Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
DI PAGI HARI



Anna baru saja bangun dari tidur, serta berniat ke kamar mandi untuk cuci muka, ketika terdengar ketukan.


Siapa ya...?


batin-nya heran, karena jam di dinding masih menunjukkan pukul empat pagi.


Namun, karena ketukan itu terus terdengar, Anna memutuskan untuk turun dari ranjang dan berjalan keluar kamar.


Aroma khas dari aneka tanaman dan bunga yang berada di dalam rumah kaca menyambutnya, karena letak kamar tidur Anna yang berada di dalam rumah kaca berukuran besar tersebut.


Sebab langit masih gelap, Anna menyalakan saklar lampu, agar keadaan tidak terlalu remang-remang. Kemudian berjalan lurus menuju sumber ketukan.


Dari kejauhan ia melihat siluet lelaki, yang semakin dekat, akhirnya terlihat jika itu Kiandra.


Kenapa sepagi ini dia ke sini?


tanya Anna dalam hati, sembari memperhatikan pria yang masih mengenakan celana pendek dan kaos itu.


.


"Kenapa lama sekali?" tanya Kiandra begitu Anna membuka pintu.


"Saya masih tidur." jawab Anna bohong.


Kiandra melengos dengan gaya sok cool nya yang biasa.


Anna yang mulai paham karakter pria tersebut, tak lagi merasa overthingking atas sikapnya. "Tuan Muda, eh, Anda ada perlu apa?" ia balik bertanya.


Kiandra menatap dirinya dengan ekspresi kaku. "Ini!" ucapnya sambil memberikan boneka kecil berwarna pink yang di dapat dari Happy Time


Anna menerima dengan wajah kaget. "Untuk saya?" ia memastikan.


"Untuk siapa lagi?" Kiandra melipat kedua tangan ke dada.


Anna tersenyum. "Anda suka sekali memberi boneka." ia berkata.


"Itu aku dapat gratis." ucapnya dengan nada sedikit pongah. "Dari pada aku buang, ya aku berikan padamu saja." ia berkata tanpa melihat mata lawan bicara.


Dahulu Anna takut melihat kearoganan pria itu. Tetapi, entah kenapa sekarang ia justru merasa lucu. Mungkin, karena dulu ia tak berani melihat wajahnya yang memerah sampai telinga, dan hanya mendengar suaranya saja yang terdengar ketus.


"Hei, kenapa kau malah tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila?" Kiandra heran.


Anna mengeleng beberapa kali sambil menahan geli. "Ingin memberikan boneka saja?" ia mengalihkan pembicaraan.


Kiandra tak langsung menjawab.


Anna melihat kegelisahan pria di hadapannya itu, sembari memikirkan kata-kata Ibu Kiandra tentang si anak.


"Kian selalu menghomati wanita, sama seperti dia menghormati Ibu dan Kakak perempuannya. Dan kau adalah wanita pertama yang di sukainya, jadi pasti... kau akan di jaganya baik-baik."


Anna yang memiliki trauma tersendiri karena masa lalunya yang buruk, perlahan mulai mempercayai pria itu.


"A, anu... Anda.. ingin berbicara di dalam?" ragu-ragu ia menawarkan.


Kiandra terkejut. Masih ia ingat, di dalam rumah kaca itu lah pertama kalinya ia merasakan gejolak hasrat yang hampir tak bisa di bendung. Yang sialnya, si wanita cuma pasrah saja di perlakukan begitu.


Ia melihat sekeliling yang masih gelap, dengan beberapa tukang kebun yang sudah menyapu halaman rumahnya yang luas. Itu pun jarak mereka di ujung sana, karena memang untuk urusan rumah kaca dan kebun bunganya, si Ibu tak mau sembarang orang menyentuhnya, sehingga selalu mendatangkan tenaga khusus dari luar.


"Tidak." tanpa di duga Kiandra menolak.


Kali ini Anna yang bingung.


"Kita... jalan-jalan di pinggir danau saja." ia berkata sembari menbalikkan badan dan berjalan lebih dulu.


"Eh? Tu, tunggu! Tuan Muda, saya..." Anna yang masih muka bantal dengan piyama tidur kebingungan.


"Aku tunggu di gazebo sana!" ujar Kiandra tanpa melihat ke arahnya.


