
Jika boleh jujur, sebenarnya saat bersama Delana, ia sempat melupakan dendam-nya kepada para darah biru. Ia betul-betul bahagia dan ingin membuka lembaran baru bersama Putri dari Kelantan tersebut.
Namun, penolakan sebelum ia sempat mengungkapkan keinginan untuk mempersunting Delana, kembali menyeretnya ke tujuan awal masuk ke dalam lingkup keluarga Kesultanan Kelantan sebagai pengawal pribadi Putri.
"Tanpa ini, kau akan tetap di sia-siakan keluargamu. Sama seperti ku dulu." ia berkata sambil memasukan sertifikat berlian itu kembali ke dalam map cokelat.
Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka, seketika Rico melihat ke sumber suara, seraya diam-diam memasukan map tersebut ke dalam laci.
"Sayang, kau tak bisa, ya, menghilangkan kebiasaan menyelinap tengah malam?" Radha dengan lingerie hitam-nya sudah berjalan pelan ke arahnya.
"Maaf." Rico berujar. "Aku ada pekerjaan yang harus di selesaikan untuk meeting besok pagi." ia berbohong.
"Pekerjaan apa?" ucap Radha geli. "bukannya sekarang kau tinggal duduk dan tanda tangan saja, Sayang?" wanita seksi itu duduk di atas meja, lalu mengangkat satu kaki mulusnya di depan Rico duduk.
"Aku masih was-was soal Pak Aldo." Rico memandangnya serius. "Aku khawatir, kalau dia tak benar-benar menerima tawaran kita untuk bekerja sama di belakang Chief Kiandra."
Detik jarum jam dinding di sudut ruang terdengar jelas di malam yang telah larut, dan hanya ada mereka yang masih terjaga di rumah itu.
"Pak Aldo mau mendukung atau tidak, kenyataannya dia betul-betul memberikan slot lebih untuk produk-produk kita, kan?" Radha mengingatkan. "Dan aku rasa.. itu sudah lebih dari cukup, karena keuntungan kita sudah banyak, serta kau terbukti berhasil di mata Papa dan Paman, Sayang." wanita itu menopang tubuh rampingnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memainkan rambut panjangnya yang tergerai kusut.
Keuntungan kita sudah banyak? berhasil?
cemooh Rico dalam hati.
Ini bahkan belum separuh dari apa yang ku inginkan.
ia berusaha menutupi kekesalan dengan tersenyum.
"Dari pada memikirkan pekerjaan yang sudah tak ada masalah, bukankah lebih baik kau mulai memikirkan tentang rencana masa depan kita, Sayang?" Radha membungkuk, lalu mengkalungkan kedua lengannya ke pundak Rico.
Dari cara bicara serta gesturnya saja, orang sudah tahu, bahwa Radha lah yang tergila-gila pada Rico. Padahal pertemuan pertama mereka, tak lain hanya hasil tipu muslihat pria itu agar bisa mendekatinya.
Rico yang baru datang di Indonesia tak punya kerabat serta pekerjaan. Selama beberapa bulan di Negara serumpunya itu, ia cuma mengandalkan uang yang di dapat dari keluarga Delana dulu.
Sampai akhirnya, dia yang tak sengaja datang ke sebuah Swalayan melihat Radha bersama orang tuanya sedang berbincang. Dari pembicaraan yang tak sengaja di dengar itulah, ia tahu mereka adalah pohon uangnya.
Entah kebetulan atau tidak, Radha adalah blasteran Malaysia-Indonesia dan masih termasuk golongan Wan, hanya saja ia tidak mendapat gelar itu, karena Ibunya yang memiliki gelar Wan menikah dengan pria biasa dari Indonesia, pemilik pabrik yang memproduksi kebutuhan rumah tangga terbesar di kota tersebut.
Mangsa empuk untuk seorang Rico yang pandai berkata manis, serta di dukung wajah tampan. Hanya dengan berpura-pura tak sengaja bertubrukan, Radha terbukti langsung takluk padanya.
Jika mengingat kejadian itu, terkadang Rico bisa tertawa sendiri, karena hal tersebut membenarkan persepsinya, bahwa para wanita bangsawan rata-rata memang mudah di perdaya.
"Hei, kenapa malah melamun?" Radha menguncang bahu Rico dengan muka cemberut. "Jangan-jangan kau lupa dengan janjimu sendiri?" ia menarik kedua lengannya dari bahu pria itu dan bersedekap.
