Seducing Miss Introvert

Seducing Miss Introvert
SESAL-RASA



Bunyi ponsel membuat perhatian Kiandra teralihkan. Ia segera merogoh kantong celana, lalu melihat nama si penelpon.


"Halo?" Kiandra meletakkan alat komunikasi itu ke telingan, seraya berjalan masuk.


Hawa dingin dari pendingin ruangan yang terpasang di sudut atas kamar tidur langsung mengusir gerah.


"Chief, anda benar-benar absen?" suara Aldo terdengar dari speaker ponsel.


"Kau pikir aku bercanda?" tanya Kiandra sembari menjatuhkan diri ke ranjang.


"Bukan begitu, Chief..." intonasi suara Aldo memelas. "Saya cuma ingin memastikan, karena email saya dari semalam belum anda balas."


"Email?" mata Kiandra membulat. Tetapi, ia segera sadar, kalau sama sekali belum membuka email atau apapun yang berhubungan dengan pekerjaan, sejak sampai di rumah orang tua-nya ini.


Ini gara-gara wanita itu!


kembali Kiandra menyalahkan Anna, atas semua yang terjadi.


"Chief?" panggil Aldo, sebab sedari tadi ia cuma melamun.


"Iya, aku sibuk. Aku belum sempat menbukanya. Memang ada apa?" Kiandra berusaha tetap tenang seperti biasa.


"Anda benar akan mengambil cuti satu minggu?" tanya Aldo memastikan.


Kiandra tak langsung menjawab. Orang tuanya memang memintanya tinggal di sini selama persiapan pesta. Tapi, bukan berarti tak bisa berangkat kerja.


Seperti Dave yang tetap bekerja, meski dengan daring, sebab lokasi kantor-nya berada di luar kota.


Sedangkan untuk dirinya, seharusnya bisa tetap berangkat seperti biasa, karena masih berada dalam satu kota.


Namun, kehadiran Anna di rumah ini, serta kejadian semalam, membuat Kiandra tak memikirkan semua itu.


Tiba-tiba pipi Kiandra bersemu membayangkan ciuman pertamanya. Bibir wanita itu sangat lembut. Tubuh-nya juga terasa lebih rapuh, jika di banding dengan diri-nya yang laki-laki.


Hal lucu sebenarnya, karena Kiandra adalah pria dewasa, yang semestinya tak perlu heran dengan hal-hal seperti itu.


Tetapi, getaran seperti listrik, lalu di susul rasa panas yang mendebarkan. Menimbulkan sensasi memabukan yang membuat nyeri di kepala, ketika Kiandra dengan terpaksa menghentikan aksi-nya malam itu.


"Chief?"


Suara Aldo membangunkan Kiandra dari pikiran mesum-nya.


"A, aku sedang sibuk. Akan aku baca email-nya nanti." Kiandra langsung memutus sambungan, tanpa menunggu respon dari Asisten pribadi-nya.


.


Sementara itu di dalam kamar-nya, Anna duduk bersandar di atas ranjang, sembari memandangi tangan kiri-nya yang telah di obati.


Bisa-bisanya aku menjatuhkan sepanci penuh sayuran hanya karena mendengar omongan anak kecil...


Anna merenung dalam hati.


Perlahan ia memegangi telapak tangan kirinya. Sudah tak bengkak dan sakitnya juga sudah hilang.


Anna menghela nafas. "Untung Bu Marisa sangat baik..." ia tersenyum tipis mengingat kebaikan ibu Kiandra yang tak marah, serta mau membantu mengoleskan krim anti luka bakar.


Dia juga teringat kepada Dave yang dengan sigap menguyur tangannya yang nyaris melepuh dengan air dingin, lalu Ayah Kiandra yang menyuruh pelayan membawakan es batu dan merendam tangan-nya di situ.


Tak kalah baik hati dengan anggota keluarga yang lain, Kirana juga memberi-nya banyak pakaian. Memang hanya baju bekasnya ketika muda. Tetapi, baju-baju itu masih sangat layak, malah ada beberapa yang masih nampak baru.


Anna bahagia. Berbeda dengan saat tinggal bersama Nisa. Di sini, dia seperti kembali ke tengah keluarganya.


Namun, kehadiran Kiandra memecah semua-nya. Anna harus berpikir lagi tentang mencari pekerjaan dan tempat tinggal, agar bisa secepatanya meninggalkan rumah keluarga Marthadinata.


Masih Anna ingat kejadian semalam. Di mana Kiandra menciumnya secara tiba-tiba. Dia tidak tahu kenapa pria itu bisa berbuat demikian. Meski kecewa, ia cuma bisa pasrah.


Anna meneguk ludah. Dia tak mau kejadian itu terulang. Memikirkan hal itu membuat Anna memeluk dirinya sendiri. Gelisah, cemas, takut, berkumpul menjadi satu.


Kadang ia menyesal mengikuti Rico sampai Negara ini. Tetapi, ia tak punya pilihan. Dia sudah melakukan banyak kesalahan dengan tak hanya merugikan. Tapi, juga membuat malu keluarga besarnya.