"Apa dia bilang...?" Anna berguman sembari melihat punggungnya.


"Lima menit!" dari kejauhan Kiandra berseru sambil mengangkat tangan kanan, serta merenggangkan kelima jarinya.


"Astaga orang itu." tanpa sadar Anna mengerutu, lalu tergopoh-gopoh segera masuk ke dalam untuk ganti baju, dan minimal cuci muka serta gosok gigi.


.


"Dia menyuruh laki-laki masuk, dan berduaan dengannya di pagi hari seperti ini? Apa dia sudah siap di makan?" Kiandra ngerundel sambil bersedekap untuk menghalau udara yang masih terasa dingin.


"Selamat pagi, Tuan Muda." sapa pekerja yang sedang menyapu daun-daun kering, saat ia berjalan melewatinya.


"Pagi." Kiandra mengumbar senyum.


"Tumben pagi-pagi sudah bangun, Tuan Muda?" seorang pekerja lain bertanya basa-basi.


"Iya." Kiandra tersenyum sambil lalu.


Semua pekerja yang di lewati menyempatkan untuk menyapa, dan dengan ramah Kiandra membalas sapaan mereka.


.


Rumah sendiri memang yang terbaik.


batin pria itu sambil menghirup udara pagi dalam-dalam.


Ia hampir mencapai gazebo yang berada di pinggir danau, ketika melihat Dave berjalan dari arah yang berlawanan.


"Kian!" panggil kakak iparnya tersebut.


Kiandra yang akan putar balik, terpaksa menghentikan niatnya, karena sudah terlajur di sapa lebih dulu.


"Tumben sepagi ini sudah bangun?" Dave berkata setelah dekat.


"Yah.. ingin jalan-jalan saja." ia menjawab tanpa mau melihat lawan bicara.


Dave tersenyum. " Aku juga baru saja lari pagi mengelilingi danau. Sambil memastikan telur-telur angsa di sana aman, karena si kembar sedang senang-senangnya bermain di sana." ia menjelaskan tanpa di minta.


Kiandra terlihat tak menanggapi.


Dave yang maklum cuma menipiskan bibir. "Baiklah, aku..."


"Angsa-angsa itu..." ucap Kiandra tanpa di duga.


Dave menghentikan langkahnya.


Kiandra berdehem untuk mengusir rasa kikuk. "Angsa-angsa itu milik Kirana." ia memberi tahu.


Dave membulatkan kedua mata.


"Daddy bilang, mending Opa memberikan angsa-angsa itu untuk Kirana. Jadi... keturunan dari angsa itu... Ya, jadi milik si kembar." ia berkata sambil memalingkan muka.


Dave hampir tak percaya dengan apa yang di dengar. Bukan masalah pada apa yang di bicarakan. Tapi, tentang Kian yang mau mengobrol dengannya.


"Ah, iya. Kirana juga pernah menceritakan hal itu." ia menatap Kiandra dengan pandangan haru.


Kiandra diam saja.


"Kirana sangat mirip dengan mendiang istri Opa, karena itu sejak kecil dia selalu di manja oleh semua orang, terutama Dad dan mendiang Opa sendiri." Dave menjelaskan.


Kiandra melihat ke arah pria berusia lima puluh tahun yang pernah begitu dekat dengan dirinya itu. "Aku tahu." ia berkata.


Dave melangkah mendekati satu-satunya adik bagi dia yang tak bersaudara. "Kian, aku senang kau mau membuka hati." ucapnya lembut.


Kiandra menatapnya. Dahulu ia harus mendongkak untuk melihat pria itu. Tetapi, kini dia lah yang lebih tinggi darinya.


"Delana... dia gadis yang baik. Aku rasa, kalian akan sama-sama beruntung." ia melanjutkan.


"Kau tak mempermasalahkan dia berasal dari mana?" tiba-tiba Kiandra bertanya.


Sesaat Dave tertegun, kemudian perlahan tersenyum. "Kalau Daddy saja sudah tidak mempermasalahkan hal itu, apa lagi kami?" ia berkata, seraya melirik ke arah lain.


Kiandra hendak bertanya lebih lanjut. Tetapi dari arah yang di tunjuk Dave, terlihat Anna sudah berjalan ke arahnya.


"Kami selalu mendoakan yang terbaik untukmu." Dave berkata lalu pergi.