Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
ULAH MEREKA



Kiandra betul-betul di buat pusing dengan ketidakmengertiannya. Menurutnya, dia sudah bertindak benar untuk tak menegur Anna di depan kawan-kawannya. Dia juga sudah mengalah, dengan menurunkan intonasi suara. Tetapi, dia tetap ingin Anna tahu, bahwa tadi konteksnya hanya bercanda dan kulit kacang tidak sesakit itu. Ia beranggapan, bahwa Anna lah yang berlebihan.


Untuk kesekian kali Kiandra menghela nafas.


Ternyata sesulit ini menjalin hubungan dengan lawan jenis. Pantas saja banyak yang menyimpang dengan yang sejenis.


pikiran Kiandra menjadi kemana-mana.


.


"Saya mau pulang." ucap Anna setelah air matanya kering.


Muka Kiandra langsung masam. "Memang kau pikir kita mau ke mana? Ke Hotel?" ujarnya kesal.


Anna langsung menarik paksa tangannya dari cengkraman tangan Kiandra. Ia berusaha sabar, tapi rupanya lelaki itu memiliki ketidak pekaan di ambang batas manusia.


"Hei!" Kiandra menghadang agar ia tak pergi.


Anna mencari jalan ke celah samping, tapi Kiandra kembali menghalangi. Begitu pun ketika ia berusaha melangkah ke samping lainnya, pria itu terus menghalangi langkahnya.


Dengan kedua alis hampir menyatu, Anna mendongkah menatap Kiandra. Posisinya memang lemah dan ia selalu merasa sungkan terhadap pria itu. Tetapi, dengan rasa lelah yang menumpuk, serta ketidaknyamanan yang terus coba ia tahan, sepertinya ia sudah tidak mampu lagi menahan bom waktu dalam diri.


"Kalau ada masalah itu bicara!" Kiandra masih saja berkutat dengan ketidak pekaannya. "Jangan cuma nangis dan pergi. Kau pikir aku dukun!" lanjutnya jengkel.


Kedua tangan Anna langsung terkepal.


"Aku memperkenalkanmu kepada teman-temanku, supaya mereka juga bisa mengenalmu." Kiandra berkata. "Mereka sampai menyingkirkan minuman beralkohol dan mengganti dengan jus! Karena apa? Karena mereka menghormatimu. Tapi cuma karena kulit kacang yang tidak sengaja mereka lempar, kau bersikap melow dramatis layaknya Nona Besar yang tak pernah tersandung kerikil!" Kiandra menceramahinya panjang lebar.


Anna tertunduk sambil menggigit bibir bawah kuat-kuat.


"Lihat!" Kiandra menunjuknya. "Berapa kali aku mengingatkan, kalau jangan menggigit bibir..."


"Siapa?" potong Anna emosi.


Kedua mata Kiandra membulat melihat Anna yang terlihat emosional dengan wajah merah padam dan kedua mata berkaca-kaca.


"Siapa yang minta ke tempat seperti ini? Siapa yang minta di kenalkan kepada teman-teman Anda?!" Kening Anna berkerut dalam dengan pandangan nanar ke arah pria di hadapannya itu. "Bukan saya!" setengah berteriak ia berkata sembari menepuk dadanya keras. "Coba sekali-sekali Anda intropeksi. Bagaimana jika Anda yang berada di posisi saya. Berjam-jam berada di tengah orang-orang asing dan lingkungan yang tidak di sukai!"


Kiandra membuka mulut, tapi anehnya ia tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Entahlah, ia seperti syok, karena baru kali ini Anna yang ia kenal bicarapun gagap, kini bisa selantang ini memarahinya.


"Teman Anda!" hardik Anna. "Teman wanita Anda yang berada di sana!" ia mengarahkan jari telunjuk ke Club. "Satu jam lebih memelototi saya!" ia nampak begitu marah.


Kiandra terkejut, karena ia sama sekali tak menyadari hal itu.


"Dia cemburu dengan kehadiran saya!" berapi-api Anna menjelaskan.


"Kau salah paham." akhirnya Kiandra bisa buka mulut.


"Anda yang tidak tahu!" jerit Anna kesal bukan main.


"Hei, jangan keras-keras..." Kiandra menoleh kanan-kiri, sebab mereka mulai menarik perhatian sekitar.


"Memang kenapa?" Anna dengan berani bertanya.


Kiandra kaget dengan Anna yang tempramen ini.