Hanya berlian itu. Setidaknya jika ia berhasil merebut benda berharga warisan keluarga Petra itu, maka rasa bersalah-nya akan sedikit berkurang. Setelah-nya terserah Sang Ayah, mau tak mengakui dirinya sekali pun, Anna akan rela.


Namun, ternyata tak segampang itu. Pengalaman minim, membuat hidupnya terlunta-lunta di negeri orang, sampai akhirnya ia bisa menemukan tempat yang bersedia menampung.


Tante Nisa, sampai kapanpun, aku tak akan melupakan Tante.


Waktu yang terus berjalan membuat ia sadar, jika selama ini dia menyimpan trauma akibat kebersamaan-nya dengan Rico. Hal di luar persepi, sebab Anna merasa normal seutuhnya.


Seolah ujian di hidupnya kurang banyak, Kiandra dan teman-teman-nya mendadak datang melengkapi.


Anna menepuk wajah pelan, kemudian menghela nafas lelah.


Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu. Anna segera menyingkirkan jauh-jauh pikiran semrawut itu, lalu beranjak turun dari ranjang dan membuka pintu.


"Bagaimana keadaanmu?" senyum ibu Kiandra menyambut.


Raut wajah Anna berseri melihat kehadiran wanita seusia ibu-nya itu. Tapi, perlahan rona di wajahnya lenyap, saat melihat sosok menjulang di belakang-nya.


"Kau pasti belum makan siang." tebak ibu Kiandra yang tak tahu apa-apa.


"Aa...eh, anu..." Anna jadi salah tingkah.


"Ibu baru saja memasak sup daging dan ingin kau mencicipinya juga." ia menoleh sesaat ke belakang.


Di situ Kiandra dengan ekspresi dingin-nya, tengah membawa nampan berisi mangkok berwarna putih di atasnya.


Anna tertunduk, seraya mempersilahkan kedua orang itu masuk ke dalam kamar.


Kiandra meletakkan nampan itu di atas nakas samping tempat tidur. Dia beruntung, karena saat turun ke lantai bawah, dia melihat si ibu dan seorang pelayan hendak menuju rumah kaca.


Langsung saja dengan dalih anak yang berbakti, Kiandra mengusir si pelayan dan gantian membantu membawakan nampan sup-nya.


Memang sialan dia.


Gerutu Kiandra, karena sadar telah melakukan hal bodoh yang bisa di tertawakan kawan-kawan-nya jika mereka tahu.


"Terima kasih, Bu." Anna masih belum berani mengangkat muka. Ia duduk di pinggir ranjang dan berhadap-hadapan dengan si ibu.


"Tidak usah sungkan seperti itu." ibu Kiandra masih saja menunjukkan keramahan. "Oya, bagaimana keadaan tanganmu? apa masih terasa nyut-nyutan?"


"Sudah sangat membaik." Anna mencoba mengabaikan Kiandra yang berdiri angker di belakang ibu-nya. "Krim yang ibu beri sangat bagus. Jari-jari tangan saya sudah bisa di gerakkan dan tidak terasa bengkak lagi." ia melanjutkan.


"Syukurlah kalau begitu." ibu Kiandra turut senang.


Tanpa sepengetahuan keduanya, Kiandra diam-diam ikut melihat tangan kiri Anna yang sakit.


Melamun apa lagi dia sampai tangannya sendiri di guyur kuah panas?


Cemooh Kiandra dalam hati. Tetapi, dalam hati ia lega, sebab lukanya tak separah yang di pikir.


Ia juga nampak senang, saat melihat ibu-nya bisa berbincang dengan Anna. Perasaan senang yang membuat-nya sendiri kaget.


Ibu memang selalu baik dengan semua orang. Pelayan saja di suruh duduk dan malah ibu yang menggantikannya bersih-bersih.


Kiandra mengomel dalam hati.


Kiandra perlahan mulai sadar, jika selama ini ia mulai bertindak kekanakan.


Dia melihat Anna, tepat ketika gadis itu melirik ke arahnya. Pandangan mereka bertemu, membuat Anna lekas menunduk panik.


Tetapi, Kiandra masih saja menatap-nya dari balik punggung sang ibu.


Sambil memperhatikan tiap gerak-gerik Anna, Kiandra merenungi semua yang telah dia lalukan.


"Baiklah kalau begitu." ibu-nya telah bangkit dari duduk. "Jangan melakukan apa-apa dulu sampai kau sembuh, ya?" ia menepuk lembut pundak Anna.


"Iya, bu." Anna tersenyum.


Tanpa mengatakan apapun, Kiandra yang mengekor si ibu, lewat begitu saja di hadapan-nya.


Anna menghela nafas lega begitu kedua tamu-nya pergi dan pintu telah di tutup kembali.


Dia bermaksud menyantap sop daging yang masih hangat itu, ketika pintu-nya kembali di ketuk dari luar.


Anna tidak jadi makan, lalu meletakkan sendok di pinggir mangkok dan bangkit untuk membuka pintu.


Seketika kedua mata Anna melebar, ketika melihat Kiandra yang berdiri di balik-nya.