
Anna yang sedang mengelap jendela kaca, terkejut melihat mobil BMW Z4 warna San Fransisco Red berhenti di depan toko.
Dengan mengenakan kemeja green bottle yang di padu celana panjang warna hitam, Kiandra keluar dari mobil tersebut.
Kenapa pagi-pagi dia sudah kesini? mau apa dia?
tanya Anna dalam hati.
Jangan-jangan dia mau menyelidikiku?
Anna panik.
Cepat-cepat ia turun dari pijakan dan berniat untuk sembunyi. Tapi, begitu dia berbalik, Nisa sudah berada di belakang.
"Waah..ada si ganteng." Nisa sumringah. "Dia pasti ingin menemuimu." Bos nya girang melihat kedatangan Kiandra dari kaca jendela.
"Tante, saya ijin ke kamar. Mendadak...mendadak...kepala saya..."
Belum sempat Anna menuturkan alasan, bunyi lonceng yang menandai tamu datang terdengar.
"Selamat datang di Nisa Florist." seru Nisa lantang, ketika melihat Kiandra sudah berdiri di ambang pintu.
Anna meneguk ludah melihat mata pria itu menatap ke arahnya.
"Cari bunga apa?" Nisa tersenyum ramah sambil berjalan mendekat.
"Dia." tunjuk Kiandra pada Anna yang masih mematung di belakang.
Nisa tertunduk menahan geli. Sebaliknya, wajah Anna sudah memucat.
"Anna, pelanggan kita mencari bunga sepertimu." ia bergurau.
"Bukan begitu." tak di sangka, Kiandra menyahuti gurauan Nisa dengan nada serius. "Aku inginnya dia yang melayaniku." ia menambahkan.
Siapa pun seharusnya tahu, jika itu hanya lelucon. Tapi, reaksi Kiandra membuat baik Nisa maupun Anna sedikit canggung, sebab mereka mengira Kiandra tersinggung.
"O, ooh...iya.."jawab Nisa kikuk.
Ia dan Anna saling pandang. Lewat tatapan mata, Nisa menyuruh agar pegawainya mendekat.
Tak ada pilihan bagi Anna, kecuali menuruti permintaan Atasan-nya.
"Ada sesuatu yang harus Tante ambil di atas sebentar."
Tanpa menunggu persetujuan Anna, wanita itu sudah lebih dulu menaiki anak tangga ke lantai atas.
Nisa memang sengaja berbuat begitu, agar Anna dan Kiandra semakin akrab. Sayang, hal tersebut justru membuat Anna berkeringat dingin.
"Ini untukmu." tiba-tiba Kiandra sudah menyodorkan paperbag warna merah muda bertulis Etude House.
"A, apa ini?" tanya Anna bingung.
"Make up." jawab Kiandra singkat, lalu berjalan mengelilingi toko.
"Make up?" Anna mengulang. Kemudian dia buka tas kertas tersebut. Benar saja, tas itu berisi aneka riasan untuk wanita.
Anna berbalik dan mengekor kemana Kiandra menjelajah ruang.
"Saya tidak bisa menerima ini. Bukannya kemarin saya sudah mengembalikannya? kenapa sekarang..."
"Itu brand dari korea. Menurut Beauty Journal, merk itu salah satu yang terbaik." Kiandra menerangkan tanpa melihat lawan bicara.
"Bukan itu maksud saya." Anna gelisah. Ia gemas dengan lelaki yang malah asik mengamati mawar putih yang kebetulan subuh tadi baru sampai.
"Aku mau ini semua." Kiandra berbalik, membuat Anna hampir menubruknya.
"Apa?" Anna membulatkan mata.
Kiandra mendegus. "Hilangkan kebiasaanmu yang selalu bilang, apa." printah-nya kesal.
Astaga...
Anna hampir hilang sabar, kalau berbicara dengan pria di hadapannya ini.
"Aku ambil semua mawar putih ini." Tak menghiraukan Anna yang wajahnya sudah memerah dan berkerut, Kiandra menunjuk tiga ember berisi bunga mawar putih.
"Kau mau ambil semua?" tanya Anna kaget.
"Iya. Kenapa?" Kiandra merasa aneh dengan ekspresi gadis itu.
"I, ini banyak sekali." Anna mendongkak untuk menatap pria bertinggi lebih dari 180 cm tersebut.
"Kau tak bisa merangkainya?" Kiandra bersedekap, membuat gayanya terlihat jumawa.
