
"Dia semakin seenaknya sendiri saja." ujar Kirana sambil memasukan ponsel ke dalam saku.
"Sudahlah." suaminya yang duduk di samping menenangkan. "Memang kenapa kalau mereka memang melakukan hal itu? Mereka sudah dewasa, dan itu hal pribadi yang tak perlu kita campuri."
Kirana menoleh dengan raut kesal. "Kenapa kau malah membelanya? Bagaimana kalau Delana hamil?" ia merendahkan nada suaranya pada kata terakhir.
Dave terkekeh. "Kau kejauhan berpikir Kirana." ia berkata.
"Kejauhan bagaimana?" keningnya berkerut dalam. "Masalahnya, apa Kian mau bertanggung jawab? Lalu soal Delana, sampai sekarang kita tak tahu siapa dia dan darimana dia berasal."
Terdengar tawa kencang Kama dan Kalila dari kejauhan, membuat kedua orang tuanya yang sedang mengobrol, melihat ke arah mereka yang sedang memberi makan angsa-angsa yang berenang di danau.
Meski matahari sore masih bersinar terik, tapi duo kembar itu dengan riang melempar ikan-ikan pakan ke arah para angsa.
"Hei! Makan dulu!" Kama yang membawa galah menghadang angsa-angsa yang sudah kenyang untuk berenang kembali ke tepi.
"Ini makan! Makan yang banyak!" Kalila terus melempar ikan-ikan pakan yang sebagian cuma mengambang di air, karena angsa yang berjumlah lima ekor itu sudah kekenyangan.
"Tuan Muda, Nona Muda, sepertinya angsanya sudah kenyang." si Penjaga menasehati.
Bukannya menurut, si kembar malah gantian menganggu angsa-angsa yang naik ke darat dengan galah dan mengejar-ngejarnya, hingga hewan berbulu putih itu serentak memekik ketakutan.
Kirana dan Dave yang melihat kelakuan anak-anak mereka hanya saling pandang. Seolah mereka sudah maklum dengan tingkah usil keduanya.
.
"Seandainya benar itu terjadi, aku rasa Kian pasti akan bertanggung jawab." Dave kembali berkata.
Kirana mendengus tak tenang.
"Lalu soal Delana." kali ini nada bicaranya sedikit lebih serius. "Kita memang tak tahu dia siapa. Tapi, aku rasa dia wanita yang baik dan juga sabar. Sangat cocok bersanding dengan Kian yang gampang meledak-ledak." Dave memberi pendapat.
Kirana memandang suaminya sembari memiringkan sedikit kepala. "Kemarin kau bilang, kita harus berhati-hati dengan orang asing. Sekarang kau malah bilang, mereka cocok?" ia tak mengerti.
Dave mengulum senyum. "Yah.. aku memang pernah bilang begitu." ia mengakui. "Tapi setelah kemarin aku mengobrol dengannya... eemmm..." ia berpikir sejenak untuk mencari kalimat yang pas. "Entahlah, aku seperti merasa kalau dia wanita baik-baik."
"Oh!" Kirana pura-pura kaget. "Apa suami ku baru saja memuji wanita lain?" ia bertanya.
"Tidak. Ini tidak seperti yang kau kira." Dave terkekeh.
"Seperti yang aku kira juga tidak apa-apa, kan?" ia membuang muka.
Dave mengeser duduk agar lebih dekat ke istrinya. "Kenapa jadi cemburu begini?" ia geli.
"Siapa yang cemburu?" Kirana menoleh. "Sudah seusia ini. Rasanya tidak pantas untuk kita main cemburu-cemburuan." wanita lima puluh tahun berparas ayu itu kembali memalingkan muka.
Dave mengulurkan lengan untuk merangkul istrinya. "Sayang sekali, padahal... aku saja cemburu jika melihat foto Jonathan yang masih kau simpan." ia berkata sembari melihat ke arah lain.
Seketika Kirana melihat ke arahnya. "Dave, kau tahu kalau..." kalimatnya terhenti, saat melihat pria dengan beberapa helai rambutnya yang telah beruban itu tersenyum.
"Benar, kau tak perlu cemburu, karena seberapa cantiknya wanita lain, hatiku hanya memintamu." ia berkata pasti.
"Astaga..." Kirana terkesima. "Sudah berapa tahun aku tak mendengar gombalan mu ini, Dave?" ia memukul pelan pundak suaminya.
Dave menunduk sambil menutupi wajahnya yang merah dengan telapak tangan. "Sebenarnya aku juga malu." ucapnya hampir tak terdengar.
Kirana terbahak.
.
Melihat Ayah dan Ibunya nampak asik. Kama dan Kalila yang tadinya masih mengejar-ngejar angsa sambil membawa-bawa galah, segera membuang tongkat panjang tersebut, dan berlari mendekati orang tuanya.
"Apa? Apa? Apa yang lucu?" beramai-ramai mereka bertanya.
"Papa mu yang lucu." Ibunya menjawab di sela tawa.
