindu masa-masa berkumpul bersama. Tapi, sayang-nya Kiandra terlalu tinggi hati untuk mengakui hal itu.


Namun, dari pada memusingkan persoalan masa lalu dengan kedua kakak-nya. Kiandra lebih tertarik pada wanita yang membuat diri-nya yang gila kerja, mengambil cuti sampai satu minggu lamanya.


Memang sialan kau Anna.


Umpat Kiandra dalam hati.


Ia berdiri di beranda kamarnya di lantai dua. Melawan matahari siang yang begitu terik, hanya demi melihat wanita itu keluar dari rumah kaca.