"Biar saja semua orang tahu, kalau bukan saya yang mengejar-ngejar Anda! Tapi Anda yang mengejar-ngejar saya!" muka Anna semakin memerah seriring intonasi suaranya yang meninggi.


"Enak saja, siapa yang..." Kiandra malu di singgung hal itu.


"Masalah saya itu sudah berat!" potong Anna dengan air mata yang kembali mengalir. "Seumur hidup saya tidak bisa pulang rumah, ke keluarga saya, ke orang-orang yang saya kasihi..." ia menangis sampai tidak bisa menjejakkan kakinya dengan benar.


Kiandra yang tadinya kesal, mulai curiga saat melihat Anna sempoyongan.


Pria itu kaget. "Anna, tenang. Hei..." ia pegangi kedua bahu Anna yang gemetar.


"Anda memang jahat! Semua laki-laki jahat! Kalian cuma memanfaatkan kami untuk kepentingan kalian!" Anna mulai tak terkontrol.


"Kepentingan apa? Jangan asal bicara di tempat umum. Kau tidak malu, hahh?" Kiandra panik.


Dimana Vic di saat seperti ini?


Ia mencari-cari bodyguard yang selalu mengawasinya dari kejauhan. Tapi, di sekitar situ hanya ada deretan mobil-mobil yang terparkir, serta beberapa pengunjung Club yang menatap ingin tahu.


"Gara-gara Anda! Semua gara-gara Anda! Anda yang membuat saya begini!" Anna terus meracau sambil menarik-narik kain kemeja Kiandra sampai kancing bajunya rusak.


"Anna, sadar! Kau kenapa? Hei!" Kiandra menguncang bahu wanita itu beberapa kali.


Namun, Anna semakin kalap, hingga lengan dan wajah Kiandra pun kena cakar.


"Kembalikan berlian keluargaku! Pencuri! Aku membencimu!" ia meraung berderai air mata.


"Anna, tenang kan dirimu!" Kiandra kewalahan.


Tetapi, Anna terus bertingkah seperti orang gila. "Hidupku hancuur...! Hidupku tak berartii..! Aku jadi sampah di Negara ku sendiriii...! Pencuri! Penjahaat!!"


Sekurity yang awalnya cuma melihat, sampai harus ikut membantu, karena Anna menjambak dan memukuli Kiandra tiada henti.


"Aku benci padamuu...! Aku beennciii...!!" jerit Anna di sertai tangis.


"Anna, sadar! Anna!" Kiandra yang tak mungkin membalas cakaran ataupun pukulan wanita itu, hanya bisa menahan rasa sakitnya tanpa berusaha melepaskan pelukannya.


Sialan mereka! Siiaall!!


Kiandra yang menyadari sesuatu, dalam hati mengumpat keras-keras.


.


Di waktu yang sama di dalam Club, Roy, Alexa dan Ethan masih asik menikmati hentakan musik dan meneguk Heineken.


"Aku masih nggak rela Kian menyerahkan keperjakaannya kepada perempuan itu." Alexa yang bertopang dagu cemberut.


"Nggak rela apa? Harusnya kita bersyukur, Kian tidak jadi belok." seloroh Ethan sambil meminum Heineken yang sudah ia tuang ke dalam gelas.


"Dia memang nggak belok, tapi terlalu lurus." ucap Alexa sebal.


"Kalau dia berkelok-kelok." Ethan terkekeh sembari melirik ke arah Roy.


"Aku tidak banyak bicara seperti kalian." Pria perokok itu menanggapi kalem. "Semua aku buktikan dengan tindakan." ia tersenyum dengan asap rokok yang keluar dari sela bibir.


"Tindakan mencampur jus jeruk dengan Vodka." pungkas Ethan geli.


"Ya.. mau bagaimana lagi. Aku lupa, kalau jus jeruk di sini sebutannya white sangria vodka." Roy sok polos.


Alexa geleng-geleng sambil memijit pelipisnya melihat kelakuan sahabatnya.


"Semoga Kian tak lupa bawa pengaman." Ethan kembali menuang minuman dari botol hijau itu ke gelas.


Kening Roy sedikit berkerut. "Dia tahu harus pakai pengaman, kan?" ia bertanya.


Ethan memutar bola matanya sesaat. "Mungkin." jawabnya ragu.


"Apa kita perlu Go-send kan Fiesta aroma stroberi?" celetuk Alexa dengan muka jutek-nya.


Seketika dua orang pria dewasa itu saling pandang dan tertawa terbahak.