"Tidak ada yang lucu." Ayahnya segera menyahut.
Ibunya semakin tergelak. Membuat kedua anaknya cemberut, sambil memandangi kedua orang tuanya yang tetap asik sendiri tanpa mau berbagi.
.
.
Di waktu yang sama, mobil Alphard warna Graphite Metalic itu sedang meluncur di tengah jalan raya yang ramai dengan kendaraan yang saling susul-menyusul.
Ayah Kiandra yang duduk di jog belakang, memandang ke arah jendela dengan pikiran mengawang ke masa lalu.
Raut tua itu menatap langit di atas sana yang nampak biru dengan gumpalan awan putih yang berarak.
Ia tak pernah menyesal melakukan kejahatan besar, selama itu untuk melindungi kebahagiaan orang-orang terkasihnya. Tak mengapa dosa ini ia bawa sampai ke neraka, karena memang sudah sepantasnya ia di hukum atas apa yang di lakukan.
Namun, mendadak pria tua itu merunduk sedih memikirkan kedekatan Kiandra dengan Aldo, yang mengingatkan akan saudara dan juga Personal Asistennya dahulu.
Ren, aku jaga mereka sampai akhir.
ucapnya dalam hati.
"Tuan?!" pekik si Sopir tiba-tiba, saat melihat Tuan Besarnya itu ambruk dari kaca spion tengah.
.
.
"Bu. Ibu?" Anna memanggil, sebab Ibu Kiandra yang duduk di hadapannya mendadak termenung.
"Eh? ya? Ya, nak?" ia tersipu karena terpergok melamun.
"Ibu lelah?" Anna khawatir.
"Ah, tidak." wanita tujuh puluhan tahun itu mengibaskan tangan. "Hanya... tiba-tiba saja Ibu merasa keinginan terbesar Ibu akan segera terwujud." ia tersenyum lebar.
Anna yang mendengar tertunduk dengan muka memerah. "Eemmm... anu.. mengenai Tuan Muda. Saya dan beliau betul-betul hanya menginap. Sa, saya... anu... saya ma..."
"Iya, Ibu percaya." potong Ibu Kiandra sembari menepuk lembut punggung tangan Anna yang berada di pangkuan.
Wanita yang telah berganti baju dengan miliknya sendiri, serta sudah menguncir rambutnya seperti biasa, kini tertegun menatap Nyonya Marthadinata yang bersahaja.
"Ibu percaya, anak Ibu yang ganteng tak akan mungkin berbuat begitu." ia berkata penuh kebanggaan.
Kedua mata Anna membulat. Ia pikir, si Ibu akan bereaksi sama seperti Kakak Kiandra yang mengomel tanpa jeda. Tetapi, ternyata wanita itu tetap tenang, dan bahkan tak bertanya ini dan itu seperti Kakak Kiandra tadi.
"Kian selalu menghomati wanita, sama seperti dia menghormati Ibu dan Kakak perempuannya." ia kembali tersenyum. "Dan kau adalah wanita pertama yang di sukainya, jadi pasti... kau akan di jaganya baik-baik."
Anna terkesima.
"Terlepas dari mana asal usul atau masa lalumu, Ibu tak mempermasalahkannya, karena yang terpenting Ibu mengenalmu sebagai Delana yang sekarang. Delana yang lembut, Delana yang ringan tangan, Delana yang baik dan juga sabar." ia memandang Anna seperti memandang anak sendiri.
Anna terharu sampai kedua matanya berkaca-kaca. "Bu, saya ingin mengatakan sesuatu..." ia berkata ragu.
"Ya? Katakan saja, nak." Ibu Kiandra menyimak.
Anna meneguk ludah susah payah.
Aku akan jujur. Aku harus jujur.
batin Anna bertekat.
"Bu... Sa, saya sudah ingat semuanya." ia berkata perlahan.
Ibu Kiandra terkejut. "Benarkah?" ia memastikan.
Anna mengangguk beberapa kali dengan raut gundah.
"Syukurlah. Ini kabar yang baik." wanita itu terlihat senang.
Anna merunduk gelisah sembari memainkan buku-buku jari tangan.
"Ceritakan, nak. Ibu ingin tahu tentangmu." ia mengenggam kedua tangan Anna untuk menenangkan.
Anna mengangkat muka sembari memaksa tersenyum. "Sa, saya berasal dari..."
"Buuu! Ibbuuu..!"
Tiba-tiba Kirana memanggil sambil berlari kencang menuju rumah kaca tempat mereka sedang duduk.
Baik Anna maupun Ibu Kiandra sama-sama terkejut, melihat Kirana yang sampai memanggil sekeras itu.
Langkah wanita lima puluh tahun itu seketika terhenti tepat di hadapan mereka. "Ibu.." ia menatap ibu kandungnya dengan muka merah dan pipi yang basah oleh air mata.
" Ada apa, nak?" Ibu Kiandra heran.
"Daddy... Ibu, Daddy..." suaranya tertelan oleh tangis.