Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SAMAR



"Aku tahu Kian bukan tipemu. Dia terlalu dandy, dan kau pasti lebih suka lelaki macho yang jago beladiri." Ayah Kiandra berjalan, sembari mengikat kedua tangan ke belakang.


"Ah, bukan seperti itu Onkel." Victoria yang berada di sisi-nya mengeleng. Ia tak enak berjalan berdampingan seperti ini. Bagaimana pun, dia adalah bawahan dan meski hubungan orang tua-nya dan Ayah Kiandra itu sangat dekat. Tetap saja, mereka adalah atasan dan anak buah.


"Minggu depan datanglah ke pesta." Ayah Kiandra menoleh ke arahnya, tepat ketika mereka sampai di depan pintu utama.


"Ja." dengan patuh, wanita berbaju hitam-hitam itu menundukkan kepala penuh hormat.


"Tapi, datanglah sebagai tamu."


Ucapan pria berambut salju itu membuat Victoria kaget. Tapi, ia tetap menundukkan pandangan dan tak menanyakan apapun.


"Aku ingin Kian melihatmu sebagai seorang wanita." lanjut pria itu sambil tersenyum.


"Maaf. Tapi..., seperti yang sudah saya laporkan. Chief sepertinya sudah tertarik pada wanita lain." tanpa mengangkat muka, Victoria kembali menjelaskan.


Ayah Kiandra malah terkekeh. "Tidak masalah." ia mengibaskan tangan. "Baru dua. Aku malah ingin, setidaknya Kian memiliki tiga atau empat wanita."


Mau tak mau, Victoria menengadah untuk melihat ekspresi dari pria berusia lanjut itu. Sekedar memastikan, ia sedang bergaurau atau tidak.


"Tetapi..tentu saja, kelak yang harus Kian jadikan istri hanya satu." pria itu tersenyum, sampai kedua matanya membentuk bulan sabit.


Victoria kembali menunjukkan sikap patuh, kamudian pamit dengan kepala tertunduk dalam.


Sebelum setuju untuk menerima pekerjaan sebagai bodyguard, sekaligus memata-mataiĀ  dan mengoda si Chief. Walau yang terakhir, tak pernah bisa Victoria lakukan. Ia sudah lebih dulu mempelajari seluk beluk keluarga Marthadinata.


Terutama Andreas Martahdinata, Ayah Kiandra yang kini sudah berusia lebih dari 80 tahun. Namun begitu, pria tersebut terlihat masih sangat sehat, meski fisiknya telah layu.


Tak seperti putra-nya yang bersih. Ayah Chief nya itu memiliki beberapa catatan gelap yang tak sengaja Victoria ketahui dari sang Ayah yang mantan anggota BND atau Bundesnachrichtendienst. Suatu badan intelijen luar negeri Republik Federal Jerman.


Ayah-nya jugalah yang di perintah oleh Andreas Marthadinata untuk mengeksekusi orang-orang itu.


Ayah Victoria tak punya pilihan, karena dia menginginkan uang dalam jumlah besar yang di sodorkan oleh Andreas Marthadianta.


Uang kompensasi yang di dapat dari pekerjaan kotor dan di gunakan untuk biaya operasi kangker sang ibu.


Naas, ibu Victoria tak pernah lagi membuka mata, sejak hari di lakukannya operasi tersebut. Usaha yang sia-sia.


Dengan cepat keluarga mereka yang di didik cara militer melupakan kejahatan dan kesedihan yang mengikuti setelahnya.


Sampai saat ini, Victoria tak pernah tahu, kenapa harus menggunakan Ayahnya yang notabene orang Jerman.


Mungkinkah agar nama baik keluarga mereka tetap bersih di dalam negeri-nya?


Pertanyaan itulah yang berada dalam pikiran Victoria.


Namun,Victoria memilih tak ikut campur. Yang ia tahu, nama keluarga yang di bantai diam-diam atas perintah Andreas Marthadinata itu adalah Adriansyah.


.


.


"Haahh?!" Aldo yang sedang menerima telpon, mendadak bangkit dari duduk dan membeliakkan mata tak percaya.


"Hah apa? apa telinga mu belum di bersihkan?" suara si Chief yang ketus terdengar dari speaker ponsel.


"Bukan seperti itu, Chief..." Aldo garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia yang mengkenakan celana pendek dan kaos oblong polos, berjalan keluar rumah dan duduk di kursi beranda.