"Mana mungkin." Rico segera menguasai keadaan. "Jika Pabrik pemberian Papamu ini bisa aku kelola dan untung besar, maka kita akan segera menikah." ia mengulang janjinya beberapa tahun lalu.
"Dan sekarang sudah untung, kan?" ucap Radha ketus.
"Benar." Rico tetap kalem. "Hanya saja...apa Pamanmu di Kuala Lumpur mau menerima aku yang rakyat jelata ini?" ia bertanya dengan ekspresi memelas.
"Kenapa harus sampai Paman? Yang penting kan Papa sudah setuju. Bahkan memberimu modal kerja." Radha menjabarkan.
"Radha.." Wajah Rico makin berkerut sedih. "Kau tahu tentang masa lalu ku." ia elus pipi wanita tersebut lambat-lambat. "Aku tak mau di remehkan. Karena itu...bersabarlah sebentar lagi. Sampai aku bisa membelikan mu mas kawin miliaran, yang tak akan membuatmu malu di depan keluarga besar."
"Tidak, Radha. Aku sudah berhutang banyak padamu dan keluarga." Rico membalas pelukan wanita itu. "Lepas dari apapun, aku juga ingin membuatmu bangga bersuamikan orang seperti ku."
"Ah.. Sayang.. Sekarang pun aku sudah bangga padamu." Radha mempererat pelukannya tanpa tahu di belakang Rico tersenyum licik.
Entah apa yang di cari pria itu. Di saat ia mampu mengenggam cinta dan harta dalam satu waktu, ia masih saja terpaku pada hasrat masa lalu.
Aku yakin dia masih hidup dan sedang kebingungan dengan semua identitasnya yang hilang.
pikir Rico sembari menikmati ciuman mesra dari wanitanya, tapi pikiran melayang jauh ke sosok wanita lain.
.
.
Jam antik terbuat dari kayu dengan bandul besarnya yang masih berbunyi di jam dua belas siang itu belum menunjukkan pukul tujuh pagi. Tetapi, Ibu Kiandra sudah memenuhi meja makan dengan aneka masakan.
Beberapa Pelayan turut membantu membawakan makanan yang masih mengepulkan asap dari dapur yang letaknya tak jauh dari ruang makan, sedang beberapa Pelayan lain sibuk menata meja panjang yang sudah di lapisi kain putih berenda pada ujungnya.
Terakhir, Ibu Kiandra meletakkan buket mawar putih yang di petik dan di rangkainya sendiri di tengah meja makan.
"Sempurna!" ia berujar senang.
Disaat semua pekerjaan sudah selesai dan tinggal menunggu anggota keluarga untuk sarapan bersama, Delana dengan langkah tergesa memasuki ruang.
"Maaf, Bu." ia berseru sebelum sampai di hadapan Ibu Kiandra yang sudah lebih dulu menyadari kehadirannya. "Saya bangun kesiangan." lanjutnya setelah dekat.
"Kesiangan apanya?" Ibu Kiandra pura-pura kaget. "Ayo, duduk di sini." ia mempersilahkan.
"Apa?" Anna heran.
"Duduk. Kita sarapan bersama." Wanita yang nampak bersahaja itu tersenyum.
Kedua mata Anna membulat, sebab biasanya dia makan sendiri atau bersama para Pelayan di belakang.
Namun, sebelum ia menolak, Kama dan Kalila sudah lari-lari masuk ke dalam ruang makan.
"Waah...hari ini Nenek masak banyak!" Kama kegirangan, seraya langsung duduk di ikuti saudari kembarnya.
"Apa hari ini kita merayakan sesuatu, Nek?" tanya Kalila antusias.
"Iya, kita sedang merayakan sesuatu."
jawab Ibu Kiandra sembari tersenyum dan membuat keriput-keriput di wajahnya makin jelas.
Si Kembar kompak tepuk tangan dengan semangat empat lima-nya.
"Perayaan apa, Bu?" tanya Kirana yang tadi datang bersama saami dan anak-anak-nya.
"Rahasia." Ibunya yang sudah tua itu menaruh jari telunjuknya di bibir, sambil melirik Anna yang masih bengong di sampingnya.
Dave yang berada di sisi istrinya menatap curiga, saat si Ibu melirik ke arah Anna.