"Kalau begitu cepat di rangkai. Aku tunggu." Kiandra ngeloyor begitu saja, lalu duduk di kursi yang berada di sudut ruang.
Anna masih mematung, kemudian dia tersadar, jika masih membawa paperbag
berisi perlengkapan make up yang tak ia inginkan.
Dia pandangi Kiandra yang sudah larut dengan game mobile legend di ponsel-nya.
Kalau aku memaksa mengembalikan, bisa jadi dia membatalkan pembelian.
Anna menimbang dalam hati. Pandangannya teralih dari Kiandra, ke tiga ember berisi mawar putih yang masih-masing berisi 50 batang.
Akan sangat di sayangkan di musim sepi pembeli begini, kalau aku sampai membuatnya marah dan batal beli.
Kening Anna berkerut.
Demi Nisa dan toko yang telah menampungnya selama ini, akhirnya Anna memilih menurunkan ego.
Dia letakkan paperbag tersebut ke atas meja kasir, kemudian mulai merangkai bunga pesanan Kiandra.
Selama Anna membuatkan buket, keadaan toko sunyi. Hanya sesekali terdengar suara gunting di letakkan atau gesekan kertas, ketika Anna berkutat dengan rangkaian bunga.
Kiandra sendiri, kalau sudah bermain game tak akan peduli sekitar. Biasanya, jika hari weekend seperti ini, dia bisa seharian rebahan di tempat tidur bersama ponselnya.
Aroma sandalwood dari humidifier menyeruak, tiap kali alat berbentuk bulat itu menyemportkan uap-nya.
Nyaman, itulah kata yang tepat untuk toko bunga bercat dinding warna tosca pastel tersebut.
Kedua alis Kiandra hampir menyatu, dan ia hampir saja mengumpat kalau tak ingat sedang ada di mana. Lawan di gamenya berhasil merebut armor yang di belinya dengan harga mahal.
Ia mendengus, lalu tanpa sadar melihat Anna dengan ujung mata.
Gadis itu masih sibuk menata bunga mawar yang berjumlah lebih dari 100 batang di atas meja kasir yang juga berfungsi untuk membungkus parcel.
Kiandra yang awalnya hanya melirik, menjadi memandang.
Pria itu tak percaya dengan cinta pada pandangan pertama, sebab cinta adalah soal kebiasaan. Kebiasaan bersama, kebiasaan dia selalu ada dan di situlah cinta baru tumbuh.
Namun, sejak awal dia melihat Anna dengan piyama keroppi-nya, ia otomatis tertarik.
Kiandra sampai mengikuti permaian konyol teman-temanya, meski ia bisa membayar denda dan memilih menyerah.
Perasaan Kiandra makin tersentuh, ketika tak sengaja ia melihat gadis itu hendak bunuh diri.
"Kau mau bilang bagaimana juga nggak ngaruh, dia ini sudah jatuh cinta."
Ucapan Ethan tempo hari terngiang, menbuat Kiandra mengalihkan pandangan.
Jatuh cinta dengan-nya?
Ia menarik ujung bibir, lalu kembali memandangi gadis berwajah pucat dan berbaju sederhana tersebut.
Walau Kiandra tak berniat menikah. Tapi, dia pria normal yang menyukai lawan jenis.
Seperti dia yang berstandar tinggi dalam memilih baju, aksesoris atau hal apapun soal penampilan dan diri. Begitupun tentang wanita. Tak hanya cantik dan menarik. Tetapi juga harus cerdas.
Namun, di atas semua itu. Pasangannya kelak, haruslah wanita yang bemartabat dan mampu menjaga kehormatan diri.
Kenapa aku malah memikirkan soal pasangan dan menikah?
Kiandra bingung sendiri.
Kembali ia melihat Anna yang nampak kesusahan merangkai bunga sebanyak itu sampai tertunduk dalam.
Rambut panjang Anna yang terkuncir tak rapi menutupi wajah, kemudian di sibakkan. Sekali-dua kali, sampai gadis itu gemas sendiri dan akhirnya dengan sebal mengelung rambut panjangnya asal.
Kiandra mengulum senyum. Untuk pertama kali-nya, dia lebih memilih memperhatikan hal lain dan meletakkan game mobile legend-nya.
...****************...
Silahkan DM nomor Hp dengan follow IG Hijaudaun_birulangit atau PC lewat groub Telegram.
Terima kasih sudah membaca Seducing Miss Introvert
Happy Weekend 🥳
-🍀-