Tidak seperti Kiandra yang tinggal di apartemen mewah. Aldo tinggal di sebuah rumah sederhana, di dalam lingkungan perumahan yang nampak asri dan tenang.


"Saya hanya ingat, kalau anda kan tidak percaya dengan saya. Jadi...ya saya syok." Aldo menjelaskan.


"Malam Mas Aldo." sapa beberapa bapak-bapak yang kebetulan lewat di depan rumah.


Aldo mengangguk dan tersenyum lebar.


**A**ku lupa kalau ada arisan...


dalam hati ia mengeluh.


Besok pak Rt pasti ke rumah lagi untuk ceramah.


batin Aldo, sembari memijit kening.


"Eh, iya, Chief. Saya dengar." ia menjawab sigap. Padahal, ia bahkan tak dengar apa yang di bicarakan si Chief.


"Pokoknya aku percayakan seluruh urusan kantor padamu selama satu minggu ini." perintah Kiandra tegas.


"Sa, satu minggu?" Aldo kaget.


"Jangan mengirim pesan lewat whatsapp dan jangan menelpon. Kirimkan laporan setiap harinya lewat email dan di atas jam delapan malam." kembali Kiandra memerintah.


"Hah...??" Aldo melongo.


"Kau paham, kan?" tanya Kiandra dari seberang sana.


"Memang anda mau ke mana, Chief?" tak menjawab, Aldo malah dengan polosnya bertanya.


"Kau menanyakan aku kemana?"


Aldo mendengar intonasi suara si Chief meninggi.


"Ti, tidak..." Aldo meringis. "Selamat berlibur, Chief..."


Kiandra memutus sambungan, sebelum Aldo menyelesaikan kalimatnya.


"Tumben-tumbenan dia seperti ini...?" kening Aldo berkerut, sambil memandangi layar ponselnya yang sama gelap dengan suasana malam.


.


Kiandra menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku celana.


Dia bersandar pada salah satu pilar, seraya bersedekap untuk menghalau udara malam yang dingin. Kedua matanya yang berwarna cokelat terang, menatap lurus ke arah rumah kaca yang terletak beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Ingatannya melambung ke acara makan malam tadi. Makan malam yang di hadirinya dengan enggan, kalau saja tak ingat orang tua dan si kembar yang terus berteriak memanggil namanya.


Dan rangkaian mawar putih yang di taruh di sebuah vas besar dan terletak di tengah meja, membuat ia terkesima.


"Itu Delana yang merangkai. Cantik, bukan?" dengan bangga ibu-nya menjelaskan.


Nama dan cara merangkai bunga yang hampir mirip. Kiandra semakin yakin, jika itu adalah orang yang sama.


Tapi, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut si ibu. Tidak hanya membuatnya terkejut. Tapi, juga berhasil membuat Dave yang selalu tenang, ikut kaget.


"Ibu tak sengaja menabrak-nya dan kini dia mengalami amnesia." wajah tua si ibu terlihat bersalah.


"Identitas-nya?" Dave ikut bertanya.


Si ibu mengeleng lemah. "Tak ada identitas. Dan saat terbangun, dia cuma ingat namanya Delana."


Tanpa sadar Kiandra dan Dave saling pandang tanpa bicara. Sedangkan si Ayah tetap menikmati makan dan Kirana tak begitu memperhatikan, sebab sibuk dengan si kembar yang tak bisa diam.


Hampir-hampir Kiandra tak bisa merasakan rawon favorite-nya yang sengaja di masak sang ibu untuk menyambut kepulangannya.


.


Anna...Delana...


Sebuat Kiandra dalam hati.


Jam di dinding kamar sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ia bermaksud tidur lebih awal, alih-alih menghindari kakak dan kakak iparnya.


Tetapi, ia terus saja gelisah memikirkan wanita itu.


.


Sampai akhirnya, Kiandra memutuskan menelpon Aldo. Dan di sinilah dia sekarang. Berdiri di salah satu pilar halaman belakang rumahnya yang megah, dan terus menatap ke arah rumah kaca.


Amnesia?


Kiandra menarik sudut bibir, membuat ekspresinya terlihat sinis.


"Akan aku sembuhkan amnesiamu, sialan!" Kiandra berjalan cepat menuju rumah kaca.